Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
berdarah lagi


"Ada apa ini?" Tanya Haikal sambil melihat ke arah Alfi.


"Mana gue tau, kan gue juga baru nyampe di sini" jawab Alfi datar. Haikal Segera bertanya kepada salah satu laki-laki yang ada di dekatnya.


"Permisi Bg? Ini ada apa ya?" Tanya Haikal polos.


"Di dalam ada pembunuhan berantai bg. Kalau tidak salah ada lima orang yang meninggal dalam keadaan yang menggemaskan" jelas laki-laki itu.


" Oo jadi itu sebabnya kita tidak di perbolehkan keluar dari perkarangan club ini?" Tanya Haikal.


"Seperti begitu Bg, mereka ingin segera menangkap siapa pelakunya. Barangkali masih ada di sekitar kita" sambung laki-laki yang Haikal tanyai.


Haikal yang masih sibuk berbicara dengan orang yang disampingnya, tidak menyadari kalau Alfi mau kabur dari tempat itu.


"Al?" Sapa Lia yang berdiri tepat di belakang Alfi. Alfi hanya menoleh sejenak untuk memastikan.


"Kenapa kamu masih berada di sini Al?. Ini sangat berbahaya untuk kamu" bisik Lia lirih.


"Noh!" Alfi menunjuk ke arah Haikal. Lia mengikuti arah pandang dari Alfi.


"Gara-gara dia gue masih berada disini. Kalau bukan di pukul nya bahu gue, mungkin sekarang gue sudah tidur nyenyak di rumah" jelas Alfi dengan sedikit berbisik. Lia memperhatikan bahu Alfi yang di balut perban dengan darah yang masih baru.


"Luka kamu terbuka lagi?" Tanya Lia. Alfi mengangguk mantap.


Kemudian Alfi menunduk kan kepalanya, dia tidak tau bagaimana caranya untuk keluar dari situasi yang seperti ini.


"Ayo, ikut aku!" Ajak Lia.


Dengan perlahan Alfi berjalan mengikuti Lia. Haikal yang masih sibuk berbicara, tidak menyadari kalau Alfi sudah pergi.


"Keluar lah lewat sini, aku yakin tidak akan ada orang yang mengetahui kepergian mu" ucap Lia.


Dengan sedikit bantuan dari Lia, Alfi bisa membawa motonya untuk segera pulang. Alfi hanya melakukan motor nya dengan sangat pelan. Karna jahitan di bahunya terasa sangat ngilu.


Sesampainya Alfi di rumah, dia langsung merebahkan tubuhnya untuk segera beristirahat. Rasanya begitu sangat melelahkan.


Sedangkan di tempat lain, Haikal tengah sibuk mencari keberadaan Alfi.


"Kemana wanita itu?" Tanya Haikal lirih.


"Atau dia sudah pergi ya? Tapi sangat mustahil rasanya kalau dia bisa keluar dari tempat ini" gumam Haikal lagi.


"Ah sudah lah. Mungkin di cuma ke kamar mandi" Haikal kembali memperhatikan suasana club' yang masih ricuh.


***


Dua hari kemudian.


"Al, kamu yakin akan berangkat ke kota?" Tanya Lia.


"Yakin Lia, tapi kamu tenang saja. Selagi Anto masih hidup aku akan selalu mencari nya" jelas Alfi.


"Maafkan aku Al. Aku tidak bisa mencari tahu keberadaan paman kamu" ujar Lia.


"Tak masalah Lia, aku yakin suatu saat dia pasti akan kembali ke sini. Dan di saat waktunya tiba aku akan mengakhiri semuanya" ucap Alfi sambil memasukan beberapa helai pakaian dan barang-barang yang hendak dia bawa.


"Al, seperti nya tugas ku sudah selesai. Aku ingin kembali ke alam ku" pamit Lia.


" Kamu serius Lia?" Tanya Alfi meyakinkan.


" Seperti nya begitu Al. Aku ingin tenang Al" Lia menatap Alfi sendu.


