Metamorphosis Cinta

Metamorphosis Cinta
MC - Kecurigaan akan sikap


Dirumah Rana....


Mereka tengah menikmati ayam goreng dan soda. Sambil membicarakan tentang perempuan yang ditaksir oleh Gerald tentunya. Ditengah pembicaraan itu, Alin tiba-tiba saja mengganti topik pembicaraan mengenai Artha yang mengaku menjadi kekasih Dean.


"Mereka terlalu khawatir sayang" ujar Rana.


"Gue udah tau kok, lagian pada akhirnya mereka juga akan tau kebenarannya bukan. Sudah biarkan saja" jelas Dean.


"Gue mau ngerokok dulu dibalkon, ntar sambung lagi ya. Gue boleh kan nginep disini? Males pulang gue, toh ramai-ramai kan" sela Gerald yang beranjak pergi.


"Iya kita juga mau nginap, nonton film horro go go" sahut Bella memutuskan.


Rana menganga membuka mulutnya lebar, bukan menginap seperti ini yang dia inginkan. Namun Dean tidak berkomentar apapun dan ikut pergi ke balkon bersama Gerald.


"Kamu mau ngerokok?" Tanya Rana dengan wajah sedihnya.


"Iya, boleh ya, udah tiga hari gak ngerokok"


"Oke, setelah ini boleh ngerokok seminggu lagi ya"


Dean mengangguk lalu pergi keluar menghampiri Gerald. Sedangkan para gadis tengah sibuk memilih drakor yang hendak mereka tonton. Beberapa menit berlalu Alin pun ikut pergi ke balkon menghampiri Gerald dan Dean. Namun langkahnya terhenti kala mendengar nama Suho disebut.


Terdengar Gerald yang memberitahu Dean tentang kekhawatirannya. Namun reaksi berbeda yang pemuda itu tunjukkan, Dean benar-benar tak mempercayai perkataan Gerald.


"Gerald bener" celetuk Alin yang memutuskan keluar ruangan. Ia berdiri di tepi balkon memandangi sekitar.


"Gue juga ngerasain apa yang Gerald ceritakan. Cara dia memperlakukan Rana dan memandangnya, seolah seperti keharusan untuknya. Mending loe hati-hati, jika tidak mau terluka" saran Alin.


Dean dan Gerald masih diam memandangi Alin. Mereka tak tau apa yang Alin dengar dan dimana letak pembahasan ini. Melihat kedua pria itu memandang dengan bingung, Alin pun mengatakan jika dirinya resah dengan sikap Suho terhadap Rana. Barulah kedua pria itu mengangguk mengerti.


"Awalnya gue juga merasa aneh, tapi jika kalian berdua pun terusik, ini akan jadi masalah besar" jelas Dean seraya meniupkan asap rokoknya.


"Kita hanya perlu menjauhkan Suho dan Rana" ucap Alin.


"Itu sulit, Dean dan Suho berteman dekat. Jika tiba-tiba nanti pasti ada yang curiga, tapi gue lihat akhir-akhir ini Rana menghindari Suho" sela Gerald.


"Benar, gue juga melihatnya"


Dean beranjak dari duduknya dan berdiri menyenderkan punggungnya di dinding. Ia meniupkan asap rokoknya yang terakhir ke langit-langit.


"Rana menjauhi Suho, karena Freya suka padanya. Apa yang akan Rana lakukan jika ia tau?" Tanya Dean. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu masuk kedalam kamar.


Para gadis sudah menata tempat tidur untuk mereka. Dean menghampiri Rana yang hampir memejamkan matanya di atas kasur lantai. Satu kasur lantai lain sudah terpisah jauh untuk Gerald tentunya. Sedangkan Alin, Bella dan Ratu tidur di tempat tidur Rana.


"Waah parah nih cewek-cewek, massa tuan rumah tidur dibawah" gerutu Gerald. Ia menarik kasurnya di dekat Dean agar tak seperti anak buangan yang terkucilkan.


"Kan biar loe ada temannya anjir, ntar kalau kita yang dibawah loe merasa dikucilkan" sahut Bella.


Dean berbaring di samping Rana yang terlihat sudah mengantuk. Ia menyelimuti tubuh kekasihnya dan mengelus rambutnya perlahan.


