
Hari itu aku berangkat sekolah seperti biasanya, tak ada hal menarik dan semua terasa membosankan. Untuk pertama kalinya aku melihat dia yang memberikan kursinya pada seorang nenek tua yang baru saja naik busa. Aku pikir dia hanya orang baik biasa.
Namun, takdir kembali mempertemukan kami. Di hari lain aku kembali melihatnya memberikan kursi untuk seorang sang sakit. Dia benar-benar gadis yang amat sangat baik, pikirku.
Karena itulah kuberanikan diriku bertanya siapakah nama gadis cantik dan baik ini. Aku memperkenalkan diriku, namun sepertinya ia tak tertarik padaku.
Di hari lain kami kembali bertemu di dalam bus. Saat itu penumpang sangat penuh dan ku lihat dia berdesakan dengan banyak orang. Rasanya sangat marah, hatiku menuntun untuk melindunginya. Jadi aku mendekat dan berdiri dibelakangnya, menahan orang-orang yang hendak menyenggolnya.
Saat itu, dia kembali bertanya siapakah aku. Aku tidak marah, tapi aku justru bahagia karena pasti kali ini dia akan mengingat namaku. Setelah kejadian itu, setiap kali aku melihatnya jantungku berdebar tak menentu. Senyuman cerianya bahkan membuatku tersenyum sendiri tanpa alasan.
Meski aku sangat menyukai dirinya, namun keberanian ku untuk mendekat adalah nol persen. Aku tidak ingin dia menjauh karena risih dan akhirnya kamu malah menjadi canggung. Tapi justru sikap pengecutku itu membuatku kehilangan kesempatan.
Salah seorang temanku datang dan berkata jika dirinya tau siapa orang yang gadis itu sukai. Aku awalnya tak percaya, mana mungkin hal itu terjadi karena kau terlihat seperti gadis lugu yang pemalu. Tetapi sekali lagi aku salah, rupanya kau lebih berani dari yang aku kira. Secara terang-terangan menunjukkan jika kau sangat menyukai pemuda lain.
Meski berkali-kali di tolak dan terluka namun kau tidak menyerah. Aku pikir kamu bodoh, karena mau terluka demi seseorang yang bahkan tak menyukaimu. Namun sekali lagi aku salah. Di hari lain aku mendengar kalian berkencan. Saat itulah harapanku pupus dan putus asa. Aku ingin melupakan dirimu namun takdir seolah memintaku bertahan tentang perasaan ini.
Ketika kamu dan aku menjadi dekat karena penilaian level kelas kita menjadi satu kelas. Saat kamu dan aku dihadapkan pada situasi yang sama untuk beberapakali. Aku pikir saat itu ini adalah hal yang salah karena kau sudah punya kekasih. Namun setelah mendengar kalian bertengkar dan sempat putus, aku menjadi penasaran lalu mencari tau seperti apa kekasihmu itu.
Saat itulah aku tersenyum penuh kemenangan, aku merasa lebih tampan dibanding dia, aku merasa lebih pandai dibandingkan dia. Dan aku merasa lebih bisa membahagiakanmu dengan semua perhatianku dibanding dengan sikap cueknya padamu. Disaat itu pikiranku mulai berharap kau dan dia berakhir untuk selamanya. Biarkan aku mendekat untuk menulis lembaran kisah bahagia bersamamu.
Tapi sekali lagi pikiranku salah, kamu menunjukkan betapa kamu amat sangat mencintai kekasih mu. Kala aku berusaha membenarkan sikapku yang baik dan perhatian padamu. Kala aku berusaha masuk diantara kalian untuk mengambil alih tempat sang pria. Kamu masih bersikap biasa dan menganggap ku hanya teman yang baik.
Teman yang baik, alasan itu aku putar dalam otakku agar aku bisa mendekatimu lebih jauh. Setiap kali aku melakukan hal yang berlebihan, alasan itu muncul dan aku mulai mencair pembenaran, sebab aku adalah teman yang baik. Itu hanyalah alasan karena aku tidak mau menjadi orang jahatnya.
