
Gaby menatap sekitarnya bingung. Bangunan tua dan tampak sepi?, jantung nya berdegup kencang. Bukan karena akan bertemu Albian, ia merasa sedikit takut. Ingin kembali tapi sudah terlanjur sampai. Lagipula Go-car yang di pesankan untuknya sudah pergi, setelah tadi bertanya sekali lagi, apakah dirinya yakin?.
Gaby menghembuskan nafas yang ke sekian kali, menatap sekitar bangunan, tidak benar-benar sepi sebenarnya, ia masih dapat menemukan lampu di beberapa titik yang terdapat bangunan yang seperti gubuk? 'mungkin.
Gadis itu berusaha ber-𝘱𝘰𝘴𝘪𝘵𝘪𝘧 𝘵𝘩𝘪𝘯𝘬𝘪𝘯𝘨. Mungkin saja teman-teman Ariella sedang menyiapkan prank.
Gadis itu membawa langkahnya masuk, menyalakan 𝘧𝘭𝘢𝘴𝘩 di ponselnya. Dan tidak mendapati siapapun, Gaby segera akan menghubungi Deluna, tapi ponsel nya tidak menangkap sinyal sama sekali.
Dan semakin panik saat sayup-sayup dia mendengar gelak tawa seseorang atau dua?. Gaby tidak tahu. Yang pasti saat ini tubuhnya gemetar. Apalagi saat matanya melihat siluet dua pria yang memasuki bangunan tersebut. 𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘰𝘺𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯.
Gadis itu ber firasat ada yang salah 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪. Gaby hendak bersembunyi tapi gagal karena salah satu pria itu sudah menangkap basah kehadirannya. Dan menyeringai menatapnya.
Menjatuhkan 𝘵𝘢𝘴 serta 𝘱𝘢𝘱𝘦𝘳 𝘣𝘢𝘨 yang dipegangnya begitu saja, saat kedua pria itu berjalan kearah nya. Sebisa mungkin dia membawa langkah nya menjauh saat dirasa 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮𝘯𝘺𝘢.
Tapi naas karena kedua pria itu sudah berdiri tepat dibelakang nya. Gadis itu meringis saat punggungnya dibenturkan ke dinding.
"Mau kemana hmm?" Tanya pria itu. Dapat tercium olehnya bau alkohol dari mulut pria itu.
"Le-lepas." Gaby memberontak berusaha melepaskan diri dari dua pria itu.
"Cantik." Ujar pria satunya.
Sebisa mungkin gadis itu memalingkan wajahnya saat tangan pria berkumis itu mulai membelai wajahnya.
"Heii, jangan bikin dia takut." Ujar pria yang lebih jangkung.
"Tolong, biarin aku pergi.." mohon gadis itu. Pertahanan nya pecah, air mata yang sedari tadi ditahan-nya pun, kini luruh.
"Pergi? Hmm" Pria yang lebih jangkung terlihat berpikir. "Tentu, setelah kita bersenang-senang tentunya". Lanjutnya. Dengan tawa menggelegar yang terdengar meyeramkan di telinga Gaby.
Gadis itu semakin memberontak, berusaha melepaskan cekalan dari dua pria di hadapannya ini.
Dering ponsel di tangannya menghentikan tawa dua orang itu. Gaby segera menggeser ikon hijau berharap siapapun yang menelepon nya saat ini menyelamatkan nya.
"𝘕𝘰𝘯 𝘎𝘢𝘣𝘺 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪?"
Mulutnya di bekap saat hendak menjawab pertanyaan Bi Inah. Dan menggenggam ponselnya semakin erat.
"Aghh" Erang pria berkumis itu saat Gaby menggigit tangannya.
"Bibiii" Teriak Gaby saat mulutnya bebas.
"𝘕𝘰𝘯 𝘎𝘢𝘣𝘺 𝘥𝘪𝘮𝘢.."
Ponselnya dirampas dan di banting, sebelum Bi Inah menyelesaikan pertanyaan nya. Gaby berdoa dalam hati, semoga Bi Inah segera mencari nya.
Melihat celah, sekuat tenaga Gaby menendang pria yang mencengkram bahunya saat menoleh ke arah temannya yang menerima panggilan.
Gaby segera berlari keluar bangunan. Sedikit kesulitan karena memakai 𝘩𝘪𝘨𝘩 𝘩𝘦𝘦𝘭𝘴. Diikuti kedua pria itu yang mengejarnya.
"Akhhhh" Gadis itu 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘪𝘭𝘪𝘳.
Sebisa mungkin menahan ngilu di pergelangan kakinya saat berlari kembali, setelah melepas high heels nya. "𝘠𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘎𝘢𝘣𝘺.." ucap gadis itu dalam hati.
Gaby tersungkur kembali saat salah satu pria yang mengejarnya berhasil menangkap nya.
"𝙏𝙤𝙡𝙤𝙣𝙜.." Teriak gadis itu, berharap ada yang mendengar nya.
PLAKKK
"Diam!! Dan nikmati saja!!" Desis pria itu setelah menampar Gaby.
"𝙏𝙊𝙇𝙊𝙊𝙉𝙂𝙂" Teriak Gaby semakin kencang saat tubuhnya diseret paksa. Dan mulutnya di sumpal.
Air mata nya semakin deras mengalir saat bajunya di robek paksa. Ia merasa benci terhadap dirinya yang tidak mampu memberi perlawanan.
* * * * * *
Gadis malang itu berjalan tanpa arah, hanya mengikuti indra pendengar nya, yang mendengar suara aliran air.
Gaby berhenti dipinggiran jembatan. Air matanya mengalir, hidupnya hancur. Matanya menatap kosong ke arah sungai, dan memejamkan mata kemudian. "Tunggu Gaby mah.."