Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
35. Mencari Rhea


" Lagi nelfon siapa Lo, Vin?" Tanya Azka kepo. Saat ini Azka tengah menemani Gavin di rumah sakit, bergantian dengan Dhafi yang juga sudah menemani Gavin kemarin.


" Gue lagi nelfon Rhea, tapi dari tadi nggak di angkat." Gavin masih berusaha menghubungi pacarnya itu walaupun sudah beberapa kali tidak ada jawaban.


" Pergi malam mingguan kali!" Celetuk Azka asal, membuat Gavin menghunuskan tatapan yang sangat tajam pada sahabatnya itu. Azka yang sadar telah membangunkan macan tidur, langsung mencairkan suasana dengan tertawa cengengesan.


" Hehehe... canda Vin! Serius amat Lo!" Azka sedikit takut, Gavin akan melayangkan tinjunya pada wajah Azka yang tampan paripurna karena kesal.


" Gue nggak butuh candaan Lo!" Ucap Gavin sinin. Saat ini dia sudah menyerah untuk menghubungi Rhea. Gavin memutuskan akan menghubungi Rhea satu jam lagi.


" Menurut gue, Rhea pasti lagi main sama temen-temennya. Secara pacarnya nggak ada, iya kan?" Ucap Azka santai sambil memainkan ponselnya.


" Bacot Lo! Mendingan Lo diem! Pusing gue dengerin omongan Lo!" Gavin menyandarkan tubuhnya yang lelah di kursi. Dia kurang istirahat selama 2 hari ini. Ditambah lagi dia tidak dapat melihat secara langsung wajah cantik sang kekasih. Membuat Gavin hampir frustasi karena rindu dengan Rhea.


" Weh....kenapa nih!! Heboh banget di grup!" Azka menerima begitu banyak notifikasi chat dari group angkatan kelas 11 di ponselnya. Karena penasaran, Azka membuka semua chatting itu dan menemukan sesuatu yang membuatnya membulatkan mata karena saking terkejutnya.


" Anjir...Couple of the year!" Azka membaca dengan keras tulisan yang ada di sana, sehingga membuat Gavin menoleh karena penasaran.


" Kenapa Lo?" Gavin menatap Azka menunggu jawaban. Seketika Azka langsung gugup dengan pertanyaan Gavin. Dia takut memperlihatkan apa isi chating grup yang dia terima di ponselnya tadi. Pasti Gavin akan langsung murka bila sempat melihat itu.


" Siapa Couple of the year yang Lo liat?" Gavin mulai mendekati kursi dimana Azka duduk. Azka yang takut sahabatnya itu akan marah, langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku.


" Bukan siapa-siapa Vin! Cuma anak kelas 11 IPA sama anak kelas 10." Jawab Azka sedikit gugup.


" Kenapa Lo kelihatan gugup gitu sama gue? Dan kenapa juga Lo pake nyimpen hp Lo segala? Apa yang coba Lo tutupin dari gue ha..?" Gavin kembali menatap tajam Azka, membuat sahabatnya itu bergidik ngeri.


Azka yang tidak tahan dengan tatapan curiga milik Gavin, langsung mengambil ponselnya yang berada dalam saku lalu memberikannya pada Gavin.


" Gue harap Lo jangan emosi dulu kalau liat ini!" Azka membuka isi chatingan yang dia dapat di group tadi. Seketika wajah Gavin langsung berubah merah menahan amarah. Rahangnya mengeras dan jari-jari tangannya meremas ponsel Azka dekat kuat.


Gavin melihat beberapa foto Rhea dengan Arga yang terlihat seperti sedang bernyanyi di sebuah cafe. Mereka berdua nampak sangat bahagia dan saling melemparkan senyuman. Di sana juga ada video yang memperlihatkan dengan jelas semua kejadian itu. Jadi bisa dipastikan bahwa foto itu adalah asli dan bukanlah hasil editan.


