
Srettt,
Brukkk.
Bukunya dilempar, Gaby berdiri untuk mengambil bukunya.
Kesal merasa diabaikan, Alena menyentak lengan Gaby. Tapi dengan cepat gadis itu menepisnya.
"Jangan coba-coba sentuh gue pakai tangan kotor lo." Ucap gadis itu dingin.
Tidak hanya Lena, siswa yang berada dikelas dan mendengar ucapan dingin Gaby, terkejut bukan main. Bahkan Lena masih mematung di tempat nya.
Suara pintu yang dibuka secara kasar mengejutkan seisi kelas, kecuali gadis yang tengah membaca dengan tenang itu, karena telinga nya tersumpal headset. Deluna mengabaikan tatapan penuh protes dari siswa di kelas Gaby itu.
"Lo kemana aja sih?, harusnya kalau mau pergi-pergi kabarin gue..gue khawatir sama lo." Ucap Deluna mendekap Gaby.
Gaby diam mematung, tidak menjawab apalagi membalas pelukan 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘯𝘺𝘢 itu. Gaby terkekeh sinis. 𝘚𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵?.
Gaby mendorong paksa tubuh Deluna.
"Udah drama nya? Bisa nyingkir dari hadapan gue sekarang?" Tanya Gaby, jangan lupakan ekspresi datarnya.
Deluna terperangah. Saat hendak menjawab suara bel tanda masuk berbunyi, membuat Deluna mau tidak mau keluar dan segera ke kelasnya.
* * * * *
Gaby baru saja keluar dari perpustakaan, dirinya harus belajar dengan ekstra mengejar ke-tertinggalan nya selama dua bulan lebih. Bukan hal yang sulit sebenarnya, selain karena dirinya cukup berprestasi di bidang akamedik dia juga membaca buku pelajaran milik Kenzi - milik teman nya lebih tepatnya.
Kakinya terhenti, tepat di ujung lorong yang mengarah ke ruang osis terdapat Deluna yang memang sedang menunggunya. Gaby menghela napas.
Mata hazelnya membulat saat melihat ke arah parkir, dimana disana terdapat seorang siswa-ralat, lima orang disease mengenakan seragam yang berbeda dari 'cendrawasih tengah duduk dengan tenang di atas motor sport masing-masing.
"Hai.." Sapa pemuda yang posisinya paling depan.
Sapaan singkat itu seketika membuat para cewek berteriak histeris. Tapi mendadak diam saat mata mereka mengikuti arah pandang Kenzi.
Gaby tersenyum kikuk, kemudian berjalan ke arah Kenzi. Entah sihir dari mana yang membuat kerumunan itu membelah seolah memberi jalan pada Gaby.
Kenzi menyodorkan helm merahnya setelah merapikan rambut Gaby. Membuat para siswi yang masih betah berkerumun itu menatap penuh iri pada Gaby.
Ariella yang melihat itu sedari awal mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Tidak jauh berbeda, Albian menatap sekumpulan 𝘪𝘯𝘵𝘪 𝘈𝘭𝘪𝘨𝘳𝘰𝘴 - - lebih tepatnya gadis yang duduk di belakang sang ketua - - yang mulai melajukan motornya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Tersentak saat Tian menepuk punggungnya.
"Ganteng banget sumpah, kannn gue bilang juga apa? Udah pasti sebelumnya Gaby di culik." Ucap Tania yang kini berjongkok dengan dramatis. "Kalau yang nyulik modelan '𝘒𝘦𝘯𝘻𝘪 𝘈𝘭𝘦𝘹𝘪𝘴 mah gue juga mau. Harusnya gue aja yang dikirim ke gedung kosong itu." Lanjutnya.
"Gedung kosong?" Tanya Bima. Membuat Albian juga Tian menoleh ke arah gadis itu.
"Eh, bu-bukan, bukan gedung kosong. Maksudnya..eee.." Jawab Tania gelagapan.
"Kebanyakan nonton drakor lo." Sela Leoni sebelum Tania mengatakan hal yang berpotensi Ariella mengamuk pada mereka.
Tania menahan diri untuk tidak berteriak saat Leoni mencubitnya tanpa perasaan.
Sejenak, Deluna bertatapan dengan Ariella kemudian melengos begitu saja.