
Gaby menghentikan langkahnya, tepat di depan pintu perpustakaan terdapat Deluna yang juga tengah menatap ke arahnya.
Mengabaikan hal tersebut, Gaby berjalan dengan satu tangan yang dimasukkan ke saku jas almamaternya.
Deluna menyekal tangan Gaby.
"Kita perlu ngomong." Ujarnya.
Gaby menyentak tangannya.
"Gak ada yang perlu dibahas. Dan, jauhkan tangan kotor lo dari gue." Ucap Gaby menatap tajam ke arah Deluna.
"Gue cuma mau tahu, kemana aja lo selama ini?." Tanya Deluna.
"Kenapa lo mau tahu?" Balas Gaby, balik bertanya.
"Karena kita 'sahabat 'kan?"
"Sahabat?" Gaby terkekeh, namun berbeda dengan matanya yang mulai memerah. Kedua tangannya terkepal.
"Bullsh*t Deluna!!" Ucap gadis itu dingin. "Bahkan..," Telunjuknya menekan bahu Deluna. "Lo adalah dalang utama, atas hancurnya hidup gue."
Deluna sedikit tersentak saat mendengar suara bergetar Gaby.
"Lo!! Lo dalang utamanya." Ucap Gaby menunjuk wajah Deluna.
Setelah mengatakan hal tersebut, Gaby berlalu begitu saja,namun Deluna dapat melihat ada setitik air mata yang jatuh ke pipi gadis itu.
Deluna masih mematung, hingga seseorang menepuk pundaknya.
"Ingat, penyesalan itu ada di akhir." Ucapnya kemudian pergi begitu saja.
Gaby mengubah arah tujuan nya ke toilet dekat gudang.
Gadis itu terduduk tepat setelah menutup pintu. Menumpu kepalanya pada kedua kakinya yang ditekuk. Memeluk lututnya erat.
Gadis itu terisak, ingatan-ingatan itu memenuhi kepalanya, bak sebuah film yang diputar.
Gaby memukuli dadanya, mencoba mengusir rasa sakit dan sesak disana. Sekujur tubuhnya bergetar, keringat dingin mulai menetes dari pelipis nya.
Perlahan pandangannya mengabur, hingga kegelapan menyelimuti nya.
Tepat saat tubuhnya hendak ambruk, sepasang tangan menahannya.
* * * * * * *
SMA Cakrawala.
Pekikan histeris menggema di lapangan basket. Apalagi jika bukan kedatangan rombongan anak basket, dan tentu para '𝘮𝘰𝘴𝘵 𝘸𝘢𝘯𝘵𝘦𝘥 𝘣𝘰𝘺'𝘴 𝘊𝘢𝘬𝘳𝘢𝘸𝘢𝘭𝘢 di barisan terdepan. Dengan tampilan urakan, yang mampu memporak-porandakan para hawa Cakrawala.
"Kak Azka! Nikahin gue sekarang." Teriak salah satu siswi.
"Oke! Share lock KUA nya" Balas nya tak kalah kencang.
"Bryan makin hari makin unyu." Sahut salah satu kakak kelas. "Pacaran sama kakak yuk dek"
"Gak dulu kak, dedek masih belajar." Balasnya, membuat Kenzi yang tepat dibelakang nya reflek menendang pan*** nya. Membuat nya nyusruk dengan posisi yang sangat-sangat tidak estetik.
"Wah KDRT nih." Ucap Arfan.
Naresh hanya mampu geleng-geleng kepala dengan tingkah teman-temannya ini.
"KAK KENZI" Ucapnya sedikit lantang.
Kenzi yang merasa terpanggil menoleh ke arahnya. Dan mengangkat sebelah alisnya.
"Mm, aku..,aku udah lama suka kakak. Kakak mau enggak jadi pacar aku?" Ucap gadis itu yang kini mendongak menatap manik kelam nya.
Kenzi bersedekap dada.
"Oke." Jawabnya ringan, membuat gadis itu kian berbinar. Sedang para siswi berteriak tidak terima.
Gadis itu hendak maju untuk memeluknya. Sebelum tangan Kenzi maju kedepan memberi gestur untuk tetap diam.
"Lo mundur lima langkah" Ucapnya. Membuat gadis ber nametage 𝘙𝘪𝘴𝘺𝘢 itu mengernyit bingung, namun menuruti perintah Kenzi.
Kenzi turut memundurkan langkahnya.
𝘚𝘢𝘵𝘶..,
𝘋𝘶𝘢..,
𝘛𝘪𝘨𝘢..,
𝘌𝘮𝘱𝘢𝘵..,
𝘓𝘪𝘮𝘢..,
𝘌𝘯𝘢𝘮..,
𝘛𝘶𝘫𝘶𝘩..,
𝘋𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯..,
𝘚𝘦𝘮𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯..,
Teman-teman nya ber-hitung dalam hati.
Saat hitungan ke 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴.
"Kita putus." Ucap Kenzi tanpa beban. "Lo bisa pergi sekarang" Lanjutnya.
Gadis itu melihat ke arah Kenzi, matanya tampak berkaca-kaca. Namun sekali lagi menurut, kemudian berlalu dari sana.
"Ck, ck. Pacar lima belas detik" Celetuk Arfan.
Jika ada yang bertanya atas dasar dan alasan apa?. Jawabannya adalah karena 'perintah sang baginda ratu. Yang sangat mewanti-wanti nya untuk tidak 'menyakiti perempuan.
Menurut Kenzi. Lebih baik seperti itu kan? Berstatus pacar meski hanya beberapa detik? Daripada mereka merasa malu karena tertolak. Jadi bukan salah nya. Toh mereka merasa bangga, karena berstatus sebagai 'mantan Kenzi.
Begitu lah Kenzi dengan 𝘱𝘢𝘤𝘢𝘳 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢. Jadi tidak heran 'kan? jika mantannya dimana-mana?.
Dering di ponsel Bryan mengalihkan atensinya. Mengangkat alisnya saat Bryan menyodorkan benda persegi itu kearah nya.
"****" Umpat nya kemudian berlalu begitu saja, mengabaikan panggilan 'coach yang baru saja tiba.
"Kenapa?" Tanya Naresh.
Bryan menggeleng tidak mengerti, bahkan ponselnya turut dibawa oleh Kenzi.