Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
61. I Love You


Sorak-sorai suporter pendukung kedua tim memenuhi tribun lapangan basket SMA Bhakti Luhur siang ini. Mereka semua meneriakkan yel-yel penyemangat agar tim kesayangan mereka dapat meraih kemenangan yang mereka inginkan.


Saat ini pertandingan tim basket putri antar kedua SMA sedang berlangsung dengan sengit. Kedua tim saling mengejar poin dengan semangat yang berkobar. Mereka juga saling menyerang agar pertahanan lawan dapat di lumpuhkan.


Rhea yang sedang duduk di bangku cadangan, memang belum di turunkan oleh pak Hendrik saat ini. Mengingat stamina Rhea yang tidak terlalu bagus, maka pak Hendrik akan menggunakan Rhea di saat babak terakhir akan bergulir. Jadi Rhea hanya bisa memperhatikan jalannya pertandingan sambil sesekali melirik ponselnya yang sejak tadi belum berdering.


Rhea sepertinya sedang menunggu kedatangan Gavin untuk melihatnya ikut bertanding untuk pertama kali. Tapi hingga babak pertama usai, Gavin belum juga menampakkan batang hidungnya. Rhea yang mulai kesal, akhirnya menyimpan ponsel itu ke dalam tas dan tidak mengharapkan kedatangan Gavin lagi.


Ketika babak pertama usai, semua anggota tim berkumpul di pinggir lapangan untuk mendengarkan pengarahan dari pak Hendrik. Poin tim mereka yang mulai tertinggal, membuat pak Hendrik harus memutar otak untuk menyusun strategi agar tim basket SMA Bina Utama bisa bertekuk lutut di hadapan tim basket SMA Bhakti Luhur. Pak Hendrik meminta para anggota yang ikut bertanding, untuk lebih agresif memberikan serangan kepada tim lawan. Rhea juga akhirnya ikut di turunkan oleh pak Hendrik agar membantu tim untuk mencetak poin yang lebih banyak di babak selanjutnya.


Saat peluit babak kedua berbunyi, kedua tim mulai berkumpul ke tengah lapangan untuk melanjutkan pertandingan. Rhea yang sudah di instruksikan untuk mengikuti babak kedua ini, juga ikut bergabung dengan keempat rekannya di tengah lapangan. Saat Rhea memasuki lapangan, semua mata para penonton terutama mata para lelaki memandang fisik gadis itu dengan kagum. Mereka semua berbisik dan mengeluarkan komentar, kalau Rhea lebih cocok menjadi seorang cheerleaders dari pada seorang pemain basket.


Rafka yang mendengar hal itu, menggeram kesal lalu menghardik mereka dengan keras.


" Woi...bisa diam nggak Lo!" Rafka menatap sinis dua laki-laki yang sedang berkomentar tentang adiknya sambil memasang tampang garang. Kedua orang yang berkomentar tentang Rhea tadi, akhirnya diam setelah melihat wajah Rafka yang terlihat sangat menyeramkan.


Shasa yang menyaksikan kemarahan Rafka, diam-diam tersenyum menatap cowok itu. Sifat inilah yang Shasa sukai dari Rafka, cowok itu selalu peduli dan melindungi orang yang dia sayangi. Membuat Tasya juga ingin di lindungi oleh cowok itu.


Di pinggir lapangan, lebih tepatnya tempat anggota tim putra SMA Bina Utama berkumpul, semua mata juga tertuju pada Rhea. Aiden yang merupakan kapten tim basket di sana sampai tersenyum saat memperhatikan Rhea yang sedang bersiap-siap di tengah lapangan.


" Den, itu cewek yang Lo temuin tadi kan?" Celetuk salah seorang teman Aiden sambil menunjuk Rhea.


" Hmm.." Aiden hanya bergumam pelan sambil menganggukkan kepalanya sekilas. Tatapan Aiden tidak terlepas sama sekali dari gadis yang pernah dia sukai itu.


" Keren juga gebetan Lo Den. Udah cakep, bisa main basket lagi. Kalau Lo berdua sampe jadian, jangan lupa PJ nya ya bro!" Teman Aiden yang lain juga ikut menimpali lalu mereka tertawa bersama saat mendengar kata 'PJ' alias Pajak Jadian disebutkan.


Aiden hanya tersenyum kecil, saat menanggapi ucapan teman-temannya tadi. Aiden tidak mungkin mengatakan kepada mereka semua kalau dia sudah di tolak oleh gadis itu untuk kedua kalinya. Jadi Aiden memilih untuk tetap diam sambil terus memperhatikan Rhea dari jauh.


Sementara itu di pintu masuk lapangan basket, Gavin baru saja datang setelah berlari dari UKS menuju lapangan dengan cepat. Gavin sampai mengatur nafasnya yang mulai sesak sambil berkacak pinggang. Setelah deru nafas Gavin kembali stabil, dia mulai memasuki lapangan menuju tempat Dhafi dan teman-temannya berkumpul.


