
Bintang memutuskan untuk tak berangkat sekolah menemani Langit yang sedang lemas di ranjang.
Kabar tentang Langit yang sakit sontak menjadi kehebohan di keluarga, khusus nya keluarga emak yang emang sangat menyayangi menantu nya ini.
Kehebohan itu terjadi sebab jika Langit tumbang arti nya dia ada masalah serius,
Namun apa?
Sedang Kevin mengurut dahi nya, rasa bersalah itu menyeruak saat belum apa apa sudah menjadi beban untuk Langit.
Hanya karna putri nya, Kevin pun menanggung beban yang berat.
"Bintaaaang." Teriak emak Tia yang lagi di dapur mengaduk bubur untuk Langit.
"Kenapa mak." Jawab nya sembari memotong beberapa buah untuk cemilan diri nya dan Langit di kamar nya.
"Kamu tahu kenapa Langit sampai bisa drop." Bintang menghela nafas nya mendengar pertanyaan dari ibu kandung nya, karna jujur saja ia pun tak tahu menahu akan hal ini.
"Jangan bilang kamu tidak tahu?" Tebakan yang pas untuk Bintang saat melihat putri nya nampak enggan menjawab pertanyaan nya.
Klik.
Mematikan kompor dan mendekat pada putri nya.
"Arti nya ini sangat serius untuk Langit, sebab ia tak membicarakan nya dengan mu." Bintang mengangguk, ia pun sadar, namun dengan status mereka yang sudah bertunangan apakah harus ada rahasia seperti ini.
"Ketahuilah nak, terkadang kita harus menyimpan sebuah rahasia untuk menjaga perasaan pasangan kita, emak harap, apa pun itu kamu dan Langit bisa saling menguat kan, bisa saling bergandengan tangan." Saran emak Tia, dia hanya tidak ingin hubungan yang sudah terjalin dengan erat harus berakhir begitu saja.
Bintang menatap emak, ia sadar emak pernah bilang sebagai wanita jangan begitu mencintai lelaki jadi ketika pasangan kita menyakiti, hati kita tak akan begitu terluka namun Bintang yang notaben nya sudah bersama dengan Langit sejak umur enam tahun,
Hidup bersama, saling menyayangi bahkan dengan cinta yang berlimpah dari Langit Bintang seolah tak bisa kemana mana, hati nya sudah tepaut, hati nya sudah terkunci, hati nya sudah tak bisa berlari namun.
"Bintang usahakan mak." Beberapa kata yang Bintang ucap kan membuat emak menghela nafas nya.
Kesabaran yang hanya setipis tisu.
Emak berbalik mengangkat teflon dan menuangkan pada mangkuk bubur yang sudah jadi.
"Berikan pada Langit, suapi dia." Bintang mengangguk, menata bubur serta potongan buah dan minum di atas nampan.
"Bintang ke atas dulu mak." Pamit nya tanpa menunggu jawaban dari emak nya.
Ketika memasuki kamar nya Langit sedang terbaring di ranjang dengan ponsel di tangan nya.
"Kalau pusing jangan mainan ponsel dulu." Ujar Bintang sembari menaruh nampan nya mengambil bubur hendak menyuapi Langit.
"Aku hanya mengecek saja, siapa tahu ada pria yang menggodamu." Bintang berdecak, rupa nya Langit sedang mengecek ponsel nya.
"Tak akan ada yang berani sayang, semua sudah tahu status ku, Aaa." Langit menerima suapan dari Bintang, dia memang sering mengecek ponsel Bintang.
Memang tak ada privasi untuk mereka berdua, bahkan gambar layar utama di ponsel mereka pun sama foto mereka saat sedang berpelukan, beda nya, kalau ponsel Bintang, foto berpelukan saat di sebuah tempat wisata, sedang Langit foto mereka berdua yang sedang berpelukan di atas ranjang.
"Habis kan bubur nya, ini buatan emak." Langit mengangguk selalu menerima suapan dari Bintang.
Langit nampak sangat bersemangat bubur buatan emak Tia, sedang yang menyuapi nya Bintang tersayang sungguh kenikmatan yang tiada tara.
"Aku harap, sakit mu bukan sebab karna aku." Langit menatap Bintang yang tiba tiba berbicara dengan nada serius.
"Dan aku berharap dengan sangat, ini bukan pertanda rusak nya hubungan kita Langit."
Deg.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...