
Setelah dari sawah, para remaja itu berkumpul di tengah rumah untuk memasak sarapan. Beberapa dari mereka memiliki tugas masing-masing begitu juga dengan Rana. Ia masih menunggu gilirannya memasak usai semua bahan siap.
"Gue cuci piring kan" celetuk Suho yang baru saja selesai mandi. Ia duduk di samping Rana yang sedang memandang teman-temannya.
Rana seketika langsung berdiri dan menghindar, mencari tempat duduk lain yang jauh dari Suho. Para gadis itu juga berpikir jika Rana tengah menghindari Suho secara terang-terangan. Sedangkan Suho yang terkejut juga menatap Rana. Ia merasakan hal yang sama, jika Rana tengah menghindar.
"Ran, sudah siap nih bahannya" seru Dean.
"Oke sayang"
Gadis itu menghampiri Dean dan memeluknya dari belakang.
"Eh, ada apa? Kenapa jadi manja gini?"
"Habisnya kamu pagi-pagi udah ganteng aja, heheheh"
"Hoeek najis najis buruan masak lapar nih" sela Gerald yang langsung beranjak pergi dari radar kebucinan Rana.
Rana melepaskan pelukannya dan mulai memasak. Ia tampak begitu santai memasukkan setiap bahan, seperti acara masak yang disaksikan banyak orang. Namun sang koki hanya menatap ke satu arah, tatapannya hanya tertuju pada pemuda yang ia cintai. Dean tampak kagum melihat kelihaian Rana dalam memasak.
Setelah beberapa menit, masakan pun jadi. Semua orang mengambil makanan dan menikmatinya bersama termasuk Kakek serta Nenek. Pujian akan rasa masakan Rana memang tiada duanya. Gadis yang berbakat dalam banyak hal ini sungguh mengagumkan.
Usai makan, Rana perdu berjalan-jalan bersama Dean. Bergandengan tangan mengelilingi desa yang sejuk dan banyak persawahan.
"Sayang kerjaannya gimana?" Tanya Rana yang sudah bergelayut di lengan Dean.
"Lancar, masih sedikit canggung sih tapi aku ingat semua tips dari kamu. Tanpa kamu mungkin aku sudah menyerah"
"Sayang salah, itu karena sayang memang hebat. Kalau sayang sudah terkenal, apakah ada waktu untukku? Apakah masih ingat aku? Pasti ada banyak wanita yang kirim pesan ke sayang"
Dean melepaskan tangannya dari genggaman Rana lalu memeluk bahu kekasihnya. Ia mengelus pundak Rana sambil menatapnya lembut.
"Pulang darisini, aku menginap dirumahmu ya?"
"Apa? Me...menginap? Benarkah? Boleh boleh"
"Kenapa senyum-senyum?"
"Iih apa sih gak kok, massa senyum gak boleh"
Dean memandangi wajah kekasihnya dengan seksama. Rana tak bisa menyembunyikan rasa malunya, wajahnya langsung merah padam dan salah tingkah tak karuan. Dipeluknya Dean dan kembali berjalan berkeliling. Ini adalah hari terakhir, besok pagi mereka sudah harus pergi pulang ke rumah.
Selepas berkeliling, Dean dan Rana bergabung dengan yang lainnya yang tengah bermain disungai. Mereka tampak bersemangat seperti hari pertama, kali ini mereka membawa banyak makanan ringan dan mengambil foto untuk di upload di sosmed.
"Malam ini ke pasar malam go go" saran Felix.
"Skuyyy, mau cumi-cumi bakar go go" sahut Rana.
"Emang ada pasar malam?" Celetuk Alin yang tak tau infonya.
"Ada dilapangan desa, tadi anak-anak kecil yang kasih tau" jawab Felix.
Mereka semua setuju untuk pergi, kebetulan sekali ini adalah kesempatan bagus pergi ke pasar malam yang jarang mereka temui di kota. Liburan mereka jadi sangat menyenangkan karena melakukan banyak hal.
\==========
Malam tiba....
Mereka sudah bersiap dan berjalan bersama menuju pasar malam yang lumayan jauh. Sayangnya mereka tak mengira jika malam hari akan sesepi dan sesunyi ini, seakan tak ada kehidupan. Mereka yang penakut akan berjalan di tengah dan terus was-was seolah tengah berada di rumah hantu. Sedangkan yang lainnya menikmati perjalanan dengan santai sambil berbincang.
"Kamu gak takut?" Tanya Dean yang berjalan paling belakang bersama dengan Rana dan Suho.
"Takut, aku takut banget ada penjahat yang muncul. Tapi disini aman kan? Aku gak suka lewat jalan gelap dan sepi, bukankah itu rawan kejahatan?"
Rana mengangguk, ia tak akan berani jika harus melewati jalanan sepi dan gelap sendirian. Untung saja saat itu mereka bertemu, dan Rana pulang bersama Dean. Gadis itu menggenggam erat tangan Dean, sambil berusaha mengalihkan pikiran kedua pemuda penakut itu ke hal lain. Setidaknya mereka tengah berjalan bersama.
