Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
kecurigaan


Hari ini adalah hari pertama bagi Alfi untuk mengikuti pembelajaran di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.


Alfi telah memantapkan hatinya untuk berjuang untuk masa depan nya. Walaupun saat ini dia masih belum sembuh dengan luka batin di tinggal sang emak.


"Hai" sapa seorang perempuan culun yang duduk di samping Alfi.


"Iya, ada apa?" Tanya Alfi tanpa ekspresi.


"Perkenalkan nama aku Ratna, nama kamu siapa?" Tanya perempuan yang bernama Ratna.


"Alfi" jawab Alfi tak menoleh.


"Kok aku baru lihat kamu ya? Waktu ospek kamu nggak hadir ya?" Tanya Ratna.


"Nggak. Emak gue meninggal" jawab Alfi singkat.


"Oops sorry Al, aku nggak tau. Aku turut berduka cita ya" ujar Ratna ikut sedih.


Kali ini Alfi tak lagi menjawab perkataan Ratna. Melihat Alfi yang begitu dingin, Ratna mengurung kan niatnya untuk kembali mendekatkan diri.


"Al?" Ujar Haikal tiba-tiba.


"Apa?" Jawab Alfi kembali bertanya.


"Gue mau ngomong sama lu" ujar haikal.


"Ngomong aja. Gue dengarin kok" jawab Alfi yang masih sibuk menulis.


"Masalah malam itu_." Ujar Haikal terputus.


"Gue pulang. Udah puas lu. Lagian ngapain sih ku racuin hidup gue. Lu urus saja kehidupan lu kal. Dan lu nggak perlu tau bagaimana gue kaluar dari tempat itu. Karna itu kampung gue. Jadi gue sudah tau seluk beluk tempat itu" jelas Alfi dengan tatapan mengintimidasi. Alfi sudah tau pemikiran Haikal terhadapnya. Alfi sudah menebak kalau Haikal akan heran bagaimana dia bisa keluar dari tempat itu. Padahal penjagaan nya sangat ketat. Tikus pun tidak akan bisa keluar dari tempat itu.


Namun Haikal tidak tau selama ada Lia, tidak ada yang mustahil bagi Alfi.


"Dan satu lagi, lu jangan sibuk ngurusin hidup gue kal. Cukup hidup gue sudah berat dengan ujian hidup jangan lu tambah dengan kehadiran lu yang selalu gangguin gue. Sekarang gini saja kal. Kalau lain kali lu ketemu sama gue lagi. Lu bersikap lah seolah-olah kita tidak pernah bertemu. Please jangan campuri kehidupan gue, gue nggak suka" ucap Alfi to the point.


Haikal tak mampu lagi untuk berucap apa pun. Dia memilih pergi meninggalkan Alfi yang tak mau membuka diri untuk berteman dengan nya.


Melihat Haikal dan Alfi berbicara, seseorang perempuan cantik atau biasanya di sebut dengan idola kampus sedang memperhatikan mereka dari kajauhan.


"Siapa sih perempuan itu.? Bisa-bisa nya dia mendekati my prince gue. Awas lu ya" gumam Sarah.


"Ngapain lu sar?" Tanya Rina.


"Itu kalian lihat my prince gue di goda sama tu cewek. Seperti nya dia minta diberikan pelajaran" jawab Sarah dengan menyungging kan senyuman sinis.


"Kalau begitu mari kita beri dia pelajaran" ujar Rina.


"Eits, tunggu dulu. Bukan sekarang waktunya, kita tunggu waktu yang tepat sayeng." Tahan Sarah kepada para geng nya.


Sarah memiliki geng berisikan 4 orang bawahan dan dia adalah ketuanya. Jadi mereka totalnya lima orang.


Sarah adalah sang idola kampus, dengan bawahan yang bernama Rina, Santi,Teti,dan pipi.


***


"Al, kamu tidak jadi teman ku?" Tanya Ratna ketika pembelajaran telah usai.


Alfi menatap Ratna dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


"Maaf sudah lancang Al. Dari pertama masuk sampai sekarang aku tidak memiliki teman Al. Mereka selalu membully dan menindas ku Al." Curhat Ratna sedih.


