Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
49. Penerus Wijaya Group


Pagi ini Gavin tampil rapi dengan setelan kantornya. Di padu padankan dengan jas berwarna abu-abu, semakin menambah kadar ketampanan Gavin saat ini. Setelah Gavin kembali mematut dirinya di cermin, dia segera keluar dari kamarnya dengan penuh rasa percaya diri. Sebelum berangkat ke perusahaan, Gavin dan Papa Ardana terlebih dahulu menyelesaikan sarapan pagi mereka di meja makan.


" Selamat pagi Pa!" Gavin menyapa Papa Ardana yang sudah duduk di meja makan sambil menikmati secangkir kopi. Gavin kemudian duduk di samping Papa Ardana dan langsung mengambil roti bakar coklat yang berada di atas meja lalu memakannya dengan lahap.


" Selamat pagi juga Vin!" Papa Ardana tersenyum puas, menatap Gavin yang sangat tampan dengan setelan kantornya pagi ini.


" Aku keren ya pa?" Ucap Gavin dengan pedenya.


" Iya, kamu keren. Papa Jadi ingat waktu Papa muda dulu." Papa Ardana terkekeh pelan sambil mengingat kembali masa muda yang pernah dia lewati dulu.


Gavin juga ikut tersenyum menatap Papa Ardana lalu kembali melanjutkan sarapan paginya.


Saat Gavin dan Papa Ardana sudah selesai dengan sarapan masing-masing, mereka berdua langsung menuju ke mobil yang sudah terparkir di halaman rumah.


" Vin, kamu nanti akan di bantu sama Edwin untuk mempelajari tentang seluk-beluk perusahaan. Jika ada yang ingin kamu ketahui, Papa harap kamu jangan sungkan-sungkan untuk bertanya pada Edwin atau dengan Papa secara langsung."


Papa Ardana menepuk pundak Gavin, seolah memberi semangat kepada putra semata wayangnya itu.


" Baik Pa. Aku akan belajar dengan sungguh-sungguh." Ucap Gavin dengan serius.


Gavin bertekad tidak akan membuat Papa Ardana kecewa karena telah meminta bantuan pada Gavin untuk ikut mengurus perusahaan. Gavin akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi penerus yang pantas bagi Wijaya Group kedepannya.


Mobil itu akhirnya pergi meninggalkan kediaman Ardana dan langsung meluncur ke perusahaan Wijaya Group.


****


Kedatangan Papa Ardana dan Gavin secara bersamaan pagi ini, mendapatkan perhatian dari seluruh karyawan Wijaya Group. Mereka semua nampak sangat antusias melihat sosok pemuda yang nantinya akan menjadi penerus di perusahaan ini.


Dengan di dampingi Edwin, Papa Ardana dan Gavin langsung menaiki lift khusus dan segera naik ke lantai atas menuju ke ruangan direktur utama.


" Kamu sudah siap untuk tugas pertama kamu hari ini, Vin?" Tanya Edwin yang sedang berdiri di samping Gavin. Edwin sudah lama bekerja dengan Papa Ardana, jadi dia sudah menganggap Gavin seperti adiknya sendiri.


" Siap mas! Aku mohon bimbingan dan bantuannya mas." Gavin selalu berbicara dengan sopan dan penuh rasa hormat pada Edwin, walaupun Edwin hanyalah seorang sekretaris pribadi dari Papanya.


Papa Ardana yang melihat interaksi antara Gavin dan Edwin, hanya bisa tersenyum bangga menatap putranya. Ternyata Gavin telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang rendah hati dan mempunyai rasa hormat kepada semua orang bagaimanapun statusnya.


Saat mereka sudah sampai di lantai atas, Edwin mengarahkan Gavin menuju sebuah ruangan yang bersebelahan dengan ruangan Direktur Utama. Sementara Papa Ardana langsung memasuki ruangannya sendiri dan menyerahkan tugas untuk mengajari Gavin kepada sekretaris pribadinya tersebut.


" Ini beberapa file yang harus kamu pelajari dulu, Vin. Kalau ada yang tidak kamu mengerti, kamu bisa langsung tanyakan saja pada saya." Edwin meletakkan beberapa berkas di atas meja Gavin lalu duduk didepan pemuda itu.


" Baik mas." Gavin menganggukkan kepalanya mengerti lalu mulai membuka salah satu file itu dan membacanya dengan serius.


Ketika Gavin sedang sibuk dengan beberapa file nya, Edwin memutuskan untuk keluar dari ruangan itu dan pergi ke ruangan Direktur Utama.


Ting...Ting...


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Gavin. Membuat konsentrasi Gavin teralihkan pada ponsel yang dia taruh di atas meja


.


