Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
Trio Cabe-Cabean


Setelah berjalan sekitar 5 menit dari ruang guru, akhirnya Rhea dan Gavin sampai di depan kantin. Suasana disana terlihat cukup ramai seperti biasanya.


" Kak lepasin!!" Cicit Rhea pelan saat menarik tangannya dari genggaman Gavin.


Rhea saat ini merasa malu dan juga risih karena terus diperhatikan oleh semua orang yang ada di kantin terutama para gadis yang menjadi fans setia Gavin and the gang.


" Nggak, ntar Lo hilang!!"


Bukannya melonggarkan justru Gavin semakin mempererat genggaman itu.


Rhea sebenarnya ingin protes dengan mengatakan dia bukan anak kecil yang bisa hilang di tengah keramaian. Tetapi Rhea hanya bisa menghela nafas pasrah karena malas berdebat dengan Gavin didepan semua siswa yang lain.


" Rhe...Rhee.. Rhea..!!!"


Suara cempreng seorang gadis menarik perhatian Gavin dan Rhea. Rhea yang merasa namanya disebut menoleh ke arah samping dimana suara itu berasal.


" Sini Rhee..!!"


Ternyata Shasa yang memanggil Rhea sambil melambaikan tangan mengajak Rhea untuk bergabung bersama.


" Kak, temen gue manggil tu!! Gue kesana ya??" Rhea menunjuk Shasa dan Ara yang sudah duduk manis di bangkunya masing-masing.


Sebenarnya Rhea tidak perlu meminta izin pada Gavin. Tapi karena Gavin masih menggenggam tangan Rhea dengan erat jadi Rhea terpaksa melakukannya.


"Plisss..!!" Rhea mulai memohon pada Gavin.


Gavin yang melihat tampang Rhea yang memelas akhirnya pasrah dan melepaskan tangan Rhea menuju teman-temannya


.


" Pulang sekolah gue anterin balik ya!! Jangan kabur!!"


Gavin kemudian mengusap kepala Rhea sehingga pipi Rhea bersemu merah.


" Pipi Lo merah Rhee. Boleh gue cubit nggak??"


Gavin yang gemas dengan pipi Rhea, hendak menjulurkan tangannya tapi kemudian di tepis oleh Rhea.


" Nggak boleh!!"


Lalu Rhea berlari kecil menuju kursi yang diduduki Shasa dan Ara. Sementara Gavin yang melihat tingkah Rhea hanya tersenyum senang dan pergi menjumpai teman-temannya yang sudah duduk di pojokan kantin.


" Cieee...Rhea yang habis ama yayang. So sweet bingits sih!!"


Shasa bertopang dagu sambil mengedipkan matanya genit menggoda Rhea yang baru sampai.


" Cia...cie...aja lo!! Gue laper ni, kalian berdua udah selesai makannya??"


Rhea memperhatikan isi mangkok Shasa dan Ara yang sudah tandas tidak berbekas.


" Ya iya lah Rhee. Lo lama banget sih. Kita berdua kan juga kelaperan terus kita duluan deh. Sorry ya Rhee."


Ara mengatupkan tangan di depan dada meminta maaf pada Rhea karena terlebih dahulu makan tanpa menunggu kedatangan Rhea.


" Iya nggak papa! Gue pesen makanan dulu. Lo berdua temenin gue makan ya??"


Shasa dan Ara hanya menganggukan kepala mendengar permintaan Rhea.


Saat Rhea hendak berdiri, Azka datang dengan membawa semangkok bakso dan segelas jus jeruk ke meja dimana Rhea dan teman-temannya duduk.


" Hay Rhee!! Babang Gavin yang ganteng nitip makanan buat Lo. Dihabisin ya Rhee!!"


Azka mengedipkan matanya pada Rhea lalu pergi meninggalkan Rhea menuju pojokan kantin dimana Gavin dan kedua temannya duduk.


Sebenarnya Rhea ingin menolak pemberian Azka tapi niat itu ditahan oleh Shasa.


" Nggak boleh nolak rezeki Rhee!! Makan aja, kan Lo laper tadi!!"


