
Siang ini, seperti biasa nya Rhea sudah sampai di kediaman Adinata dengan selamat. Gavin yang merupakan seorang pacar yang sekaligus merangkap sebagai ojek pribadi, langsung mengantarkan pujaan hatinya itu pulang ke rumah dengan aman.
Saat ini Rhea sedang beristirahat di kamarnya yang super nyaman. Gadis itu sedang menikmati cemilan sambil memainkan ponselnya di atas tempat tidur. Saat Rhea masih sibuk dengan dunianya yang tenang dan damai, tiba-tiba datang seorang gadis yang mendobrak masuk ke kamar Rhea tanpa permisi.
" Yuhu...Rhea ku sayang!! Shasa yang cantik datang!!" Kedatangan Shasa yang tiba-tiba membuat Rhea menghembuskan nafas kesal. Padahal dirinya ingin beristirahat dengan tenang, tapi sahabatnya yang absurd itu datang dan mengacaukan semua.
" Kebiasaan deh sha!! Masuk langsung nyelonong aja. Pake permisi kek! Salam gitu!! Kalau bukan sahabat, gue geprek lo!!" Rhea menatap Shasa jengah. Sahabatnya itu tidak pernah berubah dari dulu.
" Hehehe...Sorry Rhee!!" Shasa hanya bisa menampilkan cengiran khasnya membuat rhea memutar matanya malas.
" Mau apa lo kemari? Kalau nggak ada yang penting, pulang aja sana! Gue capek, pengen istirahat!" Rhea berbicara tanpa basa basi agar Shasa mengerti dengan keadaannya saat ini yang menginginkan ketenangan.
" Lo jahat banget sih Rhee!! Pake usir gue segala!! Gue kan kangen sama lo!! Habisnya kalau di sekolah, lo tu di monopoli terus sama kak gavin. Dari mulai berangkat sekolah, jam istirahat sama pulang sekolah juga. Terus kapan waktu lo buat gue Rhee??"
Shasa berbicara panjang lebar sambil memasang tampang sedih, membuat Rhea melupakan kekesalannya tadi pada sahabatnya itu.
" Sorry ya Sha, gue nggak bermaksud buat ngusir lo! Sorry juga kalau gue nggak ada waktu buat Lo!" Rhea memeluk Shasa dari samping. Rhea merasa bersalah pada sahabatnya itu karena semenjak menjadi pacarnya Gavin, dirinya hampir saja melupakan sahabat sedari kecilnya itu.
" Iya, gue maafin. Tapi gue minta PJ nya sama Lo sekarang!" Shasa kembali tersenyum senang sambil mengulurkan tangan meminta sesuatu pada Rhea.
" Lo sama aja ternyata sama Ara. Sama-sama suka yang gratisan!" Rhea mencebikan bibirnya kesal karena dipalak oleh kedua sahabatnya itu.
" Siapa sih Rhee yang nggak mau gratisan?? Btw, tadi kak Gavin keren bet tadi, waktu memproklamirkan hubungan kalian ke semua orang. Sampai pada kicep berjamaah Lo fans-fansnya Gavin tadi."
Shasa dapat membayangkan bagaimana ekspresi semua fans-fans nya Gavin, setelah hubungan nya dengan Rhea di umumkan. Mereka langsung patah hati berjamaah pastinya.
" Emang nya Lo ada di kantin tadi? Kok gue nggak liat Lo di sana?"
Rhea mengernyitkan dahinya bingung, karena tidak melihat penampakan Shasa di dalam kantin tadi. Padahal dirinya dan Ara sudah mengedarkan pandangan. Tapi yang mereka temukan cuma keberadaan Gavin dan kawan-kawan.
" Gue sama Bibi dateng, waktu kak Gavin lagi umumin hubungan kalian di depan semua orang. Doi gentle bet Rhee!! Terus berani ngancem semua orang lagi, kalau berani gangguin lo. Sweet juga cowok Lo!"
Shasa tersenyum senang, akhirnya Rhea sekarang sudah memiliki pacar yang bisa melindunginya dari gangguan orang lain.
