
Rana tengah memandangi ponselnya menonton drakor. Ia tak bisa tidur karena mendengar suara Freya yang batuk terus menerus. Sepertinya karena udara disini sangatlah dingin.
Krieeet...
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, terlihat Suho yang masuk membawa panci dengan air mendidih. Ia terkejut menatap Rana yang masih terbangun dan memandangi dirinya.
"Gu..gue dengar ada yang batuk" ujar Suho.
"Ah, makasih ya. Sweet banget sih, yang lain udah tidur?"
"Ha? Apa? Oh belum tuh lagi duduk di depan. Mau kedepan? Banyak bintang dilangit"
"Mauu" ucap Rana lalu berdiri dan mengenakan jaketnya. Ia berjalan keluar mengikuti Suho menghampiri yang lain.
Gadis itu mendengus kesal melihat Dean yang sedang merokok. Tak hanya Dean, tetapi mereka semua sedang merokok. Begitu mendengar deheman Suho, seketika mereka mematikan rokok usai melihat Rana disana. Mereka sudah tau jika Rana tak bisa dekat dengan asap rokok. Dean yang tersentak langsung terbatuk-batuk.
"Udah malem, gue masuk dulu ya" ujar Rana kecewa. Ia pikir Dean sudah berhenti merokok karena dirinya, meski sudah di beritahu itu tidak baik namun sepertinya sulit bagi Dean untuk berhenti.
Melihat Rana pergi, Dean ikut beranjak dari duduknya dan mengejar Rana. Ia menahan tangan kekasihnya yang hendak masuk kedalam ruangan. Mana mungkin Rana bisa menahan diri mengacuhkan Dean jika pemuda itu selalu terlihat menggemaskan. Akhirnya hati Rana kembali luluh dan mendekati Dean, ia mengikuti Dean duduk di kursi balai bambu yang ada di tengah rumah. Tempat sempurna untuk melihat langsung bintang yang bertaburan dilangit.
"Waah, banyak banget bintangnya" celetuk Rana terkagum.
Dean tersenyum memandangi kekasihnya, perkataan Rana terus terngiang dalam benaknya. Sepertinya memang benar sudah lama mereka tidak berciuman. Tapi untuk memulainya, terasa sedikit canggung bagi Dean.
"Sayang, jadi selama ini kamu tinggal sendiri? Terus kalau sarapan atau makan malam gimana? Masak sendiri?" Cecar Rana begitu tiba-tiba.
"Tidak kok, ada Bibi yang masak. Setiap hari datang untuk bersih-bersih sekalian masak"
"Ooh kirain kamu masak sendiri, kalau masak sendiri bisa-bisa kamu masuk rumah sakit"
"Apa? Tadi katanya masakanku enak, bukannya kamu mau aku masakin?"
Rana tertawa canggung, mana bisa berbohong dengan rasa masakan se aneh itu. Lebih baik Dean tak lagi masuk dapur, jika tidak pasti pemuda itu akan menciptakan resep aneh lainnya.
"Dean"
"Hm...."
"Aku cinta kamu"
"Aku sudah tau"
"Dean"
"Apa lagi?"
"Cium" pinta Rana yang sudah memanyunkan bibirnya.
Dean menelan ludah lalu melihat sekitar. Ia menangkap kedua pipi Rana dan mengecup bibirnya singkat.
"Lagiiiii" rengek gadis itu.
Kali ini Dean menarik pinggang kekasihnya agar lebih dekat. Ia memegang pipi Rana dan mengelusnya lembut. Satu kecupan, dua kecupan, yang ketiga Dean menahannya cukup lama dibibir Rana. Sepersekian detik berlalu, Rana mulai ******* bibir Dean. Ia mencengkram tangan kekasihnya erat dan membalas ciuman Dean.
Keduanya saling bertatapan dan menarik diri menjauh dengan senyuman. Rana menggaruk kepalanya yang tak gatal dan beranjak dari duduknya. Ia beralasan sudah mengantuk dan ingin tidur, padahal ia hanya ingin menenangkan jantung nya yang hendak meledak itu.
"Jangan ngerokok lagi ya, bau rokok tau" pinta Rana.
"Iya, masuk gih sudah malam. Tidur yang nyenyak"
"Sayang juga, I love you"
Senyuman lebar kembali terlihat di wajah Rana, gadis itu masuk kedalam ruangannya dan pergi tidur dengan bahagia. Sedangkan Dean kembali menghampiri Gerald dan Felix yang masih berbincang diluar. Ia tak menemukan Suho, sepertinya pemuda itu sudah mengantuk dan pergi tidur.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari berganti...
Para gadis sudah bangun sejak pagi, mereka meregangkan tubuh dan berlari pagi disekitar rumah. Kakek mengajak mereka pergi ke sawah untuk melihat para petani menanam padi. Rana ikut turun ke sawah setelah menggulung celananya. Ini pertama kalinya bagi Rana melakukan hal seperti ini.
