
"Hallo Al" sapa Rendi dari seberang telepon.
"Iya ren" jawab Alfi dengan suara serak.
"Aku turut berduka cita ya atas kepergian orang tua kamu Al. Besok lusa aku pulang ya Al, aku sudah izin sama ketua penyelenggara acara. Aku juga sudah meminta kan izin untuk kamu sampai satu Minggu kedepan" jelas Rendi.
"Iya ren, makasi banyak" jawab Lia singkat.
"Kalau begitu aku tutup dulu ya ren, assalamualaikum" Alfi mematikan panggilan telepon.
"Pantas saja dia tidak menghadiri pemakaman emak. Ternyata dia sudah kabur terlebih dahulu" gumam Alfi dengan menyungging kan senyuman sinis.
***
"Al? Apa yang akan kamu lakukan malam ini?" Tanya Lia.
"Lia bantu aku mencari tau keberadaan keluarga orang suruhan Anto." Pinta Alfi.
"Sebelum kamu meminta nya, aku sudah melakukan nya Al. Datang lah ke desa sebelah, akan aku tunjukan rumah istri dari Mustafa. Laki-laki yang ikut andil membunuh emak kamu" ujar Lia.
Tepat jam 12 malam. Alfi memacu motor nya ke kampung sebelah. Alfi sengaja meninggalkan motor kesayangan nya di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk. Dengan lincah Alfi membelah kegelapan malam. Alfi memilih jalur memutar untuk menghindari beberapa orang yang sedang duduk di post ronda.
Dengan pakaian serba hitam milik nya. Alfi dengan mudah sampai di belakang rumah milik Mustafa. Hanya berbekal alat-alat yang sempat dia beli di waktu yang lalu, Alfi berhasil membuka pintu belakang dan masuk secara diam-diam.
Lampu ruang tengah di matikan dan hanya lampu dapur yang membiaskan cahaya sampai ruang tengah.
Lia berdiri di depan pintu satu kamar. Dan menunjuk ke dalam. Alfi membalasnya dengan anggukan. Dengan perlahan Alfi membuka pintu kamar.
Alfi melihat dua sejoli sedang tertidur pulas tanpa busana. Seperti nya mereka sudah melakukan olahraga malam. Namun laki-laki yang tertidur itu bukan lah Mustafa. Kemungkinan besar dia adalah selingkuhan dari istri Mustafa.
' beruntung sekali istrimu ketika kamu memilih untuk pergi. Lihat lah dia sedang bersenang-senang dengan laki-laki lain' batin Alfi.
Dengan sigap Alfi mematikan Lampu kamar. Dan menyiapkan tali di atas plafon kamar, tali itu lumayan panjang, sehingga ketika kedua orang itu masuk kepalanya kedalam bulatan tali. Maka Alfi akan menariknya agar mereka berdua tergantung.
Alfi langsung melompat ke atas tempat tidur.
Di dalam kegelapan malam Alfi menarik dengan kuat tali tersebut, tak luput Lia juga ikut membantu. Lia masuk kedalam tubuh Alfi agar tenaga Alfi bertambah. sehingga mereka berdua sangat sulit untuk bernafas, di tambah lagi kamar dengan penerangan yang sangat minim.
T-tolong," ucap istri dari Mustafa.
"Dasar istri kurang ajar kamu. Sudah tau suami mu lagi ada masalah. Kamu malah bergoyang dengan laki-laki lain" ucap Alfi dengan suara serak.
Beberapa detik kemudian, tidak ada lagi erangan atau suara nafas yang terdengar. Alfi segera menghidupkan kembali lampu kamar.
Alfi menerbitkan senyum kepuasan di bibirnya. Dua mayat itu mati dalam keadaan menggenaskan. Bagaimana tidak, kedua nya mati dengan keadaan tergantung tanpa busana.
"Kita lihat bagaimana reaksi suami mu ketika dia tahu kalau kamu mati dalam keadaan yang sangat hina seperti ini" lirih Alfi.
Alfi segera keluar dari rumah itu. Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Alfi untuk keluar dari kampung tersebut.
"Makasih Lia" ujar Alfi puas.
"Sama-sama Al. Target selanjutnya telah menunggu" ujar Lia. Alfi mengangguk dengan mantap.
Keesokan paginya, kampung sebelah di gegerkan dengan penemuan 2 pasang mayat yang tergantung tanpa busana.
Banyak warga yang membicarakan istri dari Mustafa itu. Bagaimana tidak, ketika suami nya tidak di rumah dia malah bersenang-senang dengan laki-laki lain.
Menurutnya kabar yang Alfi dapatkan. Mustafa lah sebagai terdakwa pembunuh tersebut. Karna mereka heran musfata menghilang dari rumahnya.
"Kemungkinan karna suaminya cemburu buk" Alfi mendengar tetangga nya yang sedang berghibah.
"Suami sekarang sadis-sadis ya. Semoga saja di cepat tertangkap" ujar ibuk yang satu lagi
Alfi berlalu meninggalkan kerumunan ibu-ibu yang sedang merumpi itu. Entah kenapa ada kepuasan tersendiri bagi Alfi ketika mendengar orang terdekat musuhnya mati di tangan nya.
'berarti kepuasan seperti inilah yang Lia rasakan, ketika berhasil membunuh putri dan serly' batin Alfi.
"Mak, satu persatu mereka akan mendapatkan balasan nya" lirih Alfi ketika sampai di pusara sang ibu .