
Sudah seminggu lamanya Rendi sengaja tidak masuk kuliah. Rendi ingin melihat seberapa pedulinya Alfi terhadapnya.
Namun seminggu lama nya pula, Alfi sama sekali tidak ada menceri Rendi. Bahkan untuk menanyakan kabar pun tidak ada. Rendi benar-benar merasa berada di titik yang paling rendah saat ini.
Bukan tanpa alasan Alfi melakukan hal itu. Alfi hanya tidak ingin memberikan harapan demi harapan kepada sang sahabat.
"Fiks, berarti dia benar-benar tidak peduli lagi sama gue. Tidak ada lagi harapan yang tersisa. Sekarang gue harus bisa mengubur rasa ini dan membuka lembaran baru. Selamat tingga Al, selamat tinggal cinta pertama yang selalu memberikan gue kebahagiaan." Gumam Rendi sedih.
Walaupun Rendi mempunyai banyak pacar dulunya, itu bukan berarti Rendi mencintai mereka. Rendi hanya menjadikan mereka sebagai peralihan. Agar rasa cinta nya kepada Alfi tidak semakin menjadi. Tapi semua usaha nya selama ini sirna sudah. Wanita yang dia cintai sudah lepas dari genggaman nya. Bahkan Rendi menyesal telah mengungkapkan perasaan nya.
"Andai saja gue tidak mengatakan tentang perasaan ini sejujurnya. Gue yakin saat ini, gue masih bisa melihat senyum di wajah cantik nya. Nego banget sih gue" Rendi mengutuk dirinya sendiri.
Rendi dengan berat hati mengemasi semua barang-barang nya. Dia berniat akan pindah kuliah ke universitas lain. Dimana Rendi tidak akan pernah lagi bertemu dengan Alfi.
Selesai berberes, Rendi istirahat sejenak dengan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rendi terkadang senyum-senyum sendiri membayangkan semua kenangan manis yang pernah mereka lalui bersama. Namun seketika senyum itu lenyap tak kala mengingat penolakan yang telah di beri kan Alfi.
Sedangkan di kampus Alfi sedang berdebat dengan Sarah the geng. Entah kenapa Sarah tiba-tiba datang menyerang Alfi.
"Kurang aj*r lu ya" Sarah mendarat kan satu tamparan di pipi Alfi. Tapi dengan secepat kilat Lia muncul menahan tangan Sarah. Dan Sarah dengan paksa menarik kembali tangannya.
"Apaan sih lu. Pakai pegang-pegang tangan gue. Jijik tau, lihat tangan lu banyak kumannya" Sarah menggosokkan tangan tadi ke rok yang dia pakai. Lai hanya diam tak mau merespon.
"Dan lu ingat ya! Jangan pernah lagi lu dekati Rendi. Gara-gara lu dia mau pindah dari sekolah ini" ujar Sarah sambil menunjuk wajah Alfi. Sebenarnya Sarah mendapat kan berita itu dari Haikal.
'apakah sebesar itu kekecewaan Rendi sama gue? Sampai-sampai dia mau pindah dari sini' batin Alfi.
"Apa urusannya sama gue? Dia yang pindah kok lu nyalahin gue?" Tanya Alfi berapi-api. Lia masih mendengar kan perdebatan mereka.
"Ya gara-gara lu lah. Kan lu yang kegatelan neplok-neplok sama dia. Jelas-jelas dia ilfeal sama lu. Makanya dia memutuskan untuk pindah. Biar nggak bisa lagi lu ganggu in" ujar Sarah asal.
Alfi tak mau lagi merdebat dengan Sarah. Alfi memutuskan untuk keluar dari ruangan dan berlari menuju parkiran. Satu kali tarikan tangan, gas motor alfi mampu membuat motor itu melaju dengan kencang. Bahkan Alfi tidak memperdulikan lagi keselamatan nya.
"Awas lu ya ren. Kalau sampai lu benar-benar pindah gue bunuh lu" umpat Alfi dengan mata yang berkaca-kaca. Alfi sudah tidak tahan lagi memendam semua ini. Bahkan Alfi sudah gagal bertahan agar tidak menemui Rendi.
Tak lama berselang Alfi sampai di tempat tujuan. Dia segera turun dari motor nya dan berjalan menuju ke arah kos san milik Rendi.
Ketika Alfi sampai di depan kosan Rendi, Alfi melihat Rendi sudah berdiri di depan pintu dengan menenteng tas besar yang berisi semua perkakas miliknya.
"Mau kemana lu?" Tanya Alfi sinis. Rendi membuang muka tak mau menghadap Alfi.
'ngapain lagi lu datang Al. Jangan jadi penghalang buat gue lagi' batin Rendi.
"Lu dengar tidak, gue nanya sama lu?" Bentak Alfi sambil mengangkat kerah baju Rendi.
Rendi sama sekali tak mau melawan. Bahkan Rendi hanya pasrah dan tetap membuang kan pandangan nya.