
Di sebuah ruang keluarga yang nyaman, sudah berkumpul semua anggota keluarga Adinata dengan lengkap. Termasuk juga sahabat baik anak perempuan mereka yang bernama Shasa. Mereka semua baru saja menyelesaikan acara makan malam bersama.
" Yah...bund!! Aku pengen ngomong sesuatu!!" Rhea menatap kedua orangtuanya bergantian sambil menetralkan detak jantung yang berdebar tidak karuan.
" Kamu mau ngomong apa nak? Apa ini ada kaitannya dengan hubungan kamu sama Gavin?" Ayah mencoba menerka-nerka apa yang akan di sampaikan oleh anak gadisnya itu.
" Nggak yah!" Rhea menggeleng kepala menolak apa yang di sampaikan ayahnya tadi. "Hm..Aku dapat tawaran dari guru olahraga buat gabung sama tim Basket Putri yang ada di sekolah. Apa aku boleh ikut yah..bund??" Tanya Rhea sedikit gugup.
Semua orang yang berada di ruangan itu kecuali Shasa, nampak terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Rhea. Mereka tidak menyangka kalau Rhea ditawari untuk bergabung dengan tim basket. Padahal yang mereka tau, gadis itu baru 2 tahunan ini memiliki keahlian bermain basket. Itupun atas didikan dari Rafka.
Saat itu Rhea dengan tidak putus asa, terus meminta Rafka mengajari nya untuk bermain basket. Rafka yang terkenal jahil, selalu memberikan syarat yang aneh-aneh agar Rhea membatalkan niatnya untuk bermain basket. Tetapi karena niat Rhea yang begitu keras, akhirnya Rafka luluh juga dan mulai mengajari adiknya itu bermain basket.
" Kamu nggak salah Rhee? Kamu mau gabung jadi anggota tim basket? Apa kamu lupa, kalau fisik dan stamina kamu itu tidak mendukung untuk kamu melakukan olahraga semacam itu? Ayah nggak mau mengambil resiko, kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu!!"
Ayah menatap Rhea penuh keseriusan dan menolak keinginan putrinya itu.
" Iya, sayang. Kamu ada baiknya nggak usah ikut bergabung dengan tim basket sekolah! Bunda takut terjadi apa-apa sama kamu." Bunda menatap cemas ke arah Rhea.
Sedangkan Rafka sama sekali tidak ikut berkomentar. Rafka tau kalau adiknya itu sangat keras kepala dan tidak akan berhenti sampai keinginannya tercapai. Jadi Rafka hanya memilih diam dan terus mengamati situasi yang terjadi saat ini.
" Tapi aku baik-baik aja yah...bund! Aku mau gabung sama tim basket sekolah!" Sepertinya Rhea tidak ingin permintaannya ditolak oleh kedua orang tuanya.
" Aku mohon satu kali ini aja yah..bund! Aku janji, kalau sampai terjadi apa-apa sama aku, aku sendiri yang bakal mengundurkan diri dari tim basket." Rhea memasang tampang memelas kepada kedua orang tuanya sambil terus berusaha meyakinkan keduanya agar mengizinkan dia ikut bergabung.
Saat Rhea sudah menyelesaikan permintaannya, Ayah dan bunda saling menatap. Ada keraguan yang mereka rasakan saat ingin merelakan Rhea untuk ikut bergabung dengan tim basket. Tapi saat melihat bagaimana keras kepalanya Rhea, akhirnya dengan berat hati Ayah memberikan izin pada putrinya itu.
" Oke, ayah akan turuti permintaan kamu. Tapi kamu harus janji tidak boleh mengingkari kesepakatan yang sudah kamu ucapkan tadi." Ucap ayah penuh keseriusan. Membuat Rhea tersenyum senang sambil menganggukkan kepala tanda setuju dengan apa yang di ucapkan oleh ayahnya tadi.
" Masih ada satu syarat lagi!" Kini bunda mulai ikut membuka suara, membuat semua orang yang ada di sana diam mendengarkan.
" Bunda akan ikut mengawasi dan menjaga kamu selama kamu mejadi anggota tim basket! Jadi kamu harus menuruti apapun yang bunda perintahkan terhadap kamu kedepannya!" Bunda menatap Rhea dengan serius sambil melipat tangannya di depan dada.
