Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
39. Datang Berkunjung


Siang ini, Rhea beserta kedua orang tuanya sedang berkunjung ke rumah sakit untuk melihat kondisi Papa Ardana saat ini. Dengan membawa sekeranjang buah sebagai buah tangan, mereka bertiga berjalan menuju meja informasi untuk mengetahui dimana ruangan tempat Papa Ardana di rawat.


Saat Rhea dan kedua orangtuanya sudah menemukan ruangan rawat VIP itu, mereka terlebih dahulu mengetuk pintu agar mendapatkan izin untuk memasuki ruangan tersebut.


" Siapa tu Lex?" Tanya Gavin penasaran. Gavin saat ini sedang menyuapi Papa Ardana dengan semangkok bubur yang masih hangat. Jadi dia menyuruh Alex untuk membukakan pintu.


Alex mengangkat bahunya tidak tahu lalu segera berdiri untuk membukakan pintu. Saat pintu terbuka, masuklah Rhea dan kedua orangtuanya sambil mengucapkan salam. Seketika Gavin terkejut dengan kedatangan Rhea. Gavin tidak menyangka Rhea akan mengetahui Papanya sedang dirawat di rumah sakit.


" Gue cabut ya Vin! Ada urusan bentar. Malam gue ke sini lagi!" Ucap Alex santai. Alex tidak ingin berada di situasi yang canggung ini. Jadi dia memutuskan untuk segera pergi terlebih dahulu.


" Sipp! Thanks bro!" Gavin mengacungkan jempolnya pada Alex dan di balas anggukan kepala oleh Alex.


Saat Alex akan keluar, dia juga berpamitan pada semua orang yang berada di ruangan itu.


" Gimana keadaan kamu, Ar? Apa jauh lebih baik?" Ayah Adinata mulai membuka obrolan saat dia mulai mendekati ranjang tempat tidur Papa Ardana. Dia tidak lupa menjabat tangan sahabat lamanya itu.


" Iya Di, seperti yang kamu lihat sekarang. Anakku menjagaku dengan baik!" Papa Ardana tersenyum bangga pada putra semata wayangnya itu.


" Syukurlah kalau begitu. Tapi aku sedikit kecewa dengan anakmu,Ar! Dia sama sekali tidak memberi tahu kabar kondisimu yang kurang sehat padaku." Ucap Ayah Adinata sambil menatap Gavin yang sedang tertunduk malu.


" Jangan kecewa dengan anakku, Di! Dia cuma takut membuat orang lain khawatir. Ayo, silahkan duduk dulu." Papa Ardana mempersilahkan teman lamanya itu untuk duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu.


Rhea yang sedari tadi di samping Bunda hanya bisa diam tidak bersuara. Dia juga sama kecewa nya dengan Ayah Adinata. Jadi dia tidak mau menatap Gavin sama sekali.


" Anak gadis kamu sudah besar ya, Di! Dia seumuran dengan Gavin kan kalau tidak salah?" Ucap Papa Ardana memastikan. Dia sudah lama tidak bertemu dengan putri sahabatnya itu.


" Iya, cuma beda satu tahun. Mereka bahkan satu sekolah. Mereka juga pa..." Ucapan Ayah Adinata terpotong karena Rhea mencubit lengan sang ayah. Saat Ayah melihat ke arah Rhea, gadis itu menggelengkan kepalanya agar sang ayah tidak mengatakan hubungannya dengan Gavin.


" Ada apa Di? Kenapa kamu berhenti bicara?" Tanya Papa Ardana bingung.


" Tidak apa-apa Ar! Tadi ada semut kecil yang menggigit tangan ku." Ucap Ayah Adinata lalu tersenyum mengejek ke arah Rhea.


" Kalau semut kecil nya cantik, aku juga mau di gigit,Di! Hahaha..." Papa Ardana tertawa lepas karena ikut serta menggoda anak gadis dari temannya itu. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu ikut tertawa kecuali Rhea.


Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal karena menjadi bahan tertawaan.


Saat mereka semua berhenti tertawa, Gavin menatap Ayah Adinata dengan serius.


" Om, saya mau izin bicara sebentar dengan Rhea. Apa bisa om?" Tanya Gavin dengan sopan. Dia ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Rhea saat ini juga.


Ayah yang mendengar ucapan Gavin, segera melirik Rhea yang berada di sampingnya. Gadis itu kembali menggelengkan kepalanya tidak ingin mengikuti Gavin kemana pun.


