Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
57. Usaha Tasya


Sudah beberapa hari ini Tasya selalu berusaha mendekati Gavin. Dari mulai meminta di antarkan pulang atau berusaha mengikuti semua kegiatan yang di lakukan Gavin di sekolah. Di setiap kesempatan Tasya berusaha menarik perhatian Gavin dengan berbagai macam cara. Tetapi itu semua nampaknya menjadi sia-sia karena Rhea selalu ada bersama Gavin setiap saat, sehingga membuat cowok itu tidak mengacuhkan Tasya sama sekali.


" Hai Vin! Kita kan ada tugas sejarah nih, gimana kalau kita kerjain nya di rumah Lo aja? Kostan gue sempit soalnya." Ucap Tasya dengan semangat.


Tasya akhirnya mendapatkan kesempatan lagi untuk bisa berdekatan dengan Gavin. Mereka kebetulan mendapat kelompok yang sama dalam tugas sejarah. Kelompok mereka terdiri dari 4 orang anggota. Diantaranya ada Tasya, Gavin, Alex dan juga Dinda. Mereka semua di haruskan mengumpulkan tugas sejarah itu satu Minggu lagi.


" Tugasnya kan masih lama Sya. Masih satu Minggu lagi. Kapan-kapan aja Sya. Otak gue mumet mikirin pelajaran lagi." Alex mewakili Gavin untuk menjawab pertanyaan Tasya karena dirinya terlalu malas untuk belajar lagi.


" Yah...lebih cepat selesai lebih bagus dong Lex. Kita bisa santai setelah itu. Gue takutnya kita semua bakalan sibuk, makanya gue usulin sekarang."


Tasya sepertinya tetap ngotot untuk melaksanakan rencananya untuk mendekati Gavin. Tasya bertekad agar rencananya tidak boleh sampai gagal kali ini.


" Oke, kita kerjain tugasnya di rumah gue sehabis pulang sekolah." Ucap Gavin dengan datar. Gavin Lalu melanjutkan kembali bermain game online bersama Alex di ponselnya sambil menunggu guru yang selanjutnya masuk ke dalam kelas.


" Thanks ya Vin." Tasya meninggalkan meja Gavin dan juga Alex sambil tersenyum senang. Tasya akan mempersiapkan diri untuk rencananya nanti siang di rumah Gavin.


*****


" Woi...Flo!" Dhafi memanggil flo yang berjalan sendiri di koridor lantai satu saat jam pelajaran sedang berlangsung.


" Apaan?" Ucap Flo dengan acuh tak acuh. Dia berhenti dan menoleh ke belakang dan menemukan Dhafi sedang berlari untuk menghampiri nya.


" Ngapain Lo keluar? Lo bolos ya?" Dhafi menyipitkan mata sambil menatap Flo dengan curiga.


" Sembarangan! Gue mau ke UKS. Lo kali yang mau bolos!" Flo mendengus kesal saat mendengar Dhafi menuduhnya membolos.


" Gue mau ke toilet. Lo sakit?" Ucap Dhafi dengan nada khawatir. Dhafi kemudian menempelkan punggung tangannya di kening Flo dan merasakan hawa panas dari tubuh gadis itu.


" Gue nggak apa-apa. Gue cuma perlu istirahat bentar." Flo menepis tangan Dhafi yang masih bertengger di dahinya dengan keras.


" Biar gue anterin Lo ke UKS!" Dhafi menarik tangan Flo menuju UKS dengan tergesa-gesa.


" Gue bisa pergi sendiri!" Flo berusaha melepaskan tangan Dhafi tetapi tangan cowok itu lebih kuat memeganginya. Membuat Flo hanya bisa pasrah dan mengikuti Dhafi dari belakang.


Saat mereka tiba di UKS, Dhafi mendudukkan Flo di salah satu matras kecil yang tersedia di tempat itu. Setelah itu Dhafi mengambil plaster penurun panas yang ada di lemari tempat penyimpanan obat lalu menempelkan nya di dahi Flo dengan perlahan.


" Kalau Lo sakit kenapa mesti pergi sekolah! Lo kan bisa istirahat di rumah!" Ucap Dhafi dengan lembut. Dhafi kemudian membaringkan Flo di atas matras lalu menarik selimut sebatas dada gadis itu.


