Metamorphosis Cinta

Metamorphosis Cinta
MC - Di Desa (Part 2)


Malam tiba ....


Mereka tengah memanggang daging dan makan ikan bakar. Masakan nenek Gerald benar-benar sangat lezat. Rana bahkan lupa jika dirinya tengah berdiet, mulutnya tak bisa berhenti mengunyah.


"Kaki loe gimana?" Tanya Suho pada Freya.


"Udah gak apa-apa kok, thanks ya" jawab Freya dengan malu-malu.


Freya tersenyum memperhatikan Suho yang tengah memanggang daging. Wajahnya merah padam dan salah tingkah tanpa sebab. Ia memalingkan pandangannya lalu berteriak terkejut sebab Rana memperhatikan dirinya dengan tatapan tajam.


"Apa?" Tanya Freya.


"Apa?" Sahut Rana. Ia melirik ke arah Suho lalu membentuk hati dengan tangannya.


"Gak gitu kok" ucap Freya memberi alasan.


"Maca cih? Ciyus nih? Kalau gak gitu gue tanya ah"


Secepat kilat Freya mengangguk dan membenarkan pemikiran Rana. Gadis itu tertawa terbahak-bahak melihat Freya yang malu-malu. Rana menatap ke arah Dean yang tengah membakar ikan. Ia mengambil ponselnya dan mengabadikan beberapa foto. Ketampanan Dean yang tak bisa Rana jelaskan.


"Sayang bisa masak? Aku dengar dari Kakak"


"Bisa, tapi tidak sehebat kamu. Akan aku masakan makanan lain kali"


"Kenapa kamu gak bilang? Hm... Kan bisa gantian kalau kamu bisa masak tauu"


Dean mendekati kekasihnya dengan sepiring ikan bakar. Ia menatap Rana dan menarik rambutnya perlahan.


"Kau tidak suka memasak untukku?"


"Tentu suka, tapi saat kita menikah nanti kau yang akan memasak untukku setiap harinya. Aku tidak mau ada penolakan" oceh Rana.


Semua mata menatap ke arahnya, sedangkan Dean berpaling pergi untuk membakar ikan lagi. Rana menjulurkan lidahnya menatap semua orang, tentu ia berhak memiliki harapan bukan. Gadis itu mencicipi ikan buatan Dean, seketika matanya terbelalak lebar. Ia menelan ludah merasakan rasa aneh ini, Rana menatap ke arah teman-temannya yang sudah mengomel mengomentari masakan Dean.


Suho menarik Rana dan memintanya membantu Dean untuk membakar ikan. Pasti ada yang salah dengan bumbu bakarnya. Rana berjalan menghampiri Dean dan Gerald lalu duduk disamping kekasihnya.


"Gak enak ya?" Tanya Dean.


"Enak kok, enak sekali malahan" jawab Rana kembali memakan ikan bakar itu.


Dean menahan tangan kekasihnya dan menggeleng, mereka sejenak bertatapan. Gerald yang melihat adegan penuh kebucinan itu langsung menyodorkan bumbunya pada Rana.


"Coba cek Ran, buat kita mah enak-enak aja. Iya gak Yan" ucap Gerald.


Rana mencium bumbu itu dan mencicipinya, sedikit aneh memang, tapi gadis itu menambahkan beberapa bumbu untuk menyempurnakannya. Setelah itu mereka kembali mengoleskan bumbu pada ikan bakar. Ditemani Rana yang masih menikmati ikan bakar buatan Dean sebelumnya.


"Ran, loe gak mau kenalin gue teman-teman cewek loe?" Celetuk Gerald tiba-tiba.


"Kenapa?"


"Ya siapa tau gitu ada yang bisa dekat"


"Hm... Ratu? Alin? Bela?"


"Hiiiihhh selain mereka lah anjing. Kalau bisa kayak loe lah, cantik, baik, seagresif loe juga gak apa-apa. Makin agresif cewek makin oke, tak gak Dean?"


Mendengar perkataan Gerald, Rana langsung menyeringai menatap kekasihnya. Dean yang merasa ada mata memandangi dirinya, langsung mendongak menatap Rana.Pemuda itu menggerakkan dagunya pada sang kekasih yang tersenyum sangat lebar.


"Ehem... Dipikir-pikir kita sudah lama tidak ciuman ya" ucap Rana begitu gamblang.


