Metamorphosis Cinta

Metamorphosis Cinta
MC - Retak


Rana terbangun dari tidurnya, ia mendapati dirinya sudah berada di kamar. Kepalanya masih sedikit pusing, namun ia masih saja memikirkan Freya.


Triiinggggg...


Ponsel Rana berdering, ia menatap layar ponselnya yang menunjukkan pesan masuk dari Freya. Gadis itu bergegas pergi tanpa mengganti pakaiannya. Ia menuju ke tempat yang Freya kirimkan padanya.


Ratu yang hendak masuk kedalam rumah, melihat Rana yang buru-buru. Ia segera mengirim pesan ke grupnya dan mengikuti kemana Rana pergi. Saat ia keluar rumah, Ratu dikejutkan oleh Suho yang juga mengikuti Rana. Mereka berdua hanya berpandangan sejenak tanpa menyapa dan langsung mengejar Rana agar tak kehilangan jejak.


Rana tampak celingak-celinguk menatap sekitar kala turun dari bus. Ia berjalan perlahan mencari tempat yang ingin ia tuju. Cukup lama ia berjalan dan akhirnya berhenti di sebuah gang sepi. Langkah Rana terhenti untuk melangkah maju, ia merasa ragu masuk kesana. Namun ia melihat seseorang yang familiar berdiri di bawah lampu jalanan.


"Freyaa" panggil Rana sambil berlari menghampiri Freya.


"Ini rumah gue, sekarang loe mau apa?"


Rana berhenti sejenak dan menatap sekitar, sebuah apartemen yang sepi. Jika dilihat dengan seksama sepertinya mereka berada di area belakang.


"Gue ingin tahu kenapa loe menghindari kamu?"


"Ran, loe tau kan kalau gue suka sama Suho. Tapi kenapa loe hadir diantara hubungan kami?"


"Apa karena Suho teman Dean? Memang masalahnya apa? Gue gak ngerti"


Freya menghela napasnya berat, ia mengepalkan tangannya lalu melayangkannya menampar Rana. Hal itu membuat Rana semakin tak mengerti, Rana memegangi pipinya menatap Freya yang menangis.


"Kenapa? Kenapa Suho harus suka sama loe?"


Deg...


Jantung Rana berdetak dengan sangat cepat, ia hampir kehilangan fokusnya mendengar perkataan itu dari Freya. Rupanya Freya juga sudah tau tentang hal ini.


"Seandainya loe jaga sikap loe, Suho pasti tidak akan menyukai loe. Loe memberikan ruang untuk dia, loe kayak cewek murahan tau gak"


"Apaka gue terlihat seperti itu dimata loe?"


"Iya, dan lebih baik kita tidak berteman lagi. Gue muak pura-pura baik, padahal loe sama saja. Kenapa gue harus selalu mengalah dan mengerti loe, gue selalu menjaga sikap saat bersama loe karena gue gak mau kalian benci. Karena semua orang hanya berpihak pada loe kan"


"Freya loe salah paham.."


"Cukup, gue muak. Lebih baik kita berpura-pura tidak saling mengenal"


Freya pun berjalan pergi meninggalkan Rana yang menangis. Apakah persahabatan ini memang begitu rapuh? Rana menyeka air matanya dan berjalan menjauh. Ia keluar dari gang kecil itu dengan mata sembab. Tak pernah Rana bayangkan ia akan melihat seseorang yang familiar. Dilihatnya Dean yang melintas bersama dengan Gerald.


"Rana" panggil Ratu. Ia berlari menghampiri Rana bersama dengan Suho. Gadis itu tampak terengah-engah dan sedikit kesal. Sebab Suho dan Ratu kehilangan Rana saat berputar-putar di keramaian.


Gerald dan Dean pun berhenti mendengar nama yang familiar. Mereka berdua menoleh dan mencari tau keberadaan seseorang bernama Rana itu. Refleks keduanya membuang rokok yang ada ditangan mereka. Mata Dean dan Rana saling bertemu, Rana kembali meneteskan air matanya.


"Kamu masih merokok? Ah, gitu ya" celetuk Rana dengan air mata menetes. Ia tak bisa menahan rasa sakitnya, hingga kakinya pun merasa lemas dan membuatnya terjatuh.


