Metamorphosis Cinta

Metamorphosis Cinta
MC - Kilas balik (Masa Kecil)


Keluarga Rana mendatangi rumah Viola bersama-sama untuk memenuhi undangan makan malam. Rana masih menangis di gendongan punggung sang Papa. Ia tak mau berbicara pada ketiga Kakaknya.


"Eeh, kenapa Rana menangis?" Tanya Mama Viola.


"Aku tidak mau disini, aku benci Kakak" ucap Rana.


Viola yang baru saja keluar kamarnya, terkejut menatap Rana yang berantakan dengan air mata menetes. Ia tiba-tiba tersenyum dan tertawa kecil melihatnya.


"Mamaaaaaa" teriak Rana menangis semakin keras.


Viola mendekati Papa Rana dan memintanya menurunkan Rana. Ia menyekar air mata Rana dan memintanya berhenti menangis.


"Kau cengeng, ikut denganku" ujar Viola menarik Rana masuk kedalam kamarnya.


Semua orang dewasa tersenyum dan duduk di meja makan lebih dulu. Sedangkan Rana tengah duduk didepan meja rias Viola. Dengan penuh perhatian Viola menyisir rambut Rana dan menatanya dengan rapi. Sambil memperhatikan raut wajah Rana yang masih sedih.


"Kak Viola mau jadi temanku?" Tanya Rana tiba-tiba.


"Kenapa kau mau jadi temanku?"


"Karena Kak Viola sangat cantik, aku tidak suka disekolah. Semua anak memanggilku gendut dan terus mengolok-olok ku. Tak ada yang mau berteman denganku di sekolah, tapi dirumah mereka semua mau berteman denganku"


Viola memperhatikan Rana dengan seksama, memang tubuh Rana berisi, tapi ia terlihat sangat lucu karena begitu ceria. Tak ada yang menarik dalam diri Rana bagi Viola, namun perasaan aneh ini mendorongnya untuk lebih dekat.


Setelah selesai berdandan, wajah ceria itu muncul kembali. Viola menjadi tersipu setiap kali melihat Rana tersenyum padanya. Merekapun keluar kamar dan makan bersama yang lainnya.


Semenjak hari itu, keduanya semakin dekat. Mereka menghabiskan waktu bermain bersama selama liburan sekolah. Viola juga pindah sekolah di sekolah Rana, meski tak satu kelas karena beda tingkatan, Rana selalu mengunjungi Viola untuk mengajaknya makan bersama.


Viola dan Rana semakin dekat satu sama lain, mereka seperti kembar yang tak terpisahkan. Saat naik kelas dan Rana mendapatkan beberapa teman baru. Viola sedikit kesal sebab waktu bermainnya dengan Rana menjadi singkat. Bagi Viola, ia tak butuh teman lain selain Rana. Ia selalu bersikap cuek dan dingin pada teman lainnya.


"Rana, jika kau disuruh memilih antara aku atau teman-teman mu itu. Siapa yang akan kau pilih?" Tanya Viola pada Rana yang tengah mendandani bonekanya.


"Tentu saja Kak Viola, Kak Viola dan aku adalah saudara yang tak terpisahkan. Kita akan selalu seperti itu selamanya" ucap Rana dengan senyuman lebarnya.


\=======


Saat itu Rana duduk dikelas lima SD, untuk pertama kalinya ia satu kelas dengan Ratu. Mereka berdua memang dekat, namun karena tak pernah sekelas, mereka hanya bertemu saat les atau akhir pekan. Sebab Mama Rana akan membawa Rana ke rumah Ratu untuk bermain disana.


"Ran, mau makan apa? Laper nih gue" rengek Ratu yang bergelayut manja di lengan Rana.


"Gue ada janji sama Kak Viola, mau ke kantin bareng"


"Kak Viola mulu, sekali-kali minta Kak Viola buat jemput loe. Loe udah kayak bawahannya tau gak, hahaha jangan-jangan loe emang sengaja ya deket Kak Viola biar terkenal" sahut salah seorang teman sekelas mereka.


Ratu yang memang gampang marah sudah mengepalkan tangannya. Ia tak suka saat sahabat terbaiknya dihina seperti itu. Para siswi itupun segera pergi dengan tawa mengejek. Rana termenung dimejanya, ini sudah kesekian kalinya ia mendengarkan hal seperti itu. Meski tak keberatan, namun lama-lama itu menjengkelkan.


Rana menggandeng tangan Ratu dan menghampiri kelas Viola. Terlihat gadis itu tengah duduk seorang diri di kursinya.