" Cepat selesaikan masalah kalian! Tidak baik membiarkan masalah berlarut-larut." Ucap Ayah Adinata menasehati keduanya. Rhea akhirnya hanya bisa menghela nafas berat mendengar ucapan Ayah barusan. Sedangkan Gavin bisa tersenyum senang karena mendapatkan kesempatan untuk menghilangkan kemarahan yang terpancar dari sorot mata Rhea yang tajam.


" Oke!" Ucap Rhea singkat. Dia segera berdiri dan meninggalkan ruangan itu, disusul dengan Gavin di belakangnya.


Papa Ardana yang mulai paham dengan situasi saat ini, hanya membiarkan keduanya pergi tanpa berkomentar sama sekali. Dia berencana akan mengintrogasi sahabatnya nanti saat kedua anak-anak tadi keluar dari ruangannya.


" Kak Gavin mau ngomong apa?" Ucap Rhea ketus sambil menyilangkan tangan di depan dada. Saat ini mereka berdua masih berada di depan ruangan rawat Papa Ardana.


" Kita ngomong di situ aja ya Rhee! Aku mau jelasin semuanya sama kamu." Gavin menunjuk sebuah taman yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Kemudian Gavin menatap gadisnya yang terlihat masih marah itu.


" Hmm..." Rhea hanya bergumam pelan. Lalu berjalan mendahului Gavin menuju taman.


" Tungguin aku dong sayang!" Ucap Gavin sok mesra. Dia segera mengikuti langkah gadisnya itu dan berjalan di sisinya.


Saat mereka sudah berada di taman. Rhea segera duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana. Dia tidak ingin menatap Gavin, jadi dia menoleh ke samping. Rhea juga menutup mulutnya, tidak berniat membuka obrolan dengan Gavin terlebih dahulu.


" Sayang, aku minta maaf! Aku salah nggak ngasih tau kamu soal kondisi papa aku yang lagi sakit. Aku cuma takut kamu nantinya ikut khawatir. Please maafin aku ya?" Ucap Gavin memelas pada Rhea. Dia menggenggam tangan gadis itu dengan erat. Rhea yang masih marah masih mengunci rapat mulutnya. Dia juga masih kesal dengan kejadian di cafe kemarin.


" Kok kamu diam aja sih Yang! Please maafin aku ya?" Gavin tidak ingin Rhea terus marah kepadanya. Saat Gavin melihat Rhea tidak merespon sama sekali ucapannya, dia segera berlutut di depan gadis itu untuk meminta maaf.


Seketika Rhea langsung terkejut dengan apa yang Gavin lakukan. Dia memang masih marah pada Gavin, tapi dia juga tidak tega melihat Gavin sampai harus berlutut seperti itu.


" Kak, ayo berdiri! Malu diliatin orang!" Rhea sedikit menarik tangan Gavin agar segera berdiri. Semua orang yang sedang lewat di taman itu, menatap keduanya dengan tatapan yang bertanya-tanya.


" Aku nggak mau berdiri kalau kamu nggak mau maafin aku!" Ancam Gavin pada gadis itu. Gavin tidak memperdulikan harga dirinya lagi kali ini. Bagi Gavin, kata maaf dari Rhea lebih penting daripada pandangan semua orang padanya.


" Iya, aku maafin kak Gavin. Cepetan bangun!" Rhea kembali menarik tangan Gavin agar segera berdiri. Gavin akhirnya tersenyum penuh kemenangan, dan langsung berdiri mengikuti Rhea. Saat Gavin sudah berada di depan gadis itu, dia segera menarik Rhea kedalam pelukannya.


" Kak lepasin!" Rhea menggeliat mencoba melepaskan pelukan Gavin yang begitu erat.


" Sebentar aja Yang! Aku masih kangen sama kamu." Gavin semakin mempererat pelukannya lalu mencium puncak kepala Rhea dengan sayang. Rhea yang menerima perlakuan lembut dari gavin, akhirnya hanya bisa pasrah menerima pelukan dari cowok itu.


" Udah kak! Aku gerah nih!" Rhea kali ini berusaha lebih keras mendorong dada Gavin tetapi cowok itu tetap tidak mau bergeming. Hingga sebuah ide muncul di pikiran Rhea.


" Awww.... sakit Yang!" Gavin melepaskan pelukannya dari Rhea sambil mengusap pinggangnya yang terasa sakit. Rhea berhasil mencubit pinggang Gavin dengan sangat keras.


" Rasain! Makanya, kalau aku nyuruh lepasin ya harus di lakuin. Enak nggak cubitan aku?" Rhea tersenyum puas lalu kembali duduk di kursi taman itu.