πŸ’Œ My Princess πŸ’–


Selamat pagi kak


Semangat ya kerja nya


^^^Selamat pagi juga sayang^^^


^^^Makasih ya buat semangatnya^^^


Iya


Jangan sampai lupa makan ya kak


^^^Sipp^^^


^^^Love you honey^^^


Love you too


^^^Miss you^^^


Iya


Udah kerja sana


^^^Oke sayang^^^


^^^Kiss dong^^^


Nggak mau


^^^Pelit😭😭^^^


πŸ˜›πŸ˜›


😘😘


-----------------------------------------------------------------------


Gavin tersenyum senang saat membaca kembali pesan dari Rhea. Gavin sangat merindukan gadis nya itu walaupun baru satu hari tidak bertemu. Jadi Gavin hanya bisa melihat beberapa foto Rhea yang tersimpan di galeri ponselnya untuk melepaskan rindu.


Saat Edwin masuk kembali ke ruangan gavin, dia mengernyitkan dahinya heran melihat Gavin yang tersenyum sendiri sambil menatap ponselnya.


" Kamu lagi lihatin apa Vin?" Tanya Edwin penasaran. Edwin mendekati meja Gavin dan melihat layar ponsel Gavin yang sedang menampilkan foto seorang gadis yang sepertinya seusia dengan Gavin.


" Cantik juga pacar kamu Vin?" Edwin tersenyum menggoda Gavin lalu kembali duduk di tempatnya semula.


" Iya, dia emang cantik banget mas. Aku pengen serius sama dia mas. Gimana ya mas caranya, supaya dia mau nikah sama aku. Dia selalu nolak kalau aku ajak nikah mas."


Gavin memulai sesi curhatnya pada Edwin pagi ini. Gavin sepertinya lupa kalau dia harus segera belajar tentang perusahaan agar secepatnya bisa membantu Papa Ardana.


" Apa kamu bilang Vin? Nikah?" Edwin terkejut mendengar pertanyaan Gavin yang membahas tentang pernikahan.


" Iya mas, nikah. Emangnya kenapa mas? Kok mas Edwin kaget gitu." Gavin mengernyitkan dahinya heran melihat reaksi Edwin yang berlebihan menurut Gavin.


" Kamu bercanda ya Vin? Umur kamu baru mau 17 tahun Vin. Mau kasih makan apa anak orang. Jangan main-main soal pernikahan Vin! Mas Edwin aja yang udah umur segini belum mikirin soal pernikahan sama sekali."


Edwin hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Gavin yang ajaib.


' Ni bocah mentang-mentang bapaknya orang kaya dan punya perusahaan, dia pengen nikah aja katanya. Anu nya aja baru gede, udah belagu aja dia.'


Edwin menggerutu sendiri dalam hati. Dia merasa di kalahkan oleh bocil seperti Gavin.


" Bilang aja mas Edwin iri sama aku kan? Makanya cepetan cari cewek mas, biar bisa nikah juga secepatnya. Nanti pedang mas Edwin karatan loh!"


Gavin tersenyum mengejek Edwin sambil melirik sekilas apa yang dia bicarakan tadi.


" Sembarang kamu Vin! Mas belum ketemu yang cocok makanya mas belum nikah." Mas Edwin memasang tampang sangar saat menatap Gavin. Dia tidak perduli meski Gavin itu anak bos nya sekalipun.


" Hehehe...jangan marah mas! Aku cuma bercanda tadi. Ya udah, aku kerja lagi ya mas." Gavin tersenyum sekilas lalu mengalihkan tatapannya kembali pada file file yang ada di atas meja.


Sementara Edwin hanya mendengus pelan, lalu pergi ke mejanya sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda tadi.


*****


" Woi... Rhee! Pagi-pagi sudah senyum sendiri Lo!"


Ara sedikit mengejutkan Rhea yang sedang duduk di pinggir lapangan. Ara baru saja sampai dan memilih duduk disebelah sahabatnya itu. Saat ini mereka berdua sudah berada di sekolah untuk mengikuti sesi latihan basket bersama anggota tim basket lainnya.


" Ngagetin aja Lo! Gue lagi baca pesan dari kak Gavin. Makanya gue senyum-senyum dari tadi. Sirik aja Lo!"


Rhea menyikut lengan sahabatnya itu, lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.


" Rhee, besok kita jalan yuk! Kita ajak Shasa sama Bibi sekalian. Gue bete ni di rumah aja."


Ara mengerucutkan bibirnya kesal, karena dia selalu sendiri di rumah walaupun itu hari Minggu. Kedua orang tuanya tidak memperdulikan Ara sama sekali. Mereka hanya memberikan Ara kecukupan materi tapi tidak dengan kasih sayang. Membuat Ara selalu kesepian jika berada di rumah.