" Gue nggak apa-apa Fi. Gue males di rumah sendirian." Ucap Flo dengan nada sedih. Flo tersenyum getir saat menatap mata Dhafi yang terlihat teduh hari ini.


" Ya udah, sekarang Lo istirahat. Ntar gue balik lagi pas jam istirahat." Dhafi mengusap-usap kepala Flo dengan pelan lalu berbalik meninggalkan gadis itu seorang diri di UKS.


Sebelum Dhafi benar-benar meninggalkan ruangan itu, Flo kembali memanggil Dhafi dengan cepat.


" Fi!!" Flo menatap Dhafi yang berjalan menghampiri nya kembali.


" Kenapa? Lo butuh sesuatu?" Dhafi mengeryitkan dahinya melihat Flo yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan di bibir gadis itu.


" Apa..Lo masih suka sama Tasya?" Ucap flo sedikit terbata. Flo sebenarnya sangat penasaran dengan perasaan Dhafi saat ini pada Tasya. Apakah Dhafi masih menyukai cinta pertamanya itu atau tidak? Flo cuma tidak ingin terlalu banyak berharap pada orang yang masih menyimpan perasaan untuk gadis lain.


" Hhmmm...kenapa Lo nanya gitu?" Dhafi sedikit salah tingkah saat mendengar pertanyaan Flo tadi.


" Gue cuma pengen nanya. Kalau Lo nggak mau jawab, berarti Lo masih ada rasa sama dia." Flo dengan mudah bisa menebak karena dia sudah mengenal Dhafi sejak kecil.


" Sok tau Lo. Mendingan sekarang Lo istirahat dan jangan banyak nanya! Gue cabut." Dhafi kali ini benar-benar pergi meninggalkan Flo sendiri dengan tergesa-gesa. Dhafi terlalu malas mendengar pertanyaan mengenai Tasya lagi dari mulut Flo.


Sementara itu Flo hanya bisa tersenyum getir karena sekali lagi dia tidak bisa menggantikan Tasya di hati Dhafi. Dulu dia pernah berharap perasaannya akan di balas oleh Dhafi. Tapi semenjak Dhafi mengenal Tasya, Flo merasa kesempatannya untuk menjadi orang yang spesial di hati Dhafi hanyalah sebuah angan-angan. Dan ketika Tasya berpacaran dengan Gavin, harapan itu tumbuh kembali hingga saat ini.


Tapi sepertinya nasib baik tidak berpihak kepada Flo karena sepertinya Dhafi masih terjebak dalam cinta sepihak nya pada Tasya walaupun sudah dua tahun berlalu.


' Kapan Lo bisa sadar Fi? Gue suka sama Lo? Hikss...' Flo terisak pelan dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Flo takut jika tiba-tiba Dhafi datang lagi dan melihatnya menangis seperti orang bodoh.


****


" Vin, kita udah siap!" Ucap Tasya bersemangat. Tasya dan Dinda sudah berdiri di hadapan Gavin dan juga Alex sambil memasang senyuman termanis untuk kedua cowok itu.


" Gue mau ke kelas Rhea. Lo semua tunggu gue di parkiran." Gavin segera berdiri dan menyandang tas ranselnya di bahu. Gavin berjalan ke luar kelas dengan santai sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


" Oke!" Walaupun sedikit kecewa karena Gavin lebih memilih menghampiri Rhea terlebih dahulu tapi Tasya berusaha tetap tersenyum melepas kepergian Gavin.


" Lo berdua bareng gue aja." Alex juga berdiri setelah memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya.


Tasya dan Dinda menganggukkan kepalanya dengan semangat lalu mengikuti Alex dari belakang. Mereka semua akan menunggu Gavin terlebih dahulu di parkiran lalu mereka langsung berangkat bersama-sama menuju rumah Gavin untuk menyelesaikan tugas kelompok.


Setelah 15 menit menunggu di parkiran, Gavin akhirnya muncul seorang diri tanpa di dampingi Rhea.


" Rhea mana Vin?" Tanya Tasya penasaran.