"Kalau lu ingin menjadi teman gue. Lu harus kuat. Tidak boleh cengeng, menangis dan jangan mau untuk di tindas. Karna gue tidak bisa lindungi orang, makanya gue perlu teman yang tangguh" jelas Alfi mengalihkan pandangannya.


"Iya aku mau berubah Al. Asalkan kamu mau menjadi teman ku. Aku janji tidak akan cengeng lagi. Dan aku janji akan menjadi wanita yang tangguh" jawab Ratna dengan rasa sejuta harapan.


Mendengar perkataan Alfi membuat semangat Ratna menjadi terbakar. Tapi itu hanya di bagian fisik saja. Namun Ratna tidak bisa menyembuhkan luka di bagian batin nya.


"Al?" Rendi datang mengahampiri Alfi.


"Iya ren, kenapa?" Tanya Alfi dengan sedikit senyum terulas di bibir nya.


"Ayo kekantin, lu pasti belum makan kan?" Ajak Rendi.


"Gue lagi sibuk ren. Kan lu tau kalau gue banyak banget ketinggalan pembelajaran" tolak Alfi dengan halus.


"Kalau gitu lu tunggu di sini ya. Biar gue belikan lu makanan di kantin" Rendi berjalan meninggalkan ruangan Alfi.


"Kamu beruntung banget Al bisa di dekati para idola kampus. Rendi dan Haikal itu sekarang menjadi top 1 di kampus Al. Karna ketampanan mereka semua anak-anak ciwi di kampus ini menjadi klepek-klepek Al." Jelas Ratna. Alfi hanya diam mendengarkan penuturan teman barunya.


"Ops sorry, gue nggak sengaja" ujar pipi sambil menutup mulut nya.


"Kalian ngapain? Jangan ganggu kami. Kami kan tidak ada ganggu kalian" ujar Ratna dengan suara takut. Ratna jadi dilema, di satu sisi dia ingin melindungi Alfi namun di sisi lain dia sangat takut kepada geng Sarah. Karna Ratna sering kali di bully oleh mereka. Bahkan Ratna juga sering di jadikan babu untuk menuruti ke inginan mereka.


"Diam lu cupu. Kita punya urusan sama dia, bukan sama lu. Lu mau gue permaluin di depan orang banyak?" ancam pipi. Ratna langsung terdiam seribu bahasa. Alfi melihat pemandangan itu langsung memberikan tatapan membunuh kepada pipi.


"Apa lu lihat-lihat dia? Nggak suka?" Tanya Sarah yang muncul dari belakang pipi.


"Makanya jadi anak baru jangan sok-sok an mendekati para idola kampus. Lu inget ya, jangan pernah lu dekati Rendi sama Haikal. Karna mereka berdua itu adalah my prince gue. Gadis miskin kaya lu Nggak pantes buat dampingi mereka. Harus nya lu sadar diri dong. Sudah miskin belagu lagi" ucap Sarah menghina Alfi.


Alfi lagi-lagi tak mau meladeni mereka. Alfi kembali menulis materi yang sempat dia lewati Bebepa hari yang lalu. Alfi Bukan tak mau melawan, hanya saja Alfi tidak ingin menunjukkan sisi gelapnya secara terang-terangan.


Sedang asyik-asyiknya membully Alfi, Rendi datang membawa dua kotak makanan dan dua minuman di tangan nya.


"Ada apa ini?" Tanya rendi.


"Ehh ada kamu ren, ini aku lagi_." Sarah tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Pasti kalian buat ulah lagi kan?" Tanya rendi yang melihat baju Alfi basah. Rendi meletakkan 2 kotak makanan dan satu minuman di meja Alfi. Sedangkan minuman yang satu lagi di pegang oleh Rendi.


"Dengar kalian berlima, jangan pernah kalian menyentuh dia. Kalau kalian berani kalian akan Berhadapan langsung sama gue, Bangs*t kalian" Rendi menyiram kan satu minuman jeruk ke arah mereka.


Mereka tak sempat mengelak terutama Sarah. Baju Sarah basah dan berbau jus jeruk.


