MAAF AKU MENYERAH

MAAF AKU MENYERAH
permintaan om Kevin


"Halo om." Langit mengerutkan alis nya saat mendengar suara nafas om Kevin yang menggebu.


"Ada apa om?"


"Kiki berusaha bunuh diri lagi." Mata Langit membola bunuh diri lagi? Arti nya bukan satu kali ini.


"Maksud om?" Langit berusaha mencerna apa yang ia dengar.


"Bisa kamu datang ke sini nak." Langit melihat Bintang yang sedang terlelap.


"Pulang sekolah aku akan kesana, Bintang sudah tidur, tidak mungkin aku meninggal kan nya tanpa pesan om, maaf." Jelas nya, di sebrang sana Kevin nampak menghela nafas nya.


"Besok aku akan kesana bersama Bintang dan rombongan." Sambung Langit.


"Nak, bisa kah kamu datang sendirian." Langit mengerutkan alis nya, sendirian tanpa Bintang, tanpa keluarga nya.


"Baik lah, Langit tutup dulu telfon nya om, selamat malam."


"Malam nak, terimakasih." Langit berjalan menuju Ranjang, entah lah rasa nya akan terjadi sesuatu yang tak terduga bagi nya.


Langit memeluk tubuh Bintang yang bisa membuat nya tenang.


Keesokan hari nya di sekolah.


"Biang kerok mana?" Tanya Marvel pada Tata yang lagi duduk di bawah pohon sambil makan jambu.


"Noh." Marvel mengikuti arahan dari Tata dan mendongak ke atas.


"Hais, nyangkut lagi nggak?" Teriak Marvel pada Bintang yang lagi nglempar jambu pada Tata.


"Aman." Sahut Bintang sembari makan jambu.


"Lo mau kagak?" Sambung Bintang.


"Lempar satu."


Pluk


Marvel menangkap nya dan memakan nya memang manis hingga terdengar suara bel pertanda masuk kelas.


"Ayok Bin masuk." Ajak Tata.


"Ok gue tu eh." Ucapan Bintang terhenti saat rok nya tersangkut entah lah kenapa bisa selalu nyangkut.


"Kenapa? Nyangkut lagi lo." Decak Marvel sembari naik ke atas.


"Hehehehe biasa, Mana Fas?" Tanya Bintang saat mereka sudah turun dan menuju kelas mereka.


"Lagi gue suruh buat beli minum buat lo pada, nurut dia mah hahahaha." Bintang dan Tata menggeleng saat memasuki kelas nampak wajah masan Faisal menyambut kedatangan mereka.


"Udah nggak usah manyun, nih jambu." Bintang memberikan Faisal jambu yang ia petik dan Faisal juga memberikan mereka minum yang ia beli.


Kring kring kring.


Waktu jam pulang kegembiraan tersendiri bagi kelas ips.


"Jadi latian nggak?" Tanya Tata di angguki Bintang.


"Halo sayang, ada apa?" Bintang tersenyum sebelum menjawab nya, rasa nya Langit lelaki sempurna yang pernah ia temui setelah pada hot daddy.


"Aku pulang telat, mau latian dulu, kamu mau pulang dulu juga nggak papa, nanti aku balik sama Mar." Pinta Bintang sebab untuk menunggu nya ia kasian kepada kekasih nya.


"Baik lah, aku ada urusan di luar, kalau sudah sampai rumah kabari aku hemm."


"Iya seperti biasa,"


"Aku tutup telfon nya dulu sayang," Bintang menaruh ponsel nya saat sudah di matikan oleh Langit,


"Yuk." Ajak Bintang mereka segera ke tempat latihan, Bintang adalah anak cheerleaders dengan Tata, mereka sengaja agar bisa mendampingi Marvel dan Faisal bermain basket.


Kekompakan mereka tak di ragukan lagi.


Sedang Langit yang memang sudah berjanji dengan om Kevin pun bergegas pergi ke rumah sakit.


Langkah Langit cepat menuju ruang rawat inap yang om Kevin berikan.


"Langit." Langkah Langit terhenti saat mendengar sapaan dari om Kevin, segera ia mendekat menghampiri dan menyalami nya.


"Loh kok om di luar?" Kevin merangkul bahu Langit dan membawa nya ke taman rumah sakit.


"Kita bicara di sini saja nak agar tak ada yang dengar, rahasia lelaki." Bisikan Kevin di sambut kekehan oleh Langit, mereka berdua duduk di salah satu bangku taman.


"Memang ada hal apa om, kenapa Langit tidak perlu membawa siapapun." Kevin memberikan kopi pada Langit sebelum menjawab pertanyaan bocah lelaki yang sudah ia anggap anak.


"Maaf kan om jika mengganggu waktu luang mu nak," Langit terdiam menunggu lanjutan dari ucapan om Kevin, ia yakin ini bukan hanya membahas hal yang sederhana.


"Kiki mencoba bunuh diri, dan ini bukan kali pertama nya." Langit dapat melihat wajah sendu sahabat dari mamah nya ini.


"........"


"Maafkan om jika harus membawa mu dalam masalah ini, sebab Kiki mencoba bunuh diri karna melihat kau bersama dengan Bintang." Lirih Kevin.


Langit membola mendengar penuturan om Kevin, rasa nya ia tak menyangka Kiki bisa senekat itu.


"Kiki kan tahu aku dan Bintang bahkan sudah bertunangan." Kevin mengangguk bahkan dari helaan nafas nya pun rasa nya seperti orang yang sudah putus asa.


"Om tahu nak, namun Kiki tak bisa menerima itu, dia ingin agar bisa bersama dengan mu nak." Langit menggeleng mendengar penjelasan dari om Kevin.


"Maaf om, tapi aku tak mungkin meninggal kan Bintang, om tahu itu dengan pasti." Kevin mengangguk saat mendengar nada dingin dari Kevin.


"Om tahu nak, kau juga Bintang sudah seperti anak kandung ku juga, tapi nak, bisakah om minta satu saja permintaan pada mu?"


"Om."


"Kiki putri satu satu nya om, rasa nya om tak sanggup kehilangan nya, om mohon nak," Langit terdiam enggan menjawab hingga mata nya terpejam saat mendengar ucapan om Kevin selanjut nya.


"Kau tetap bisa bersama dengan Bintang nak."


Deg.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...