
Pagi ini seperti biasa, Gavin sedang menunggu kedatangan Rhea di depan pintu pagar rumah gadis itu. Saat Rhea sudah muncul, Gavin memamerkan senyuman terbaiknya untuk sang kekasih.
" Pagi Yang!" Gavin menyapa Rhea yang pagi ini terlihat semakin cantik di mata Gavin.
" Pagi juga! Nih dari bunda!" Rhea menyodorkan sebuah paper bag berisi sarapan untuk Gavin."
" Thanks ya!" Gavin menerima paper bag pemberian Rhea dengan senang hati lalu mengusap kepala kepala Rhea dengan sayang. Setelah itu Gavin memasangkan helm kecil berwarna biru ke kepala Rhea dengan hati-hati.
" Iya, sama-sama. Kuy berangkat!!" Rhea menaiki motor dengan berpegang pada pundak Gavin. Saat Rhea sudah duduk sempurna di atas motor gavin, gadis itu merangkul pinggang Gavin tanpa disuruh.
" Pegangan yang erat ya Yang!" Gavin tersenyum senang dan kemudian menjalankan motor dengan kecepatan sedang menuju sekolah.
****
Saat ini Rhea dan Ara baru saja keluar dari toilet. Mereka berdua sudah mengganti seragam sekolah yang biasa dengan kaos olahraga serta celana training panjang.
Rhea dan Ara segera menuju ke lapangan karena hari ini kelas mereka memiliki jam pelajaran olahraga. Sebagian dari teman-teman mereka sudah berkumpul dan membuat barisan yang rapi sambil menunggu instruksi selanjutnya dari Pak Hendrik guru olahraga mereka.
" Hari ini panas banget ya Rhee??" Ara mengipasi lehernya agar bisa mengusir hawa panas matahari yang dia rasakan.
" Iya, asli panas banget!" Rhea juga ikut mengipasi lehernya sama seperti yang Ara lakukan.
Kedua gadis manis itu kini sudah berada di pinggir lapangan bersama dengan teman-teman yang lain. Rhea dan Ara juga tidak lupa menguncir tinggi rambut mereka, hingga memperlihatkan leher jenjang masing-masing.
Hal itu juga tidak luput dari perhatian para cowok-cowok yang kebetulan sedang lewat di pinggir lapangan. Mereka semua tidak putus-putusnya menatap Rhea dan Ara secara bergantian karena terpesona dengan kecantikan keduanya.
Saat semua siswa sudah berkumpul, mereka semua diminta untuk melakukan pemanasan agar tidak mengalami cidera saat melakukan olahraga selanjutnya. Mereka semua mengikuti semua instruksi pak Hendrik dengan patuh dan kompak.
Setelah pemanasan dirasa cukup, mereka semua di giring ke tengah lapangan untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya yaitu bermain bola basket.
Rhea dan Ara tampak sangat antusias karena mereka berdua ternyata sama-sama menyukai permainan bola basket. Hal itu terbukti dengan kemampuan Rhea dan Ara yang begitu lihainya mengoper dan mendribble bola. Membuat semua teman-teman sekelas mereka menatap kagum pada kedua gadis itu.
Tidak hanya teman-teman sekelas mereka, bahkan pak Hendrik selaku guru olahraga juga sangat terkesan dengan kemampuan mereka berdua.
****
" Lex, ngapain mereka semua ada di luar?" Gavin melihat semua siswa cowok yang ada di kelasnya sudah berada di luar kelas. Mereka sepertinya sedang menyaksikan sesuatu yang sangat seru di lapangan basket sekolah.
" Gue nggak tau." Alex hanya menoleh sesaat dan kembali melanjutkan permainan game online yang ada di ponselnya.
Saat ini kelas Gavin tidak melaksanakan proses belajar mengajar karena guru mereka berhalangan hadir. Sebagai gantinya mereka hanya di minta untuk mengerjakan tugas.
Gavin yang merasa sedikit penasaran, kemudian bertanya pada salah seorang teman sekelasnya yang sudah kembali dari luar.
" Bin, ngapain mereka semua di luar?" Gavin bertanya kepada temannya yang bernama Bintang sambil menunjuk kerumunan yang berada di luar.
" Oh...mereka lagi liat adek kelas lagi main basket. Banyak yang cantik-cantik, Vin! Lo nggak mau liat?" Ucap Bintang bersemangat.
" Nggak minat!" Gavin lalu mengalihkan tatapannya dari Bintang. Saat Gavin ingin kembali melihat ponselnya,tiba-tiba cowok itu mengingat sesuatu.