Setelah puas melihat semua foto-foto kebersamaan Rhea dan Arga, Gavin dengan sengaja melempar hp itu ke tangan Azka dengan kasar. Beruntung Azka dengan sigap menangkap nya.


" Sialan Lo!! iPhone 13 Pro Max terbaru ni!" Umpat Azka dengan kesal. Hampir saja hp nya yang berharga puluhan juta itu jatuh mengenaskan di lantai.


" Pantesan dia nggak angkat telfon gue! Brengsek!" Gavin memukul dinding dengan keras sehingga kepalan tangannya menjadi merah dan sedikit terluka.


" Lo harus tenang Vin! Lo nggak bisa ambil kesimpulan tanpa denger penjelasan dari Rhea dulu! Lo harus nyari dia sekarang buat pastiin semuanya!" Azka berusaha memberi saran agar sahabatnya itu tidak mudah terpancing emosi dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.


" Gue nggak bisa! Gue harus jaga bokap sekarang!" Gavin mulai mendudukkan dirinya di kursi lalu mengusap wajah nya dengan kasar. Memikirkan Rhea yang sedang dekat dengan Arga saat ini, membuat Gavin sangat frustasi.


" Ada gue di sini. Gue bakal jagain om Ardana buat Lo dan gue bakal kasih kabar secepatnya kalau sampai ada apa-apa sama bokap Lo." Ucap Azka serius. Azka juga ikut mendudukkan diri disamping Gavin. Lalu menepuk pundak sahabatnya itu meyakinkan.


Gavin terdiam beberapa saat. Menimbang apakah dia harus mencari Rhea untuk memastikan kejadian yang sebenarnya atau tetap di rumah sakit untuk menjaga papanya.


Saat sudah memutuskan pilihannya, Gavin segera berdiri dan menatap Azka dengan serius. "Gue bakal cari Rhea buat pastiin semua. Gue minta tolong sama Lo buat jagain bokap gue!"


" Tenang bro, gue bakalan jagain bokap Lo dengan baik! Tapi inget pesan gue, Lo harus dengerin dulu semua penjelasan Rhea." Ucap Azka menasehati.


" Thanks, playboy kayak Lo ternyata ada gunanya juga! Gue cabut!" Gavin melempar senyuman mengejek pada Azka lalu segera bergegas meninggalkan sahabatnya itu seorang diri.


" Brengsek Lo emang!!" Umpat Azka kesal lalu menatap punggung Gavin yang semakin menjauh dari pandangannya.


*****


Saat Rhea sudah sampai di mejanya, Shasa, Ara dan Bibi langsung mengacungkan kedua jempol mereka pada Rhea dengan bangga. Ternyata Sahabat mereka itu terlihat sangat keren ketika bernyanyi.


" Nggak usah lebay deh." Ucap Rhea singkat lalu meminum jus yang sudah tersedia di meja karena gadis itu merasa sangat haus.


" Pelan-pelan Rhee! Haus bet keliatannya!" Ucap Rhea mengingatkan.


" Asli Rhee, Lo cocok banget duet bareng sama kak Arga tadi! Kayak Anang sama Krisdayanti!" Bibi menyamakan penampilan Rhea dan Arga tadi dengan pasangan artis Indonesia.


" Mereka itu udah cerai bego! Yang bener itu Anang sama Ashanty!" Shasa meluruskan ucapan Bibi yang salah tadi sambil menoyor kepala sahabatnya itu.


" Nggak perlu sampe noyor juga kali Markonah!! Kebiasaan deh!" Ucap Bibi tidak terima lalu mengerucutkan bibirnya kesal. Sedangkan Rhea dan Ara cuma cekikikan melihat mereka berdua berdebat.


" Hai..aku boleh gabung di sini nggak?" Tanya Arga dengan lembut. Arga menghampiri meja Rhea dan para sahabatnya lalu membuat semua orang yang ada di meja itu kompak terkejut dengan kedatangan Arga.


