
Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah usai liburan semester. Semua murid tampak tak bersemangat karena masih terlena dalam suasana berlibur. Itu hanya berlaku untuk beberapa murid, tidak dengan para murid yang berada di level satu. Mereka sudah begitu bersemangat untuk memulai tes level.
Rana sudah selesai mengerjakan soal untuk tes nya. Ini bukanlah hal yang sulit baginya, sebab Rana tak pernah melupakan belajar meski sedang berlibur. Diamanapun, ia terbiasa menonton video pembelajaran berulangkali kala dirinya lupa. Sambil menunggu yang lain, Rana hanya termenung menatap ke jendela luar.
Ding Dong Deng...
Bel istirahat pertama berbunyi, Rana secepat kilat berlari keluar kelas tanpa mendengarkan pesan terakhir wali kelasnya. Padahal pesan itu untuk Rana yang akan mewakili sekolah bersama Viola dan siswa lainnya.
"I'am here" teriak Rana dengan bersemangat di kelas Dean.
"No no, Pak Cipto ingin membicarakan lomba denganmu. Jadi cepat pergi keruang guru sekarang!!" Ujar Pak Jo melarang kedatangan Rana.
"Sungguh? Tapi Pak Cipto tidak..."
"Tidak apa? Kau berlari sebelum Bapak mengatakannya, cepat ke ruang guru!!" Sahut Pak Cipto.
Rana menggaruk kepalanya dan tertawa cengengesan. Ia bergegas menuju ruang guru untuk membahas mengenai perwakilan lomba nantinya. Jadwal untuk pembelajaran sudah ditentukan, selama sepekan mereka akan fokus pada materi perlombaan.
Selesai mengatur jadwal, para murid itupun kembali ke kelas masing-masing. Sebelum kembali, Viola memberikan kotak susu berbagai rasa untuk Rana.
"Kak Viola mau buat aku gendut ya? Nyebelin" rengek Rana.
"Hahaha, aku menyukai semua tentangmu. Jadi jangan khawatir, tetaplah sehat dan bahagia ya" ujar Viola lalu pergi.
Rana mengangkat alisnya tak mengerti, kenapa rasanya Viola ingin pergi jauh darinya. Padahal mereka masih ditempat yang sama, bahkan masih satu sekolah. Usai memikirkan hal itu, Rana bergegas menuju kelas Dean. Ia mematung begitu melihat kursi kekasihnya yang kosong.
"Dean kemanaaa?" Keluh Rana merengek.
"Disini" jawab seseorang yang ada didekatnya.
Refleks Rana menoleh, ia langsung tersenyum lebar kala melihat Dean tengah berdiri di sampingnya. Pemuda itu menaik turunkan alisnya seraya memandangi Rana.
"Hm... sayaaanggg kangen" ucap Rana dengan manja.
"Hoeek, hoeek, bukannya kalian tadi berangkat bareng?" Sahut Bella kesal.
"Habisnya Dean ngangenin sih hehehe" canda tangan sambil cengengesan.
Dean menjewer telinga Rana dan menariknya duduk ke bangku Dean. Gadis itu memanyunkan bibirnya sambil memandangi Dean yang tengah memeriksa kertas ujian levelnya. Baru saja mereka hendak berbincang, para murid sudah berlarian untuk melihat hasil tes mereka. Dean juga bergegas pergi ke Mading meninggalkan Rana yang masih kesal.
Rana menghela napasnya dan pergi ke kelas usai meninggalkan sekotak susu coklat untuk Dean. Ia tak meninggalkan pesan apapun dan kembali ke kelasnya tanpa keributan.
Tak lama bel berbunyi, semua murid kembali ke kelas usai melihat penilaian level mereka. Beberapa orang terkejut dengan hasil tes level mereka, begitu juga dengan seseorang yang mendapatkan peringkat pertama. Meski namanya tak asing, namun karena itulah mereka merasa jika Rana benar-benar gadis yang pandai. Sebab dirinya tak melepaskan predikat nomor satu darinya.
\=====
Istirahat jam kedua...
Semua murid sudah berlomba menuju kantin agar tak mendapatkan antrian yang panjang. Rana keluar kelasnya dan berhenti di depan kelas Dean, kursi pemuda itu sudah kosong rupanya. Entah kenapa rasanya seolah Dean menghindar, mereka belum menghabiskan waktu berdua.