Semua bahan makanan selesai di masak, mereka berkumpul bersama untuk menikmati makanan. Kali ini tak ada yang protes tentang ikan bakar buatan Dean dan Gerald, mereka malah menghabiskannya tanpa komentar apapun. Selesai makan, mereka berkumpul untuk bermain bersama. Satu persatu mengusulkan permainan yang menurut mereka seru.


"Gimana kalau uji nyali?" Saran Felix.


"Mau gue hajar ha? Awas aja kalau berani-berani melakukan itu ya" oceh Rana kesal. Ia tak mau ada kejadian lain nantinya.


"Tau loe, malam-malam gini bahaya bro" sahut Suho dengan gelagapan.


Tentu saja Felix dan Gerald tertawa terbahak-bahak, ini adalah sesuatu yang mengasyikkan mengingat Dean maupun Suho adalah penakut. Felix mencoba berkompromi dan mengajak keenam pemain lainnya untuk melawan Rana, Suho serta Dean. Jika dilakukan pemungutan suara, jelas mereka akan kalah jumlah dan mau tak mau harus mengikuti mayoritas.


Seperti yang sudah diperkirakan, mayoritas adalah pemenang. Mereka mulai mengambil undian untuk memilih pasangan. Hal ini awalnya di debat keras oleh Rana, namun lagi lagi mayoritas pemenangnya.


Rana menatap ke arah Freya yang memandangi dirinya.


"Gu..gue mau tukeran sama Freya" ucap Rana tiba-tiba.


"Eh kenapa? Loe kira gue penakut?" Sahut Suho.


"Jelas banget di wajah loe bego, gue mau setim sama Ratu aja. Buruan tuker ah" rengek Rana.


"No no, ini sudah final. Siap-siap sebentar lagi giliran Suho dan Rana yang keluar" ucap Gerald menengahi.


Rana menghela napasnya berat dan menatap Gerald tajam. Pemuda itu langsung berpura-pura tak tau dan berpaling ke arah lain. Begitu Dean dan Bella kembali, pasangan Rana pun beranjak pergi. Baru saja beberapa langkah, Suho sudah menjerit ketakutan. Ia memegangi tangan Rana dengan erat.


"Penakut banget sih kalian" celetuk Rana membuka pertanyaan.


"Kalian siapa? Siapa anjing?" Sahut Suho ketakutan.


"Loe sama Dean lah"


Suho terdiam dan terus mengikuti kemanapun Rana pergi. Suasana sangat gelap dan sepi, mereka harus menukar senter yang mereka bawa lalu kembali secepat mungkin. Rana yang sudah terbiasa dengan suasana gelap, terus celingak-celinguk mencari senter milik tim Dean. Sedangkan Suho masih saja ketakutan dan komat-kamit tidak jelas.


"Ran... Itu suara apa?" Teriak Suho tiba-tiba.


"Angin" jawab Rana cuek.


Meski Rana sudah menjawab, Suho masih tampak khawatir. Ia terus waspada dan menatap sekitar, hingga sebuah suara mengejutkan dirinya.


Bbukkkk....


Pemuda itu memeluk Rana erat dan terus meracau tak jelas. Rana yang terkejut pun berusaha menenangkan Suho yang ketakutan. Tangannya penuh keringat dengan wajah pucat, Rana jadi khawatir. Ia mendudukkan Suho di salah satu bongkahan batu dan menatapnya lembut.


"Tidak apa-apa, ada gue kan. Loe tenangin diri loe dulu ya, tenang jangan panik" ujar Rana penuh pengertian.


Suho menatap mata Rana sejenak lalu berpaling ke arah lain. Rana segera mengambil senter yang ditinggalkan tim Dean lalu menggandeng Suho pergi tanpa meninggalkan senter mereka. Cukup, ini sudah keterlaluan, Rana tak bisa melanjutkannya lagi. Ia berjalan dengan penuh amarah kembali kerumah Kakek Nenek Gerald.


Brakkk.....


Pintu dibuka dengan kasar, semua orang menatap Rana dengan kebingungan.


"Cukup sampai disini, gue yang akan terima hukumannya. Tidak perlu dilanjutkan lagi!!!" Bentak Rana dengan napasnya yang naik turun.


Semua orang terdiam usai melihat wajah pucat Suho, pantas saja Rana semarah ini. Suho berjalan masuk sembari memegangi kepalanya. Ia menuju kamarnya tanpa menoleh ke arah yang lain.


"Kalian keterlaluan" imbuh Rana kesal. Ia juga masuk kedalam kamarnya tanpa mendengarkan pembelaan dari yang lain.