Lalu hari itu kau menghadang ku dengan pertanyaan atas sikapku. Aku pikir kau mulai menyadari tentang keberanian ku, namun sekali lagi aku salah. Kamu membangun benteng kokoh yang tinggi diantara kau dan pria lain. Bagimu teman adalah benar-benar hanyalah teman.
Karena tersudut, aku mulai mencari pembelaan dengan mengatakan apa yang aaku rasakan tentang kekasihmu. Aku mulai menjelekkan dirinya dan menganggap diriku masih jauh lebih baik. Tetapi kamu membangun dinding itu lebih tebal itu, kalimat pertemanan yang kau ucapkan membuat nyaliku menciut. Kau hanya mau aku bersikap layaknya seorang teman, namun sayangnya aku masih memperlakukanmu sebagai seseorang yang pantas menjadi milikku.
Ku renungkan perkataan mu selama seharian, aku ingin tau apa yang tidak aku miliki dan dimiliki oleh kekasihmu itu. Jadi aku memutuskan menghampiri nya untuk bertanya.
"Bukankah kau pengecut, kau meminta kekasihmu untuk menegurku karena sikapku bukan?" Tanya ku padanya.
Wajah dingin itu terlihat datar seakan tak peduli. Namun detik kemudian dia tersenyum kecil ke arahku.
"Aku tidak memintanya, tapi dia bisa merasakan apa yang aku rasakan. Lagipula aku tidak keberatan dia dekat dengan pria manapun, karena aku percaya padanya. Karena dia sesuka itu padaku" jawabnya dengan percaya diri.
Aku kembali gelisah, memang gadis itu sangat menyukaimu, tapi bagaimana dengan perasaanmu padanya? Bukankah itu hal yang salah? Bukankah itu sama dengan mempermainkan? Aku kembali mencoba mencari kesalahannya agar terlihat baik di amta gadis yang aku sukai. Sayangnya, kalimat yang kekasihnya utarakan, kembali menusuk akal sehatku.
"Jika dia yang membangun benteng itu, lalu aku berusaha merusaknya. Bukankah dia akan terluka? Apa kau bisa melihat orang yang kau cintai terluka? Apakah itu benar-benar rasa suka?"
Pertanyaan atas kenapa terus berputar dalam otakku. Jika memang aku mencintainya, harusnya aku bahagia akan pilihannya. Jika memang aku mencintainya, harusnya aku tak mengusik kebahagiaan itu. Jika memang aku mencintainya, harusnya aku lebih tau apa yang akan membuat gadis itu terluka. Maka aku menyimpulkan jika ini bukan lagi rasa suka yang murni. Namun aku sudah terobsesi karena tak mau kalah dari kekasihmu.
Keegoisan yang membuatku berpikir aku lebih baik dari pemuda manapun. Padahal masih ada yang jauh lebih baik dariku, dan mungkin itu juga adalah kekasihmu.
Kata seandainya mulai bermunculan di kepalaku. Seandainya saat itu aku lebih berani, seandainya saat itu aku yang terang-terangan mengungkapkan rasa sukaku, seandainya saat itu aku yang mengajakmu berkencan lebih dulu. Apakah kisah kita akan berbeda? Apakah takdir kita akan berubah?
Aku tidak membenci takdir pertemuan kita, aku tidak membenci pertemanan ataupun perselisihan yang ada diantara kita. Aku hanya ingin meminta maaf padamu dan padanya jika aku sempat menggoreskan luka.
Bahkan saat ini pun aku berani berdiri disini, karena aku melihatmu yang tak pernah putus asa pada kata menyerah. Kamu yang menunjukkan jika semua baik-baik saja meski salah langkah. Kamu adalah keberanian yang harus dimiliki setiap orang, jika saja semua orang mencintai gadis sepertimu, maka pengecut akan punah dari bumi ini.