" Woi..Vin! Dari mana aja Lo?" Sindir Azka dengan telak saat Gavin sudah berada di hadapannya.


" Berbisik Lo!" Ucap Gavin kesal. Gavin lalu mulai duduk di sebelah Dhafi yang sedang sibuk memperhatikan jalannya pertandingan. Lebih tepatnya memperhatikan permainan Flo saat ini. Dhafi baru menyadari kalau gadis itu terlihat semakin cantik saat sedang berlarian di tengah lapangan.


" Gimana Fi?" Pertanyaan singkat dari Gavin membuat Dhafi mengalihkan tatapannya dari Flo.


" Menurut Lo?" Dhafi menarik sudut bibirnya ke atas saat menatap Gavin yang sedang duduk sampingnya.


" Menang lah! Selamat bro!" Mereka berdua melakukan tos lalu kemudian tertawa bersama. Semua anggota tim yang memperhatikan interaksi mereka berdua, juga ikut tertawa bersama dengan kedua pemuda itu.


Saat mereka sudah selesai meluapkan kegembiraan bersama Gavin, mereka semua kembali fokus untuk memperhatikan jalannya pertandingan tim basket putri yang sedang berlangsung saat ini.


Sejak Rhea mulai bergabung di babak kedua ini, tim basket SMA Bhakti luhur terlihat semakin mempercepat mengejar ketertinggalan poin yang cukup jauh di babak pertama tadi. Tim lawan sampai ketar-ketir menghadapi kelincahan Rhea dalam mendribble bola. Rhea juga terlihat memiliki akurasi yang cukup tinggi saat melakukan shooting ke dalam ring basket lawan.


Semua orang yang sampai terkagum-kagum melihat kemampuan Rhea itu. Tidak hanya memiliki paras yang cantik, tapi skill basket gadis itu tidak bisa di pandang sebelah mata.


" Cewek gue tu!" Tunjuk Gavin dengan bangga sambil tersenyum senang di hadapan semua teman-temannya.


Mereka semua hanya menanggapi ucapan Gavin dengan anggukan kepala sambil memaksakan senyuman pada cowok itu. Kesombongan Gavin memang tidak ada yang bisa melawan kali ini.


Pertandingan tim basket putri terlihat semakin memanas di tengah lapangan. Tim lawan yaitu SMA Bina Utama juga mulai kembali agresif menyerang tim basket SMA Bhakti luhur. Tim basket SMA Bina Utama sampai beberapa kali melakukan pelanggaran seperti mendorong ataupun melakukan kontak fisik ilegal untuk memblokir jalur pemain lawan.


Hingga puncaknya, saat beberapa menit pertandingan akan usai. Tim basket putri SMA Bina Utama melakukan kembali pelanggaran dengan mendorong kapten tim basket putri SMA Bhakti Luhur dengan cukup keras untuk menghadang laju gadis itu menuju ring basket mereka.


Semua anggota tim putra yang berada di pinggir lapangan berteriak dengan kesal saat menyaksikan adegan itu. Termasuk Dhafi yang juga sangat marah saat melihat Flo meringis kesakitan saat berada di tengah lapangan. Wasit sampai menghentikan sementara pertandingan itu dan meminta tim medis untuk mencek kondisi Flo terlebih dahulu.


Setelah Flo kembali berdiri, wasit kemudian menghadiahkan sebuah Free throw atau lemparan bebas untuk tim basket SMA Bhakti Luhur. Mereka semua akan memanfaatkan lemparan itu agar bisa mengungguli tim basket lawan karena poin mereka seri saat ini.


Sambil mengatur nafas, Flo mulai berdiri dengan tegak lalu mulai menembakkan bola dari belakang garis lemparan bebas saat wasit sudah memberikan aba-aba untuk menembak.


Wusshh...🏀🏀


Semua anggota tim basket putri yang berada di pinggir lapangan langsung berhamburan ke tengah lapangan untuk merayakan kemenangan bersama dengan anggota tim mereka yang telah berjuang sampai akhir. Mereka semua saling berpelukan dan mulai tersenyum bahagia karena perjuangan mereka selama satu Minggu ini untuk berlatih akhir terbayar dengan lunas. Walaupun pertandingan kali ini hanya bertajuk pertandingan persahabatan, tapi setidaknya mereka sudah membuat langkah awal yang baik dan akan terus berlatih agar menjadi tim yang lebih solid dan tidak terkalahkan di masa depan.


Gavin dan semua teman-temannya juga ikut antusias menyambut kemenangan itu. Mereka semua ikut menghampiri para gadis yang sedang berdiri di tengah lapangan dan mengucapkan selamat atas keberhasilan mereka hari ini.


" Yang!" Gavin menepuk pundak Rhea dengan lembut saat gadis itu sedang berangkulan dengan Ara di tengah lapangan.


Saat Rhea menoleh kebelakang, gadis itu langsung memasang wajah cemberut karena Gavin datang menghampirinya.