" Pergi lah. Semoga kamu bisa tenang di alam sana" ujar Alfi dengan tatapan kasihan.


Karna Alfi tau, seseorang yang mati bunuh diri maka tempat nya adalah neraka. Dan di neraka tidak akan ada yang hidup dengan damai.


"Assalamualaikum" ujar Rendi dari luar rumah.


"Wa'alaikummussalam ren. Baru nyampe lu?" Tanya Alfi.


"Iya, tapi tadi udah singgah dulu ke rumah. Ayo berangkat, nanti keburu malam" ajak Rendi.


Alfi Segera mengangkat tas ranselnya menggunakan tangan yang tidak sakit.


"Masih sakit?" Tanya Rendi menyambar ransel tersebut.


"Dikit." Jawab Alfi berbohong.


"Sini biar aku lihat?" Rendi Segera menghampiri Alfi untuk menyingkap kan lengan baju alfi.


"Eh nggak usah ren. Malu nanti di lihat orang, nanti di sangka yang tidak-tidak lagi" Alfi menghindari tangan Rendi.


"Yasudah kalau begitu, ayo naik" ajak Rendi.


Seketika Alfi terdiam dan mengingat sesuatu yang telah dia lupakan.


"Ren, boleh tidak kita singgah sebentar di pemakaman emak. Gue mau pamit" pinta Alfi.


"Ya tentu saja boleh. Ayo gue temanin kesana." Rendi turun dari motor nya. Dan memilih untuk berjalan kaki menuju pemakaman. Kebetulan pemakaman Wati tidak begitu jauh dari rumah Alfi.


Dengan berjalan gontai mereka akhirnya sampai di pemakaman umum. Alfi segera berlutut tepat di samping makam sang ibu.


"Mak, Alfi pamit dulu ya. Sesuai dengan keinginan emak, Al mau melanjutkan kuliah Alfi Mak. Doa kan Al ya Mak, agar Al bisa menjadi anak yang emak bangga kan" lirih Alfi dengan mengusap batu nisan menggunakan kedua tangan nya.


'maafkan Al Mak, Al belum bisa menemukan anto yang telah membunuh emak. Tapi Al janji, Al akan mencarinya sampai kapan pun' batin Alfi.


Setelah pulang dari pemakaman, baru lah Alfi dan Rendi berangkat ke kota menggunakan motor masing-masing. Rendi memilih untuk setia mengikuti Alfi dari belakang. Rendi takut kalau jahitan luka Alfi kembali bermasalah. Tanpa Rendi tau kalau luka Alfi baru tadi malam di jahit ulang.


Di tengah perjalanan Alfi mendadak berhenti. Pasalnya luka di bahunya kembali terasa ngilu.


"Kenapa?" Tanya Rendi.


"Tangan gue sakit ren" Al memegang bahunya menggunakan tangan yang satu lagi.


"Kok basah?" Tanya Alfi melepaskan bahunya.


Rendi kaget melihat tangan Alfi yang sudah penuh dengan darah.


" Berdarah Al. Jangan-jangan luka lu terbuka lagi" ujar Rendi yang sedikit panik.


Rendi mengedarkan pandangannya ke setiap sudut jalanan. Dan Rendi menemukan apa yang sedang dia cari.


" Ayo, kita ke tempat bidan itu dulu." Ajak Rendi yang memapah Alfi.


Mereka pergi menuju tempat bidan, sedangkan motor nya mereka tinggal ka di tepi jalan.


"Permisi buk" sapa Rendi.


"Silahkan masuk. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya sang bidan.


Rendi kemudian menceritakan asal muasal luka yang di dapat Alfi. Yaitu dengan versi kebohongan yang telah di sampaikan Alfi kepada Rendi. Bidan itu segera mencek luka itu.


"Ini lukanya masih basah ya. Seperti baru di jahit?" Tanya sang bidan.


Rendi terbelalak mendengar penuturan bidan itu, dan langsung melihat luka Alfi.


