
Sudah tiga hari Gavin tidak pergi sekolah. Gavin dan Rhea hanya bisa berkomunikasi lewat telfon untuk saling melepaskan rindu. Hari ini seperti biasa, Rhea dengan tidak bersemangat menuruni tangga untuk sarapan sebelum dia berangkat ke sekolah.
" Kamu pergi ke sekolah sama siapa Rhee?" Tanya bunda memastikan. Semenjak Gavin tidak menjemput Rhea ke sekolah beberapa hari ini, Rhea pergi bersama Ayah Adinata atau Rafka.
" Sama bang Rafka aja Bund. Orang nya mana Bund?" Rhea melihat ke arah tangga menunggu Rafka yang belum juga turun ke meja makan.
" Sebentar lagi juga turun." Ucap Bunda singkat. Bunda Citra saat ini sedang menikmati sarapan bersama Ayah di meja makan.
" Gimana kabar Papanya Gavin Rhee? Kapan beliau bisa keluar dari rumah sakit?" Kali ini Ayah Adinata yang bertanya, karena perasaan dengan kabar kesehatan teman lamanya itu. Ayah Adinata berencana akan menemui lagi Papa Ardana saat dia sudah kembali dari rumah sakit.
" Kata kak Gavin sih hari ini atau nggak lusa, Yah!" Rhea sudah di beri tahu oleh Gavin tentang keadaan Papanya yang mulai membaik dan bisa pulang secepatnya.
" Bagus kalau gitu." Ayah menganggukkan kepala dan kembali menyeruput kopinya yang masih panas yang berada di atas meja.
Saat Rhea masih sibuk dengan sarapannya, sebuah notifikasi pesan muncul di ponsel Rhea. Dengan malas Rhea mengambil ponsel itu dan melihat bahwa Gavin lah yang mengirimkan sebuah pesan.
Rhea dengan cepat membuka ponselnya, dan membaca pesan dari Gavin. Saat pesan itu selesai di baca, Rhea langsung tersenyum senang dan segera berdiri menyampirkan tas nya di bahu.
" Yah...bund...aku pergi dulu ya! Kak Gavin udah nungguin aku di luar?" Rhea dengan tergesa-gesa menghabiskan susu coklat nya dan pergi menyalami kedua orang tuanya bergantian.
" Titip salam sama Gavin ya Rhee!" Ucap Bunda sedikit berteriak, karena Rhea sudah semakin jauh berjalan. Saat Rhea sudah berada di depan teras, dia segera berlari ke luar pagar untuk menemui Gavin.
Saat berada di hadapan Gavin, Rhea sedikit mengernyitkan dahinya heran karena melihat Gavin pagi ini tidak membawa motor seperti biasanya. Gavin terlihat bersandar di sebuah mobil sport mewah keluaran BMW berwana hitam.
" Selamat pagi sayang!" Gavin tersenyum senang karena bisa menjemput Rhea seperti biasanya.
" Pagi juga kak! Wahh...mobil siapa ni kak? Bagus banget!" Rhea sangat takjub dengan mobil di hadapannya dan tidak sadar menyentuh body mobil yang mengkilap.
" Mobil aku lah! Yuk berangkat Yang!" Gavin menuntun tangan rhea menuju kursi penumpang yang berada di depan. Gavin tidak lupa membukakan pintu dan memastikan kepala Rhea tidak terbentur dengan atap mobil.
Setelah memastikan Rhea sudah duduk manis di bangku penumpang, Gavin segera mengitari mobil dan langsung duduk di balik setir kemudi. Mereka berdua akhirnya pergi dari kediaman Adinata menuju ke sekolah.
*****
Ketika mobil Gavin memasuki kawasan sekolah, semua mata menatap mobil Gavin dengan takjub. Mobil itu sangat mewah dan mahal. Mereka semua sangat penasaran, siapa orang yang berada di dalam mobil itu.
Saat Gavin turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Rhea, mereka semua tampak lebih terkejut dengan pemandangan itu. Gavin yang biasanya tampil keren menaiki motor, sekarang keliatan jauh lebih keren dengan mengendarai mobil ke sekolah. Sehingga otomatis semua gadis langsung menatap iri pada Rhea yang berjalan di samping Gavin.
" Kak Gavin bakalan tambah populer deh kayaknya!" Rhea sedang memandang sekeliling, dan mendapati semua gadis yang berada ada di parkiran menatap Gavin kagum.
" Aku nggak peduli meskipun aku populer sekalipun. Yang penting kamu nggak bakalan pergi dari aku." Ucap Gavin tanpa keraguan. Gavin semakin mempererat genggaman tangannya dengan Rhea saat mereka berjalan menuju kelas Rhea.
" Siapa juga yang mau pergi dari kak Gavin. Pacar aku kan cakep, kaya lagi. Rugi dong akunya." Jawab Rhea asal sambil tersenyum manis ke arah Gavin.
" Ooo...jadi karena aku cakep sama kaya kamu mau sama aku?" Tanya Gavin memastikan. Gavin memasang tampang seolah-olah seperti orang yang sedang bersedih di hadapan Rhea.