"Rendiiiiii" teriak Sarah tak terima.


"Pergi kalian dari sini atau satu buah jus ini akan mendarat lagi di baju kalian. Dan ingat jangan berani-berani menyentuh pacar gue!" ancam Rendi.


Mau tak mau geng Sarah pergi meninggalkan Rendi dan Alfi. Sedang kan Ratna tersenyum simpul melihat Rendi yang membela Alfi.


'ngapain juga tuh anak ngaku-ngaku jadi pacar gue' batin Alfi.


"Lu nggak apa-apa Al?" Tanya Rendi membuyarkan lamunan Alfi.


"Iya nggak apa-apa, cuma baju gue saja yang basah" jawab Alfi enteng.


Rendi dengan cepat membuka almamater yang dia kenakan. Kebetulan almamater Alfi belum di berikan oleh pihak kampus karna ada sesuatu kendala.


"Pakai almamater gue Al" Rendi menyerahkan almamater nya.


"Makasi ren" menerima uluran almamater itu.


"Tunggu dulu Al" tahan Rendi. Alfi mengurungkan niatnya untuk memakai almamater tadi.


"Seperti nya luka lu basah deh. Kita ke UKS sebentar biar di ganti perbannya" saran Rendi.


Alfi mengikutinya ucapan sang sahabat mereka bertiga pergi ke UKS.


"Ini teman baru lu Al?" Tanya Rendi.


"Iya, kenalan dulu kalian" sahut Alfi.


"Rendi" ucap Rendi mengulurkan tangannya.


"Ratna" sahut Ratna dengan hati yang berbunga-bunga.


Bagaimana tidak, setiap ciwi-ciwi di sekolah ini berusaha untuk bersentuhan dengan para idola kampus. Sekarang sang idola kampus lah yang mengulurkan tangan nya kepada Ratna.


"Buk, Apakah di sini tidak ada baju baru untuk ganti?" Tanya Rendi.


"Ada boy. Tapi harus di bayar ya. Ini salah satu aset untuk tambahan penghasilan ibuk" jawab sang penjaga UKS.


"Oke buk tenang saja" Rendi mengeluarkan satu helai uang berwana merah dan memberikan nya kepada penjaga UKS.


"Al, gue duluan nggak apa-apa kan. Soalnya dosen gue mau masuk. Ini baju buat lu, nanti kalau sudah pulang lu tungguin gue di parkiran ya. Jangan kemana-mana. Biar gue antar lu pulang. Motor lu nanti teman gue yang bawa ke kosan lu." ujar Rendi sambil berjalan keluar pintu.


" Oke" jawab alfi singkat.


Ratna dengan telaten membantu Alfi, mengganti kain kasah yang membalut luka nya. Awal nya Ratna kaget melihat luka yang mengerikan itu. Namun Ratna berhasil menahan dirinya agar Alfi tidak merasa kan kesakitan.


"Makasih buk. Kami keluar dulu" pamit Alfi berjalan meninggalkan UKS.


Di perjalanan ingin kembali ke ruangan Alfi berselisih dengan Haikal. Haikal menatap Alfi dengan tatapan intens. Sedangkan Alfi hanya membuang muka melihat Haikal.  Seperti nya Alfi sangat tidak nyaman jika Haikal mendekati nya.


Hari awal saja Alfi sudah bisa membaca sikap Haikal. Orang seperti dia sangat membahayakan bagi Alfi. Dengan sikap seloroh dan ingin tahu yang besar bisa menjadi ancaman dan bom atom yang bisa meledak kapan pun itu. Alfi tidak ingin semua rahasianya dapat di bongkar oleh laki-laki yang bernama Haikal itu.


Dan benar saja entah kenapa, setelah pertemuan mereka di club malam itu. Haikal merasakan ada yang berbeda dengan diri Alfi. Seperti ada yang Alfi sembunyikan dari banyak orang. Dan Haikal berambisi ingin mengungkap rahasia itu. Namun untuk mencapai semua misi itu, Haikal bertekat harus bisa mendekati Alfi dan mengambil hatinya.