" Boleh kak!" Ucap Bibi singkat. Dia segera berdiri dan mengambilkan kursi agar Arga bisa bergabung dengan mereka semua.


" Silahkan kak!" Bibi membawa satu buah kursi lalu meletakkannya di samping kursi Rhea, sehingga membuat gadis itu melotot tajam ke arah Bibi. Bibi sepertinya sengaja memberikan Arga tempat duduk disebelah Rhea untuk sedikit menggoda gadis itu.


" Kak Arga mau minum atau makan apa gitu, biar Bibi pesen dulu ke belakang?" Tawar Bibi dengan sopan.


" Minum aja deh bi. Samain kayak punya Rhea aja ya Bi! Keliatannya seger." Jawab Arga asal. Dia sedang malas untuk memikirkan minuman yang akan dia pesan karena saat ini di pikirannya hanya ada Rhea.


" Minuman nya yang seger atau Rhea nya yang seger kak?" Celetuk Ara tiba-tiba sambil tersenyum jenaka kearah Arga. Gadis itu sepertinya senang sekali menjahili orang. Dari mulai mengusulkan Rhea naik ke atas panggung untuk berduet dengan Arga. Hingga saat ini Ara sedang menggoda Arga dengan ucapan yang tidak sengaja Arga ucapkan tadi.


" Biasa ae Lo, Ra! Ya udah, tunggu bentar ya kak! Bibi ambil minumannya dulu." Bibi segera mengalihkan topik pembicaraan karena dia tau kalau kak Arga sedang tersipu malu dengan pertanyaan Ara tadi. Sedangkan Rhea hanya bisa mendengus sebal melihat kejahilan Ara. Sepertinya Ara mesti di cubit lebih keras dari yang tadi.


" Kak Arga sejak kapan main band?" Rhea mulai membuka topik pembicaraan agar suasana tidak semakin canggung.


" Sejak SMP! Kalau kamu sejak kapan bisa nyanyi Rhee?" Tanya Arga iseng. Sepertinya malam ini adalah kesempatan yang bagus untuk Arga agar lebih mendekatkan diri dengan Rhea.


" Kayak nya dari lahir deh kak!" Celetuk Shasa asal. Sehingga membuat semua orang yang ada di meja itu kompak tertawa mendengar jawaban Shasa.


" Seneng bener keliatan nya! Lagi ngetawain apa sih?" Tanya Bibi kepo. "Nih minumannya kak!" Bibi menyodorkan minuman pada Arga dengan sopan.


" Makasih Bi!" Arga segera menyedot minuman yang di berikan Bibi karena dia juga kehausan dan belum sempat minum sejak turun dari panggung tadi.


" Kita lagi ngetawain Shasa. Tu anak ngaco banget. Masa dia bilang si Rhea udah bisa nyanyi dari lahir. Gimana ceritanya coba?" Jawab Ara sambil tergeletak kecil menatap Shasa.


" Owhh..gitu. Kalau gue sih nggak heran dia jawab gitu. Soalnya otak si Shasa cuma separo. Hahaha..." Bibi tertawa senang karena berhasil mengejek Shasa.


" Sialan Lo Bi! Otak Lo tu yang separo!" Ucap Shasa tidak terima.


" Lo yang..." Ucapan Bibi terhenti karena Rhea menyela.


" Udah-udah, jangan pada ribut! Tambah laper gue liat tingkah Lo berdua." Rhea merasakan perutnya semakin lapar karena menunggu kedua orang tadi berdebat.


" Sorry Rhee, Kuy kita makan!" Bibi memilih mengakhiri perdebatannya dengan Shasa karena perutnya juga merasa lapar.


Mereka berempat akhirnya makan dengan tenang. Arga yang tidak memilih makan, hanya duduk diam menunggu sampai mereka semua menyelesaikan makan malam masing-masing.