" Enak banget yang! Ngilu nya sampe ke tulang!" Jawab Gavin sambil memasang tampang cemberut. Gavin juga mengikuti Rhea untuk duduk di samping gadis itu.


" Kak..." Rhea menatap Gavin serius.


" Apa sayang??" Jawab Gavin manja. Dia membalas tatapan Rhea sambil melemparkan senyuman pada pacarnya itu.


" Kakak tau nggak? Aku sempet berfikir kalau kak Gavin itu selingkuh dari aku. Soalnya akhir-akhir ini kak Gavin jadi berubah. Jadi jarang ngehubungin aku lagi. Tiap di tanya, alasannya ada urusan penting terus. Aku kan jadi kesel. Pengen putus aja tau nggak!!" Rhea akhirnya menumpahkan semua isi hatinya yang tersimpan beberapa hari ini pada Gavin.


Gavin seketika menggelengkan kepala mendengar kata putus dari Rhea. Dia segera menangkup kedua pipi gadis itu agar menghadap kepadanya.


" Aku nggak mau putus Yang! Aku janji bakalan jadiin kamu orang yang pertama tau kalau aku lagi dalam masalah. Kamu harus percaya ya sama aku!" Gavin berusaha meyakinkan Rhea kembali. Rhea yang melihat keseriusan di mata Gavin, akhirnya mengangguk kepala menyetujui ucapan Gavin.


" Makasih Yang!" Gavin tersenyum senang lalu menatap mata Rhea dalam. Dia belum melepaskan kedua tangannya dari pipi Rhea.


" Boleh minta cium nggak Yang?" Gavin tersenyum genit sambil menaik turunkan alisnya menggoda Rhea.


" Aaawwww....sakit Yang! Kenapa hobi banget sih nyubit aku!" Gavin kembali meringis karena Rhea memberikan cubitan yang sangat manis pada pinggang Gavin.


" Makanya jangan genit-genit! Mamam tu cubitan aku!" Rhea tersenyum puas lalu segera berdiri dari duduknya.


" Mau kemana Yang?" Gavin mengikuti Rhea yang mulai berjalan meninggalkan taman. Tangan Gavin segera menggenggam tangan Rhea dengan erat.


" Mau ke ruangan om Ardana dong! Pake nanya lagi!" Ucap Rhea ketus. Mereka berdua sedang berjalan beriringan menuju ruangan rawat inap Papa Ardana.


" Kirain mau ke KUA bareng Aku! Hehehe..." Gavin tertawa cengengesan membuat Rhea mulai jengah.


" Please deh kak! Masih sekolah juga!" Ucap Rhea malas.


Akhirnya mereka berdua telah sampai di ruangan Papa Ardana. Saat memasuki ruangan itu, Gavin sengaja mempererat genggaman tangannya pada Rhea agar semua orang yang ada di ruangan itu tahu bahwa hubungan mereka sudah baik-baik saja saat ini.


" Pa, kenalin ini pacar Gavin. Cantik kan Pa?" Gavin memperkenalkan Rhea secara resmi di hadapan sang papa. Membuat Rhea tersipu malu dengan perbuatan Gavin.


" Cantik! Kamu pintar cari pasangan. Sama pintarnya kayak Papa dulu yang milih mama kamu buat jadi pasangan hidup Papa!" Ucap Papa Ardana berubah sendu. Dia kembali teringat dengan almarhumah istrinya yang telah dia sia-siakan selama ini. Membuat rasa penyesalan itu kembali muncul di hati Papa Ardana.


Seketika suasana di ruangan itu mendadak hening saat mendengar ucapan Papa Ardana barusan. Senyuman yang muncul di wajah Gavin tadi seketika pudar saat mendengar nama Mamanya di sebut.


" Widya sudah tenang di sana,Ar! Kamu tidak boleh menyesali semua yang telah terjadi selama ini. Jadikan semua itu menjadi sebuah pelajaran di hidup kamu. Ini saat nya kamu dan Gavin harus saling menguatkan dan kembali membuka lembaran baru untuk kehidupan kalian selanjutnya." Ucap Ayah Adinata dengan bijak.


" Terima kasih Di!" Ucap Papa Ardana dengan tulus.


Papa Ardana dan Gavin kompak saling menatap dan kemudian menganggukkan kepala membenarkan ucapan Ayah Adinata tadi. Mereka berdua akan memulai kehidupan yang baru dengan penuh sukacita dan menyimpan segala kenangan buruk yang pernah mereka lalui sebagai pelajaran kehidupan.


