Metamorphosis Cinta

Metamorphosis Cinta
MC - Kilas Balik ( Masa Kecil)


Esok harinya, mereka semua pulang ke rumah masing-masing sebab Rana juga ada janji dengan Viola. Gerald mengikuti Dean pulang kerumah dan membantu pemuda itu membawa banyak barang.


"Apa loe benar-benar suka cewek itu?" Celetuk Dean tiba-tiba membuka perbincangan.


"Loe kan tau gue jomblo dari lahir. Siapa tau kan ya, gue kan juga mau wisuda bawa cewek bro"


"Baiklah, nanti gue tanyakan lagi pada Rana. Ngomong-ngomong, loe gak perlu khawatir dengan hubungan gue dan Rana. Gue percaya kalau Rana cuma suka gue"


Gerald tertawa mendengar perkataan Dean, ia pikir rasanya baru kemarin pemuda itu menolak Rana dengan berbagai cara. Tapi lihatlah hari ini, bahkan tak ada satupun orang yang bisa masuk dalam hati pemuda cuek itu. Meskipun mantan Dean mencoba sekalipun, rasanya tak mungkin ada ruang.


"Baguslah kalau loe senang, setidaknya loe bisa merasa nyaman saat berada di dekat Rana"


"Maksud loe apa?"


"Dari sekian banyak cewek yang dekat sama loe, cuma Rana yang betah loe bentak dan maki. Dari sekian banyak cewek yang jadi pacar loe, cuma Rana yang bisa buat loe ceramahin orang. Dean yang terkenal irit bicara, jadi cerewet di depan Rana"


"Ngaco deh ngomongnya"


"Gue harap loe juga bisa nyaman didepan kami, dan percaya pada kamu seperti loe percaya pada Rana"


Dean menghentikan langkahnya, ia menatap Gerald dengan dahi mengerut. Dipukulnya belakang leher pemuda itu hingga Gerald meminta ampun. Rasanya seperti Gerald sedang membuat dongeng penuh omong kosong bagi Dean.


Disisi lain, Rana tengah berjalan-jalan dipusat kota bersama Viola. Mereka berdua ingin menghabiskan waktu bersama menebus kebersamaan yang hilang. Meski banyak mata pria yang memandang, namun perhatian Viola hanya tertuju pada Rana seorang. Mungkin banyak yang mengira jika hubungan mereka sedikit aneh, tapi memang kenyataannya Viola sangatlah menyayangi Rana.


"Ran, jika kamu disuruh memilih antara aku dan Dean. Siapa yang kau pilih?"


"Kenapa aku harus memilih diantara kalian? Alasannya apa?"


Viola terdiam sejenak mencoba berpikir, itu adalah pertanyaan yang masuk akal. Ia harus berpikir agar Rana memilihnya dan bukannya Dean. Tapi Viola ingin Rana lebih menyayanginya daripada menyayangi Dean.


"Seseorang yang tidak akan pernah kamu biarkan pergi darimu"


Rana tertegun mendengar pertanyaan itu, ia menaruh kembali barang yang hendak ia ambil dan berbalik menatap mata Viola. Dilihatnya Viola yang sudah memasang raut wajah seriusnya. Meski lama tak berkabar, masih tertanam jelas ingatan Rana tentang Viola.


"Dean" jawab Rana dengan senyuman kecutnya.


"Kenapa? Kenapa dia dan bukan aku? Kau lebih menyukai dia daripada aku?" Oceh Viola seperti kereta cepat.


Gadis itu kembali memilih barang yang hendak ia beli, sambil membandingkan barang satu dengan yang lainnya. Viola tiba-tiba menahan tangan Rana dengan erat, ia meminta penjelasan saat ini juga.


"Karena aku tidak tau, sebesar apa cinta dan perhatian Dean padaku. Meski aku berusaha menjauh dari Kak Viola, aku tau benar Kak Viola tidak akan meninggalkanku. Sebab cinta dan kasih sayang Kak Viola sangatlah besar padaku. Tapi Dean? Aku harus selalu menebaknya, dia tidak seperhatian Kak Viola"


Viola melepaskan genggamannya, ia melihat mata Rana yang berkaca-kaca. Sakit sekali rasanya, meski Rana tau Viola sangat menyayanginya. Namun ada sedikit rasa cemburu dan iri, Viola juga ingin menjadi seseorang yang diprioritaskan oleh Rana. Tapi ia sedikit mengerti perkataan teman-temannya, Rana sudah remaja, pasti perasaannya akan berubah.