" Udah ahh ngomongin dia terus!" Rhea sudah mulai bosan membahas tentang Gavin. Sepertinya ada hal yang lain yang ingin di sampaikan Rhea pada Shasa.
" Sha..!!" Rhea memanggil nama Shasa pelan, saat gadis itu sedang duduk di samping Rhea sambil memakan cemilan yang berada di tepi tempat tidur.
" Hmm...Lo mau ngomong apa? Ngomong aja, gue siap dengerin semua curhatan Lo!!" Ara menghentikan aktivitasnya yang sedang mengunyah cemilan, lalu sedikit memutar tubuhnya kearah Rhea untuk mendengarkan curhatan sahabatnya itu.
" Gue ditawarin sama pak Hendrik guru olahraga buat gabung sama tim Basket Putri di Sekolah. Menurut lo, gue harus terima atau nggak?" Rhea menatap Shasa dengan serius, menanti jawaban dari sahabatnya itu.
Shasa nampak sedikit terkejut dengan pertanyaan dari Rhea. Dia tidak menyangka kalau kemampuan permainan basket yang baru dimiliki Rhea, membuat sahabatnya itu terpilih menjadi salah satu anggota tim basket di sekolah.
" Semua ada di tangan lo, Rhee! lo tahu apa yang terbaik buat diri lo sendiri! Tapi saran gue, mendingan lo diskusikan dulu ini semua sama om dan tante. Lo tau sendiri kan gimana fisik Lo. Gue harap itu juga jadi bahan pertimbangan buat lo nentuin gimana ke depannya."
Ucap Shasa dengan yakin sambil menggenggam kedua tangan Rhea.
" Thanks ya Sha buat sarannya, tapi mau nggak lo nanti nemenin gue bicara sama kedua orang tua gue tentang tawaran ini? gue takut lihat reaksi mereka yang bakal langsung nolak tanpa pertimbangin apa yang gue mau. Lo malam ini tidur di sini ya,Sha!!"
Rhea memasang tampang memelas pada sahabatnya itu, membuat Shasa hanya bisa menganggukkan kepala setuju.
" Oke gue bakal temenin lo bicara sama kedua orang tua lo, tapi gue nggak akan ikut campur sama sekali ya Rhee. Gue cuma akan jadi pendengar yang baik kali ini. Kalau seandainya orang tua lo masih tetap menolak, lo harus nerima semua keputusan yang mereka buat. Gue yakin mereka tau yang terbaik buat lo." Ucap Shasa panjang lebar.
" Oke Sha, gue bakal lakuin semua yang lo saranin. Ternyata nggak percuma Gue punya sahabat modelan kayak lo. Karena lo udah baik banget sama gue, gue bakal traktir lo sebagai ucapan terima kasih atas bantuan lo kali ini. Lo mau apa Sha?" Rhea Menaik turunkan alisnya menunggu Shasa menjawab apa yang di inginkan gadis itu.
" Hmm...gue pikir-pikir dulu deh! Tapi ini beda lo ya sama PJ! hahaha.." Shasa tertawa senang karena berhasil membuat Rhea memberengnggut sebal.
" Sialan lo!! Mau bikin gue bangkrut ya?? Pokoknya cuma satu kali ini aja nggak ada dua kali! Take it or leave it!!" Rhea memberikan ancaman pada Shasa, membuat gadis itu menghela nafas lelah.
" Oke, gue terima! Dasar pelit lo! Btw Rhee, gue nggak bawa baju ganti nih!! Gimana dong??" Shasa tampak memikirkan baju yang tidak dia siapkan untuk menginap di rumah Rhea malam ini.
" Lo tu bego atau bloon sih?? Baju kita satu ukuran!! Lo nanti malam bisa pakai baju gue! Kalau urusan baju sekolah sama peralatan yang lain kan bisa di siapin sama bik Sum. Terus di kasih deh ke sopir bokap lo buat di anterin kemari. Gimana sih??"