" Rhea lagi latihan basket." Jawab Gavin singkat. Gavin kemudian masuk ke dalam mobilnya dan duduk dibalik kursi pengemudi.


Tasya sempat tersenyum samar, saat mendengarkan jawaban dari Gavin tadi. Kali ini tidak ada yang akan menghalangi rencana Tasya untuk lebih dekat dengan Gavin.


Saat Tasya membuka pintu mobil bagian depan, Gavin menatap Tasya dengan tatapan tidak suka pada gadis itu.


" Lo duduk di belakang sama Dinda!" Ucap Gavin dengan tegas. Gavin juga sudah meletakkan tasnya di bangku itu agar tidak ada orang yang duduk di sana.


" Hmm...oke!" Tasya tersenyum canggung dan menutup kembali pintu bagian depan tadi. Tasya lalu membuka pintu bagian belakang dan duduk bersama Dinda yang sudah duduk manis sedari tadi.


" Sorry, tapi cuma Rhea yang bisa duduk di sini." Gavin melirik Tasya sekilas melalui kaca spion yang ada di atas kepalanya. Tasya yang akhirnya mengerti hanya menjawab dengan anggukan kepala lalu berusaha tersenyum untuk Gavin. Gavin lalu menghidupkan mobil dan mulai meninggalkan parkiran sekolah yang mulai sepi. Sementara itu Alex mengikuti dari belakang karena dia membawa motor hari ini.


****


Setelah 20 menit berkendara, akhirnya mereka semua sampai di rumah Gavin. Tasya dan Dinda yang belum pernah ke rumah Gavin, hanya bisa menatap dengan takjub rumah yang sangat besar itu.


" Wah...ini istana apa rumah Vin? Gede bener!" Celetuk Dinda dengan spontan saat masih duduk di bangku belakang.


Sementara Tasya hanya diam sambil menatap sekeliling rumah Gavin yang berlantai dua itu dengan perasaan senang. Tasya menjadi semakin bersemangat untuk mendekati Gavin lagi.


" Buruan turun!" Gavin tidak mwngubris sama sekali omongan Dinda tadi dan memilih segera turun dari mobilnya. Di luar sudah menunggu Alex di sampingnya motornya sambil memainkan ponsel.


" Kenapa nggak langsung masuk aja Lo?" Tanya Gavin sambil mengernyitkan keningnya heran. Biasanya Alex langsung masuk saja ke rumah Gavin tanpa permisi.


" Males gue nggak ada Lo." Ucap Alex dengan jujur. Alex kemudian mematikan ponselnya dan merangkul bahu Gavin agar masuk bersama ke dalam rumah.


Tasya dan Dinda kemudian mengikuti keduanya memasuki rumah yang besar itu sambil mengaitkan lengan satu sama lain.


Saat Gavin, Alex, Tasya dan juga Dinda telah memasuki rumah, mbok Darmi menyambut kedatangan mereka semua dengan antusias. Pasalnya ini kali pertama Gavin membawa teman-temannya selain Alex, Dhafi dan juga Azka ke rumah itu.


" Boleh mbok. Kebetulan Alex juga udah laper." Alex segera berlari menuju ruang makan tanpa menunggu persetujuan dari Gavin.


Gavin yang melihat tingkah laku Alex tadi hanya bisa geleng-geleng kepala. Sahabatnya itu memang tidak tahu malu kalau berurusan dengan makanan.


" Lo berdua ikut makan sana! Gue mau ganti baju dulu." Ucap Gavin dengan santai pada Tasya dan juga Dinda. Gavin lalu memberikan isyarat pada mbok Darmi untuk mengarahkan mereka berdua menuju ruang makan. Setelah itu Gavin langsung menuju kamarnya yang berada di lantai dua untuk berganti pakaian.


" Udah makan aja Lo Lex." Ucap Tasya dengan nada menyindir. Tasya dan Dinda sudah memasuki ruangan makan dan mendapati Alex sudah menyantap makanannya dengan lahap.


" Sorry, tapi gue beneran laper banget." Alex dengan santainya menjawab ucapan Tasya tadi dengan mulut yang penuh dengan makanan.