" Ya gitu deh!" Rhea menganggukkan kepala membenarkan ucapan Gavin.
" Aku juga mau sama kamu karena kamu cantik. Kalau jelek ma ogah!" Gavin kini membalas ucapan Rhea tadi, membuat Rhea langsung memasang tampang cemberut pada Gavin
" Kak Gavin jahat!" Rhea berusaha menarik paksa tangannya yang di genggam Gavin. Rhea sangat kesal dan mencubit lengan Gavin dengan keras.
" Aaawww...sakit Yang! Aku kan cuma bales apa yang kamu omongin tadi. Kok malah kesel begini sih!" Gavin masih mempertahankan tangan Rhea di genggamannya dan mengabaikan rasa perih di lengannya.
" Aku kan tadi cuma bercanda! Kak Gavin tega banget ngomong kayak gitu sama aku." Rhea kini menambah rasa sakit di lengan Gavin, dengan memukul-mukul lengan itu.
" Ampun Yang! Aku minta maaf. Walaupun kamu jelek, aku tetep sayang sama kamu." Gavin lebih memilih mengalah dari pada urusannya bertambah panjang. Akhirnya Gavin merasakan apa yang sering orang-orang bilang. Kalau cewek itu selalu benar dan nggak pernah salah. Maka tugas cowok adalah mengalah dan harus meminta maaf terlebih dahulu.
" Kak Gavin bohong! Lepasin nggak tangan aku! Kak Gavin mau aku gigit!" Ancam Rhea kali ini. Rhea sepertinya tidak main-main dengan ancamannya.
" Kamu boleh gigit aku sepuasnya, tapi habis itu jangan kesel-kesel lagi ya!" Gavin kembali membujuk Rhea yang sedang marah.
Rhea yang masih kesal dengan Gavin, akhirnya hanya bisa diam tidak menggubris lagi ucapan pacarnya itu. Rhea lebih memilih mengalihkan pandangannya dari Gavin.
" Kok sekarang diam sih Yang. Aku kan udah minta maaf. Udah rela di gigit lagi." Ucap Gavin sendu. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran pacar nya itu. Sudah di bujuk masih aja tetap ngambek.
" Aku nggak peduli. Aku mau ke kelas sendirian. Kak Gavin pergi aja!" Rhea menyentakkan tangan Gavin sehingga terlepas dari tangannya. Kemudian berlalu meninggalkan Gavin yang masih terkejut dengan kelakuan Rhea itu.
" Yang tunggu!" Saat Gavin hendak mengejar Rhea, sebuah seruan menghentikan Gavin.
Gavin akhirnya menghentikan niatnya untuk mengejar Rhea, dan berbalik menatap ketiga temannya dengan garang.
" Baru aja masuk sekolah, udah pada ribut aja Lo berdua!" Ucap Azka sok tau. Azka tidak takut sama sekali dengan Gavin yang saat ini sedang memasang tampang tidak bersahabat.
" Berisik Lo!" Ucap Gavin galak. Dia mendengus mendengus mendengar ucapan Azka barusan.
" Ada masalah apa sih Lo sama si Rhea?" Tanya Dhafi penasaran. Dhafi tau Gavin tidak suka di goda, jadi dia lebih baik bertanya dari pada memancing kemarahan sahabatnya itu.
" Gue cuma godain dia doang! Tapi reaksinya jadi berlebihan gitu. Padahal kan dia sendiri yang mulai." Gavin akhirnya menjelaskan sedikit perihal permasalahannya dengan Rhea kepada ketiga sahabatnya.
" Mungkin Rhea lagi PMS kali Vin! Makanya dia jadi marah-marah nggak jelas gitu!" Alex yang sedikit faham dengan tingkah laku cewek memberikan pendapatnya pada Gavin.
" Bisa jadi tu Vin! Si Flo kan juga suka kayak gitu ke gue. Kalau gue buat salah sedikit aja waktu dia lagi PMS, masalahnya bakalan jadi panjang. Dan ujung-ujungnya gue juga yang jadi pelampiasannya.
Gavin nampak sependapat dengan Alex dan Dhafi. Biasanya Rhea akan langsung baikan kalau di bujuk sedikit saja oleh Gavin.
" Betul yang Lo bilang. Mungkin Rhea lagi PMS sekarang, makanya emosi dia jadi nggak ke kontrol ke gue. Terus gimana caranya gue buat bujuk dia lagi Lex?"
Gavin meminta saran dari Alex karena dia lah satu-satunya sahabat Gavin yang berpacaran normal seperti kebanyakan orang. Sedangkan Azka si Playboy tidak mungkin dimintai saran oleh Gavin. Sementara Dhafi sama sekali tidak pernah pacaran. Cewek yang selalu dekat dengan Dhafi hanyalah Flo. Itu pun status mereka hanya sahabat sedari kecil.
" Lo harus bikin mood dia baikan lagi. Contohnya Lo kasih coklat, atau cake yang manis. Dijamin mood Rhea bakalan normal seperti biasa lagi." Alex memberikan sarannya pada Gavin berdasarkan pengalaman yang pernah dia rasakan bersama pacarnya Felicia.
