
Setelah kejadian hari itu, Rana merasa dirinya tengah diawasi. Setiap kali ia dan Dean berdua, selalu saja ada seseorang yang hadir diantara mereka. Bahkan Yuan selalu mengirim pesan setiap setengah jam sekali.
Sudah seminggu lebih berlalu, Rana rasanya benar-benar muak. Ia ingin bertemu sang Kakak dan mengakhiri semua permainan konyol ini. Sebab ia hanya bisa bertukar kabar dengan Dean melalui pesan atau telepon saja.
"Rana.." panggil Dean kala Rana keluar kelasnya.
"Haaiiii kamu kok disini?" Tanya Rana seraya menatap sekitar. Masih saja ada beberapa murid yang mengawasinya. Entah bagaimana cara Yuan bisa memperoleh mata-mata di sekolah ini.
"Biarkan saja, aku mau makan siang denganmu" ajak Dean sembari menggenggam tangan Rana.
Mereka berjalan berdua menuju kantin untuk makan siang bersama. Meski ada beberapa mata yang memperhatikan, keduanya tak peduli dan hanya fokus pada pembicaraan mereka. Bahkan saat makan pun Rana dan Dean bergandengan tangan.
Kelas sore...
Rana menghampiri kelas Dean sebelum pindah ke kelas level satu. Baru saja mereka sehari terlihat begitu mesra dan membuat yang lainnya iri. Namun selalu ada hal tak terduga yang membuat sirna kebahagiaan itu.
"Kamu mau pulang? Kenapa gak ikut kelas?" Cecar Rana kala Dean menyampaikan jika ia akan langsung pulang.
"Aku mau bertemu Artha, ada yang harus kami bicarakan"
"Tidak, jangan pergi Dean. Kumohon"
"Aku harus pergi, hanya berbicara saja, kita harus meluruskan semuanya"
Rana menahan tangan Dean sambil menggeleng, ia tak akan rela jika Dean bertemu lagi dengan Artha apapun alasannya. Meski Rana sudah menahannya, namun Dean memiliki alasan untuk tetap harus pergi. Tapi Rana maupun Dean tak mau mengalah dan tak mencoba memahami satu sama lain.
"Aku bilang jangan, kenapa dia lebih penting daripada permintaan ku?" Teriak Rana dengan wajah marah.
"Cukup, kau kekanakan. Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku pergi"
"Meski aku memohon kau akan tetap pergi? Deaaan.."
Dean tak menoleh dan melanjutkan jalannya pergi keluar kelas. Rana mengepalkan tangannya dan pergi menuju kelasnya, menyebalkan sekali. Selama mengikuti kelas sore, pikiran Rana terkadang tak fokus, beberapa kali ia mendapat teguran dari guru yang mengajar.
Disisi lain...
Dean sudah duduk di kafe bersama dengan Artha. Mereka berdua saling berhadapan dalam suasana hening. Setelah cukup lama, akhirnya Dean mulai membuka suara.
"Loe ada masalah apa? Gue gak mau basa-basi, jangan ganggu Rana" ucap Dean dengan nada dinginnya.
"Kamu berubah ya Dean, dulu kamu baik banget sama aku. Kamu selalu jaga aku, kamu bilang akan selalu ada untukku. Tapi mana janji kamu? Kenapa kamu lebih belain Rana daripada aku?" Sahut Artha dengan air mata yang mengalir.
Dean memberikan tisu untuk wanita dihadapannya, setelah itu mengemasi barang-barangnya dan pergi.
"Kamu mau kemana?"
"Cih, gue baru sadar loe bermuka dua. Gue blokir semua kontak loe"
"Kenapa? Apa karena Rana? Karena dia cantik? Pintar? Anak orang kaya? Kenapa? Kenapa kamu juga lebih suka dia dibandingkan aku?" Teriak Artha penuh amarah menggebu-gebu. Ia tak peduli lagi jika pelanggan lain melihat pertengkaran mereka.
Dean berbalik dan berjalan mendekati Artha dengan wajah kesal. Harusnya ia mendengarkan perkataan Rana untuk tidak menemui Artha. Tak masalah jika Artha marah padanya, namun membawa-bawa nama Rana membuat Dean merasa kesal.
"Gue bertengkar dengannya karena ingin menemui loe. Tapi harusnya gue tau, ketakutan Rana beralasan. Sekali lagi loe sebut namanya, gue gak akan diam lagi. Jangan usik orang yang gue cintai, brengsek" tutur Dean dengan mata tajamnya. Ia begitu kesal dan langsung pergi meninggalkan Artha yang terdiam tanpa kata.
Tak jauh dari mereka duduk, ada Yuan dan teman-temannya yang juga berada disana. Sebenarnya akan bagus jika Dean dan Rana putus karena ini, namun Yuan tak bisa membiarkan Rana salah paham pada seseorang. Ia mengambil semua video yang rupanya tak sesuai dengan apa yang di pikirkannya. Yuan memutuskan untuk mengirimkannya pada Rana.
\=========
Dean sudah berada didepan rumah Rana, ia menatap ponselnya menunggu jawaban dari Rana. Namun sepertinya Rana sangat marah, setelah cukup lama menunggu, Dean akhirnya pergi pulang kerumah.
Ceklek....
"Baru pulang? Sini duduk Kakak mau bicara" ucap seseorang menyambut kedatangan Dean dirumah.