" Contohnya apa bund?" Rhea mengernyitkan dahinya bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh bundanya nanti.
" Kamu harus mau minum semua multivitamin dan suplemen yang bunda kasih agar membantu menjaga stamina dan daya tahan tubuh kamu agar tetap kuat!"
Bunda tersenyum senang karena dapat melihat perubahan ekspresi dari wajah Rhea. Bunda tau kalau Rhea sangat tidak suka mengkonsumsi obat maupun multivitamin dari kecil. Rhea selalu saja beralasan dan mengelak saat di suruh untuk minum obat. Jadi bunda ingin melihat bagaimana kesungguhan Rhea kali ini. Apakah gadis kecil nya itu mau melawan ketidaksukaan nya terhadap obat demi bisa bergabung dengan Tim basket.
" Kok kamu diam? Gimana, apa kamu mau menerima syarat dari bunda?" Kini bunda menunggu jawaban dari Rhea, yang sepertinya mulai sedikit takut dengan syarat yang diajukan oleh Bunda.
Saat Rhea masih terdiam, Shasa yang sedang duduk di sebelah Rhea, langsung menggenggam erat tangan sahabatnya itu.
Shasa sepertinya sedang memberikan dukungan pada Rhea agar sahabatnya itu bisa melawan rasa takut yang dia miliki saat ini. Seakan tau apa arti dari genggaman tangan shasa, Rhea segera menganggukkan kepala meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja kedepannya.
" Oke, aku terima syarat dari bunda." Rhea menjawab dengan mantap tanpa ada keraguan sama sekali di dalamnya. Membuat semua orang yang ada di sana tersenyum bangga menatap Rhea.
" Makasih yah!! Makasih Bund! Makasih bang! Dan makasih juga buat Lo Sha! Aku janji akan berusaha menjadi yang terbaik dan akan buat kalian bangga karena udah izinin aku buat lakuin apa yang aku suka."
Rhea tersenyum senang lalu berhamburan memeluk ayah dan bunda bergantian. Rhea juga memeluk Rafka yang telah mengajarinya bermain basket selama ini. Tidak lupa juga memeluk sahabat tercinta nya yaitu Sasha yang sedari tadi duduk manis di sampingnya.
Rhea berjanji akan berusaha dengan sekuat tenaga agar tidak mengecewakan mereka semua.
*****
" Jangan senyum terus, ntar gigi lo kering!" Shasa sedang menyindir Rhea yang masih saja menampilkan senyum terbaiknya meskipun mereka berdua sudah berada kembali di kamar Rhea tadi.
" Nggak bisa lihat orang senang aja lo!! Syirik aja bawaannya!" Rhea mengganti senyumannya dengan mengerucutkan bibirnya kesal mendengar ejekan dari Shasa.
" Nggak usah cemberut! Lo udah jelek, jadi makin tambah jelek kalau Lo gitu!" Shasa semakin mengejek Rhea, membuat gadis itu mendelik sinis kearah sahabatnya itu.
" Lo tu ya..." Rhea menghentikan ucapannya karena mendengar suara dering telepon dari atas nakas yang berada di samping tempat tidurnya.
" Siapa tu Rhee, yang nelfon malem-malem?" Shasa sedikit penasaran dengan penelpon yang menghubungi Rhea malam-malam begini.
" Mana gue tau!" Jawab Rhea singkat lalu segera berdiri dari posisi nya yang sedang tidur tengkurap diatas kasur bersama shasa.
Saat Rhea mengecek ponsel itu, ternyata ada nama Gavin yang tertera di sana yang sedang melakukan video call(VC) untuk menghubungi Rhea.
" Dari Kak Gavin, Sha! Gue angkat dulu ya. Lo jangan berisik!" Rhea memberikan peringatan pada sahabatnya itu sambil meletakan jari telunjuknya di atas bibir sebagai isyarat.
" Iya, gue tau!" Jawab Shasa malas.
Rhea langsung menggeser tombol hijau saat panggilan itu akan diterima. Saat panggilan itu sudah tersambung, Rhea dapat melihat wajah tampan Gavin yang terpampang jelas di layar ponselnya. Malam ini penampilan Gavin terlihat lebih santai karena hanya menggunakan kaos putih polos serta celana pendek selutut.
" Malam sayang! Kamu lagi ngapain?" Ucap Gavin membuka obrolan mereka.
