
Kenzi membaringkan Gaby dengan perlahan. Menaikkan selimut hingga dada, kemudian keluar setelah mengelus surai gadis itu. Menyusul Naresh yang duduk di ruang tengah.
"Tante Larissa udah di jalan kesini" Ucap Naresh saat Kenzi baru saja duduk.
Perhatian Kenzi teralih ke ponsel Bryan yang diletakkan di meja bergetar.
𝘗𝘢𝘤𝘢𝘳 5 𝘤𝘢𝘭𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘺𝘰𝘶..
Keduanya saling berpandangan. Menghela napas secara bersamaan.
Tak lama berdering kembali.
𝘈𝘺𝘢𝘯𝘨 7 𝘤𝘢𝘭𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘺𝘰𝘶..
"Anjirr!! Ceweknya ada berapa sih?"
Akhirnya Kenzi membuat ponsel itu dalam mode silent.
Langkah terburu-buru seseorang membuat mereka menoleh. Seorang wanita berpakaian kasual dengan jas putih yang tersampir dilengannya melangkah masuk.
"Boleh saya langsung menemui Gaby?" Tanya nya.
"Ah, silahkan kak." Jawab Kenzi.
Dokter 𝘔𝘪𝘳𝘢 langsung bergegas menuju pintu berwarna coklat. Membuka pintu nya secara perlahan.
Wanita itu menghela napas, melihat punggung Gaby yang membelakangi nya.
"Hai" Sapa wanita berusia 𝘥𝘶𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 tahun itu.
Gaby tetap bergeming, tidak menyadari kehadiran sang dokter muda.
Dengan perlahan dokter Mira mengelus surai Gaby. Gadis itu tengah menangis, terbukti dari pundaknya yang bergetar.
Kenzi yang berdiri di depan pintu dan menyaksikan hendak masuk, namun ditahan Naresh.
"Udah ada kak Mira." Ucap Naresh.
Gaby tidak mengerti apa sebenarnya yang membuatnya terasa kacau saat ini. Rasanya begitu menyesakkan.
Amira, psikolog muda itu menghentikan tangan Gaby yang hendak menjambak rambutnya.
Dua bulan yang lalu dirinya bertemu gadis rapuh ini, turut prihatin atas apa yang menimpanya.
"Kamu boleh nangis, kamu boleh teriak. Tapi jangan sakiti diri kamu." Suara Mira sedikit bergetar, matanya ikut memanas.
Kenzi menoleh saat pundaknya diremas, mamanya berdiri di belakangnya.
"Ma.." Lirih Kenzi.
Larissa menunduk, menyembunyikan air mata dari putranya.
Kenzi memeluk mamanya, mencoba menyalurkan ketenangan. Naresh beranjak. Mengerti bahwa ibu dan anak tersebut membutuhkan ruang.
Di rooftop Cendrawasih, Albian mengepulkan asap rokoknya. Ia bukan perokok aktif. Merokok hanya ketika merasa butuh ketenangan. Seperti saat ini.
Dirinya tidak tahu kenapa tiba-tiba muncul perasaan tidak nyaman saat melihat Gaby dalam gendongan Kenzi. Musuh bebuyutannya.
Sejak kapan mereka dekat? Pertanyaan itu terus mengusiknya.
Albian tidak menampik, bahwa Gaby berubah setelah menghilang cukup lama. Apa yang membuat gadis itu berubah. Dan kenapa harus mengabaikan nya? Seolah dirinya tak terlihat di mata gadis itu. Tapi bukankah itu yang dirinya inginkan sejak dulu?.
"𝘏𝘢𝘪𝘪" 𝘎𝘢𝘣𝘺 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘮𝘢𝘯𝘪𝘴. 𝘔𝘦𝘯𝘺𝘰𝘥𝘰𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘱𝘦𝘳 𝘣𝘢𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢.
𝘈𝘭𝘣𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘢𝘭𝘪𝘴𝘯𝘺𝘢.
"𝘉𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶." 𝘑𝘦𝘭𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢. "𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘬𝘢".
" 𝘎𝘶𝘦 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯." 𝘜𝘤𝘢𝘱 𝘈𝘭𝘣𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘳𝘪𝘬 𝘎𝘢𝘣𝘺 𝘴𝘦𝘬𝘪𝘭𝘢𝘴.
𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘶𝘯𝘥𝘶𝘬 𝘭𝘦𝘴𝘶.
𝘈𝘭𝘣𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘦𝘤𝘢𝘬. 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘱𝘢𝘱𝘦𝘳 𝘣𝘢𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘎𝘢𝘣𝘺. 𝘚𝘦𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨.
𝘈𝘭𝘣𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘨𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘪𝘴𝘸𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵.
"𝘉𝘶𝘢𝘵 𝘭𝘰, 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘬𝘰𝘵𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘰 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘎𝘢𝘣𝘺."
𝘚𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘎𝘢𝘣𝘺 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘶𝘩.
𝘎𝘢𝘣𝘺 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶, 𝘦𝘬𝘴𝘱𝘳𝘦𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘶𝘳𝘢𝘮. 𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢. 𝘛𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘈𝘭𝘣𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘯𝘺𝘢. 𝘋𝘪𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢𝘪 𝘩𝘦𝘮𝘣𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴 𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨.
Tepukan dibahunya membuyarkan lamunan pemuda tersebut.
"Bagi elah." Tian merebut rokok ketiganya, yang hendak diselipkan ke bibirnya.
Albian berdecak saat Tian merampas korek api ditangan kanannya.
"Gak usah protes, lagi kere gue." Ucapnya tanpa dosa.
Tian merampas bungkus rokok yang hendak dibuka Albian. Tian tahu temannya itu sedang bingung dengan perasaannya.
Albian meringis saat merasakan nyeri di sudut bibirnya.
"Sok jagoan sih" Ledek Tian.
Benar, dirinya tadi sempat terlibat adu jotos dengan Kenzi. Tidak lama, karena anak osis segera melerai keduanya.
"Nyebat gak ngajak-ngajak" Ucap Bima saat baru menapakkan kaki di sana.
"Sahabat cinta lo nyariin." Lanjutnya yang ditujukan pada Albian.
"Hehe bercanda elah" Cengirnya saat Albian menatapnya tajam.
Albian beranjak dari sana disusul keduanya.