
" Woooiii...Vin, ngapain Lo berdiri di situ??"
Dhafi bersorak dari kejauhan, saat melihat temannya Gavin berdiri seperti satpam di dekat pintu gerbang SMA Bhakti Luhur.
" Gue ada urusan bentar, Lo cabut duluan aja sama yang lain!!"
Dhafi yang sudah tau tujuan Gavin berdiri di sana cuma bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Ternyata Gavin mengikuti saran nya untuk segera menemui Rhea.
" Ok, sipp!"
Sambil mengacungkan jempol Dhafi berlalu meninggalkan gerbang depan, menuju ke parkiran motor. Disana telah menunggu Alex dan Azka yang sudah duduk di atas motornya masing-masing.
" Si Gavin mana fi???"
Alex celingukan karena Dhafi tidak terlihat bersama Gavin.
" Gavin katanya ada urusan bentar. Kita disuruh cabut duluan. Paling habis itu dia nyusul ke basecamp."
Alex dan Azka cuma bisa menganggukkan kepala setelah itu menyalakan motornya masing-masing.
Dhafi juga akhirnya menaiki motor ninjanya yang berwana putih lalu menyalakan juga motornya.
Setelah itu mereka bertiga meninggalkan parkiran sekolah menuju basecamp mereka, yang merupakan rumah Alex.
Alasan mereka menjadikan rumah Alex sebagai basecamp di karenakan rumah Alex yang sangat besar.
Bukan berarti rumah anggota "the devil" yang lain tidak besar, tapi rumah Alex yang dirasa paling nyaman untuk mereka sekedar berkumpul sambil istirahat, bahkan bisa ngerokok sepuasnya.
Di rumah Alex cuma ada pembantu dan satpam. Orang tua Alex tinggal di Singapura karena mereka memiliki bisnis di sana dan pada akhirnya mereka sepakat menjadikan rumah Alex sebagai basecamp mereka.
Hampir 10 menit Gavin berdiri di depan gerbang sekolah sehingga membuat semua siswa yang melewati gerbang sampai terheran-heran dengan apa yang mereka lihat.
Seorang Gavin Ardana Wijaya berdiri seperti satpam di depan pintu gerbang sekolah.
Mereka semua menebak pasti Gavin sedang menunggu seseorang karena tidak biasanya pemuda tampan itu mau berdiri disana.
Biasanya mereka melihat Gavin akan langsung pulang bersama teman-temannya sehabis jam pelajaran usai.
Akhirnya orang yang di tunggu Gavin datang juga. Siapa lagi kalau bukan Rhea. Gadis manis yang sedari tadi terus mengganggu pikirannya.
Gavin ingin berbicara empat mata dengan Rhea tentang hubungan mereka yang belum jelas di
masa lalu.
" Rheee, Lo pulang sama siapa??"
Shasa bertanya kepada Rhea yang dari tadi sibuk menelfon seseorang. Shasa dan Rhea baru saja menyelesaikan acara ramah tamah bersama guru dan kakak-kakak pembina OSIS di aula. Setelah itu mereka bergegas pulang karena kegiatan hari ini sangat melelahkan.
" Rencana sama bang Rafka, katanya dia mau jemput. Tapi sampai sekarang belum nongol juga tu orang. Di telfon malah sibuk terus."
Rhea menggerutu sebal sambil terus mencoba menghubungi bang rafka.
" Ya udah, pulang bareng gue aja. Gue di jemput supir bokap."
Shasa menawarkan tumpangan kepada sahabatnya itu. Rhea yang tadi nya akan menerima ajakan Shasa, langsung di buat terkejut karena suara berat seorang cowok yang berdiri tepat dihadapan Rhea dan Shasa.
" Lo pulang bareng gue aja rhe!!!"
Itu adalah suara Gavin. Mata Rhea dan Shasa langsung melotot, melihat Gavin telah berada di hadapan mereka.
Gavin yang di tatap seperti itu oleh Rhea dan shasa langsung berdehem menyadarkan keduanya.
Rhea dan Shasa langsung tersadar dengan deheman Gavin yang keras lalu menormalkan kembali ekspresi mereka.
Gavin yang belum mendapatkan jawaban dari Rhea, lalu mengulang pertanyaan nya.
" Rhe, Lo pulang bareng gue ya?? Gue ada urusan berdua sama Lo!!!"
Rhea yang merasa tidak ada urusan apa-apa dengan Gavin, menolak ajakan itu.
" Sorry kak, gue dijemput bang rafka."
Shasa yang melihat keadaan yang canggung itu tidak bisa berbuat apa-apa. Ditambah lagi mobil jemputan papa nya sudah datang. Shasa jadi bingung harus berbuat apa.
" Sorry rhe, mobil gue udah dateng. Lo nggak papa kan kalo gue duluan??"
Shasa berbisik kepada Rhea tapi masih bisa di dengar oleh Gavin.
" Ya udah, lo duluan aja!! Bentar lagi bang Rafka juga dateng."
Rhea yang sudah melihat mobil jemputan Shasa datang hanya bisa merelakan Shasa pulang terlebih dahulu.
" Kak, jagain Rhea bentar ya! Mobil gue udah dateng soalnya. Bisa kan kak???"
Shasa bertanya pada Gavin lalu mengedipkan sebelah matanya genit kepada Rhea. Rhea hanya bisa melotot kesal karena ucapan Shasa tadi pada Gavin.
" Ok, tenang aja! Temen Lo aman sama gue."
Gavin mengacungkan jempolnya dan dibalas cengiran oleh Shasa.
