Other Side Of Me

Other Side Of Me
20. Tekat untuk membalas


Sudah menjadi kebiasaan nya, entah disadari atau tidak, saat hendak berangkat atau pulang dari kampus, Gavin menatap pintu kamar gadis yang tidak ingin dia sebut namanya.


Terkadang rasa khawatir itu muncul, tapi kemudian bersikap seolah tidak terjadi apapun. Seperti saat ini.


"Apa mungkin dia ikut 𝘖𝘮 𝘈𝘳𝘺𝘢𝘯?" monolognya.


Mungkin saja gadis itu dibawa oleh adik dari mamanya tersebut. Mengingat hanya orang itu yang peduli pada-nya.


Andrio, Papanya. Masih berada di luar negeri. Setelah dua minggu diluar kota, Papanya itu langsung berangkat untuk urusan bisnis. Dan sepertinya tidak tahu jika Gaby tidak pulang ke rumah.


Entah apa yang mendorong pemuda itu saat membuka pintu kamar Gaby.


Aroma manis khas-nya, dapat tercium dikamar berwarna biru tersebut. Matanya mengedar menatap sekeliling ruangan yang masih terlihat rapi.


Tanpa sengaja netranya menangkap sebuah 𝘣𝘶𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘳𝘺 yang bisa Gavin duga dari si pemilik kamar.


Kakinya melangkah ke arah lemari kaca yang tampak penuh dengan berbagai medali. Dia tahu, gadis yang entah dimana keberadaan nya saat ini, itu cukup berprestasi di sekolahnya.


* * * * * * *


Kenzi baru saja tiba di depan pintu unit apartemen nya. Setelah menekan 'beberapa digit angka, pintu terbuka.


Dan langsung di sambut ruang tamu yang memperlihatkan seorang gadis yang tengah terlelap diantara buku-buku yang berserakan, berbantal-kan lengannya.


Kenzi mendekat, tangannya terulur mengusap lembut puncak kepala Gaby.


Melihat posisi tidur Gaby yang ber potensi akan membuat leher gadis itu kram, Kenzi berinsiatif memindahkan nya ke sofa.


Gaby yang merasa terusik akhirnya membuka mata, sedikit terkejut melihat Kenzi di depannya.


"Ken?" Ucap Gaby


"Kenapa?" Tanya Gaby bingung, mendapati keberadaan Kenzi di apartemen.


Memang apartmen ini milik cowok itu, hadiah ulang tahun dari 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘈𝘳𝘫𝘶𝘯𝘢 tahun lalu. Tapi sejak ditempati oleh Gaby. Kenzi jarang datang kemari seorang diri, biasanya bersama Mama 'cantiknya, 𝘔𝘢𝘮𝘢 𝘓𝘢𝘳𝘪𝘴𝘴𝘢. Bisa di sunat dua kali dia sama Mama Larissa kalau nekat datang sendiri ke apartemen yang ditinggali seorang gadis.


Meski sebenarnya dirinya sering berkunjung untuk memastikan gadis itu '𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢. Tanpa Gaby sadari dan tanpa Mama cantiknya itu tahu pastinya.


'𝘎𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘤𝘰𝘸𝘰𝘬-𝘤𝘦𝘸𝘦𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢𝘢𝘯, 𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘢-𝘪𝘢'. Begitu kata Mamanya. Apalagi Larissa tahu kalau putra tengil-nya itu mantannya dimana-mana.


Bahkan teman-temannya menjulukinya '𝘣𝘶𝘢𝘺𝘢 𝘤𝘢𝘱 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘬.


Kenzi membiarkan Gaby duduk tegak. Sesuai dugaan, gadis itu sekarang menggerak-gerakkan lehernya yang kaku.


"Mama nyuruh nganter makanan buat lo, lo pasti sibuk buat persiapan Olimpiade. Mama tahu kalau udah belajar, lo pasti lupa buat makan." Jelasnya panjang lebar, membuat hati Gaby menghangat.


Perhatian yang diberikan Mama Larissa membuat nya seperti merasakan kasih sayang 'seorang ibu yang tidak pernah didapatkan nya.


'Bi inah memang memperlakukan nya layaknya putri sendiri, tapi wanita itu tetap memberi batasan antara mereka, dengan tetap menyebutnya 'non. Gaby sempat protes akan hal itu.


Tentang 'Bi inah, Gaby bertanya dalam hati '𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢.


"Makasih Ken." Ucap gadis itu tulus.


"Ketemu lo dan Mama Larissa merupakan anugrah dalam hidup gue." Lanjutnya, mata gadis itu mulai berkaca-kaca.


"Hm, balas pertolongan gue dan kebaikan Mama dengan 'lo tetep hidup!!" Tangan Kenzi mengusak rambut Gaby.


"Dan 'membalas apa yang udah mereka perbuat selama ini." Tangan Gaby mengepal mengingat 'apa yang sudah mereka lakukan padanya.


"Buktikan kalau lo, gak lemah dan bukan pecundang." Ucap Kenzi.