
Setelah hampir tiga jam lamanya pelajaran berlangsung, bel istirahat akhirnya berbunyi. Membuat para siswa berbondong-bondong keluar kelas.
Pun dengan Gaby, gadis itu merapikan alat tulis nya, dan segera beranjak ke kantin untuk makan siang, Deluna sudah disana dan menunggunya.
Saat hendak berjalan ke arah pintu, kakinya di jegal yang membuat nya terjatuh.
"Ups, sorry!!" Kata 𝘕𝘢𝘥𝘪𝘯𝘦 pura-pura terkejut.
Alena tertawa melihat kelakuan temannya yang berhasil membuat Gaby terjatuh, yang kemudian ber-tos ria dengan nya.
"Makanya kacamata tuh jangan tebel-tebel." Sambung Lena di sela tawanya.
Gaby berdiri dan meringis saat merasakan lututnya sedikit perih. Mengabaikan itu, Gaby berjalan ke arah kantin.
Saat tiba di kantin, gadis itu mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Deluna.
"Akhhh" Pekik Gaby tiba-tiba saat tubuhnya ditabrak seseorang dan cairan panas tumpah mengotori bajunya.
Pekikan Gaby membuat para siswa yang berada di kantin spontan menoleh ke arah nya.
"Eh, sorry - sorry, gue sengaja.." Para siswa yang mendengar sontak tertawa mendengar penuturan Tania.
"Gimana dong.., baju lo jadi basah.."Gadis dengan rambut sebahu itu memasang ekspresi sedih dan menatap seragam Gaby yang basah dengan rasa bersalah. Tapi tak lama setelahnya ia menyeringai, tersenyum sinis ke arah Gaby.
"Aduh Tania, lo gimana sih? Panas ya..?" Tanya Leoni sambil membersihkan noda kuah bakso di seragam Gaby menggunakan tisu.
"Harusnya lo tumpahin semua dong, bukan cuma setengah nya." Lanjut Leoni dan melempar tisu bekas tadi ke wajah Gaby. Kemudian kedua gadis itu tertawa, sebagian siswa yang menyaksikan ikut tertawa.
"Kadang gue kasihan sih sama tuh cewek." ujar cowok dengan rambut kriwil itu.
Albian yang hendak menghisap kembali rokoknya, terhenti.. mengangkat satu alisnya, menoleh ke arah Tian.
"Ck, emang lo gak kasihan apa lihat dia, lo yakin gak ada rasa sedikitpun ke si Gaby bos??." Tanya Tian.
"Ya lo pikir aja, emang si bos bisa tertarik sama modelan cewek cupu begitu?" Celetuk Bima, matanya masih fokus pada layar ponsel nya.
"Ariella yang body nya aduhai aja cuma dianggap temen." Lanjutnya, membuat Albian melempar puntung rokok nya ke arah 𝘴𝘪 𝘣𝘶𝘢𝘺𝘢-𝘯𝘺𝘢 𝘊𝘌𝘕𝘋𝘙𝘈𝘞𝘈𝘚𝘐𝘏 itu, saat mendengar kalimat terakhir nya. Dan cowok itu menyengir dengan kedua jarinya yang membentuk 𝘱𝘦𝘢𝘤𝘦.
"Tapi kan.." Ucapan Tian menggantung kala Albian beranjak dari tempat nya duduk dan turun dari 𝘳𝘰𝘰𝘧𝘵𝘰𝘱.
Seperti biasa Albian membolos dari mata pelajaran karena alasan bosan, ditemani kedua temannya itu. Katanya "solidaritas pertemanan" padahal memang dasarnya mereka niat bolos. Menghabiskan waktu di rooftop sekolah hingga jam istirahat. Seperti saat ini.
Cowok berambut kriwil itu merasa sedikit prihatin dengan Gaby, meski sudah tidak terhitung berapa kali temannya itu mengusir Gaby si 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘮𝘢𝘳 𝘨𝘪𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 itu pergi, tetap saja gadis itu tampak gigih bertahan dan berjuang lagi dan lagi, meski selalu penolakan dan tak jarang pula kata-kata kasar di dapatnya.
Ia juga merasa sangsi dengan sikap Albian, yang selalu menolak gadis itu, tapi sering kali ia mendapati Albian tengah memperhatikan Gaby.
Tian akhirnya memilih menyusul Albian turun.
"Woi, Bima sakti!! Lo gak mau turun?" teriaknya pada Bima yang masih betah dengan gamenya.
"Tungguin anjir.!!" Teriak Bima juga. Dengan heboh iya berlari menyusul Tian. Orang-orang saja yang tidak tahu jika cowok yang di juluki 𝘣𝘶𝘢𝘺𝘢 𝘊𝘦𝘯𝘥𝘳𝘢𝘸𝘢𝘴𝘪𝘩 itu penakut.