" Makanya cari pacar, biar ada yang ngajak jalan." Rhea menjulurkan lidahnya meledek Ara. Membuat Ara menjadi kesal lalu mencubit lengan Rhea dengan gemas.


" Awww... sakit bego! Hobi banget Lo nyakitin gue. Gue laporin ke polisi juga Lo."


Rhea memberikan ancaman pada Ara, sambil menatap sahabatnya itu dengan penuh kekesalan.


" Laporin aja gue nggak takut. Wekk.." Ara juga membalas perbuatan sahabatnya itu. Mereka tidak mau mengalah satu sama lain.


Saat pak Hendrik datang ke lapangan, mereka berdua langsung ikut bergabung dengan anggota tim basket yang sudah berdiri di tengah lapangan.


" Selamat pagi anak-anak. Bapak mau memberikan informasi kepada kalian semua. Sekolah kita akan mengadakan pertandingan basket persahabatan dengan SMA Bina Utama Minggu depan. Jadi bapak harap kita semua dapat berlatih secara intensif untuk memenangkan pertandingan kali ini. Apakah kalian siap?" Tanya pak Hendrik dengan tegas.


" Siap pak!" Semua anggota tim basket putri menjawab pertanyaan pak Hendrik dengan kompak dan penuh semangat.


" Baiklah, kita mulai latihannya!" Pak Hendrik meniup Pluit panjang tanda di mulainya sesi latihan basket hari ini.


****


Saat ini Rhea dan Ara sedang menunggu ojek online masing-masing di depan gerbang sekolah. Mereka berdua beserta anggota tim basket lainnya, sudah menyelesaikan sesi latihan hari ini selama hampir dua jam. Berhubung akan di adakannya pertandingan persahabatan Minggu depan, jadi Pak Hendrik menambah jadwal latihan mereka semua.


" Rhee...gimana besok? Kita jadi jalan kan? Lo tega biarin gue mendem di rumah sendirian. Kita ajak Bibi sama Shasa sekalian deh biar rame. Gue mau ke cafe yang waktu itu gue bilang. Mau ya Rhee?"


Ara memasang tampang memelas, membuat Rhea jadi tidak tega dengan sahabatnya itu.


" Iya deh, kita pergi." Rhea akhirnya menyetujui permintaan Ara. Rhea kemudian mengetikkan sebuah pesan di ponselnya pada seseorang.


" Lo lagi chat sama siapa Rhee?" Tanya Ara penasaran. Dia melirik Rhea yang sedang asik mengutak-atik ponselnya.


" Gue lagi chat sama kak Gavin. Mau kasih tau rencana kita besok." Jawab Rhea jujur tanpa mengalihkan tatapannya dari ponselnya tadi.


" Ooohhh gitu. Kenapa Lo mesti kasih tau kak Gavin tentang rencana kita? Dia kan nggak nanya, Lo mau kemana besok." Ara menunggu jawaban dari Rhea sambil menatap sahabatnya itu dengan serius.


Saat Rhea mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh ara, Rhea dengan tenang menjelaskan alasannya pada sahabatnya yang super cerewet itu.


" Kita berdua udah komitmen buat saling terbuka satu sama lain. Ya contohnya kayak sekarang, gue mesti ngasih tau kemana gue pergi besok sama kak Gavin. Begitu juga dengan kak Gavin. Dia juga udah kasih tau gue rencana dia besok mau pergi ke mana. Kita berdua cuma nggak mau terjadi kesalahpahaman karena kita nggak saling jujur satu sama lain."


Jawab Rhea panjang lebar.


" Pacaran itu ribet ternyata." Ucap Ara asal sambil melipat tangan di depan dada. Ara juga menggelengkan kepalanya mendengarkan alasan yang di sampaikan oleh Rhea tadi.


" Nggak ada yang ribet kok Ra. Coba aja kalau nggak percaya." Rhea tertawa cekikikan melihat ekspresi Ara yang muram karena ucapan Rhea barusan.


Saat keduanya masih sibuk mengobrol, ojek online yang mereka tunggu akhirnya datang juga.


" Jangan lupa sama rencana kita besok ya Rhee! Gue bakalan hubungin Shasa sama Bibi ntar. Awas aja kalau lo jalan sama kak Gavin! Gue nggak bakalan mau temenan sama Lo lagi."


Ara memberikan ancaman sambil menunjuk-nunjuk muka Rhea dengan serius. Ara kemudian menaiki ojek online nya dan tidak lupa memakai helm sebelum pergi.


" Iya, bawel amat Lo!" Rhea juga menaiki ojek online nya dan memasangkan helm juga di kepalanya.


Mereka berdua sama-sama melambaikan tangan, saat motor yang mereka naiki meninggalkan area sekolah dan pulang ke rumah masing-masing.