" Kok cemberut sih Yang? Sini peluk dulu!" Gavin merentangkan kedua tangannya agar Rhea datang ke pelukannya.


" Nggak mau." Rhea langsung melengos dan pergi meninggalkan Gavin ke pinggir lapangan. Rhea masih sangat kesal dengan Gavin karena datang terlambat ke pertandingan pertamanya kali ini.


" Sayang!" Gavin segera mengejar Rhea dan menahan tangan gadis itu agar tidak semakin jauh meninggalkan Gavin.


" Lepas kak!" Rhea mengerucutkan bibirnya kesal saat berbalik menatap Gavin.


" Sayang, maafin aku ya. Aku udah usahain buat kesini secepatnya. Kamu liat deh baju aku. Masih pakai baju kantoran kan? Aku juga ngebut loh biar bisa cepat kesini. Kamu jangan marah lagi ya sama aku!"


Gavin memasang wajah memelas sambil menggenggam kedua tangan Rhea dengan erat. Gavin tidak ingin gadisnya itu marah terlalu lama. Jadi Gavin segera membujuk Rhea agar amarah gadis itu segera mereda.


" Ya udah, dimaafin!" Ucap Rhea singkat. Rhea juga tidak tega melihat tampang Gavin yang menyedihkan seperti itu.


" Makasih sayang." Gavin tersenyum dan langsung meraih Rhea ke dalam pelukannya.


" Rhea Zhafira Adinata." Ucap Gavin dengan lembut sambil mengusap punggung Rhea yang berada dekapannya.


" Hmm..?" Rhea mengeryitkan dahinya heran karena Gavin memanggil nama lengkapnya. Rhea Lalu sedikit menguraikan pelukan itu dan mendongakkan kepala untuk menatap Gavin.


" I Love You!" Gavin mengungkapkan perasaannya pada Rhea dengan tulus sambil sambil menatap bola mata yang indah milik gadisnya itu.


Ungkapan cinta Gavin membuat jantung Rhea berdebar-debar. Semburat merah juga terpampang jelas di wajah gadis itu. Rhea yang sedikit salah tingkah, kembali menyembunyikan diri dalam pelukan Gavin. Dengan sedikit keberanian yang tersisa, Rhea juga membalas ucapan Gavin tadi.


" I Love You too." Ucap Rhea pelan.


Gavin juga tidak kalah senangnya mendengar ucapan Rhea itu. Mereka akhirnya saling berpelukan erat sebagai bentuk nyata dari perasaan cinta mereka yang sama.


Tidak jauh dari tempat Rhea dan Gavin berdiri, Aiden sedang menatap keduanya dengan tatapan sedih dan penuh kekecewaan. Aiden tidak menyangka kalau yang menjadi pacar Rhea saat ini adalah Gavin.


Aiden sebenarnya tadi berniat untuk memberi selamat pada Rhea atas kemenangan timnya. Tapi pada akhirnya Aiden harus mengurungkan niatnya karena dia tidak ingin mengganggu momen romantis antara Gavin dan juga Rhea.


Dengan langkah berat, Aiden kemudian meninggalkan lapangan itu menuju ke tempat teman-temannya yang telah menunggunya di luar lapangan.


" Woi...udahan pelukannya!" Sindir Azka dengan keras sambil menatap Gavin dan Rhea yang masih betah berpelukan di pinggir lapangan.


Rhea yang sadar perkataan Azka tadi di tujukan untuknya dan juga Gavin, akhirnya melepaskan pelukan itu terlebih dahulu. Rhea juga sedikit mendorong dada Gavin karena cowok itu enggan untuk mengendurkan pelukannya.


" Kita semua mau rayain kemenangan kita di Teen cafe. Buruan gabung!" Dhafi mengajak mereka berdua untuk bergabung dengan yang lain di perayaan kemenangan kedua tim basket. Setelah mengatakan itu, Dhafi segera berlalu keluar lapangan tanpa menunggu jawaban dari Gavin dan juga Rhea.


" Kak Gavin nggak balik ke kantor lagi kan?" Rhea menatap Gavin penuh harap. Rhea masih ingin berlama-lama dengan pacarnya itu karena mereka baru bertemu sebentar hari ini.


" Gimana ya?" Gavin pura-pura berpikir sambil memasang wajah serius.


" Terserah, pergi aja sana!" Rhea sedikit kecewa dan memilih pergi meninggalkan Gavin.


" Aku nggak pergi Yang! Aku mau sama kamu aja!" Gavin segera menahan tangan Rhea dan menggenggamnya dengan erat. Gavin lalu mengusap kepala Rhea lalu tersenyum untuk gadis itu.


Rhea akhirnya juga membalas senyuman Gavin dan melupakan kemarahannya tadi. Mereka berdua kemudian meninggalkan lapangan dengan bergandengan tangan lalu menuju tempat dimana teman-temannya berkumpul. Di sana juga telah menunggu Rafka, Shasa dan juga Bibi. Mereka semua berangkat bersama menuju Teen cafe dengan perasaan senang dan juga bersemangat.