
Deluna berjalan dengan tergesa-gesa, mencari keberadaan Gaby. Tadi dia bilang pada Gaby bahwa ia sudah menunggu nya di kantin, tapi saat hendak memesan makanan, tiba-tiba seorang siswi menghampiri nya dan mengatakan bahwa ia di cari 𝘉𝘶 𝘓𝘪𝘴𝘺𝘢 - 𝘨𝘶𝘳𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢 nya.
Saat kembali ke kantin, ia mengernyit karena para siswa tengah tertawa, entah karena apa. 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺, pikirnya. Tanpa tahu bahwa sahabatnya-lah yang tengah mengalami itu. Sudah bukan rahasia umum lagi jika 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 elit, salah satunya 𝘚𝘔𝘈 𝘊𝘌𝘕𝘋𝘙𝘈𝘞𝘈𝘚𝘐𝘏 ini - pasti terdapat perundungan, mereka yang memiliki uang merasa berkuasa dan menindas para anak dari kelas bawah.
Deluna mengepalkan tangannya saat tiba di depan pintu toilet. Dia yakin kalau temannya itu ada di dalam, dia sudah tahu ceritanya dari siswi yang ia cegat tadi di kantin.
"Gab..,Gaby lo di dalem?" teriak nya, tangannya menggedor pintu toilet yang terkunci itu.
Sedang Gaby, gadis itu terduduk dengan lemah di lantai toilet yang dingin, punggungnya bersandar pada dinding, kakinya ditekuk, dan menenggelamkan kepalanya di sana, tangannya memeluk dirinya sendiri.
Batu es yang mulai mencair nampak berserakan di sekitarnya. Tampilan nya tidak bisa di katakan baik dengan wajahnya yang pucat, sekujur tubuhnya basah, rambutnya acak-acakan, ada noda darah di sudut bibirnya. Gadis itu sedikit mengangkat kepalanya kala mendengar Deluna memanggilnya. Tapi ia tidak memiliki tenaga bahkan untuk sekedar menjawab Deluna, bibirnya bergetar karena kedinginan.
Ia tidak merespon ketika di rasakan pintu itu dibuka secara paksa, dan tubuhnya di angkat setelah seseorang memeluknya, dan aroma 𝘢𝘲𝘶𝘢 𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯𝘦 memasuki indra pencium-nya. Hingga sesaat kemudian kegelapan merenggut kesadaran nya.
* * * * *
"Thanks ya yan." Ucap Deluna tulus, saat Tian selesai membaringkan Gaby diranjang UKS.
"Hmm, santai aja." Jawab Tian.
"Kenapa bisa sampai gitu?" Tanya Tian.
Tian mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Deluna.
"Dan kalau aja temen lo gak bego dengan ngejar-ngejar Albian, mungkin dia gak bakal ngalamin ini." Balas Tian, dengan mata yang melirik pada Gaby yang memejamkan mata.
Tian beranjak keluar, tapi saat tiba di pintu ia berhenti. "Dan lo turut andil atas itu." Ucap Tian, jangan lupakan satu sudut bibir nya yang terangkat, melirik Deluna sekilas, ingin lihat reaksi gadis itu. Baru kemudian benar-benar melangkah keluar.
Gaby mengerjapkan matanya perlahan, setelah hampir satu jam ia tak sadarkan diri. Mencoba menyesuaikan cahaya. Kepalanya begitu pening, punggungnya terasa ngilu, dan pipinya terasa panas.
Deluna yang melihat pergerakan Gaby, menghampiri dengan sebotol air di tangannya. Membantunya untuk minum.
Baju gadis itu sudah diganti dengan yang kering, untunglah ada baju olahraga di loker Gaby, jadi ia tidak perlu susah-susah mencari pinjaman dari teman-teman nya.
"Jadi, siapa yang lakukin tadi?". Tanya Deluna 𝘵𝘰 𝘵𝘩𝘦 𝘱𝘰𝘪𝘯𝘵. Tidak mungkin Ariella dan kedua anteknya, karena ia melihat Ariella sedang latihan 𝘤𝘩𝘦𝘦𝘳𝘴, sedang kedua anteknya ada di kantin.
"Makasih..," Ucap Gaby saat selesai menegak air mineral nya. "Maaf, ngerepotin Luna terus.." Lanjutnya.
"Ck!!, gak usah ngalihin pembicaraan deh!!., jadi siapa??" Desak Deluna.