
Makan malam terasa begitu nikmat di kediaman Faisal.
"Kamu nggak nginep aja Bin, lagian besok kan minggu loh." Tanya mom penuh harap, dia tahu ke dua anak nya tidak membelikan apa yang Bintang ucap kan, namun dengan cara Bintang yang seperti itu akan membuat hubungan mereka semakin dekat, akan ada bahan untuk saling berbicara mendekat.
"Kalau malam minggu kaya gini lagi pada kumpul mom di rumah, ini aja nanti Bintang langsung ngumpul." Ucap Bintang sambil mengunyah makanan nya.
"Telen dulu baru ngomong." Sembur Marvel yang memang tak bisa halus pada Bintang.
"Hahahaha, mom mau berterimakasih sama kalian semua nya, berkat persahabatan kalian, mom yang selama ini merasa kesepian hanya dengan Faisal, namun ada nya pertemanan kalian mom bisa bersama dengan daddy, bisa punya teman seperti mamah Bulan, emak Tia, dan Bunda Lia, mom sangat bahagia." Ucapan mommi Fisi membuat Marvel dan Faisal tersentil perasaan mereka. Betapa mereka sangat egois tak mau menerima pernikahan mereka.
"Mom tenang aja, akan selama nya kita bersahabat." Ucap Bintang dengan riang. Di bawah meja tangan Bintang dan Tata saling bertos ria.
"Daddy berharap adik kalian ini cantik dan baik seperti Bintang dan Tata." Ujar daddy pada ke empat sekawan yang sedang ada di meja makan.
"No / tidak.!" Seru Marvel dan Faisal kompak menatap Bintang tajam, membuat Bintang memutar mata nya malas.
"Mempunyai adik secantik dan sebaik gue tuh anugrah buat kalian tahu." Dengus Bintang agak nya si anak emak Tia ini emosi.
"Darah tinggi iya." Gumam Marvel namun masih bisa di dengar semua nya, membuat semua tertawa kecuali Bintang.
Sedang untuk mom dan daddy mereka sangat bersyukur melihat keramaian di rumah ini, niat nya memang mereka akan tinggal di rumah Faisal.
"Mom ada kamar kosong nggak?" Marvel dan Faisal saling lirik nampak nya mereka berdua tahu ada yang tak beres dengan tingkah biang kerok satu ini.
"Ada sayang, memang nya kenapa, kamu mau menginap?" Bintang menggeleng.
Malu?
Jelas Marvel malu sebab ia bahkan masih canggung dengan ibu tiri nya ini.
Dan yang paling utama dia bahkan tak pernah mengucap kan kata itu.
"Kalau untuk Marvel, mom sudah siapkan kamar khusus di sebelah Faisal di lantai dua, interior nya sama persis dengan yang ada di rumah nya, agar ketika Marvel mau menginap dia tetap nyaman di sini, supaya tak canggung." Marvel mendongak menatap wanita yang sedang hamil di hadapan nya, ia tak menyangka ibu tiri nya bahkan sudah menyiapkan semua nya agar diri nya nyaman tinggal di sini.
"Nah kan, baik banget emak lo pada, serius deh lo berdua beruntung punya emak dan bapak yang super baik." Pujian Bintang membuat ambyar rasa haru di hati Marvel, kini berganti dengan decakan nya, entah lah rasa nya jika melihat bocah biang kerok ini emosi nya memuncak, namun untuk membenci nya pun ia tak sanggup diri nya terlalu sayang pada sahabat yang sudah ia anggap adik ini.
Sedang di kediaman emak Tia semua heran dengan tingkah Langit yang sedang terkekeh melihat ponsel nya.
"Eh Langit lu kok anteng antengan aja, itu tunangan lu belum balik sampe malem nyante aja lu." Gerutu emak Tia, sedang Kiki tersenyum, dia merasa Langit tak peduli lagi pada Bintang.
"Sebentar lagi dia juga pulang mak, dia sedang di mobil di anter Marvel dan Faisal." Jawab Langit terkekeh, dia bisa mendengar semua usaha Bintang untuk mendekat kan ke dua keluarga sahabat nya.
"Dari mana kamu tahu?" Tanya emak Tia serius.
"Eh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...