
Kak Ira dan Kak Hanafi begitu shock mendengar berita bahwa Cerry gadis kecil itu meninggal dunia.
Kedua orang tua Annisa juga tak kalah terkejut mendengar berita itu, walau Cerry hanya cucu angkat nya namun mereka sudah menganggap Cerry sebagai cucu kandung nya.
Bunda Tati yang mendengar Annisa sedang kritis di rumah sakit mendadak pingsan,. melihat putrinya terbujur lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit dengan berbagai alat bantu pernafasan.
Kenapa Tuhan menguji rumah tangga putri kecilnya seperti ini. lirih Bunda Tati.
Kehilangan Cerry dan kehilangan kandungan nya, apa salah kedua nya?
Ingin sekali keluarga Annisa bertanya? kenapa bisa seperti ini! Apa yang terjadi?
Namun melihat Mark yang tampak sedih, sayu bahkan matanya memancarkan bahwa ia memang belum tidur seharian.
Mereka lebih memilih memendamnya terlebih dahulu, setelah keadaan nya membaik. Keluarga Annisa akan menjelaskan.
"Ikhlaskan Cerry dek." Ucap Kak Hanafi menepuk pundak Mark.
Mark hanya diam tanpa ingin menjawab nya, Mark menganggukkan kepalanya dengan kesedihan yang teramat dalam.
bagaimana jika istrinya nanti sadar? menanyakan kandungan dan Cerry? apa yang harus diperbuat Mark? apa yang harus ia jawab? semua tampak memusingkan sekali! Lirih Mark sendu.
Bunda Tati dan Kak Ira bertugas menjaga Annisa yang masih dalam keadaan kritis.
Sedangkan Mark, Asisten Hito, Kak Hanafi, dan Ayah Arifin pergi ke pemakaman memakamkan Cerry.
Mark memangku jasad Cerry dalam pangkuan nya, mengelus wajah putih pucat itu. Senyum tercetak jelas di wajah Cerry mesti sudah tak bernyawa.
Maafin Ayah Cerry yang tak becus menjaga mu! Ayah Ikhlas melepas mu pergi! kau yang tenang di sana! dan berbahagialah Cerry. Kau akan selalu menjadi putri sulung Ayah. Lirih Mark menatap Cerry.
Cerry di makam kan di pemakaman pribadi milik Mark, dengan Mark sendiri yang turun dan menguburkan Cerry.
Pemakaman Cerry di lakukan dengan penuh haru, Air mata Mark tak berhenti meneteskan. Ini kali pertamanya Asisten Hito melihat tuan nya begitu terpuruk.
Handphone milik Kak Hanafi berdering menampilkan istri tercinta nya yang memanggil.
"Halo sayang. Assalamu'alaikum." Ucap Kak Hanafi mengangkat telfon itu.
(.......)
"Aku segera ke sana." Ucap Kak Hanafi menutup telfon nya.
Kak Hanafi mendekat ke arah Asisten Hito membisikkan kata untuk segera mengajak Mark kembali ke rumah sakit karena keadaan Annisa kembali kritis.
Asisten Hito menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Mark, ayo kembali ke rumah sakit! kita sudah terlalu lama disini bukan?" Ucap Kak Hanafi.
"Ikhlaskan Cerry ya." Ucap Kak Hanafi menepuk pundak Mark.
"Iya kakak." Ucap Mark tertunduk lesu.
Mereka pun melangkah kan kakinya masuk kedalam mobil, dan Mark masih termenung hingga gak menyadari bahwa Asisten Hito melajukan mobilnya dengan begitu cepat.
Sesampainya di rumah sakit, Bunda Nur menangis dan langsung berhamburan memeluk suaminya, begitu dengan Kak Ira.
"Annisa." Lirih Kak Ira memandang wajah suaminya dengan gelengan kepala.
"Kalian berdua kenapa menangis? Ada apa dengan Annisa." Ucap Mark bingung, jantungnya di pompa dengan begitu cepat, kemungkinan terburuk! tidak! jangan bicara seperti itu bagaimanapun istrinya harus selamat!
"Masuklah Mark." Ucap Kak Hanafi lirih.
Dan tanpa menunggu lama Mark masuk kedalam dan Asisten Hito mengikutinya masuk.
Tampak layar monitor jantung Annisa bergaris lurus dan sang dokter sudah berusaha ingin melepas semua alat yang ada di tubuh Annisa.
"Jangan menyentuh istriku! Jangan melepas itu!" Ucap Mark menatap nyalang! penuh intimidasi.
"Tuan tapi! Nona sudah me.... " Ucap Dokter terbata.