Viola terdiam menatap Ratu yang berdiri canggung di samping Rana. Bukan tatapan biasa, namun tatapan super tajam.


"Dia siapa? Dia juga ikut?" Tanya Viola dengan nada kesal.


"Iya, dia sahabat terbaikku, Ratu. Yuk makan, laper banget" rengek Rana sembari menarik tangan Viola.


Mau tak mau Viola pun mengikuti Rana dan Ratu, meski tangannya bergandengan dengan Rana, namun Rana malah asik mengobrol dengan Ratu membahas kelas mereka. Viola semakin kesal dibuatnya, ia melepaskan tangan Rana dan menghela napasnya.


"Kenapa Kak?" Tanya Rana keheranan.


"Kalau kamu mau makan sama dia, silahkan. Aku gak mau makan dengan orang lain selain kamu. Lebih baik aku tidak makan siang, aku kembali ke kelas" ancam Viola lalu pergi. Biasanya Rana akan berlari mengejarnya dan berusaha membujuk Viola.


Seperti dugaan, Rana mengejar Viola dan meminta Ratu untuk pergi ke kantin lebih dulu. Rana melakukan semua permintaan Viola dan membawanya untuk makan siang di kantin. Keduanya berpapasan dengan Ratu, Rana merasa tak enak dan hendak meminta maaf. Namun Ratu juga sudah terlanjur kecewa sebab Rana lebih memilih Viola daripada dirinya.


Di usia semuda itu Rana harus berada di situasi sesulit ini. Ia pun makan siang bersama Viola seperti biasanya. Selama beberapa hari hubungannya dan Ratu masih tak akur, Rana jadi sering murung dan melamun selama pelajaran. Ia bahkan mengerjakan PRnya dengan banyak kesalahan hingga membuat Mamanya dipanggil ke sekolah.


Hari itu Rana pulang lebih awal karena Mamanya marah atas sikap Rana disekolah. Seharian Rana hanya terisak dalam tangisnya. Berkali-kali Papa mencoba bertanya, namun gadis kecil itu tak mau mengatakan apapun. Viola dan Ratu bergantian mengunjungi Rana, sebab gadis itu benar-benar tak mau melakukan apapun bahkan sekolahpun enggan.


"Adik Kakak yang cantik, kenapa menangis?" Tanya Vigo yang akhirnya pulang kerumah. Kala itu dirinya tinggal di asrama karena tak ingin bolak-balik kerumah, sebab sekolahnya jauh dan lumayan memakan waktu. Sekolah SMA terbaik yang diidamkan oleh para murid pandai.


"Kakaaaakk" teriak Rana langsung memeluk Vigo. Ia duduk dipangkuan sang Kakak dan terus menangis kencang.


"Jalan-jalan sama Kakak yuk, hari ini Kakak libur"


"Tidak, aku sedang sangat galau. Aku bingung Kakak, aku suka bermain dengan Ratu tapi aku juga tidak mau jauh dari Kak Viola. Tapi mereka berdua tidak mau berteman dan aku tidak tau harus bagaimana" kelas Rana.


Vigo tersenyum sambil mengelus rambut Rana dengan lembut. Ia membuka es krim yang dia bawa dan menyuapinya pada Rana.


"Sudah coba bicarakan dengan mereka berdua?"


Rana menggeleng.


"Tuh kan belum kamu coba, kenapa sudah menyerah duluan? Ternyata adik Kakak pengecut ya, tidak seberani pahlawan super"


"Rana berani kok" sahut gadis itu dengan dahi mengkerut.


Vigo mengusap dahi Rana menghilangkan kerutan itu, ia kecup dahinya dengan penuh kasih sayang. Diusapnya air mata Rana yang menetes di pipi.


"Janji untuk jalan-jalan masih berlaku kan?" Lirih Rana pelan.


"Hahaha iya sayang masih, yuk pergi sekarang. Malam ini Kakak langsung balik, jadi kalau kamu buang-buang waktu, waktu kita bersama jadi sedikit.."


Mendengar kalimat itu, Rana langsung mencuci muka dan menggandeng Kakaknya pergi berjalan-jalan berdua. Sangat sulit menemui Vigo sebab pemuda itu sangatlah fokus belajar demi meraih impiannya. Meski Papa dan Mama tak pernah mengatakan apapun, Vigo sudah menentukan sendiri jalan hidupnya. Ia adalah putra sulung kebanggaan keluarga.