" Bagus juga ide Lo. Thanks!" Gavin merangkul dan menepuk-nepuk pundak Alex dengan senang.
" Akhirnya sobat gue nggak galau lagi gara-gara cewek." Azka kembali menggoda Gavin yang pada akhirnya memantik lagi kekesalan sahabatnya itu.
" Lo bener-bener cari mati ya!" Gavin segera memiting leher Azka dengan keras sehingga cowok itu meminta ampun kepada Gavin.
" Mampus Lo!" Ucap Alex dan Dhafi sambil terkekeh melihat muka Azka yang mulai memerah.
" Udah Vin, ntar beneran mampus tu anak." Dhafi menghentikan aksi Gavin memiting leher Azka sedari tadi karena sudah mulai kasihan dengan sahabatnya itu.
Akhirnya Gavin melonggarkan pitingan nya di leher Azka, lalu merapikan baju nya yang sedikit kusut akibat Azka yang meronta-ronta di dekapannya tadi.
" Keterlaluan lo Vin!" Azka mengusap-usap lehernya yang sedikit sakit akibat ulah Gavin.
" Emang gue pikirin!" Jawab Gavin cuek lalu mulai berjalan meninggal ketika sahabatnya menuju kelas 11 yang berada di lantai dua.
" Woi...tungguin Vin!" Azka, Alex dan Dhafi mengikuti Gavin dari belakang dengan tergesa-gesa. Saat mereka sudah sampai di dekat Gavin, Alex kembali membuka obrolan bersama ketiga sahabatnya itu.
" Motor Lo kemana Vin? Kok gue nggak liat tadi di parkiran? Lo pakai apa ke sekolah bareng Rhea?" Tanya Alex beruntun. Alex sedikit heran dengan Gavin yang tidak biasanya meninggalkan motor kesayangannya itu.
" Motor gue di rumah. Gue ke sekolah naik mo...." Ucapan Gavin tiba-tiba di potong oleh Azka.
" Lo liat mobil BMW warna hitam di parkiran nggak Vin? Sumpah keren banget tu mobil! Yang punya pasti tajir melintir. Bagusan mobil dia daripada mobil Papi gue." Ucap Azka antusias. Azka sering melihat mobil mewah di tempat lain, tapi Azka tidak menyangka ada orang yang bakalan naik mobil mewah itu ke sekolah.
" Betul yang si Azka bilang. Itu mobil BMW 4 Series Convertible. Harganya aja udah sekitar 1,5 miliar." Ucap Alex menambahkan. Alex memang mengetahui berbagai jenis mobil beserta harganya karena Alex merupakan penyuka otomotif.
Sedangkan Dhafi hanya manggut-manggut mendengar ucapan kedua sahabatnya itu. Dhafi tidak terlalu mengetahui jenis-jenis mobil seperti Alex. Jadi Dhafi hanya menjadi pendengar yang baik kali ini.
Mendengar ucapan Alex dan Azka yang begitu antusiasnya memuji keunggulan mobil itu, membuat Gavin seketika bangga dengan mobil yang dia miliki saat ini. Walaupun mobil itu bukan pilihan Gavin sendiri, tapi setidaknya mobil itu tidak mengecewakan sama sekali.
Gavin sepertinya harus berterima kasih pada mas Edwin yang telah memilihkan mobil itu untuk nya. Dan Gavin sangat berterima kasih sekali juga pada Papa Ardana yang sudah suka rela membelikan mobil yang begitu mahal untuk dirinya.
" Maksud Lo berdua mobil yang ini!" Gavin mengeluarkan sebuah kunci mobil berlambang BMW dari sakunya dan memperlihatkannya di hadapan ketiga sahabatnya itu.
Seketika mereka bertiga langsung kaget dengan apa yang mereka lihat. Alex dan Azka sampai di buat ternganga saking terkejutnya. Sedangkan Dhafi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat begitu sultannya sahabatnya itu. Mereka semua sama-sama tidak menyangka mobil mewah yang terparkir di parkiran sekolah mereka adalah punya Gavin sendiri.
" Anjir Lo Vin! Ternyata elo yang punya mobil. Nggak nyangka gue. Lo kasih apa om Ardana sampai dia mau beliin Lo mobil semahal itu." Ucap Alex masih tidak percaya.
" Wah...temen gue sultan ternyata. Boleh dong gue Test Drive tu mobil mahal." Ucap Azka tidak tau malu sambil menaik turunkan alisnya mencoba merayu Gavin.
" Ya iya lah om Ardana mau beliin si Gavin mobil mahal. Kalau nggak tercoreng dong reputasi pemilik Wijaya Group nantinya." Ucap Dhafi santai sambil menepuk-nepuk pundak Gavin dengan bangga.
" Berisik Lo semua." Gavin memasukkan kembali kunci mobilnya ke dalam kantong celana. Gavin lalu mempercepat langkahnya meninggalkan ketiga orang tadi yang masih takjub dengan kekayaan sahabatnya itu.
" Woi... tungguin Vin!" Akhirnya mereka bertiga segera menyusul Gavin dari belakang karena sebentar lagi bel tanda di mulainya jam pelajaran akan di mulai.