MAAF AKU MENYERAH

MAAF AKU MENYERAH
Usaha Kiki


Jam istirahat tiba ke empat sekawan berjalan beriringan menuju kantin, tempat langganan ke dua setelah lapangan.


Ke empat biang kerok yang selalu kena hukuman namun entah kenapa tidak merasa kapok memiliki tempat khusus makan sambil ghibah,


Pojokan sebagai tempat asik mereka berempat.


"Eh mau makan apa nih." Tanya Tata semangat membuat Bintang mengerutkan alis nya pasal nya Tata adalah makhluk termalas ketika di kantin, sebab ia tak suka mengantri. Faisal juga Marvel adalah langganan pesan memesan.


"Gue Bakso Ta, inget nggak pake bakso, ayam nya di banyakin sama sawi hijau nya." Cletuk Faisal membuat Tata meradang.


Plak.


"Bilang aja mie ayam." Tata terkekeh melihat Faisal mendapat geplakan dari Bintang.


"Yah kan fariasi baru." Kilah Faisal.


"Kalo lo Mar mau pesen apa?" Tanya Tata.


"Gue mau lontong yang ada daging nya." Seru Marvel membuat Bintang menghela nafas nya.


"Bilang aja soto." Ketus nya Bintang.


"Terus lo Bin mau makan apa?" Bintang nampak berfikir.


"Gue mau lato lato basah." Jawaban Bintang membuat semua mendelik.


Cetak.


"Eh biang kerok! Otak gue traveling pea." Sembur Marvel.


"Porsi dobel ya Ta." Seru Bintang sedang Tata mengangguk dia berlalu memesan kemauan ke tiga sahabat nya.


"Itu anak kenapa? semangat amat." Tanya Bintang pada ke dua lelaki di hadapan nya.


"Dia lagi senang karna papah nya pulang dari luar kota, acara seminar." Jawab Marvel.


"Papah Budi maksud lo?" Marvel mengangguk mendengar cletukan Bintang, mereka jelas tahu siapa papah Budi dan ayah Dimas.


"Ho oh."


"Tunggu tunggu dari apa yang kalian bicarakan selama ini, dan kalian jelas tahu ekspresi Tata bagaimana ketika melihat papah Budi. Jangan bilang lelaki matang yang ia taksir papah Budi?" Bisik Bintang bahkan sampai mencondong kan tubuh nya ke depan agar mendekat pada ke dua lelaki sahabat baik nya ini.


Dan Bintang tercengang saat Faisal dan Marvel mengangguk, walau mereka ragu namun dugaan mereka juga tak salah,


Tata memang tak pernah menceritakan semua nya secara gamblang namun dari gerak gerik nya jelas terlihat Tata memiliki rasa lain kepada lelaki matang yang ia panggil papah saat umur nya baru tujuh bulan.


"Kalian juga merasakan itu kan? Lalu apa ayah serta bunda nya tahu." Bisik Bintang kembali.


"Gue rasa nggak, itu anak pinter banget buat nutupin perasaan nya, ketika sedang berkumpul pasti dia akan menjelma menjadi gadis manis." Decak Marvel.


"Gila itu anak." Sahut Bintang.


"Dan ini bakso lo Bin, bakso kuah ok, bukan lato lato basaah." Bintang terkekeh melihat sahabat nya menggerutu.


Kantin seketika heboh saat kedatangan lelaki tertampan, ketua osis, tajir melintir.


Tanpa Bintang menengok pun ia tahu tunangan nya lah yang datang, sebab ia merasakan getaran di pergelangan tangan nya.


Cup.


Langit duduk di sebelah Bintang setelah berhasil mendapat kan kecupan di pipi nya.


"Aaaa." Bintang terkekeh melihat Langit yang manja, dia menyuapi Langit, untung lah ia pesan dengan porsi jumbo.


"Langit, aku sudah pesan kan bakso untuk mu." Bintang memutar mata nya malas melihat Kiki menaruh semangkuk bakso untuk Langit.


"Buat lo." Ujar Langit mendorong semangkuk bakso dari Kiki untuk Bayu sahabat nya.


"Oh terimakasih Kiki." Ucap Bayu tersenyum pada Kiki yang sedang menghela nafas nya.


Sedang TAMARA hanya mampu mengulum bibir nya menahan tawa melihat penolakan Langit yang secara terang terangan.


"Langit aku pesan kan lagi yah, itu bakso Bintang pedes loh, nanti perut kamu sakit." Ingin rasa nya Bintang menyiram kuah bakso pedas ini pada mulut Kiki.


"Nggak masalah, asal Bintang yang menyuapi semua terasa nikmat." Sahut Langit dengan menatap Bintang intens.


"Kamu pikir kan juga lambung kamu Lang, kamu juga Bin, kan kamu tahu Langit selalu makan satu piring dengan mu, kenapa bakso nya kamu kasih cabai." Kiki memang berbicara dengan nada lembut namun percayalah hati Bintang yang memang tak bisa menahan amarah pun memanas.


Bintang memakan bakso nya dan menaruh nya di dalam mulut.


Cup.


"Begini tidak akan pedas kan, bukan begitu." Ujar Bintang pada Kiki yang sedang mengepal kan tangan nya.


Bagaimana tidak marah, saat dengan terang terangan Bintang menyuapi Langit dengan mulut nya.


Sedang yang lain nya hanya menganga melihat kelakukan absurd Bintang, namun tidak dengan Langit yang bahkan meminta Bintang untuk menyuapi nya dengan cara yang sama seperti barusan.


"Aaa mau lagi." Rengek Langit membuat semua memutar mata nya malas.


"Aku sudah kenyang." Ujar Kiki sembari melangkah pergi meninggal kan kantin dengan air mata yang terus menetes.


"Kiki ini bakso nya sudah di bayar belum." Teriak Bayu namun Kiki enggan menengok.


"Jangan jangan belum di bayar." Ledek Marvel.


"Aseem itu anak, gue makan juga bakso nya." Cletuk Bayu sembari memakan bakso milik Kiki mubazir kan kalau di buang.


Gue yakin ini bukan akhir dari usaha lo Kiki. Batin Bintang mendengus, ia percaya masih ada cara lain bagi Kiki untuk mendapat kan perhatian Langit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...