
"Rumah?" Beo Kenzi.
Gaby mengangguk, tangannya mengaduk mie di mangkuk. Setelah nya menyodorkan ke hadapan Kenzi.
"Lo yakin?" Tanya nya memastikan sekali lagi.
Gadis itu mengangguk. "Iya Ken, gue yakin." Jawab Gaby mantap.
"Kenapa? Lo gak nyaman disini?" Tanya nya lagi.
"Enggak, sama sekali nggak. Gue nyaman-nyaman aja disini."
'𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘰𝘸𝘰𝘬 𝘥𝘪𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪?' Begitu lah kira-kira batin Gaby.
Gaby memang berniat untuk kembali ke rumah nya, dan sudah menyampaikan pada Kenzi dan Naresh di perjalanan pulang tadi. Berbeda dengan respon Kenzi yang seperti 'keberatan?, Naresh hanya berucap "Kalau itu emang yang terbaik buat lo, ya gak papa." Dan dibalas peotesan oleh Kenzi.
Gaby menyeruput mie nya. Menghela napas melihat Kenzi yang hanya mengaduk-ngaduk mie nya tanpa minat.
"Lo kenapa sih Ken?" pertanyaan itu akhirnya terucap juga.
Kenzi sendiri tidak mengerti dan bertanya pada dirinya sendiri '𝘭𝘰 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘨*? 𝘎𝘢𝘣𝘺 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘭𝘢𝘮.
Gaby melirik ponselnya di meja. Sudah jam 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 ternyata.
Tadi setelah mengantar Gaby ke apartemen, Kenzi dan Naresh langsung pulang, dan tak lama setelah nya kembali lagi. Kenzi tidak hanya memencet bel secara berkali-kali namun juga menggedor-gedor pintu secara brutal.
"Lo.., gak pulang?" Gaby bertanya dengan hati-hati.
Kenzi langsung menegakkan punggungnya dan melirik nya sinis.
"Lo ngusir gue? Apartemen gue kalau lo lupa." Ujarnya sewot.
"Gue mau istirahat." Alasan Gaby yang semakin memperkeruh suasana hati Kenzi.
"Yaudah sih tidur aja, gak bakal ganggu juga gue." Sewot nya lagi.
Gaby menghela napas panjang, bingung harus menanggapi 'bagaimana' Kenzi saat dalam mode merajuk seperti ini. Gaby membereskan alat bekas makannya dan juga milik Kenzi.
"Gue belum beres." Ucap Kenzi menarik kembali mangkuk nya.
Perhatian Gaby teralih pada bel apartemen yang berbunyi. Dan beranjak untuk membukakan pintu. Terlihat Naresh disana.
Benar, Gaby menghubungi nya untuk menyeret paksa Kenzi untuk pulang. Bukannya apa-apa, Gaby tahu ini apartemen pemuda itu, Gaby hanya kasihan jika nantinya Mama Larissa mengomeli Kenzi, karena sudah melanggar aturan yang dibuat Mamanya itu selama Gaby menempati apartemen.
"Jemput lo, ayo pulang." Jawab Naresh dengan wajah datar khas-nya.
"Ogah!, lagian ini apartemen gue." Kekeuh Kenzi.
Astagaa, Gaby rasanya ingin menjedotkan kepala Kenzi ke meja saat ini. 𝘗𝘦𝘳𝘪𝘩𝘢𝘭 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘳𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪.
"Yaudah, gue aja yang pulang." Ucap Gaby. "Ayo Resh, anter gue." Gaby pura-pura akan ke kamar.
"Ck, yaudah iya, gue pulang." Ucap Kenzi sedikit teriak. Tidak lupa cowok itu menghentakkan kakinya.
"Kan apartemen lo." Goda Gaby.
Kenzi semakin memberenggut.
Naresh menarik sudut bibirnya samar, merasa lucu dengan tingkah keduanya.
'𝘜𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘭𝘰 𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘒𝘦𝘯.
"Ayo Abang Naresh, anter gue pulang." Berbeda dengan kata-katanya yang manis, wajahnya begitu sewot.
"Loh, gue aja yang pulang Ken, ini kan apartemen lo." Ucap Gaby.
"Gak, gue mau tidur di 𝘱𝘶𝘬-𝘱𝘶𝘬 Mama Larissa." Jawabnya dan menyeret Naresh.
Gaby akhirnya meledakkan tawanya. Membuat Naresh dan Kenzi yang sudah di depan pintu berhenti dan menoleh ke arah Gaby.
Kenzi tersenyum, artinya Gaby sudah merasa lebih baik.
* * * * * *
Seorang gadis tengah berdiri di balkon kamarnya, angin malam berhembus menerbangkan rambut panjangnya. Satu notifikasi pesan masuk, membuatnya buru-buru mengecek.
Ariella mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku tangannya memutih.
Satu notifikasi masuk kembali ke ponsel nya. Ariella segera mengeceknya.
Aaargghhh.
"Gak akan gue biarin lo rebut Al dari gue." Desis nya. Matanya memerah, menahan ledakan emosi.
"Lo pikir lo siapa? Gabriella Anastasya."