Rhea akhirnya kembali duduk dan mulai memakan baksonya dengan lahap. Rhea ingin cepat kembali ke dalam kelas karena semua siswi yang ada di dalam kantin masih terus memperhatikan gerak-geriknya.


Dari kejauhan, Gavin yang melihat Rhea memakan baksonya dengan lahap hanya bisa tersenyum senang.


" Kenapa senyum sendiri Lo, vin?? Udah Sarap Lo??" Alex memperhatikan Gavin yang tersenyum seorang diri.


" Dia lagi senyumin ceweknya begok!! Noh liat mata dia kearah mana??"


Dhafi menoyor kepala Alex karena tidak memperhatikan arah pandangan mata Gavin yang tertuju pada Rhea.


" Yah...mulai bucin ni anak!!"


Alex hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Gavin.


" Kayak Lo nggak bucin aja nyeett!!"


Azka ikut berkomentar saat dia baru sampai dari tempat duduknya Rhea. Ditangan Azka juga ada semangkok bakso dan sebotol air mineral yang dibawa untuk Gavin.


" Betul ka. Bucin gila!! Tumben gue nggak liat cewek Lo! Biasanya dia nempelin Lo terus kayak jin iprit. Hahahaa"


" Kampret Lo!! Cewek gue dibilang jin iprit. Dia lagi izin, nyokapnya masuk rumah sakit."


Dhafi hanya menjawab "Ooh" lalu kembali bermain game diponselnya.


" Vin, makan ni!! Jangan liatin cewek Lo terus. Dia nggak akan kemana-mana bro!!" Azka menyodorkan mangkok berisi bakso pesanan Gavin tadi.


" Berisik Lo!!" Akhirnya Gavin mengalihkan perhatiannya pada semangkok baksonya yang masih panas dan mulai melahapnya dengan tenang.


" Sialan lo..bilang makasih kek!! Udah gue bawain juga."


Azka hanya bisa menggerutu pada Gavin yang masih sibuk dengan makanannya.


Saat mereka berempat sibuk dengan kegiatan masing-masing di meja kantin, datang tiga orang gadis yang merupakan teman seangkatan mereka di sekolah.


" Hayy...vin!! Kita boleh gabung disini nggak??"


Devina, Maya dan Ratu berdiri tepat di depan meja keempat cowok itu sambil memasang senyuman semanis mungkin.


" Ehh...ada trio cabe-cabean!!" Celetuk Azka sambil menunjuk ketiga gadis itu.


Dhafi dan Alex yang mendengar celetukan Azka hanya bisa menahan tawa mereka agar tidak meledak. Sedangkan Gavin hanya terlihat acuh sambil terus mengunyah bakso yang ada di mulutnya tanpa menghiraukan kehadiran Devina dan teman-teman.


" Sialan Lo!! Kita di bilang cabe-cabean. Lo tu playboy cap Kutu Kupret. Kita tu lagi ngomong sama Gavin bukannya sama Lo!!" Devina tidak mau kalah dan menyindir balik Azka.


Azka akhirnya lebih memilih diam dari pada terus meladeni Devina yang memiliki mulut sepedas cabe.


Melihat Gavin yang masih mengacuhkannya, Devina berinisiatif mengambil bangku yang kosong dan meletakkannya disebelah Gavin. Tanpa minta izin, Devina langsung duduk di samping Gavin.


Saat Gavin Mulai sadar dengan pergerakan seseorang di sampingnya, akhirnya Gavin menoleh dan melihat bahwa Devina sudah duduk sambil terus memandangi wajah Gavin.


" Ngapain Lo duduk disebelah gue!!"


Gavin berbicara dengan intonasi yang tinggi dan tatapan yang tajam kearah Devina, sehingga gadis itu sedikit kaget dengan reaksi Gavin.


" Gue sama yang lain cuma pengen gabung aja sama Lo, vin. Soalnya meja yang lain udah pada penuh. Nggak papa kan vin??"