"Waah benar-benar nih cewek-cewek, gue dianaktirikan. Paraaahhhh" gumam Gerald lalu pergi ke kamar mandi bersama Dean. Ia merengek kepada Dean dan bergelayut manja dilengan pemuda itu.


Beberapa jam berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Rana terbangun dari tidurnya untuk mengambil minum. Ia menatap ke arah teman-temannya yang tertidur pulas, matanya terhenti pada kasur kosong milik Gerald. Melihat jam, Rana yakin Gerald pasti sedang merokok di balkon. Ia pun keluar balkon menghampiri Gerald.


"Oy Ran, kebangun?" Tanya Gerald basa-basi.


Rana duduk di kursi balkon menghadap Dean yang tengah tertidur. Ia terdiam sesaat dengan segala pemikirannya.


"Kenapa? Tidur sana!!! Loe suka banget ya sama Dean?"


"Gue tau loe teman terbaik Dean, loe pasti mau yang terbaik buat dia. Tapi, apa loe pernah mikirin gimana perasaan Dean? Disaat dia tau sahabat terbaiknya malah suka sama pacarnya. Dia pasti terluka dan bingung dengan posisinya"


"Tapi Dean harus tau biar dia bisa mengambil sikap. Cuma dia yang bisa menghentikan Suho dekat sama loe, kalau kita yang cegah Suho itu malah mencurigakan bukan?"


Rana tersenyum kecil, ia melihat Dean membuka matanya. Mereka saling berpandangan dan melemparkan senyuman. Pemuda itu bangun dari tidurnya, namun Rana menggelengkan kepala. Bermaksud meminta Dean melanjutkan tidurnya.


Mungkin harusnya Rana tidak pergi mendekati balkon hari ini, pikirannya semakin kacau saat ini. Kejadian yang sama kembali terulang lagi. Harus seperti apa sikap Rana ini, ia tak bermaksud masuk dan merusak kehidupan siapapun.


"Apa gue ngasih ruang buat Suho?"


"Bukan, hanya saja loe mirip mantan pacarnya" jawab Gerald. Ia berdiri dan menjukkan sebuah foto pada Rana. Pemuda itu terkejut bukan main karena saat menoleh kedalam kamar, ia melihat Dean tengah memandangi mereka.


"Dean bangun Ran" bisik Gerald dengan senyuman canggung.


"Jangan biarkan siapapun tau kalau gue juga tau tentang hal ini. Bilang aja kita lagi ngomongin game, gue percaya sama loe" ujar Rana kemudian pergi masuk kedalam kamarnya.


Gerald juga ikut masuk karena rokoknya sudah habis. Ia langsung menyalakan televisi menonton pertandingan sepak bola. Dean masih menatap curiga ke arah Gerald, tapi Rana langsung mengambil alih perhatian kekasihnya.


"Sayang, besok aku mau jalan sama Kak Viola"


"Kak Viola? Ohhh, tadia kalian ngobrolin apa? Kelihatan serius sekali"


"Perasaan, dia minta dikenalin mulu ke teman-teman cewekku. Pakai nunjukin fotonya yang kelihatan keren, itu kata dia"


Dean mendekap Rana lalu mencium keningnya, "Kenalin aja barangkali ada yang suka. Seumur hidup belum pernah pacaran soalnya, biar ada yang ngingetin kalau rokok itu bahaya dan gak main game mulu"


Rana tertawa lebar mendengar perkataan Dean yang panjang itu. Gerald menendang pantat Dean dan memakai kasar. Meski terlihat cuek dan seakan tak peduli, sebenarnya Dean sangat pengertian pada teman-teman nya.


"Loe juga kan masih ngerokok anying"


"Kan gue masih berusaha buat berhenti, loe gak ada usaha samasekali"


"Apa'an? Siapa tau loe ngerokok tuh waktu gak lagi sama Rana, dih dih iya kan? Jujur deh"


"Gak, gue jujur kok. Kalau ngerokok pasti gue bilang"


Gadis itu membungkam mulut Dean dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mencoba menengahi dua pria yang tengah adu mulut di malam hari yang sunyi ini. Daripada mengganggu yang lainnya, bukankah lebih baik mereka kembali tidur.