Area menatap jengah sahabatnya itu yang kadang-kadang suka lemot mendadak. Padahal Shasa sudah biasa menginap di rumah Rhea. Jadi kenapa gadis itu harus bingung lagi seperti tadi.
" Kampret lo, gue nggak oon tapi gue lupa Maimunah!!" Sasha mengumpat kesal kepada Rhea sambil berkacak pinggang pada sahabatnya itu.
" Hahaha....canda say!! Sensi amat! lagi PMS ya?" Kali ini Rhea kembali menggoda shasa, membuat gadis itu menjadi semakin marah.
Shasa yang masih geram, kini menggelitik seluruh tubuh Rhea hingga gadis itu berteriak minta ampun karena kegelian.
Saat mereka berdua masih asyik bercanda, terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Rhea dari luar.
Tok...tok...tok..
" Boleh bunda masuk, Rhee?" Ucap bunda dibalik pintu.
" Masuk bund!!" Rhea mempersilahkan bunda Citra yang baru pulang bekerja masuk ke dalam kamarnya.
" Emangnya aku udah gila apa, pake ketawa sendiri!! Bund, Sasha nginep di sini ya? Besok kita mau berangkat bareng ke sekolah! Boleh ya Bund?" Rhea mengkedipkan mata nya genit, untuk merayu bunda agar memperbolehkan Shasa menginap malam ini.
" Iya, boleh! Nanti bunda suruh bik Inah bikinin makanan kesukaan Sasha juga." Bunda sudah menganggap Shasa seperti anak nya sendiri karena gadis itu sudah bersahabat lama dengan Rhea.
" Makasih Tante cantik!!" Sasha memasang senyum yang manis sambil juga ikut mengedipkan matanya genit pada Bunda Citra.
"Iya, sama-sama. Tante mau ganti baju dulu ya!" Bunda Citra keluar dari kamar Rhea dan tidak lupa menutup pintu kamar itu. Setelah itu segera bergegas ke kamarnya untuk bersih-bersih dan ganti baju.
" Bang Rafka belum pulang ya Rhee?? Kok dari tadi belum kelihatan? Emang jam berapa dia balik dari kampus?" Tanya Shasa beruntun, membuat Rhea bingung mau jawab yang mana dulu pertanyaan Shasa tadi.
" Gue nggak tahu! Kalau lo pengen tahu, telepon aja sendiri!" Jawab Rhea ketus sambil kembali memainkan ponselnya tadi.
" Enggak ah!! Tengsin dong gue, nelpon-nelponin bang Rafka duluan!" Shasa takut Rafka menganggapnya cewek kecentilan yang sedang mengejar-ngejar Rafka duluan.
" Kalau gitu ya udah! Jangan nanya-nanya bang Rafka sama gue! Gue aja tadi mau istirahat, tapi karena lo dateng jadi batal deh rencana gue!" Ucap Rhea pura-pura sok terganggu dengan kedatangan Shasa.
" Oo...jadi gitu! Lo merasa terganggu dengan kedatangan gue kesini? Ya udah deh, gue balik aja!" Shasa segera berdiri dan akan mengambil Sling bag nya tapi kemudian di tahan oleh Rhea.
" Eitss... Santuy Sha! Gue cuma bercanda! Sok serius Lo!" Rhea masih menahan pergerakan Shasa yang akan meninggalkan kamarnya.
" Makanya Lo jangan gitu. Kan tadi gue udah bilang kalau gue kangen sama lo! Lo nggak sayang lagi ya sama gue? Lebih sayang pacar Lo ketimbang gue gitu?? Tega bet Lo ya Rhee!!" Shasa berpura-pura memasang tampang sesedih mungkin, membuat Rhea mencibir akting Shasa yang tidak natural itu.
" Jangan lebay deh Sha!! Akting sedih Lo jelek banget. Mual gue liatnya." Rhea hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sahabatnya itu.
" Yah..ketahuan deh gue cuma akting!! Hahaha..." Mereka berdua kembali tertawa dan bercanda, menunggu sampai makan malam tiba.