"Rana aku itu, aku hanya..." penjelasan Dean terhenti kala Rana mencengkram tangannya.


"Aku mau pulang, bawa aku pulang" pinta Rana.


Selama perjalanan pulang, perkataan Viola terus melintas dalam benak Dean. Sepertinya ada hal yang Rana sembunyikan darinya. Sampai dirumah Dean menggendong Rana masuk kedalam bersama dengan Ratu. Usai menyiapkan semuanya, Ratu berpamitan pulang. Ia meminta Dean untuk menjaga Rana.


Rana membuka matanya dan menatap Dean dengan seksama. Ia mengelus pipi Dean dengan lembut dan mencubitnya perlahan.


"Jadi kamu tidak pernah berhenti?"


"Bu..bukan begitu, a..aku sudah berusaha tapi.."


"Pulanglah, kamu pasti lelah. Aku tidak apa-apa, istirahatlah" ucap Rana lalu berbaring memunggungi Dean. Ia meringkuk menahan sesak didadanya, mengingat semua perkataan Freya.


Sebuah tangan melingkar di perut Rana, Dean mendekap erat kekasihnya. Rana memegangi tangan Dean dan mengelusnya. Karena besok sekolah libur, Dean memutuskan untuk menginap menemani Rana.


"Rana, kamu bisa membagi masalah mu denganku"


"Aku tidak mau membebani mu, kamu sudah cukup sibuk dengan pekerjaan mu bukan"


Dean bangun dari tidurnya, ia mengecek keluar jendela sebab terdengar suara hujan. Udara tiba-tiba menjadi dingin, Dean menatap Rana yang masih meringkuk di bawah selimut. Rasa bersalah itu kembali berputar dalam benaknya.


Rana menendang selimutnya dan duduk diatas ranjang. Ia menatap ke arah Dean yang juga memandangi dirinya. Rana mengulurkan tangannya, meminta Dean untuk memeluknya. Tentu saja pemuda itu langsung mendekat dan memeluk Rana erat.


"Maaf ya, aku belum bisa menjadi pacar pengertian untukmu"


"Hm... Sayang, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau pertemanan ku dan Freya rusak, apakah sikapku salah terdapat Suho? Freya bilang Suho menyukaiku, kau tau kan Freya suka Suho" jelas Rana.


Dean mengangguk mengerti, jadi inilah alasan kekasihnya terlihat murung selama beberapa hari terakhir. Pemuda itu mengelus punggung Rana dengan lembut. Lalu mulai mencium pipinya dan berakhir di bibir. Mata mereka saling bertemu sesaat, Rana ******* bibir Dean seraya melingkarkan tangannya dileher pemuda itu.


"Aku mencintaimu Dean, hanya kamu"


"Aku tau, aku juga mencintaimu" balas Dean lalu mengecup bibir mungil kekasihnya.


Krucuukkkk....


Rana tertawa mendengar bunyi perut Dean, ia mencubit pipi kekasihnya lalu beranjak menuju dapur. Ia memeriksa beberapa bahan makanan, sebelum memasak Rana memutuskan untuk mandi lebih dulu. Mungkin ia bisa meminta saran dari Dean agar hubungannya dan Freya tak berakhir.


Selesai mandi, Rana tertegun melihat makanan yang sudah tertata di atas meja makan. Ia melirik ke arah Dean yang tampak kacau karena memasak. Gadis itu mencoba menahan tawanya, ia dengan ragu menghampiri meja makan.


"Kamu yang masak?"


"Iya, kali ini rasanya pasti enak. Kamu coba deh"


Rana menatap masakan Dean, ia mulai mencicipinya satu persatu. Masih sama, rasanya sangat aneh dan hambar. Namun gadis itu mencoba tersenyum dan menikmati masakan buatan kekasihnya.


"Gimana? Enak kan?" Tanya Dean. Ia juga memakan masakannya sendiri. Pemuda itu tampak menikmatinya dengan lahap.


Melihat Dean yang menikmati masakan nya sendiri, Rana pikir lidah Dean benar-benar mati rasa. Tapi Rana tak mau kekasihnya kecewa, ia juga menikmati makanan itu dengan lahap.


"Selalu enak" ujar Rana memuji.