"Kemarin luka ini terbuka lagi buk. Dan baru di jahit lagi." Jelas Alfi. Rendi menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis fikir.


"Jadi luka lu terbuka lagi Al. Ini pasti Karan lu nggak mau dengerin omongan gue. Di suruh istirahat malah kelayapan entah kemana" gerutu Rendi. Bidan itu hanya tersenyum mendengar kan laki-laki yang sedang kecewa itu.


"Baiklah. Mari saya bersihkan lagi lukanya. Tapi habis ini tidak lagi di anjurkan bawa motor atau hal-hal yang berat ya. Biarkan luka itu sembuh dulu dengan total" saran bidan.


Ketika Alfi sedang asyik di bersih kan lukanya. Rendi keluar untuk menelfon salah satu temannya.


"Halo?" Sapa Rendi.


"Iya ren" jawab Haikal.


"Lu dimana kal?" Tanya Rendi.


"Ini mau balik ke kota ren. Semalam gue cariin lu ke rumah lu, eh tau-tau nya gue nyasar sampai ke club. Mana di club ada masalah pembunuhan itu lagi" curhat Haikal.


"Lu kesana sama siapa?" Tanya Rendi.


"Sama si Roro. Eh gue malah di tinggalin di sana" jawab Haikal.


"Sekarang posisi lu udah di mana?" Tanya Rendi.


"Masih di jalan anggora sih, memang kenapa?" Tanya Haikal.


"Gue ada di jalan Bilal ni. Nanti lu suruh sopir nya berhenti di jalan Bilal ya, di dekat rumah makan Padang. Gue tungguin di sini. Soalnya ada motor yang harus lu bawa ke kota" jelas Rendi.


"Sip, sip, nanti kalau udah disana gue kasih kabar lu ren. Lagian gue mabuk nih naik bus kayak gini. Perut gue mual banget" jelas Haikal.


Rendi mengakhiri panggilan. Dan kembali masuk untuk melihat keadaan Alfi.


"Udah siap?" Tanya Rendi.


"Udah ayo kita pergi" ajak Alfi setelah membayar uang pengobatan.


"Kita tunggu teman gue dulu Al. Biar dia yang bawa motor lu ke kota." Saran Rendi.


"Baiklah" jawab Alfi singkat.


Setelah sekian lama menunggu,. Rendi melihat sebuah bus berhenti. Dan seseorang kelua dari bus itu.


Rendi melambaikan tangan nya dan di balas oleh lambaian tangan yang sama.


"H-haai"mata Haikal terbelalak melihat sosok Alfi.


"K-kamu kok bisa ada disini?" Tanya Haikal. Namun Alfi tidak bergeming. Alfi hanya menatap Haikal dengan tatapan datar dan dingin.


"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Rendi.


"Kenal lah ren. Semalam gue nggak sengaja bertemu di club. Rencana nya gue mau tanya alamat sama dia. Eh pas gue menyentuh bahunya dia meringis kesakitan. Dan setelah di periksa bahunya terluka. Gara-gara sentuhan gue itu jahitan nya beberapa ada yang lepas" jelas Haikal.


"Bangs*t lu kal. Jadi gara-gara lu luka dia kembali terbuka. Untung lu teman gue kal. Kalau tidak udah gue bonyokin muka lu" umpat Rendi kesal.


"Hehe, sorry ren. Gue nggak tau kalau dia teman lu" ujar Haikal.


"Ya udah sekarang lu bawain motor dia ke kota. Biar dia gue bonceng. Lu lihat gara-gara lu, barusan lukanya kembali mengeluarkan darah. Makanya dia nggak bisa melanjutkan bawa motor ke kota." Jelas Rendi.


"Sorry ren. Gue kan nggak sengaja" ucap Haikal menyudahi perselisihan. Sebenarnya Haikal ingin menanyakan kemana hilangnya dia tadi malam. Namun itu Haikal urungkan karna ada Rendi. Haikal tidak mau sahabat nya itu menjadi salah faham.