Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
40. Ara Si Jagoan


" Selamat pagi Rhee!" Ucap Ara dengan riang. Gadis itu baru memasuki kelas dan langsung duduk di samping Rhea.


" Selamat pagi juga Ra! Ceria bener Lo pagi ini." Rhea dapat melihat suasana hati Ara sangat baik hari ini. Terlihat dari senyuman yang selalu diumbar saat memasuki kelas hingga saat ini.


" Ini hari Senin Rhea sayang! Jadi gue harus mengawali hari ini dengan ceria, supaya enam hari kedepan gue seceria hari ini." Ucap Ara serius. Pagi ini Ara tidak melihat kedua orang tuanya bertengkar seperti biasanya. Jadi dia berharap dapat merasakan kedamaian ini seterusnya.


" Serah Lo deh Ra! Btw, thanks banget ya Ra, Lo udah kasih tau gue kalau bokap nya kak Gavin masuk rumah sakit. Jadi gue nggak salah paham lagi sama kak Gavin." Rhea sangat bersyukur kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dengan Gavin akhirnya terselesaikan berkat bantuan Ara.


" Iya, sama-sama. Sebagai sahabat gue cuma nggak pengen Lo sedih terus. Makanya gue buru-buru buat kasih tau Lo." Ucap Ara tulus. Rhea yang begitu baik selama ini padanya, membuat Ara ingin membantu masalah sahabatnya itu.


" Iya deh, sahabatan till Jannah ya Ra!" Rhea tersenyum lalu mengalungkan lengannya pada lengan sahabatnya itu. Membuat Ara juga tersenyum senang dengan perlakuan Rhea.


" Udah-udah jangan mellow deh! Kuy cabut ke lapangan, bentar lagi mau upacara." Mereka berdua akhirnya berjalan beriringan keluar kelas untuk melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin.


****


" Huufftt...panas banget!" Ara mengibaskan tangan ke dahinya yang berkeringat karena kepanasan.


" Iya, gue haus lagi. Kita ke kantin bentar ya Ra!" Rhea dan Ara baru saja selesai mengikuti upacara bendera. Cuaca yang mulai panas membuat mereka berdua berkeringat dan kehausan.


" Boleh deh Rhee! Pengen minum yang dingin-dingin." Ara dan Rhea segera mempercepat langkah mereka menuju kantin. Ada sekitar 15 menit lagi waktu istirahat yang mereka punya sebelum di mulainya jam pelajaran.


Saat tiba di kantin, Rhea dan Ara langsung memesan teh es manis yang segar pada penjaga kantin.


" Lo mau makan Ra?" Rhea dapat melihat kalau Ara sedang memilih makan yang akan dia pesan.


" Iya Rhee, Gue kelaparan! Tadi cuma minum susu doang. Lo mau makan juga?" Ara memang hanya meminum susu saat berangkat sekolah tadi karena dia bangun kesiangan.


" Nggak deh. Gue udah sarapan tadi." Rhea menolak ajakan Ara untuk menemaninya makan. Saat Ara sedang sibuk memilih makanan, Rhea menoleh ke pintu masuk kantin dan melihat Shasa dan Bibi berjalan ke arah mereka. Rhea langsung tersenyum senang dan melambaikan tangan kepada keduanya.


" Eh...ada Bibi sama Shasa!" Ucap Ara sedikit kaget karena baru sadar saat keduanya sudah sampai di hadapan Ara dan Rhea.


" Hai..pergi ke kantin juga Lo berdua." Shasa membuka obrolan dengan kedua temannya itu, sambil mengandeng lengan Bibi.


" Ya iya lah! Lo berdua nggak ngerasain panasnya matahari tadi pas upacara. Bikin tenggorokan kering tau nggak! Lo berdua buruan pesen, Kita berdua nunggu di situ ya!" Rhea menunjuk sebuah meja di sudut kantin lalu segera pergi bersama Ara membawa makanan dan minuman yang sudah mereka pesan. Hingga ditengah perjalanan sebuah kaki seseorang menjegal langkah Rhea untuk berjalan.


Bukk...


" Awww...!" Rhea terjatuh ke lantai bersama minuman yang berada di tangannya. Lututnya membentur lantai dengan sangat keras, membuat rhea meringis kesakitan.


" Lo nggak apa-apa Rhee!" Ara seketika terkejut dan langsung berjongkok di lantai untuk melihat kondisi sahabatnya itu.