" Sepertinya kami harus segera pulang Ar! Kita bisa bertemu kembali saat kamu sudah sehat. Ingat ya Ar, kamu harus selalu menjaga kesehatan." Ayah Adinata dan Bunda Citra menghampiri kembali ranjang Papa Ardana lalu kembali berjabat tangan.


" Terima kasih Di! Saya akan selalu mengingat nasehat kamu. Dan saya rasa kita akan terus bertemu untuk membahas hubungan anak kita berdua ke depannya." Papa Ardana membalas jabatan tangan kedua orang tua Rhea dengan erat.


" Rhea juga pamit om." Rhea melepaskan genggaman tangannya dari Gavin lalu menghampiri Papa Ardana untuk bersalaman.


" Iya Rhee. Om titip Gavin ya sama kamu. Kalau dia berani jahat sama kamu, lapor aja sama om ya Rhee!" Papa Ardana tersenyum senang karena berhasil membuat Gavin cemberut dengan ucapannya barusan.


" Tenang Pa, aku nggak bakalan jahat sama calon menantu Papa." Ucap Gavin meyakinkan lalu kembali menggenggam tangan Rhea yang sempat terlepas tadi.


Mereka semua akhirnya tertawa bersama mendengar ucapan Gavin. Ayah Adinata dan Papa Ardana tidak menyangka sama sekali hubungan pertemanan mereka akhirnya berlanjut menjadi besanan nantinya.


Setelah obrolan mereka semua selesai, Gavin mengantarkan Rhea beserta kedua orang tuanya meninggalkan ruangan itu, agar Papa Ardana bisa kembali beristirahat.


" Om balik dulu ya Vin. Kalau terjadi sesuatu dengan papamu, segera hubungi om secepatnya!" Ucap Ayah Adinata dengan tegas sambil menepuk-nepuk pundak Gavin.


" Baik om!" Gavin segera menganggukkan kepalanya mengerti dengan ucapan Ayah Adinata.


" Ayah sama Bunda akan tunggu kamu di mobil ya Rhee! Tapi jangan lama-lama, oke!" Ayah memberikan kesempatan bagi Rhea dan Gavin untuk berbicara sebentar sebelum meninggalkan rumah sakit.


" Iya Yah!" Ucap Rhea sedikit malu.


" Terima kasih om!" Ucap Gavin senang lalu tersenyum kepada kedua orang tua Rhea yang sangat pengertian.


Saat kedua orang tua Rhea meninggalkan mereka berdua, Gavin segera mengambil kesempatan untuk memeluk Rhea dengan erat.


" Kak lepasin! Malu diliatin banyak orang!" Rhea mendorong dada Gavin agar segera melepaskan pelukannya.


" Iya Yang, cuma bentar doang!" Gavin akhirnya melepaskan pelukan itu lalu mengusap rambut Rhea dengan sayang.


" Kak Gavin besok sekolah?" Tanya Rhea memastikan.


" Kayaknya aku bakalan izin beberapa hari buat jagain Papa. Kamu berangkat sama bang Rafka aja ya! Nanti pulangnya biar temen-temen aku yang anterin kamu." Gavin memang sengaja ingin merawat Papanya, agar hubungan mereka berdua kembali dekat.


" Aku pulangnya pake Ojol aja. Nggak usah suruh-suruh temen kakak buat anter aku. Ntar mereka kerepotan." Rhea dengan tegas menolak usulan Gavin. Selama ini dia sudah terbiasa pulang dengan Ojol, jadi Gavin tidak perlu terlalu mengkhawatirkan dirinya.


" Oke, kalau kamu nggak mau. Tapi kamu harus janji buat kasih kabar kalau udah nyampe di rumah!" Gavin sepertinya sedikit cemas melepas Rhea untuk naik Ojol.


" Siap Bos!" Rhea memberi hormat pada gavin lalu melemparkan senyuman yang manis buat pacarnya itu.


" Nggak usah senyum-senyum! Nanti aku kena Diabetes!" Gavin memberikan gombalan recehannya pada Rhea hingga gadis itu tertawa kecil mendengarnya.


" Ya udah, aku pulang dulu ya kak. Jangan lupa jaga kesehatan! Bye kak.." Rhea melambaikan tangan saat dirinya mulai meninggalkan Gavin.


" Bye juga sayang!" Gavin juga ikut melambaikan tangan lalu memberikan Rhea sebuah flying kiss dari kejauhan. Rhea hanya menanggapi nya dengan senyuman lalu segera berbalik menuju mobil Ayah Adinata.


Saat melihat Rhea sudah menaiki mobil kedua orang tuanya, Gavin juga segera berbalik menuju ke ruangan Papanya untuk beristirahat.