" Ahh... kenyang nya!" Ara mengusap perutnya yang sudah penuh dengan makanan.


" Lo kesurupan jin Tomang ya Ra! Kalap banget Lo makan tadi. Kayak nggak pernah makan seminggu gue liat." Ejek Shasa pada Ara sambil menggelengkan kepala tidak percaya.


" Gue nggak begitu banyak makan siang tadi. Jadi wajar dong kalau perut gue minta jatah makan nya di dobelin." Jawab Ara enteng. Dia tidak sedikit pun jaim walaupun ada Arga yang duduk di sana.


" Dasar perut gentong." Ejek Shasa lagi.


" Biarin! Sirik aja Lo!" Ara terus menjawab ejekan Ara, lalu menjulurkan lidah nya mengejek balik Shasa.


Saat Shasa dan ara masih sibuk saling meledek, Arga berinisiatif membuka pembicaraan dengan Rhea kembali.


" Kamu nanti pulang bareng siapa Rhee?" Tanya Arga penasaran. Arga berniat akan mengantarkan gadis itu pulang jika di izinkan.


" Aku pulang bareng...." Ucapan Rhea terhenti karena tiba-tiba dia melihat Gavin sudah memasuki cafe dan sedang melihat sekeliling seperti mencari seseorang. Saat pandangan mereka bertemu, Gavin segera menghampiri meja Rhea dan teman-temannya sambil memasang tampang yang sedikit menyeramkan.


" Ayo pulang!" Itu kata pertama yang di ucapkan Gavin pada Rhea, saat dia sudah sampai di meja kekasih nya itu.


" Eh..ada kak Gavin. Gabung dulu yuk kak! Biar makin rame kita!" Ajak Bibi berbasa-basi pada Gavin. Dia dapat menangkap kemarahan di wajah gavin, karena melihat ada Arga yang ikut bergabung dengan mereka di meja itu.


" Nggak perlu!" Ucap Gavin dingin lalu menghampiri Rhea dan menarik gadis itu agar segera berdiri mengikutinya untuk keluar dari cafe itu. Rhea yang masih sedikit terkejut dengan kedatangan Gavin tadi, memilih mengikuti saja kemana Gavin akan membawanya.


" Lo nggak bisa paksa-paksa Rhea buat ngikutin Lo!" Ucap Arga dengan lantang sambil menatap Gavin dengan tajam.


Langkah Gavin langsung terhenti mendengar ucapan Arga tadi. Dia langsung berbalik dan membalas tatapan Arga dengan lebih tajam lagi.


" Itu bukan urusan Lo! Yang Lo mesti inget, Rhea itu cewek gue. Jadi gue harap Lo berhenti deketin dia dengan cara apapun." Gavin memberikan peringatan dengan tegas sambil menunjuk-nunjuk wajah Arga. Gavin masih berusaha meredam emosi nya pada Arga, agar tidak terjadi keributan di cafe itu.


Arga yang teringat tentang status Gavin dan Rhea yang sudah berpacaran, akhirnya tidak membalas lagi ucapan Gavin tadi.


" Ayo kita pulang kak!" Rhea sedikit menarik tangan Gavin agar meninggalkan tempat itu. Rhea juga takut Gavin akan terpancing emosi, kalau pacarnya itu masih berdekatan dengan Arga.


" Gue balik dulu ya guys!" Rhea menatap ketiga sahabatnya untuk meminta izin pulang terlebih dahulu.


Shasa, Ara dan Bibi yang melihat situasi sedikit memanas, hanya bisa menganggukkan kepala menyetujui permintaan Rhea.


Akhirnya Gavin segera menarik Rhea keluar dari cafe itu dengan segera. Keempat orang yang berada di meja tadi juga hanya bisa terdiam melihat punggung keduanya yang semakin menjauh. Mereka yakin pasti setelah ini ada keributan yang terjadi dengan mereka berdua.