" Hahaha...makanya kalau jalan itu pakai mata bukannya pakai dengkul!" Devina dan kedua temannya tertawa bahagia karena berhasil membuat Rhea terjatuh di lantai dengan keras.


Mendengar ucapan Devina dan teman-temannya yang sedang mengejek rhea, membuat Ara kesal dan menghampiri ketiganya.


" Eh...Lo sengaja kan bikin temen gue jatuh? Ayo minta maaf sana!" Ara menunjuk Rhea yang sudah di tuntun berdiri oleh Shasa dan Bibi.


" Apa Lo bilang? Minta maaf? Sorry ya gue nggak mau! Temen Lo aja yang buta. Kenapa gue yang harus minta maaf?" Ucap Devina cuek sambil memandang Ara dengan sinis.


" Buruan minta maaf nggak!! Atau Lo bakalan nyesel karena nggak nurutin apa yang gue bilang!" Ara mengancam Devina sambil menunjuk-nunjuk wajah gadis itu.


" Lo pikir gue takut sama Lo!" Devina segera berdiri dan melayangkan tamparan pada pipi Ara. Ara yang sadar akan perbuat Devina, segera menangkap tangan itu dengan cepat. Ara kemudian memutar pergelangan tangan Devina ke belakang tubuhnya hingga dia meringis kesakitan.


" Awww...lepasin gue brengsek!!" Teriak Devina murka. Tangannya terasa sakit karena perbuatan Ara.


" Gue bakalan lepasin kalau Lo minta maaf sama temen gue!" Ucap Ara tegas tanpa ingin di bantah.


" Oke..oke! Tapi lepasin dulu tangan gue!" Devina akhirnya menyerah dan menuruti keinginan Ara untuk meminta maaf pada Rhea.


Ara menyentakkan pergelangan tangan Devina dari genggaman tangannya dengan keras. Kemudian tersenyum puas karena berhasil menyuruh Devina meminta maaf.


" Apa Lo liat-liat gue! Buruan minta maaf!" Ara menatap tajam Devina yang tidak kunjung mendekati Rhea.


" Sorry!" Ucap Devina singkat sambil menatap Rhea dengan malas. Rhea saat ini masih berdiri di dampingi oleh Shasa dan Bibi. Devina sepertinya tidak ikhlas meminta maaf pada Rhea.


" Yang ikhlas kalau mau minta maaf! Atau mau gue banting ke lantai Lo sekarang!" Ancam Ara pada Devina. Dia tidak takut sama sekali dengan kakak kelasnya itu.


Sambil menahan kesal, Devina sedikit menarik sudut bibirnya untuk tersenyum kepada Rhea.


" Maafin gue ya! Gue nggak sengaja tadi!" Ucap Devina pada Rhea lagi. Setelah meminta maaf pada Rhea dia menatap ara dengan garang. "Puas Lo?"


Ara tersenyum mengejek pada Devina, lalu mengibaskan tangannya menyuruh Devina segera pergi dari tempat itu. Devina yang mendapat perlakuan seperti itu dari Ara hanya bisa menghentakkan kakinya kesal lalu segera pergi mengikuti kemauan Ara. Kedua teman Devina yang ikut tertawa tadi, juga ikut meninggalkan kantin karena takut berurusan dengan Ara.


" Jagoan Lo Ra!" Bibi mengangkat jempol nya saat Ara menghampiri mereka bertiga.


" Iya, sumpah Lo itu keren bingits tau nggak sih!" Shasa juga ikut memuji Ara yang berani melawan kakak kelas tadi.


" Makasih ya Ra, Lo udah mau belain gue tadi!" Ucap Rhea dengan tulus. Rhea tidak menyangka Ara akan berani melawan Devina.


" Nggak usah bilang makasih! Itu gunanya temen. Lutut Lo gimana Rhee?" Ara sedikit membungkuk melihat kondisi lutut Rhea yang terbentur keras ke lantai.


" Ya ampun Rhee, sampai memar gini lutut lo! Kita ke UKS yuk biar diobatin!" Ara sedikit cemas melihat keadaan lutut Rhea yang sudah berwana merah keunguan.


" Nggak usah Ra. Bentar lagi bel bunyi. Takutnya nanti kita malah telat masuk kelasnya. Gue nggak mau kita di hukum sama buk Helen." Rhea sepertinya lebih takut di beri hukuman oleh Bu Helen yang merupakan guru matematika yang killer, dari pada memikirkan nasib lututnya yang sedang sakit.