"Kau mau mati mengucapkan kata seperti itu! Annisa ku tak mungkin meninggal! Istriku tak mungkin meninggal! kalian tak becus merawatnya! aku sudah membayar kalian mahal! ambil semua uangku! asal selamatkan istriku! Teriak Mark dengan menggema.
Asisten Hito dengan sorot matanya menyuruh dokter itu mundur terlebih dahulu memberikan ruang pada Mark dan jangan melepaskan alat bantu pernapasan nya.
"Annisa!" Lirih Mark.
"Hito! Annisa ku, Istriku tak mungkin meninggal kan ku kan!! Hito jawab aku!" Ucap Mark mencari dukungan.
"Maaf tuan." Ucap Asisten Hito dengan gelengan kepala.
"Kalian bohong!!" Teriak Mark tak Terima.
Tubuh istrinya sudah dingin dengan wajah pucat mendominasi.
"Annisa bangun!" Teriak Mark.
"Annisa bangun!" Teriak lagi.
"Tunjukkan pada mereka, bahwa kau tak pergi meninggalkan ku kan!" Ucap Mark sedih menunjukkan kearah dokter dan Asisten Hito.
"Tuan ikhlaskan nyonya Annisa pergi tuan!" Ucap Asisten Hito menepuk pundak Mark.
"Tidak! Istriku belum meninggal! Sekali lagi kau berucap seperti itu, aku akan memukulmu Hito!" Ucap Mark menepis tangan Hito yang ada di pundaknya! masih memandang wajah damai istrinya yang tertidur.
🍃
"Maafin Bunda yang gak bisa jaga Cerry." Ucap Annisa sedih.
"Bunda ga boleh sedih ya. Cerry bahagia di sini." Ucap Cerry tersenyum.
"Bunda ingin ikut Cerry saja dengan adik manis ini." Ucap Annisa meneteskan air matanya.
"Belum saat nya Bunda ikut Cerry, kasihan Ayah Mark Bunda." Ucap Cerry.
"Tapi? Bunda ingin ikut...." Lirih Annisa.
"Bunda gak boleh ikut Cerry! bangun Bunda! Lihat di belakang Bunda! Ayah manggil Bunda." Ucap Cerry menunjukkan di belakang Annisa.
"Sayang. Ayo pulang maafkan Aku! kau boleh menghukum ku! Tapi jangan pergi meninggalkan ku!" Ucap Mark lirih pada Annisa dengan sendu.
"Tapi!" Ucap Annisa ragu.
"Bunda harus pulang! Belum saatnya Bunda ikut Cerry! Selamat tinggal Bunda!" Ucap Cerry mencium pipi Annisa.
🍃
"Annisa bangun!!!!!" Ucap Mark berteriak histeris menggoyangkan tubuh Annisa yang dari tadi tak merespon nya.
Dan.
Drit
Drit
Drit
Layar monitor detak jantung pun kembali menunjukkan gelombang kehidupan.
(Ah anggap aja ya suaranya begitu.)
Asisten Hito dan Dokter yang ada di ruangan itu di buat takjub dengan keajaiban yang terjadi detik itu.
"Tuan, mundur sebentar saya akan periksa istri anda dulu!" Ucap Dokter meminta Mark untuk mendur sebentar.
"Terimakasih Tuhan terimakasih Annisa! terimakasih sayang! kau kembali! Ucap Mark bersyukur bersujud di lantai.
"Ini luar biasa tuan, Nona Annisa sudah melewati masa kritisnya dan sebentar lagi ia akan siuman, kemungkinan besok ia sudah bisa sadar." Ucap Sang dokter dengan tersenyum.
"Terimakasih dokter." Ucap Mark tersenyum. tangan nya menggenggam tangan istrinya menciumnya berkali-kali dengan rasa syukur.
"Nona Annisa sudah bisa di pindahkan di ruang rawat inap! Saya permisi dulu." Ucap dokter itu undur diri.
"Baik dokter tentu." Ucap Asisten Hito yang menjawab.
🌈🌈🌈
Happy Reading ya guys.
Jangan lupa like komen
Dan yang udah Vote aku ucapin banyak terimakasih.
Oh ya aku mau kasih pengumuman! Kemungkinan Minggu ini dan minggu depan! tak tau tepatnya kapan! Aku akan jarang Up Bab! Tapi aku akan usahain tiap hari minimal up 1 bab! 🙃
Maaf harus menyampaikan kabar ini.
🙂🙂🙂🙂
Kemungkinan kalau sudah tau waktunya kapan! aku kan kasih tau ke kalian? minta do'ain nya aja😌