" Malam juga kak! Aku lagi nyantai aja nih! Kok tumben pake VC?" Tanya Rhea binggung.
" Aku kangen! Pengen liat muka kamu yang cantik!" Ucap Gavin lagi membuat pipi Rhea bersemu merah. Sedangkan Shasa yang mendengarkan gombalan Gavin, memasang ekspresi ingin muntah.
" Nggak usah gombal! Aku nggak punya duit recehan!" Balas Rhea lagi.
" Aku nggak gombal Yang!!" Jawab Gavin singkat sambil tersenyum menatap Rhea.
" Ya udah, terserah kamu aja. Kalau nggak ada yang mau di omongin, aku tutup dulu ya telfonnya!!" Ucap Rhea lagi. Rhea tidak enak pada Shasa yang dari tadi menyimak obrolannya yang nggak penting bersama Gavin.
" Sorry deh, terus mau apa lagi?" Jawab Rhea pasrah.
" Kamu udah izin sama om dan tante soal gabung sama tim Basket?" Tanya Gavin kali ini.
" Udah, ayah sama bunda izinin aku!!" Rhea tersenyum senang mengingat momen ketika dirinya di izinkan untuk bergabung dengan tim basket walaupun ada syarat yang harus Rhea penuhi.
" Wahh...selamat Yang! Aku ikut seneng dengerinnya. Tapi kamu harus ingat, tetap harus jaga kesehatan kamu. Aku nggak mau kamu sakit, gara-gara kamu maksain diri buat gabung sama tim Basket." Ucap Gavin khawatir.
" Iya, kamu bawel banget sih!! Kayak bunda aja!!" Rhea menyamakan kebawelan Gavin dengan bunda Citra, membuat gadis itu mencebikan bibirnya kesal.
" Aku nggak bawel Yang! Aku perhatian sama kamu!" Ucap Gavin tidak terima.
" Oke deh, kamu nggak bawel, tapi kamu cerewet! Hahaha..." Rhea tertawa senang karena berhasil meledek Gavin.
" Udah berani ya kamu sekarang, hm? Awas aja besok, aku bakal ngasih hukuman yang berat buat kamu!!" Ancam Gavin pada Rhea.
" Ihh...jahat banget sih!! Aku kan tadi cuma bercanda, sensi amat!" Jawab Rhea sambil memasang tampang sok imut pada Gavin.
" Jangan masang tampang kayak gitu!! Ntar kamu aku culik!" Ucap Gavin lagi. Dia tidak tahan melihat ekspresi Rhea yang begitu imut. Rasanya dia ingin menculik Rhea dan membawanya pulang kerumah.
" Enak aja main culik anak orang! Kamu mau di laporin ayah ke kantor polisi??" Ancam Rhea kali ini.
" Ya enggak lah Yang!! Ntar aku nggak jadi nikahin kamu!!" Jawab Gavin dengan entengnya.
" Siapa juga yang mau nikah sama kamu! Pede bener!! Lagian kita masih sekolah! Masih lama. Aku mau jadi dokter dulu baru pikirin urusan yang begituan." Ucap Rhea sok menolak. Padahal dalam hati bersorak kegirangan karena Gavin mengajaknya menikah.
" Nikah enak Lo Yang!! Aku bakal tetap bolehin kamu jadi dokter kok walaupun nantinya kita udah nikah!" Jawab Gavin santai sambil memamerkan senyuman termanis nya pada Rhea.
" Aku nggak mau!! Pokoknya aku mau sekolah dulu, terus kuliah baru jadi dokter! Habis itu baru deh aku pikirin tawaran kamu tadi." Ucap Rhea panjang lebar.
" Lama amat Yang!! Sekarang aja ya??" Bujuk Gavin lagi. Sepertinya ucapan Gavin kali ini tidak main-main.
" Jangan mau Rhee!!" Celetuk Shasa tiba-tiba. Dia sudah tidak tahan mendengar perdebatan Rhea dan Gavin yang tidak kunjung usai.
" Suara siapa tu Yang??" Tanya Gavin penasaran. Dia dapat mendengar suara orang lain yang tadi menyela obrolannya bersama Rhea.
" Itu suara Shasa. Dia nginep malam ini di sini." Ucap Rhea jujur. Gadis itu mengarahkan layar ponselnya pada Shasa agar Gavin dapat melihat keberadaan sahabatnya itu.