" Babay rheee, sampai jumpa besok ya!"
Shasa melambaikan tangan lalu berlari kecil menghampiri mobilnya.
Mereka sama-sama diam, hingga bunyi ponsel Rhea mengagetkan mereka berdua.
Ternyata telfon dari bang Rafka.
Rhea : "Hallooo, Abang dimana???"
Rafka: "Abang masih di kampus rhe. Kamu udah pulang sekolah??"
Rhea : "Aku udah di depan gerbang ni, nungguin Abang. Shasa udah pulang dari tadi."
Rafka: "sorry Rhe, abang nggak bisa jemput. Abang ada tugas yang mau di kerjain bareng temen. Kamu bisa pulang sendiri kan??"
Rhea : "Apaaaa??? Nggak bisa jemput?
Kenapa nggak bilang dari tadi sih bang, kan aku bisa nebeng sama Shasa. Masa aku pulang sendiri sih."
Rafka: "Sorry banget ya Rhe. Ntar pulang Abang bawain donat jco mau nggak??"
Rhea : "Ya udah deh, awas ya pokok nya kalau pulang nggak Bawak donat jco nya, jangan harap aku mau ngomong sama Abang lagi!"
Rafka: "Iya adekku sayang. Pulang nya hati-hati ya. Kalau udah nyampe rumah kasih tau Abang, oke??"
Rhea : "iya bawel. Udah aku matiian dulu. Bye.."
Akhirnya Rhea mematikan telfonnya dengan kesal sambil memonyongkan bibirnya lima centi.
Gavin yang mendengar obrolan Rhea di telfon tadi, langsung tersenyum senang jadi dia punya alasan untuk bisa mengantar Rhea pulang.
" Abang Lo nggak bisa jemput kan, Rhe??
Yuk gue antar pulang. Rumah Lo masih yang lama kan rhe?"
Gavin memastikan alamat rumah Rhea karena dia sudah lama tidak kesana lagi.
" Ngakk usah kak, ntar ngerepotin. Gue naik ojol aja."
Rhea masih berusaha menolak ajakan Gavin.
Gavin yang kembali ditolak oleh Rhea, tidak terima dan langsung menarik tangan gadis itu.
" Lo nggak bisa nolak Rhe! Gue juga ada yang mau diomongin sama Lo. Penting!!"
Gavin membawa Rhea menuju parkiran yang berada di dalam gerbang sekolah sehingga Rhea hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Gavin.
Lagi pula Rhea juga tidak ingin berlama-lama berada di depan gerbang sekolah karena semua siswa yang ada disana terus memperhatikan interaksi antara Gavin dengan Rhea.
Pasti besok akan beredar gosip kalau Gavin dan Rhea pulang bareng. Bisa mampus Rhea diamuk sama semua fansnya Gavin.
Dan disini lah mereka sekarang, diparkiran sekolah. Gavin naik keatas motor ninja nya yang berwarna hitam dan langsung memakai helmnya
.
" Ayo, naik rhe! Nanti kalau Lo telat balik, bunda Lo nyariin!"
Gavin tau orang tua Rhea tidak suka anaknya keluyuran dan pulang terlambat dari sekolah.
" Sok tau!!"
Rhea menjawab dengan ketus omongan Gavin barusan dan dengan sangat terpaksa menaiki boncengan motor Gavin.
" Pegangan ya re, ntar Lo jatoh!!"
Perintah Gavin pada Rhea yang akan menjalankan motornya.
" Nggak mau!! Makanya jangan ngebut biar gue ngak jatoh. Awas aja berani ngebut, gue bakalan getok ni helm."
Rhea mengancam Gavin sambil mengetuk helm yang di pakai Gavin.
" Ok, gue nggak akan ngebut."
Gavin mulai menyalakan motornya dan bersiap meninggalkan parkiran motor itu. Sementara Rhea hanya duduk diam menunggu motor itu berangkat menuju rumahnya.
Sepanjang 15 menit berkendara, Gavin dan Rhea sama-sama diam. Mereka sibuk dengan pemikiran masing masing. Hingga tidak terasa motor Gavin sudah sampai di depan rumah Rhea.
Setelah Gavin mematikan motor, Rhea langsung turun dari boncengan motor Gavin. Gavin juga mengikuti Rhea turun dari motornya dan kemudian melepaskan helm.
" Makasih buat tebengan nya kak, gue masuk dulu."
Rhea hendak berbalik masuk ke dalam rumah, namum Gavin menahan lengan Rhea.
" Rhee.... Apakah kita masih bisa seperti dulu?"
Gavin langsung bertanya dengan serius kapada Rhea tanpa basa-basi. Gavin ingin mengetahui bagaimana perasaan Rhea. Dia ingin meminta kesempatan kepada Rhea untuk memperbaiki hubungan mereka di masa lalu.
Rhea menggelengkan kepalanya. Seperti nya Rhea menolak permintaan Gavin.
" Maaf kak, kayaknya gue nggak bisa. Mungkin kita nggak cocok untuk bersama. Kakak pantas dapetin cewek yang lebih baik dari gue. Gue masuk dulu kak."
Tanpa menunggu jawaban dari Gavin, Rhea langsung masuk kedalam rumah tanpa menoleh lagi ke arah Gavin.
Sementara Gavin yang mendengar jawaban dari Rhea, hanya bisa mengepalkan tangannya menahan amarah dan kecewa.
Gavin lalu pergi meninggalkan rumah Rhea sambil mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju basecamp di mana teman-temannya berada.