Ara tampak berpikir setelah mendengar ucapan Rhea. Ara juga sejujurnya juga takut dengan Bu Helen. Tapi menurut Ara lutut Rhea harus segera di obati supaya tidak semakin parah nantinya.


" Gimana kalau gue aja yang ke UKS minta obatnya. Lo berdua yang anterin Rhea ke kelas!" Ara menunjuk Shasa dan Bibi agar keduanya mau mengantarkan Rhea ke kelas dengan selamat.


" Boleh juga ide Lo! Kuy Bi, Lo gotong tuh si Rhea! Secara Lo kan kuat! Makan Lo banyak lagi!" Shasa masih sempat-sempatnya meledek Bibi di saat Rhea sedang merasakan sakit pada lututnya.


" Emang nya si Rhea karung beras, pake di gotong segala! And For your information ya, walaupun makan gue banyak, tapi itu semua makanan itu jadi lemak di body gue bukannya tenaga, Markonah! Are you understand!!" Ucap Bibi kesal pada Shasa.


" Sok Inggris Lo! Kuy buruan!" Shasa dan Bibi kemudian menggandeng kedua sisi lengan Rhea lalu berjalan pelan mengikuti langkah kaki gadis itu menuju kelas. Sementara Ara segera pergi ke UKS untuk meminta obat untuk lutut Rhea yang lebam.


*****


" Permisi Buk! Saya mau minta obat buat temen saya. Tadi di jatuh di kantin. Terus lututnya lebam gitu buk." Ara saat ini sudah berada di dalam UKS. Dia berbicara dengan sopan kepada petugas medis yang ada di ruangan itu.


" Tunggu sebentar ya!" Petugas itu segera berdiri dan berjalan ke depan lemari penyimpanan obat. Saat menemukan obat yang di cari, dia langsung memberikan pada Ara.


" Ini salep untuk mengobati luka lebam. Tapi seandainya teman kamu merasakan sakit yang luar biasa pada lututnya saat berjalan, saya sarankan dia di bawa ke rumah sakit untuk di periksa lebih lanjut."


" Terima kasih buat saran dan juga obatnya buk. Saya permisi dulu." Rhea menganggukkan kepalanya sekilas lalu meninggalkan ruangan itu untuk menuju ke kelas.


" Hei...cewek jelek! Ternyata Lo jagoan juga ya!" Ejek Azka pada Ara. Dia sengaja menunggu Ara di depan UKS untuk mengganggu gadis itu.


" Gue bukan jagoan. Tapi gue lagi bales orang yang udah jahatin temen gue." Ucap Ara santai sambil berbalik menatap Azka. Dia sangat terburu-buru ke luar dari ruangan UKS tadi, jadi dia tidak memperhatikan kalau Azka sedang bersandar di dinding ruangan itu.


" Lo punya ilmu bela diri?" Tanya Azka penasaran.


" Iya, sedikit." Jawab Ara singkat. Dia sedikit malas mengobrol panjang lebar dengan Azka. Ara ingin segera kembali ke kelas untuk memberikan obat yang dia dapat kepada Rhea.


" Wah...keren dong! Udah sabuk warna apa?" Tanya Azka lagi.


" Hitam!" Jawab Ara singkat lagi. Seketika Azka ternganga mendengar jawaban singkat Ara. Kalau dia sudah memegang sabuk hitam, berarti ilmu bela diri yang Ara miliki tidak main-main.


" Kalau nggak ada yang mau di tanyain lagi, gue cabut ya kak! Gue mau kasih obat ini buat Rhea." Ara menunjuk sebuah salep yang ada di tangannya pada Azka.


Azka yang sudah tersadar dari keterkejutannya, langsung menganggukkan kepala menyetujui ucapan Ara. Kemudian Ara segera melesat pergi meninggalkan Azka yang masih memandang takjub pada gadis itu.


' Kalau mau jadi pacar dia, gue harus siap-siap jadi samsak hidup ni!' ucap Azka pada diri sendiri. Azka langsung bergidik ngeri membayangkan nasibnya, jika berani macam-macam dengan Ara nantinya.


Setelah beberapa saat Azka membayangkan nasibnya saat menjadi pacar Ara kelak, dia akhirnya juga meninggalkan tempat itu lalu kembali ke kelasnya yang berada di lantai dua.