" Hari ini kan Rhea ada jam pelajaran olahraga. Jadi yang dimaksud adek kelas itu kelas Rhea?" Gavin akhirnya ingat dan kemudian segera keluar untuk memastikan apa yang dia pikirkan.
" Mau kemana lo Vin?" Alex menatap Gavin yang akan meninggalkan kelas dengan tergesa-gesa.
" Keluar!!" Gavin hanya menjawab singkat lalu segera keluar dan membelah kerumunan itu.
" Cewek yang rambutnya di kuncir itu cantik ya bro??"
" Main basket nya jago lagi!"
" Gue mau jadi cowoknya dia!"
" Anak kelas mana tu cewek?"
Terdengar ocehan dari beberapa cowok yang sedang berdiri menatap dua orang gadis yang sedang mempraktekkan cara mendribble dan mengoper bola basket di lapangan sekolah.
Gavin yang sudah berada di kerumunan itu, menajamkan penglihatannya dan melihat bahwa Rhea dan seorang temannya itulah yang sedang menjadi bahan pembicaraan oleh semua cowok yang ada di sana.
Gavin yang mendengar itu semua, mengeraskan rahangnya karena marah. "Bubar Lo semua!!" Gavin menaikan intonasi suara nya agar di dengar oleh semua orang yang ada di sana.
Semua orang nampak kaget, karena Gavin lah yang menyuruh mereka untuk membubarkan diri. Mereka pun akhirnya memilih masuk ke kelas lagi dari pada berurusan dengan Gavin.
" Kenapa lo Vin?" Alex menepuk pundak Gavin saat dia sudah mengikuti Gavin keluar kelas. Alex merasa bingung kenapa sahabatnya itu mengusir semua orang yang ada di luar kelas tadi.
Gavin hanya diam tanpa mau menjawab pertanyaan Alex sedikit pun. Tatapan mata Gavin terus tertuju pada Rhea yang sedang bermain basket. Dimata Gavin, gadis itu terlihat sangat cantik meskipun dia berkeringat sekalipun.
" Ooo...ternyata liatin pacar! Dasar Bucin!" Alex mengikuti kemana arah pandangan Gavin dan menemukan bahwa Rhea lah yang sedang ditatap oleh cowok itu.
" Ternyata jago juga si Rhea main basket. Bener nggak Vin??" Alex memperhatikan bagaimana mahir nya Rhea saat bermain bola basket.
" Iya." Gavin hanya menjawab singkat pertanyaan dari Alex lalu segera meninggalkan sahabatnya itu sendiri.
" Lo mau kemana Vin??" Alex meninggikan suaranya saat gavin sudah pergi menjauh entah kemana.
" Ke kantin!" Lagi-lagi jawaban singkat yang diterima oleh Alex. Cowok itu hanya bisa menghembuskan nafas lelah dan segera mengikuti kemana sahabatnya itu pergi.
****
" Capek ya Rhee?" Ara dan Rhea saat ini sedang beristirahat di pinggir lapangan saat jam pelajaran olahraga sudah selesai.
" Iya, pake banget!" Rhea mengusap keringat yang mengucur deras di dahinya. Cuaca yang cukup panas membuat mereka semakin banyak berkeringat.
Sebagian dari teman-teman sekelas Rhea sudah meninggalkan lapangan, sedangkan sebagian lagi masih betah duduk di pinggir lapangan karena Mager.
" Ini buat kamu!" Tiba-tiba sebotol air mineral sudah berada di hadapan Rhea. Ternyata Gavin lah yang menyodorkan minuman itu pada Rhea.
" Makasih ya!" Rhea tersenyum senang dan membuka botol minum itu lalu meneguk nya hingga tersisa setengah dari botol itu.
" Beli aja sendiri! Lo punya kaki kan??" Gavin menatap sinis pada Ara. Sedangkan Gadis itu hanya mencibir dan mengatakan "dasar pelit" pada Gavin dengan spontan.
" Hehehe...sorry kak! Keceplosan!" Ara hanya bisa tertawa cengengesan setelah menerima hadiah pelototan mata dari Gavin.
" Lo mau punya gue nggak Ra? Masih sisa setengah ni!" Rhea menyodorkan minumannya pada Ara karena merasa kasihan dengan teman sebangkunya itu.
" Boleh deh Rhee. Gue Mager banget ke kantin sekarang." Ara menerima minuman itu dengan senang hati dan meminumnya hingga tandas tak bersisa.
" Ahh...lega nya. Thanks ya Rhee!!" Ara kemudian membuang botol bekas minuman itu ke tempat sampah.