Pemuda itu berjalan dan duduk di sofa samping sang Kakak. Ia memandangi Kakaknya yang tampak serius menonton televisi.
"Apa?"
"Kak Dio tau Rana? Kenal Kakaknya juga?"
Dio mematikan televisinya dan menatap Dean dengan serius. Kakak beradik ini membuat suasana menjadi tegang karena keduanya sama-sama tak suka dengan canda tawa. Dio membuka ponselnya dan menunjukkan obrolan grupnya. Meski tak dekat dengan Yuan, namun Dio tau benar siapa itu Yuan. Sebab ia sangat terkenal di kampus, entah karena kecerdasan, ketampanan ataupun ketua club motor.
"Kenapa harus adiknya Yuan? Gak ada cewek lain?"
"Apa'an sih Kak? Lagian Rana kok yang deketin gue duluan, gue udah nolak tapi dia tetap aja deketin gue"
"Terus sekarang loe suka sama dia?"
"Iya suka"
Ceklek...
Pintu kamar Dio tiba-tiba terbuka, terlihat Yuan yang keluar dari kamar pemuda itu. Ia duduk di samping Dio usai memukul kepala pemuda tersebut.
"Hahaha si Rana tuh yang ngejar-ngejar adik gue" celetuk Dio dengan candanya.
"Ah sial, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya ya. Awas aja kalau nyakitin adik gue"
"Dahlah biarin aja, urusan mereka. Loe ngajak gue pulang cuma buat ini? Sialan loe, ayo balik ke asrama"
Kedua mahasiswa itu saling berbincang dan melupakan Dean yang tak mengerti dengan situasinya. Dean mencoba menyela namun yang ia dapatkan malah tatapan tajam dari kedua pemuda tersebut.
"Kakaakk" teriak Dean kesal.
Dio dan Yuan saling berpandangan lalu bangkit dari duduknya. Mereka berpamitan pada Dean untuk kembali pulang ke asrama. Sebelum benar-benar pergi, Yuan berpesan pada Dean agar menjaga Rana meski mereka tak ada hubungan lagi. Bagaimanapun Dio dan Yuan adalah teman dekat, karena itulah keduanya harus akur meski sudah menjadi mantan.
Dean masuk kedalam kamarnya dan kembali mencoba mendial nomor Rana. Ia masih berharap sang kekasih akan mendengarkan dirinya. Cukup lama Dean memandangi roomchat nya dengan Rana, hingga sebuah pesan masuk dan membuat pemuda itu berlari keluar rumah secepatnya.
"Sayang kenapa lari-lari?" Tanya Rana saat melihat Dean berlari keluar dari apartemen nya.
"Ah, i..itu hanya, aku tak mau kau menunggu lama" jelas Dean dengan wajah memerah.
"Hahahaha, kamu sudah beli makanan untuk karyawisata besok? Aku baru pulang belanja nih, besok kelas kita satu bus kan ya"
"Maaf Rana, maafkan aku. Harusnya aku mendengarkan mu, dia wanita jahat. Maaf aku melukaimu lagi"
"Aku senang semuanya sudah selesai, tapi Dean aku sedikit khawatir. Harusnya aku tak begitu, kau ingat saat membantuku melawan oleh preman-preman itu. Yang mereka rundung adalah Artha, aku baru mengingatnya saat kami bertemu di Festival Sekolah, tapi dia melarangku untuk..."
Dean membungkam mulut Rana dan menggelengkan kepalanya. Ia tak mau mendengar apapun lagi tentang Artha, apapun itu sudah cukup. Pemuda itu tak mau melukai kekasihnya lagi. Dipeluknya Rana dengan erat dan dielusnya rambut panjang sang kekasih.
"Aku antar kamu pulang ya"
"Tapi kamu udah belanja?"
"Sudah dibelikan teman-teman, sini aku bawakan"
"Teman-teman kamu baik sekali ya, kamu juga sangat baik. Karena itulah kalian terus berteman, menyenangkan" lirih Rana di tengah perjalanan mereka menuju rumahnya.
Dean membantu Rana membawa barang belanjaan gadis itu sampai masuk kedalam rumahnya. Setelah suasana yang sedikit canggung, Dean berpamitan pulang. Namun sebelum itu, ia menggenggam tangan Rana dan mencium pipi kekasihnya.
Mata mereka saling bertemu, wajah keduanya sudah merah padam. Dean menggaruk kepalanya sedangkan Rana tertunduk malu. Tangan mereka masih saling menggenggam seolah tak ingin berpisah.
Dean mensejajarkan wajahnya dengan wajah Rana, lalu mendekat kearah kekasihnya.
Cup...
Bibir mereka bersentuhan, Dean menahannya cukup lama disana. Ia menggerakkan bibir bawahnya menyentuh bibir bawah Rana dan sedikit menghisapnya. Setelah itu ia menariknya kembali sebab cengkraman tangan Rana terasa semakin kuat. Wajah Rana benar-benar merah padam dengan napasnya yang naik turun.
"Aku pulang ya, sampai besok" pamit Dean kemudian pergi meninggalkan rumah Rana.
Rana memegangi dadanya, jantungnya masih tak bisa berhenti berdebar kencang. Perasaan ini sungguh tak pernah Rana rasakan sebelumnya.