" Biarin aja non. Silahkan duduk dulu non! Mbok mau ambil piring dulu." Mbok Darmi bergegas ke lemari pantry yang ada di ruangan itu untuk mengambil piring tambahan untuk Tasya dan juga Dinda.


" Makasih mbok." Ucap Tasya dan Dinda dengan kompak. Setelah mereka berdua mendapatkan piring dari mbok Darmi, mereka juga ikut menyantap makanan yang tersaji di meja dengan lahap.


Gavin juga ikut bergabung dengan mereka semua setelah turun dari kamarnya. Penampilan Gavin terlihat lebih segar setelah berganti pakaian, M


membuat Tasya mencuri-curi pandang saat menatap Gavin yang sedang duduk di hadapannya.


Setelah mereka semua selesai dengan makanan masing-masing, mereka langsung berpindah ke ruangan keluarga untuk bersantai.


" Wah... masakan mbok Darmi emang paling top." Alex tersenyum puas sambil mengusap-usap perutnya yang sudah sangat kenyang.


" Emang lo dasar perut Dugong ya Lex! Makanan segitu banyak Lo hajar. Kayak nggak makan sebulan aja Lo!" Mulut Dinda tidak tahan untuk tidak mengomentari aksi Alex tadi. Dinda sampai melongo melihat nafsu makan Alex yang begitu besar. Hampir semua makanan yang tersaji di meja tadi ludes dibabat habis oleh Alex.


" Berisik Lo. Gavin aja nggak protes gue makan banyak. Kenapa Lo yang sewot?" Alex yang tidak terima di sebut perut Dugong, langsung memelototi Dinda dengan kesal.


" Udah-udah, jangan pada berantem. Mendingan kita kerjain tugas kelompoknya sekarang."


Tasya segera mengakhiri perdebatan antara Alex dan juga Dinda. Mereka berdua akhirnya sama-sama diam lalu saling membuang pandangan satu sama lain. Setelah itu Tasya melirik Gavin yang sedang sibuk dengan ponselnya dan mulai mengajak Gavin untuk bicara.


" Vin, gue boleh pinjam laptop Lo nggak buat ngerjain tugas." Ucap Tasya dengan lembut pada Gavin.


" Oke." Gavin segera berdiri dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil laptop.


Setelah beberapa saat, Gavin akhirnya turun dari kamarnya lalu memberikan laptop itu pada Tasya.


" Thanks ya Vin!" Tasya menerima laptop itu dengan senang hati lalu segera menghidupkannya. Dinda juga mulai duduk di sebelah Tasya sambil menunggu laptop itu hidup.


Saat laptop itu sudah sepenuhnya hidup, Tasya dan Dinda menatap dengan lekat foto-foto yang terpampang di layar utama laptop.


" Ciee...yang foto Ama yayang. Mesra amat sih." Dinda mencoba menggoda Gavin yang sedang sibuk bermain ponsel.


" Mana?? sini gue liat!" Alex mengambil laptop yang berada di hadapan Tasya dan juga Dinda dengan cepat.


" Oh iya. Unyu banget Lo Vin!" Alex terkekeh geli melihat berbagai ekspresi Gavin dan juga Rhea di foto itu. Foto itu di ambil saat mereka berdua pergi ke kafe ice cream saat itu.


" Bacot Lo. Buruan kasih laptop nya lagi ke mereka!" Gavin memberikan tatapan maut saat berbicara dengan Alex. Membuat Alex segera memberikan laptop itu lagi pada Tasya dan juga Dinda.


Tasya yang juga melihat foto-foto itu, tidak ikut berkomentar. Tasya hanya menampilkan senyuman palsu sebagai kamuflase agar semua orang tidak berfikir kalau Tasya cemburu melihat semua foto-foto kemesraan Gavin dengan Rhea itu.


Tasya kemudian segera memulai mengerjakan tugas kelompok itu bersama Dinda. Sementara Gavin dan Alex hanya sibuk dengan ponsel mereka tanpa mau membantu sedikit pun.


Setelah berkutat dengan tugas selama hampir satu jam, akhirnya Tasya dan juga Dinda menyelesaikan tugas itu dengan sempurna.


" Vin, tugasnya udah selesai. Lo print masing 4 lembar ya! Jangan lupa Lo sama Alex mesti baca tugas yang kita kerjain ini. Soalnya kita semua bakalan presentasi juga di hadapan bu Mega." Ucap Tasya dengan panjang lebar.