Tak lama mereka melihat cahaya dan banyak orang disana. Pantas saja jalanan terasa sepi sebab semua orang sepertinya berada disana. Para gadis itu langsung saja pergi untuk mencari makanan. Sedangkan para pemuda mencari permainan untuk bertanding.
Mereka berpisah cukup lama hingga akhirnya memutuskan untuk berkumpul di komedi putar sebagai akhir dari perjalanan. Mereka semua naik bersama-sama dan menyiapkan ponsel untuk merekam serta mengambil beberapa foto.
"Sayang naik ini" pinta Rana pada Dean sembari menunjuk kuda.
Dean pun menaiki kuda, Rana memasangkan sabuk pengaman pada Dean dan memastikan kekasihnya sudah aman. Setelah itu ia barulah naik di samping Dean mulai mengambil beberapa foto. Mereka tampak bergembira seperti anak kecil.
Setelah itu merekapun memutuskan untuk pulang kerumah.
"Uhuk-uhuk" suara batuk Freya menemani perjalanan sepi mereka.
"Dingin ya" bisik Rana memberikan jaketnya pada Freya. Ia merangkul pundak gadis itu dan berjalan bersama.
Ratu yang berjalan didepan tak sengaja menoleh kebelakang, ia menghela napasnya panjang melihat Rana hanya memakai kaos karena memberikan jaketnya pada Freya.
"Loe juga gak tahan dingin, kenapa sih memaksakan diri? Sekali-kali pikirkan dirimu sendiri" oceh Ratu kesal. Ia menatap jaket Suho dengan tatapan tajam hingga membuat sang pemilik jaket melepasnya.
Ratu hendak memakaikan jaket pada Rana namun gadis itu langsung mengambil jaketnya dari Freya dan membiarkan Freya yang mengenakan jaket Suho.
"Ngantuk? Gue gendong?" Tawar Ratu seraya menunjukkan punggungnya pada Rana.
"Apa sih? Gue bukan anak kecil tau, stop perlakukan gue seperti anak kecil, wleee" jawab Rana sembari menjulurkan lidahnya persis seperti anak kecil.
Rana berjalan disamping Ratu, ia terus memainkan ponselnya dengan wajah cemberut. Jika ditanya selalu menghindar dan hanya mengatakan jika dirinya lelah. Sampai dirumah Kakek Nenek, mereka masuk kedalam kamar masing-masing dan membereskan pakaian mereka. Sebab mereka harus berangkat pagi-pagi sekali untuk mengejar kereta.
Meski berusaha tidur, lagi lagi Rana tak bisa memejamkan matanya. Ia terus memandangi sosmed seseorang yang tengah mengusik dirinya. Pikirannya semakin kacau, ia pun memutuskan untuk pergi keluar melihat bintang.
"Belum tidur Ran?" Tanya Suho yang baru keluar kamarnya.
"Begitulah, gak bisa tidur nih"
"Kenapa? Ada yang dipikirkan?"
Rana menatap ke arah Suho dengan seksama, mungkin ini hal yang baik jika membicarakannya dengan seseorang. Namun hatinya masih saja tak bisa tenang.
"Apa menurutmu Dean menyukai gue?"
Suho terkejut dan langsung menoleh ke arah Rana yang tampak sedih.
"Kenapa berpikir begitu?" Sahut Suho.
"Hanya saja, sepertinya Dean dan Artha sudah berbaikan. Gue tidak masalah tapi gue hanya, maksud gue bukankah harusnya dia meng-upload foto kami berdua di sosmed?"
"Haruskah? Bukankah semua orang juga tau kalian berkencan?"
"Tapi bagaimana dengan followers Dean dan juga temannya teman Dean, mereka tak tau bukan? Bagaimana jika mereka berpikir yang tidak-tidak? Maksud gue bagaimana jika mereka salah mengira jika Dean bukanlah pacar gue?"
Pemuda itu merebahkan tubuhnya dan menatap langit yang penuh bintang. Hanya sesaat sebelum matanya memandangi Rana dari belakang. Gadis itu terlihat sedih dan gelisah, tidak seperti Rana ceria yang biasanya. Sepertinya hal ini benar-benar mengusik pikiran Rana.
"Kenapa tidak loe katakan pada Dean saja?"
"Aah tidak-tidak, gue gak mau membebani dia. Benar, gue yang suka Dean, rasa suka gue sebesar itu. Tak masalah bagaimana pendapatnya atau orang lain, Dean hanya perlu tau kalau gue suka dia kan?"
Suho menghela napasnya panjang, ia memejamkan mata sejenak memikirkan perkataan Rana. Terdengar suara pintu dibuka, terlihat Gerald yang baru saja keluar kamarnya hendak ke kamar mandi.
"Kalian ngapain disini? Gak tidur? Kan besok harus berangkat pagi, ini juga Dean sama Felix kemana?" Cecar Gerald dengan wajah bangun tidurnya.
"Gue masuk dulu ya, byee" ucap Rana lalu beranjak masuk kedalam kamarnya.