Metamorphosis Cinta

Metamorphosis Cinta
MC - Di Desa (Part 1)


"Kalian mau liburan kemana?" Tanya Suho.


"Hm... Gak kemana-mana? Kayaknya Rana juga harus pulang tuh kerumah" jawab Ratu.


"Mau ikut kita ke desanya Gerald? Disana ada sungai jernih, bisa bakar-bakar ikan, neneknya juga pintar masak"


"Dean ikut?" Sela Rana.


Dean menganggukkan kepalanya. Rana pun mengangguk ke arah Ratu.


"Kalau Rana mau ikut gue juga harus ikut, nanti siapa yang jagain dia kalau gue gak ikut" ucap Ratu seraya menarik turunkan alisnya.


Rana tertawa dan memeluk sahabatnya itu. Memang selama ini Ratu tak pernah absen jika Rana pergi ke suatu tempat. Ia akan selalu menjaga Rana kapanpun dan dimanapun. Suho juga meminta mengajak yang lain barangkali ada yang mau ikut, sebab Gerald menawarkan untuk mengajak banyak orang.


"Kalian hati-hati ya pulangnya" kata Rana saat ia sudah berada di depan rumahnya.


"Yoi, byee" sahut Suho seraya melambaikan tangannya. Dean tersenyum menatap Rana dan pergi bersama Suho.


Ratu mengikuti Rana masuk kedalam rumahnya, ia ingin tau kenapa gadis itu bertengkar dengan Dean padahal sampai tadi pagi hubungan mereka masih sangat manis. Rana berbaring diatas tempat tidur, ia kembali mengingat kejadian di rumah hantu tersebut. Itu benar-benar mengejutkan dirinya, ia sampai membeku beberapa saat sebelum berlari meninggalkan Dean.


Suara tawa Ratu menggema di kamar itu, ia tak menyangka kejadian seperti ini akan terjadi. Dilihatnya wajah Rana yang memerah malu karenanya.


"Terus mau sampai kapan menghindar? Dia kan gak sengaja, loe tau kan kalau Dean penakut. Dia rela masuk kesana biar gak kelihatan pengecut di depan loe"


"Emang gitu? Kenapa? Gue gak masalah kok"


"Karena Dean ingin jadi pacar yang bisa diandalkan. Udahlah sana baikan, toh jangan-jangan loe pingin lebih ya? Hahahha anjay. Gue pulang dulu deh, byee" pamit Ratu dengan tawa lebarnya.


Rana kembali merenungkan kata-kata Ratu, memang itu bukan salah Dean. Hanya situasi tak terduga yang terjadi tiba-tiba.


\=================


Hari pertama hingga ketiga libur tengah semester, Rana menghabiskan waktu dirumah orangtuanya. Ia dimanja dan dibelikan banyak makanan oleh para Kakaknya. Hal itu membuat Rana kesal karena berat badannya naik.


Di stasiun kereta...


"Hollaaa" sapa Ratu yang baru saja datang bersama dengan Rana.


"Lama banget sih kalian" oceh Alin kesal.


Semua orang sudah berkumpul, merekapun naik kedalam kereta sesuai tempat duduk masing-masing. Rana membawa menghela napasnya, ia masih merasa risih takut bila Dean tau berat badannya naik.


"Sini aku bawakan tasnya" celetuk Dean yang tiba-tiba sudah berada di belakang Rana.


"Aaah tidak tidak, aku bisa sendiri" ujar Rana lalu berjalan lebih dulu. Ia harus berolahraga untuk menurunkan berat badannya.


Dean tersenyum dan mengikuti kekasihnya, mereka duduk bersebelahan dengan Rana di samping jendela. Pemuda itu membuka topi kekasihnya, Rana yang terkejut langsung menoleh ke arah Dean. Selama beberapa detik mata mereka saling berpandangan, sebelum Rana membuang muka ke arah lain.


Cup...


Satu kecupan di pipi Rana, gadis itu langsung berbalik dan menatap Dean yang tengah tersenyum.


"Bukankah kita sudah berbaikan?" Tanya Dean.


"Itu... Aku hanya.."


"Berat badanmu nambah ya? Pipi kamu jadi makin chubby"


Mata Rana terbelalak lebar, ia langsung menutupi kedua pipinya dengan tangan. Dean kembali tertawa, ia mengalihkan kedua tangan Rana dan mengelus kedua pipi kekasihnya.


"Cantik kok, gemes deh jadi pingin cium" bisik Dean menggoda.


"Aaahhh nyebelin banget sih sayang" ucap Rana dengan suara yang sedikit keras.