"Kakek, aku ingin belajar" ujar Rana bersemangat.
"Masih saja tertarik dengan hal yang tak pernah ia lakukan" gumam Ratu seraya mengeluarkan ponselnya. Tentu ia akan mengambil foto untuk dikirimkan pada orangtua Rana. Ini adalah janji Ratu pada kedua orangtua Rana yang akan selalu menjaga dan mengawasi Rana.
"Hahaha Rana kita tidak pernah berubah, Ratu. Inilah kenapa banyak yang menyukai dirinya" sahut Bella.
"Dia memang sesuatu, tapi dia sedikit bodoh tentang memahami perasaan. Aku sedikit khawatir akan sesuatu" sela Diva.
Alin menghampiri Diva dan membisikkan sesuatu, seketika saja mata Diva terbelalak lalu mengangguk. Sepertinya kedua gadis yang sudah terbiasa dengan hubungan ini memiliki pemikiran yang sama akan sesuatu. Ratu, Bella dan Freya tentu saja penasaran dengan perbincangan mereka. Namun masalahnya ini adalah hal yang sangatlah sensitif.
"Ada apa? Kenapa kalian terlihat cemas?" Seru Freya penasaran.
"Jadikan ini rahasia diantara kita, sikap Suho terlihat berbeda sepertinya dia sedang menyukai seseorang" jelas Alin.
"Benarkah? SI...siapa?" Sahut Freya kegirangan. Ia sudah mengira jika gadis itu adalah dirinya, mengingat Suho sangat baik kepadanya.
Diva dan Alin saling melempar pandangan. Mereka menggaruk kepala yang tak kala dengan senyuman canggung.
"Rana" jawab keduanya lesuh. Mereka hanya menebak karena sikap Suho yang berlebihan bila menyangkut tentang Rana.
Freya langsung menatap ke arah Rana yang tengah menanam padi, ia tau ini bukan salah Rana tapi hatinya juga terluka. Di hari dirinya mulai menyadari rasa suka itu, dihari yang sama harus mengetahui dugaan tak mendasar dari temannya. Meski begitu, Freya mencoba menyangkal jika hal itu tidak mungkin. Bukan hanya karena Rana adalah pacar Dean, namun ia yakin Suho hanya ingin bersikap baik.
"Bener kata Freya, kalian hanya berlebihan saja" ucap Ratu.
"Sudah-sudah kita lupakan saja pembicaraan ini, itu tidak mungkin. Suho dan Dean sangatlah dekat" imbuh Bella.
Alin dan Diva menghardikkan bahu mereka dan duduk memandangi Rana yang tengah menanam padi. Mereka kembali membicarakan hal lain untuk menghilangkan rasa curiga itu. Namun tidak dengan Freya yang sudah terlanjur terusik perkataan teman-temannya. Jika memang benar Suho memiliki rasa pada Rana, maka Rana harus menjauh, bila tidak mau rasa itu semakin dalam. Namun bagaimana caranya membuat Rana menjauh dari Suho padahal di satu sisi Suho adalah sahabat kekasihnya. Itu adalah hal yang sedikit mustahil.
"Heii, kalian ini pagi-pagi udah ngilang. Kenapa gak bilang kami dulu? Kami kan jadi panik karena dirumah tidak ada orang. Di telepon juga tidak ada yang jawab" teriak Suho dari kejauhan. Ia langsung mengabari teman-teman yang lain jika para gadis sudah ketemu.
"Kalian saja para pemuda yang malas dan bangun siang. Cepat bantu Kakek bertani, kemari!!" Jawab Kakek Gerald.
Suho tertawa canggung dan berjalan mendekati Kakek Gerald. Ia menatap Rana yang tengah fokus menanam padi.
"Waah, Nona Rana bisa bertani juga" celetuk Suho membuka pembicaraan.
"Masih belajar kok, emangnya loe bisa?"
"Bisa dong, ahlinya hahaha" kata Suho dengan tawanya.
Dari kejauhan Freya menyadari sesuatu, tawa dan senyuman berbeda yang Suho tunjukkan kepada Rana. Seolah ia merasa begitu nyaman berada di dekat Rana. Pikiran Freya kembali tak fokus, ia berpamitan kembali ke rumah sebab kepalanya pusing.
"Suho, Freya pergi tuh" bisik Rana.
"Terus kenapa?"
"Susul sana, sepertinya dia tidak enak badan. Semalam juga batuk terus, gue takut dia kenapa-napa. Buruan sana!!" Pinta Rana sembari mendorong tubuh Suho. Sayangnya ia malah kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.
Suho yang sigap langsung memegang pinggang Rana untuk menahan tubuhnya. Ia menatap ke arah Rana dengan tatapan yang begitu dalam. Kali ini sikap Suho seolah menunjukkan benar-benar ada perasaan untuk Rana. Para gadis yang berada disana termasuk Freya pun tersentak melihat kejadian itu.