Devina berbicara pada Gavin sambil memasang wajah sok imut, yang membuat ketiga teman Gavin yang lain ingin muntah karena jijik melihat ekspresi Devina yang dibuat-buat.


Sedangkan Gavin memutar matanya malas, karena kedatangan Devina membuat selera makannya langsung hilang.


" Gue udah selesai. Lo bisa makan sama temen-temen Lo disini."


Gavin memutuskan meninggalkan Devina dan diikuti oleh ketiga sahabatnya.


Sebelum Gavin pergi, Devina ikut berdiri dan mencekal lengan Gavin dengan kuat.


" Kenapa Lo selalu ngehindarin gue sih vin?? Gue kurang apa di mata Lo?? Kenapa Lo selalu nolak gue buat jadi pacar Lo? Gue harus apa vin supaya Lo mau sama gue?"


Devina mengeluarkan semua pertanyaan yang selama ini mengganjal dihatinya untuk Gavin. Devina sudah berusaha meluluhkan hati cowok itu tetapi selalu gagal.


Apalagi setelah melihat kedekatan Gavin dengan seorang gadis, membuat Devina semakin putus asa karena kesempatannya untuk menjadikan Gavin sebagai pacarnya semakin tipis.


" Lo nggak perlu lakuin apa-apa karena itu cuma buang energi Lo aja."


Gavin menepiskan tangan Devina dari lengannya dan berjalan meninggalkan Devina yang sudah beruraian air mata.


" Apa hebatnya cewek kecentilan itu dari gue vin? Siapa namanya?? Rhea kan??"


Devina menunjuk muka Rhea yang dia lihat sedang duduk di bagian sebelah kiri kantin bersama teman-temannya. Sepertinya Devina belum puas dengan jawaban Gavin sehingga dia masih terus mencecar Gavin dengan pertanyaan lain.


Mendengar nama nya disebut membuat Rhea memandang ke asal suara yang berada di belakangnya. Rhea sangat terkejut mendapati Devina sedang menunjuk ke arahnya sambil berlinangan air mata. Ditambah lagi seisi kantin juga ikut menatapnya membuat Rhea menundukkan kepalanya karena malu.


" Lo nggak bisa bandingin diri Lo sama Rhea karena Lo nggak ada apa-apa nya di mata gue. Dan satu lagi yang harus Lo inget, jangan berani-berani Lo deketin Rhea apalagi sampai ngancem dia lagi buat jatuhin gue. Gue bakal bikin perhitungan Sama Lo."


Gavin menatap tajam ke arah devina lalu beralih menatap Rhea yang sedang tertunduk malu menghindari tatapan semua orang padanya.


Gavin segera menuju bangku dimana gadis itu duduk dan menarik tangan Rhea agar mereka keluar bersama dari kantin.


Dhafi, Alex dan juga Azka mengikuti temannya itu keluar. Sementara Shasa dan Ara yang masih syok dengan kejadian tadi juga ikut keluar ingin mengikuti Rhea pergi.


Devina yang melihat adengan itu menghentak hentakkan kaki nya kesal. Devina mengusap air matanya dengan kasar lalu kemudian terduduk di kursi lagi.


" Tenang Devina, kita berdua akan bantuanin Lo terus buat dapetin Gavin. Lo jangan nyerah ya!!"


Ratu terus memberikan semangat kepada Devina sambil mengusap punggung Devina yang berada di sampingnya.


" Iya betul vin, Lo jangan nyerah. Kalau Lo nggak bisa dapetin Gavin, cewek lain juga nggak akan bisa dapetin dia."


Maya juga ikut memberikan semangat pada Devina sehingga wajah gadis itu berubah menjadi senang.


" Iya kalian bener guys. Gue nggak akan nyerah apalagi kalah sama cewek nggak jelas macam Rhea itu."


Devina akhirnya dapat tertawa senang bersama teman-temannya. Devina memutuskan tak akan melepaskan Gavin bagaimana pun caranya. Devina akan melakukan segala cara agar bisa menaklukan hati Gavin, walaupun harus menyingkirkan Rhea sekalipun.