
Bi Inah mengusap nisan di hadapannya, bahu wanita itu bergetar.
"Maaf, saya gagal jaga non Gaby." Lirihnya.
Disamping nya ada Sarah yang senantiasa mengusap pundaknya, menguatkan.
"Maafkan Bibi" Wanita itu menumpu kepalanya di nisan -nyonya nya.
Hampir tiga bulan, nona mudanya itu tidak pulang ke rumah.
Bi Inah benar-benar takut hal buruk terjadi. Namun dirinya juga siap menerima kenyataan, bahkan jika itu hal terburuk sekalipun.
Keduanya pergi setelah berpamitan.
Tidak menyadari dua pasang mata yang menyaksikan.
Gaby menghapus air matanya. Gadis itu merindukan wanita yang merawatnya sejak kecil itu.
"Mau nemuin sekarang?" Tanya Kenzi.
Gadis itu menggeleng sebagai jawaban.
Setelah kondisinya membaik, Gaby bilang merindukan mamanya. Dan berakhirlah Kenzi mengantarnya. Meski gadis itu berkata dirinya baik-baik saja, dan bisa pergi ke makam mamanya sendiri, Kenzi tetap memaksa akan mengantar.
Perlahan Gaby membawa langkah nya menuju pusara mamanya.
"Ma, Gaby datang lagi."
Gadis itu meletakkan mawar putih yang dibawanya.
"Mamah apa kabar? Gaby kangen.." Lirihnya.
Ada banyak panjatan-panjatan doa yang Gaby ucapkan, terdapat banyak kerinduan yang ia ungkapkan. Gaby merindukan sosok yang belum pernah ditemuinya, selalu. Air matanya mengalir tanpa dapat ditahannya.
"Hal paling menyakitkan dari merindukan, saat kita tidak bisa menemui orang yang kita rindukan." Ucap Naresh.
Gaby menoleh, pemuda itu tepat di belakangnya, duduk memunggunginya.
Naresh mengusap kedua nisan di depannya.
Kecelakaan tiga tahun lalu yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.
Gaby mengubur wajahnya di bahu Naresh, gadis itu hanya mengikuti kata hatinya yang menduga bahwa pemuda itu tengah rapuh dan berakhir memeluknya seperti ini.
Kenzi yang menyandarkan punggungnya pada pohon besar, segera menegakkan diri saat melihat Naresh balas memeluk Gaby. Dengan tangan pemuda itu yang menepuk pelan puncak kepala Gaby. Kenzi mendekati keduanya.
"Kosplay teletubis kok ditengah-tengah makam." Ucapnya. Kemudian ikut memeluk keduanya, dengan perlahan menarik Gaby dari dekapan sepupunya itu.
Gavin melihat kepergian mobil sport yang tampak tidak asing di matanya.
Duduk didepan pusara mamanya, dan mengernyit heran melihat mawar putih disana.
Yang dirinya tahu hanya beberapa orang yang tahu bunga kesukaan mamanya tersebut.
"Apa Bi Inah?" Monolognya.
* * * * * *
Dentuman musik keras memekakkan telinga terdengar.
Tian berjalan tergesa-gesa membelah kerumunan yang asik berjoget di dance floor, tidak memperdulikan orang-orang yang berteriak kesal karena ia tabrak. Membawa kaki panjangnya menuju sofa yang ada di sudut ruangan. Tangannya langsung merebut paksa gelas di tangan Albian. Meletakkannya kasar di atas meja bundar disana.
"Lo kenapa sih Al?" Geram Tian.
"Ini juga bocah satu, malah ikutan teler." Kakinya menendang bok**g Bima yang meringkuk di sofa.
Tian tadinya tengah asik menonton drama China, dan tiba-tiba ditelpon salah satu bartander yang dikenalnya. Mengatakan kedua temannya sudah setengah sadar.
"Gak bisa diandelin emang" Gerutunya ke arah Bima yang kini terlentang dengan kaki dinaikkan ke meja.
Merebut botol yang hendak diteguk Albian secara kasar.
"Lo udah minum banyak tol**"
Entah berapa banyak yang diminum temannya ini, Albian itu toleransi alkohol nya tinggi. Dan melihat bagaimana kondisinya saat ini, sudah dapat Tian pastikan Albian minum banyak.
"Gimana caranya gue ngangkut dua makhluk ini coba?" Tian mendudukkan diri di sofa tersebut, menggeser Bima yang bergumam tidak jelas.
Gerakan Tian yang membopong tubuh Bima terhenti, saat mendengar racauan Albian. Bahkan pemuda itu kini mendekatkan telinganya, karena takut salah mendengar. Dan mengabaikan Bima yang sudah tergeletak di samping meja.
"Gab..,lo gak bisa giniin gue" Racau Albian.