" Aku balik dulu ya! Nanti pas istirahat aku kelas kamu!" Gavin mendekati Rhea dan membereskan rambut gadis itu yang sedikit berantakan.
Rhea yang menerima perlakuan manis dari Gavin, hanya bisa tersenyum malu-malu. Rhea yakin pasti semua teman-teman sekelasnya yang masih tersisa di pinggir lapangan akan bergosip setelah ini.
" Aku sama Ara nanti mau ketemu pak Hendrik waktu jam istirahat. Kamu ke kantin aja duluan, ntar aku nyusul."
Rhea memberikan sebuah alasan agar Gavin tidak menemuinya di kelas nanti.
" Oke, aku tunggu kamu di kantin!" Gavin mengedipkan matanya sebelah dan berbalik meninggalkan Rhee yang kini pipinya sudah bersemu merah karena kelakuan Gavin.
" Cieee...sahabat gue yang satu ini udah resmi jadian ternyata. Kok tega banget sih nggak ngasih tau gue? Mau ngehindarin PJ Lo ya? Oh..tidak semudah itu nona!!" Ara mengerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan pada Rhea.
" Sstt...jangan keras-keras Ra! Lo mau gue di bully apa sama fans nya Gavin?" Rhea juga meletakkan jari telunjuknya di bibir agar Ara mengecilkan sedikit volume suaranya agar tidak didengarkan oleh anak-anak yang lain.
" Oke, tapi jangan lupa PJ nya ya buk? Gue mau ke cafe yang kemarin gue liat di Ig itu! Hmmm...apa ya namanya?? Oh ya, namanya Imnida Cafe!"
Ara sepertinya mengambil kesempatan agar bisa makan gratis di tempat yang Ara inginkan.
" Iya bawel, terserah lo mau kemana. Gue ngikutin aja. Yang penting jangan mahal-mahal. Duit jajan gue nggak banyak."
Rhea berbicara fakta karena dirinya memang tidak di berikan uang jajan yang terlalu banyak oleh bunda Citra. Bukan karena tidak mampu, tapi bunda Citra ingin Rhea bersikap hemat dan tidak mudah untuk menghambur-hamburkan uang secara berlebihan.
" Sip, buk sekretaris. Kuy kita masuk kelas. Gue mau ganti baju ni, Udah gerah!" Ara merangkul lengan sahabatnya itu lalu segera bergegas ke kelas untuk mengambil baju seragam yang biasa. Sedangkan Rhea hanya mengikuti saja kemana sahabatnya itu pergi tanpa protes sedikit pun.
****
" Kira-kira pak Hendrik mau bicara apa ya Rhee, sampai kita berdua di suruh ke ruangan guru segala??" Ara masih memikirkan alasan kenapa pak Hendrik memanggil mereka berdua.
" Mana gue tau? Yuk cepetan, habis ini kita ke kantin ya!! Perut gue laper banget." Rhea mengusap perutnya yang mulai terasa lapar.
" Bilang aja mau ketemu yayang. Pake bilang perut lapar segala lagi. Dasar Modus!!" Ara memicingkan mata menggoda Rhea sambil terus berjalan ke ruang guru.
" Sialan Lo! Gue di bilang Modus!" Rhea menatap Ara kesal sementara Ara cuma bisa cengengesan nggak jelas.
Akhirnya mereka berdua sudah sampai di depan ruang guru. Dengan ragu, mereka berdua memasuki ruang itu sambil memperhatikan sekeliling. Di ruangan itu masih terdapat beberapa guru yang sedang mengerjakan sesuatu di balik meja kerjanya. Saat mereka memasuki ruangan itu mereka berdua mengedarkan pandangan dan menemukan pak Hendrik sedang duduk di sebuah meja yang ada di sudut ruangan itu.
" Akhirnya kalian datang juga. Ayo, silahkan duduk di sini! Ada yang mau bapak bicarakan." Pak Hendrik mempersilahkan Rhea dan Ara untuk duduk saat mereka berdua sudah sampai di hadapan guru olahraga itu.
" Ada perlu apa ya pak, kita berdua di suruh kemari?" Rhea tanpa basa-basi langsung bertanya alasan mereka berdua di minta menemui pak Hendrik di ruangan guru.
Pak Hendrik yang mendengar pertanyaan Rhea langsung tersenyum dan mencoba menjelaskan maksud dan tujuannya kepada mereka berdua.
" Sepertinya kalian sangat penasaran sekali?" Pak Hendrik masih tersenyum saat melihat wajah kedua siswanya itu sedikit penasaran.