"Kamu tau Rana, saat sahabatku bilang jika kamu berubah, aku tidak percaya. Aku masih yakin bahwa kamu adalah milikku"


"Hm..?"


"Tapi aku salah, dan mereka benar. Kamu sudah remaja, sudah dewasa dan sudah waktunya jatuh cinta. Kedepannya, tolong maklumi sikapku jika aku menyebalkan, aku pasti akan cemburu pada kekasihmu karena dia merebutmu dariku. Itu saja, permintaan ku"


Rana tersenyum semakin lebar lalu tertawa, ia memeluk Viola erat dan mengatakan jika sampai kapanpun juga Kak Viola adalah bagian terhebat dalam perjalanan kisah hidup Rana. Karena dengan terjalinnya hubungan itu, Rana jadi mengetahui ada banyak hal di dunia ini yang tak selalu sesuai dengan apa yang ia bayangkan. Pelajaran hidup terbesar, Rana dapatkan dari Viola untuk pertama kalinya.


Kala itu pertemuan pertama mereka dimulai saat Rana duduk di kelas 2 SD. Viola dan keluarganya baru saja pindah ke salah satu rumah yang ada di kompleks perumahan Rana.


"Mamaaaaaaa, Mama mama mama mama" teriak Rana berlari mendekati Mamanya.


"Diam!! Jangan lari!!" Teriak Mama Rana seperti biasanya.


Gadis kecil itu seketika berjalan perlahan dengan wajah cemberutnya. Ia mendekati Mama Rana dan menggenggam tangannya erat.


"Waah, Rana sudah besar ya sekarang, cantik sekali" ujar Mama Viola.


"Halo Tante, terimakasih pujiannya" jawab Rana kembali ceria.


"Ini anak Tante, namanya Viola, semoga kalian cepat akrab ya"


Rana mengangguk dan mengulurkan tangannya kepada Viola. Tapi gadis kecil itu malah berlari masuk kedalam rumah. Kala hendak menyusulnya, teman-teman Rana yang lain memanggilnya untuk pergi bermain di taman.


"Mama, aku mau main" pinta Rana.


"Iya baiklah, nanti pulang sebelum malam ya. Jika melihat Kakak mu, suruh mereka pulang juga"


"Okeeyy, byee Tante" pamit Rana lalu berlari menuju teman-temannya.


Mama Rana dan Viola menatap ke arah rumah Viola, mereka melihat Viola yang sedang memandangi Rana dari balik jendela kamarnya dilantai atas. Kedua wanita paruh baya itu adalah teman dekat sejak mereka duduk dibangku SMA. Meski lama terpisah, namun mereka tak kehilangan kontak dan masih saling berhubungan.


"Viola sedikit susah didekati, sejak perceraian ku dengannya. Apakah Viola akan baik-baik saja?" Keluh Mama Viola dengan sedih.


"Tentu saja, ada Rana yang akan menemaninya. Akan aku minta dia untuk berteman dengan Viola dan mengikuti Viola kemanapun"


"Hahah kau ini, masih saja memaksakan keinginan mu"


\=======


Hari berganti malam, Rana sudah bersiap dengan gaun indahnya. Ia berdandan sangat cantik di depan cermin.


"Cantiknya anak Papa, mau kemana sih?" Tanya Papa Rana kala melihat putri bungsunya yang begitu ceria sambil menari.


"Aku mau terlihat sangat cantik, habisnya Kak Viola cantik banget. Aku mau terlihat sepertinya" jawab Rana.


Ketika Kakak Rana menatap adiknya dengan tajam, tentu mereka tak mau Rana terlihat sangat cantik karena pasti akan banyak laki-laki yang mendekat. Mereka bertiga saling berpandangan dan berpencar mengambil tisu basah. Mereka menyeka wajah Rana dan mengacak rambutnya.


"Aah Kakak kenapa sih?" Rengek Rana dengan tangisnya.


"Bahkan seperti ini pun, kau masih sangat cantik. Kakak tidak mau kau terlihat cantik di depan pria manapun. Mengerti?" Bentak Vigo, Kakak pertama Rana.


"Benar, aku juga tidak mau kau lebih menyukai pemuda lain" imbuh Yuan.


"Aku juga kesal dengan teman-teman pria mu yang sok akrab itu" sahut Brandon.


Papa Rana tertawa mendengar perkataan ketiga putranya. Beliau mengatakan jika mereka masih terlalu kecil untuk berpikir seperti itu. Bahkan Mama Rana sudah menyiapkan kepalan tangan untuk menjitak ketiga putranya.