*****
Makan malam pun tiba, semua anggota keluarga Adinata berkumpul di meja makan. Ditambah lagi dengan satu anggota baru yaitu Sasha, membuat suasana di ruangan itu bertambah ramai.
Shasa yang sudah akrab dengan semua anggota keluarga Rhea, tidak canggung lagi untuk berinteraksi satu sama lain.
" Gimana kabar kedua orang tua kamu, Sha?" tanya ayah Adinata saat makan malam sedang berlangsung.
" Alhamdulillah, keduanya baik om!!" Jawab Shasa singkat.
" Syukurlah kalau begitu." Ucap ayah Adinata lagi.
" Kamu kok jarang main ke sini Sha?" Kali ini giliran bunda Citra yang bertanya.
" Gimana nggak jarang tante, Rhea nggak mau main sama aku lagi. Dia udah punya teman main yang baru, ganteng lagi!" Jawab Shasa cepat sambil melirik Rhea yang sudah melotot kesal ke arahnya.
" Ooh Gavin maksud kamu? Iya, sekarang Gavin yang antar jemput Rhea ke sekolah. Dia sudah minta izin sama om dan tante." Jawab bunda apa adanya.
" Tante udah tahu kalau Rhea sama Gavin udah...awww!!" Shasa menjerit kesakitan karena Rhea menginjak kaki nya dengan keras.
" Kamu kenapa sha?" Tanya bunda kebingungan melihat Shasa yang tiba-tiba menjerit.
" Kaki aku diinjak semut tante. Semutnya gede banget. Kaki aku jadi sakit deh!!" Sasha mendelik sinis pada Rhea karena menginjak kakinya.
" Ayo lanjutin ucapan kamu tadi, tante penasaran Gavin sama Rhea kenapa? "Ucap bunda Citra lagi sambil menatap Shasa lebih intens.
" Mereka berdua udah..." Rhea segera menutup mulut Sasha agar tidak berbicara lagi.
" Kenapa mulut Shasa ditutup gitu sih Rhee? Kasihan dia nggak bisa nafas! Ayo Lepasin cepat!" Bunda menatap Rhea dengan garang, membuat Rhea segera melepaskan tangannya dari mulut Shasa.
Saat Rhea sudah melepaskan Shasa, Rhea tidak lupa memberikan tatapan peringatan pada Shasa, agar gadis itu tidak bicara apapun pada bunda Citra.
" Aku tadi cuma asal bicara aja Tante. Hehehe..." Shasa akhirnya cuma bisa berbohong agar Rhea tidak marah lagi padanya.
" Oh tante kirain Rhea sama gavin udah jadian. Soalnya dia anaknya baik dan sepertinya bertanggung jawab. Orang tuanya pun, Tante dan om kenal. Dari dulu juga Tante sama om udah suka sama Gavin.
" Emang udah jadian kok tante!" Celetuk Shasa tiba-tiba. Sepertinya mulut shasa harus di plester biar tidak bocor kemana-mana.
Rhea yang mendengar ucapan Shasa hanya bisa menghela nafas. " Dasar biang kerok!! Awas Lo ya Sha, gue bikin gepeng lo ntar!! Ucap Rhea dalam hati.
" Kenapa kamu nggak bilang sama bunda Rhee, kalau udah jadian sama Gavin! Kamu main rahasia rahasiaan ya sama bunda sekarang?" Tanya bunda Citra sambil menatap Rhea menunggu jawaban gadis itu.
" Enggak kok bund! Aku baru jadian kemaren, jadi belum sempat bilang sama bunda!" Jawab Rhea sejujurnya pada sang bunda.
" Oke kalau gitu! Bunda terima alasan kamu. Tapi kamu harus tetap ingat pesan bunda ya, Rhee! Kamu harus bisa jaga diri kamu sendiri. Kamu mengerti kan Rhee maksud bunda?" Tanya bunda memastikan pada Rhea.
" Iya bunda!" Rhea hanya menganggukkan kepalanya mengerti ucapan sang bunda dan
kembali melanjutkan makan malamnya dengan tidak berselera.