" Oke." Gavin menganggukkan kepala menyetujui ucapan Tasya tadi. Sementara Alex masih sibuk dengan ponselnya.


" Woi...Lex! Lo denger nggak apa yang di bilang Tasya tadi?" Dinda tidak bisa menahan kekesalannya saat mendapati Alex hanya sibuk bermain ponsel tanpa mendengarkan penjelasan dari Tasya sama sekali.


" Iya, gue denger." Ucap Alex dengan entengnya. Alex kemudian tersenyum dengan lebar saat menatap Tasya dan juga Dinda secara bergantian.


" Kenapa Lo senyum-senyum gitu?" Ucap Dinda dengan heran.


" Gue seneng aja punya temen kelompok pada pinter-pinter kayak Lo berdua. Jadi gue nggak perlu susah-susah mikir lagi." Alex kembali tersenyum pada keduanya. Setelah itu dia melanjutkan kembali bermain game di ponselnya.


" Sialan Lo!" Dinda menatap Alex dengan kesal lalu segera merapikan kembali buku-buku ke dalam tasnya.


Saat Tasya hendak berdiri, dia memberikan kode pada Dinda dengan mengedipkan matanya. Dinda yang mengerti dengan maksud Tasya, segera tersenyum dan mengangkat jempolnya sekilas.


" Kita berdua balik dulu ya Vin." Tasya segera berdiri dari duduknya tapi secara tiba-tiba Tasya kehilangan keseimbangannya dan jatuh di pelukan Gavin yang sedang duduk.


" Sorry Vin. Kaki gue tiba-tiba keram." Tasya masih mempertahankan posisinya yang sedang duduk di pangkuan Gavin. Sementara itu Dinda dengan cepat mengambil foto keduanya secara diam-diam.


Alex yang baru sadar kalau Tasya jatuh di pelukan Gavin, segera membantu Tasya untuk berdiri.


" Lo nggak apa-apa Sya?" Dinda pura-pura memperhatikan kaki Tasya. Setelah itu Dinda mengaitkan lengannya untuk membantu Tasya berjalan.


" Gue nggak apa-apa kok." Tasya tersenyum sekilas saat menatap Dinda.


" Thanks ya Lex!" Tasya mengucapkan rasa terima kasih pada Alex yang sudah membantunya berdiri.


" Sip!" ucap Alex singkat sambil menganggukkan kepalanya.


" Sekali lagi, sorry ya Vin. Gue tadi nggak sengaja." Tasya sekali lagi meminta maaf pada Gavin dengan memasang wajah penuh rasa bersalah pada Gavin.


" Nggak masalah." Ucap Gavin dengan santai pada Tasya.


" Lo berdua pulang pake apa? Sorry gue nggak bisa anter." Gavin mengantarkan Tasya dan juga Dinda ke luar rumah bersama Alex.


" Kita berdua pake taksi aja. Makasih ya Vin buat hari ini." Tasya tersenyum senang saat menatap Gavin.


" Gue juga makasih, Lo berdua mau bantu kita." Ucap Gavin dengan tulus. Alex juga ikut mengucapkan terima kasih pada kedua gadis itu dengan tulus.


" Sama-sama. Kita berdua cabut dulu ya. Bye Vin...bye Lex!!" Tasya dan Dinda melambaikan tangan sebelum pergi meninggalkan rumah Gavin. Gavin dan Alex kemudian membalas lambaian tangan kedua gadis itu sekilas lalu segera memasuki rumah lagi.


Tasya dan Dinda menunggu beberapa saat di depan gerbang rumah Gavin hingga ada sebuah Taksi yang lewat. Setelah menaiki taksi itu, mereka berdua tersenyum senang lalu melakukan tos dengan kompak.


" Bagus nggak hasilnya Din?" Tanya Tasya penasaran.


" Ya bagus lah. Siapa dulu dong, DINDA!" Ucap Dinda dengan bangga.


Mereka berdua kembali tersenyum dan melanjutkan obrolan tadi sampai taksi itu mengantarkan mereka ke rumah masing-masing.