" Baiklah, saya akan langsung saja pada intinya. Setelah saya melihat kemampuan kalian berdua di lapangan basket tadi, saya ingin menawarkan kalian untuk bergabung dengan Tim inti Basket Putri yang ada disekolah. Apakah kalian tertarik dengan tawaran saya?"
Pak Hendrik sepertinya tidak main-main dengan penawaran nya kali ini. Melihat skill yang di miliki keduanya, membuat pak Hendrik yakin bisa membuat Tim Basket Putri di sekolah ini akan lebih sukses kedepannya.
" Maaf pak, sepertinya saya nggak bisa bergabung dengan Tim ini pak!" Rhea menolak tawaran dari pak Hendrik secara langsung tanpa berpikir dua kali.
Pak Hendrik yang mendengar jawaban Rhea, mengernyitkan dahinya heran kenapa siswi nya itu langsung menolak tanpa mempertimbangkan sama sekali.
" Kalau boleh bapak tau, apa yang menjadi alasan kamu menolak tawaran dari bapak? Bapak rasa kemampuan kamu lebih dari cukup untuk bisa bergabung dengan Tim ini." Pak Hendrik menatap Rhea menunggu jawaban pasti dari siswinya itu.
" Terima kasih sudah memuji kemampuan saya pak. Tapi bukan hal itu yang membuat saya menolak tawaran dari bapak. Sebenarnya saya memiliki fisik dan stamina yang kurang baik pak. Jadi saya takut akan membebani anggota yang lain kedepannya."
Rhea membeberkan alasan yang sebenarnya, sehingga pak Hendrik hanya bisa menganggukkan kepalanya mengerti.
" Ternyata itu alasan kamu menolak tawaran saya. Tapi saya rasa semua itu masih bisa kita atur untuk kedepannya. Akan sangat di sayangkan jika bakat yang kamu miliki terbuang begitu saja. Saya berharap kamu bisa memikirkan kembali tawaran saya ini. Tim Basket Putri kita pasti akan semakin berjaya dengan kehadiran kalian berdua."
Sepertinya pak Hendrik masih berharap Rhea dapat bergabung dengan Tim Basket Putri di sekolah ini.
" Saya akan memikirkan nya lagi pak."
Rhea sebenarnya sangat ingin bergabung dengan Tim ini, tapi dia takut akan membebani anggota lain jika dirinya ikut bergabung.
" Baiklah kalau begitu. Bapak akan tunggu kabar dari kamu secepatnya. Kalau kamu bagaimana Zahra? Apakah kamu menolak juga tawaran saya?" Kini pertanyaan selanjutnya ditujukan untuk Zahra alias Ara.
" Saya tidak menolak pak. Saya malah sangat berterima kasih pada bapak yang mau menawarkan saya ikut bergabung dengan Tim Basket Putri di sekolah ini. Saya akan bekerja keras agar tim ini menjadi sukses untuk kedepannya pak!"
Ara terlihat sangat senang dan bersemangat sekali saat menatap pak Hendrik. Ara tidak menyangka kemampuan bermain basket yang dia miliki mengantarkan dirinya menjadi salah satu Tim inti Basket Putri di sekolahnya.
" Baiklah kalau begitu. Saya harap kamu bisa datang ke sekolah untuk berlatih dengan anggota yang lainnya hari Sabtu ini sekitar jam 8 pagi. Kamu mengerti Zahra?" Pak Hendrik memberikan instruksi nya pada Ara yang di tanggapi anggukan kepala oleh gadis itu.
" Dan untuk kamu Rhea, bapak akan beri waktu 2 hari untuk berpikir. Jika kamu memang berminat untuk ikut bergabung dengan Tim ini, saya harap kamu juga ikut datang untuk latihan bersama Zahra. Kamu mengerti kan Rhea?"
Pak Hendrik juga tidak lupa untuk mengingatkan Rhea tentang kesempatan yang dia miliki untuk bergabung dengan Tim Basket Putri.
" Baik pak! Saya akan berkonsultasi terlebih dahulu dengan kedua orang tua saya. Sekali lagi terima kasih untuk kesempatan nya pak." Rhea menundukkan kepalanya sekilas untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada pak Hendrik.
" Baiklah, kalian boleh pergi sekarang." Pak Hendrik menyudahi pembicaraannya bersama Rhea dan Ara.
Kedua gadis itu langsung meninggalkan ruangan guru dan pergi menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang lapar. Mereka terlihat sangat senang dengan penawaran dari pak Hendrik. Semoga semuanya berjalan dengan lancar kedepannya.