Teman-teman mereka langsung menoleh dan menarik Dean untuk pindah tempat duduk. Ini akan bahaya jika keduanya disatukan sebab baru saja berbaikan. Dean bangkit dari duduknya dan menarik tangan Ratu agar bertukar tempat duduk lagi. Ia tak mau jauh kekasihnya, sudah cukup mereka salah paham saat itu.


Rana langsung melingkarkan tangannya ke lengan Dean kala mereka duduk berdampingan. Pemuda itu juga menggenggam tangan Rana dan menyenderkan kepalanya di kepala gadisnya.


"Hm... Aku juga"


"Apa? Kamu bilang apa?"


"Bilang apa?"


"Iih nyebelin"


Dean mengelus tangan Rana, mereka tampak kembali ke dunia mereka setelah melewati masa menyedihkan itu. Perjalanan cukup lama menghabiskan waktu beberapa jam. Semua orang terlihat tertidur lelap di kursi masing-masing.


"Dean, Rana gak tahan dingin. Nih kasih jaket gue" ujar Ratu sembari melempar jaketnya.


Pemuda itu mengangguk, lalu menyelimuti tubuh Rana dengan jaket Ratu. Kekasihnya itu benar-benar tertidur pulas.


\==============


Di desa Gerald....


Sampai di stasiun, mereka berjalan perlahan menuju arah rumah Kakek dan Nenek Gerald. Sambil menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Setelah beberapa menit berjalan, terlihat seorang Kakek yang mendekat dengan motor gerobak. Para anak lelaki melambaikan tangan mereka memanggil Kakek tersebut.


"Dingin" gumam Rana.


Dean menggenggam kedua tangan kekasihnya, tangan Rana benar-benar terasa sangat dingin. Begitu mereka sampai, Nenek menyambut kedatangan anak-anak itu dengan ramah. Dimintanya para anak-anak itu untuk masuk dan pergi ke kamar yang sudah disiapkan.


"Ke sungai yokkk" ajak Gerald bersemangat.


Setelah berganti pakaian, mereka semua menuju sungai yang terletak tak jauh dari rumah Kakek Nenek Gerald. Pemandangannya begitu asri, bahkan air yang mengalir sangat jernih. Terlihat beberapa ikan yang berenang disana, para anak-anak kecil juga sudah berkumpul untuk menangkap ikan.


"Oy bro, lama gak ketemu" sapa Gerald pada tetangga kecilnya itu.


"Hai Kak, waah sekarang datangnya sama cewek-cewek cantik nih. Kenalin dong" celetuk anak kecil tersebut.


"Pacarnya Kak Dean cantik banget" puji salah seorang anak.


"Terimakasih, kamu juga ganteng. Tapi masih ganteng Dean sih hehehe" sahut Rana dengan senyuman lebar.


Mereka semua langsung terlihat akrab dan bermain bersama di sungai tersebut. Airnya sangat dingin dan sejuk, Rana hanya melihat dipinggir sungai melihat semua orang yang tengah bersenang-senang.


"Gak masuk ke air Ran?" Tanya Suho yang duduk disamping Rana.


"Dingin, gue gak terlalu suka air" jawab Rana.


"Dih gaya loe, sini buruan ikut, asik tau. Ayo" ucap Suho seraya menarik tangan Rana untuk masuk ke sungai.


Gadis itu menatap aliran air, terlihat dingin sekali. Ia hendak berbalik namun Suho menahan tangannya. Rana menatap ke arah Suho yang menganggukkan kepala.


"Nanti kalau gue sakit loe tanggung jawab ya"


"Iya gue yang tanggung jawab. Buruan masuk"


"Dingin banget njir, sialan loe" umpat Rana kesal. Ia mencoba mengejar Suho yang sudah berlari pergi. Sudah terlanjur, Rana pun ikut bermain disungai mencari ikan.


Cukup lama mereka bermain-main disana. Hingga hari menjelang sore, mereka semua memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Aahh sial, ada beling nih" umpat Freya melihat kakinya yang tertancap beling kecil. Seketika darah keluar dari kakinya.


Suho dengan sigap melepaskan kaos singlet nya untuk membalut luka Freya. Sambil mengomel agar semua orang berjalan dengan hati-hati dan memakai sendal. Seperti laki-laki sejati, Suho menggendong Freya kembali pulang.


"Ehem... Sweet banget nih" celetuk Rana menggoda.


"Ehem.. Ada yang iri nih" ejek Freya lalu menjulurkan lidahnya.


Rana memanyunkan bibirnya dan menatap ke arah Dean dengan tangan menjulur. Dean menggeleng, lalu berlari setelah mengatakan jika Rana terlalu berat.