Rana menuju kantin dengan Ratu, mereka mengantri makanan bersama dan makan satu meja dengan teman sekelas lainnya. Sesaat Rana melirik ke arah Dean yang tengah berbincang dengan Suho. Mereka berdua tampak asik berbincang bersama dengan tawa lebar.
"Kalian berantem? Perasaan tadi pagi baik-baik aja" celetuk Ratu memulai perbincangan.
\=====
Pulang sekolah...
Rana dan Ratu berjalan bersama menuju halte bus. Selama perjalanan, Rana terus mengoceh tak karuan karena nilai Ratu yang tak ada perkembangan. Sedangkan Ratu hanya bisa pasrah sambil meminum susu pemberian Rana.
"Hm... Ran, aku mau ajak kamu kencan sekarang. Ada waktu?" Celetuk Dean yang tiba-tiba hadir diantara dua wanita itu.
"Tidak, aku sibuk. Aku harus belajar karena nilaiku turun" jawab Rana tanpa menoleh. Ia terus memandangi ke arah jalanan menunggu bus datang.
Dean tak lagi berkata apapun, ia hanya diam memandangi Rana yang terlihat marah. Pemuda itu mencoba menarik perhatian Ratu, meminta gadis itu untuk memberikan ruang untuk dirinya dan Rana. Ratu memutar bola matanya malas dan mencoba mencari alasan untuk pergi. Setelah bus terlihat, Ratu berakting seolah dirinya memiliki janji yang terlupakan. Ia pun bergegas pergi ke arah lain dan meninggalkan Rana serta Dean bersama.
Mau tak mau, Rana pun pulang bersama dengan Dean. Meski tak berdampingan, Dean terus berada di belakang Rana untuk. Keduanya tak saling bicara hingga Rana sampai dirumahnya.
"Ran, kamu marah?" Tanya Dean seraya menahan tangan Rana.
"Aku capek mau tidur"
"Baiklah, maaf ya. Aku pergi dulu jika begitu"
"Ada apa? Kenapa mau ngajak kencan?"
Dean tersenyum kecil dan menarik Rana dalam pelukannya. Ia mencium kening Rana lalu mendekap erat tubuhnya sekali lagi.
"Ada apa ih? Buruan bilang!!"
"Hm... Padahal aku mau ajak kencan sebagai hadiah karena nilai tes levelku naik. Tapi karena kamu sibuk, kita kencan dirumahmu saja biar aku yang masak. Ayoo"
Rana membelalakkan matanya, ia berkata pada Dean jika dirinya memiliki waktu luang dan lebih baik jika mereka makan diluar. Namun pemuda itu tak mau mendengarkan dan langsung menarik Rana masuk kedalam rumah gadis itu. Rana masih berusaha untuk pergi, namun keputusan Dean pun sudah bulat.
Baru saja keduanya masuk kedalam rumah Rana, Dean sudah memeluk erat kekasihnya itu.
"Ada apa?" Tanya Rana keheranan.
"Aku boleh menginap? Besok pagi sekali aku akan pergi"
Permintaan Dean membuat Rana terkejut, gadis itu melepaskan pelukan Dean dan menariknya duduk di atas tempat tidur. Ia meminta Dean untuk tidur dipangkuannya. Rana memperhatikan wajah kekasihnya yang tampak lelah.
"Ceritakan semuanya padaku sayang, jangan dipendam sendiri. Mungkin aku bisa membantumu"
"Aku baik-baik saja" jawab Dean lalu memejamkan matanya.
Rana mengelus lembut rambut kekasihnya, sambil sesekali memainkan pipi Dean. Pemuda itu tertawa karena geli lalu bangun dari tidurnya. Ia memandangi Rana dengan seksama kemudian mencium pipinya.
"Nyebelin, i love you Dean"
"Hm..."
Rana tertawa kesal sambil mencubit lengan Dean, iaa bangun dari duduknya dan menuju dapur. Dean mengikutinya, pemuda itu ingin memasak untuk Rana tapi tentu saja Rana tak mengijinkannya. Itu akan membutuhkan waktu lama, dan entah apakah bisa dimakan atau tidak.