" Oh...ada temen kamu rupanya. Ya udah, besok kita sambung lagi ya Yang! Besok pagi aku jemput kamu!" Ucap Gavin menutup obrolannya pada Rhea malam ini.
" Tapi besok aku mau berangkat bareng Shasa, kak! Kita ketemuan di sekolah aja ya!!" Tawar Rhea. Dia sudah lama tidak berangkat bersama Shasa ke sekolah.
" Oke, tapi cuma kali ini aja ya!!" Gavin tidak ingin mengalah lagi pada sahabat Rhea lain kali.
" Iya kak!" Jawab Rhea pasrah. Rhea merasa Gavin sepertinya tidak ikhlas melepaskan Rhea pergi bersama sahabatnya.
" Ya udah! Kamu istirahat! Jaga kesehatan kamu!! love you Yang! Night!" Ucap Gavin lagi.
" Iya, love you too. Night!" Balas Rhea dan kemudian mematikan sambungan VC itu.
" Dasar pasangan Bucin!! Eneg gue denger omongan kalian tadi! Mendingan gue tidur biar mual gue ilang." Celetuk Shasa tiba-tiba. Shasa kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Rhea. Menarik selimut sebatas dada lalu menutup kedua matanya.
" Yee...bilang aja Lo syirik Sha! Makanya cari pacar biar nggak jomblo lagi!" Rhea tersenyum senang karena berhasil meledek Shasa yang akhirnya membuka mata lagi saat mendengar apa yang diucapkan oleh Rhea.
" Sialan lo, Rhee!! Ledek aja gue terus sampe Lo puas! Gue juga gak pengen kali jomblo. Tapi belum ada yang cocok, mau gimana coba?" Jelas Shasa lagi sambil memasang tampang cemberut pada Rhea.
" Hehehe... jangan cemberut dong say!! Nanti cantiknya ilang." Rhea mencolek dagu Shasa agar sahabatnya itu berhenti cemberut.
" Biarin!!" Jawab Shasa singkat lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
" Shasa yang cantik, jangan marah ya? Ntar kalau gue udah gabung sama tim basket cewek, Lo gue kenalin deh sama senior gue yang cowok. Kan Lo tau sendiri mereka semua cakep-cakep. Lo mau nggak?" Tawar Rhea pada Shasa. Membuat sahabatnya itu membuka lagi selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
" Gue nggak mau!! Gue mau nya bang Rafka aja!" Balas Shasa sambil memasang senyum menggoda pada Rhea.
" Nggak mau! Mending Lo jomblo aja. Gue nggak mau punya kakak ipar pecicilan kayak Lo gini!" Rhea bergidik ngeri membayangkan Shasa menjadi kakak iparnya kelak.
" Jahat banget sih Rhee! Ya udah gue tidur lagi aja. Lo tega sama gue." Ucap Shasa sendu lalu menarik kembali selimutnya. Rhea yang melihat hal itu jadi tidak tega.
" Ya udah, gue izin Lo deket sama bang Rafka. Tapi kalau dia nya nggak mau, Lo jangan maksa ya Sha!" Ucap Rhea memperingati. Mendengar hal itu membuat Shasa langsung bangun dan memeluk Rhea yang ada di sampingnya.
" Yeee....thanks ya Rhee! Gue bakal jadi kakak ipar yang baik buat Lo!!" Ucap Shasa penuh keyakinan.
" Jangan mimpi kejauhan, bang Rafka aja belum tentu mau sama Lo!" Ucap Rhea mematahkan semangat Shasa.
" Lo tu ya, bukannya kasih semangat, malah matahin semangat orang. Dasar sahabat nggak ada akhlak!!" Ucap Shasa bersungut sebal.
" Hehehe...canda say! Ya udah, mendingan kita tidur yuk! Ntar kesiangan lagi." Ucap Rhea lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur lalu juga menarik selimut sebatas dada.
Melihat hal itu, membuat Shasa juga mengikuti apa yang Rhea lakukan.
Setelah beberapa saat, akhirnya kedua gadis itu mulai terlelap dalam tidurnya masing-masing. Mereka saat ini sedang mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah agar lebih bertenaga untuk memulai aktivitas keesokan harinya.