MAAF AKU MENYERAH

MAAF AKU MENYERAH
Jangan hiraukan dia.


Selama pelajaran Bintang tak bisa fokus, dia masih memikir kan sikap serta ucapan Langit, yang menurut nya aneh.


Kiki


Satu nama yang terngiang di benak nya sedari tadi, bagaiamana tidak, ia tahu Kiki sahabat diri nya juga Langit, namun sikap Kiki yang semena mena terkadang membuat Langit marah namun kenapa hari ini seolah semua nya sirna.


"Bukan kah aku sudah bilang semalam, apa pun yang terjadi nanti tetap lah bersama ku, karna aku sangat mencintaimu Bintang ku." Kata kata Langit selalu Berhasil mencuri fokus nya.


Bukan kata kata cinta itu. Namun lebih ke ada apa sebenar nya, mungkin ia akan bertahan jika itu hanya satu dua kali namun jika terus berlanjut entah apa yang akan terjadi nanti.


Kriiing kriing.


"Lo kenapa sih Bin?" Tata menyikut lengan Bintang yang sedang melamun.


"Kenapa?" Tata mendengus menaruh buku ke dalam tas nya, begitu juga Bintang melakukan hal yang sama.


"Lo nggak fokus say, lo kaya ada beban berat gitu, lo nggak mau bagi bagi sama kita kita." Decak Tata, Bintang terkekeh saat melihat wajah serius Tata.


"Sudah lah, gue laper nih mau makan. Yuk kantin." Ajak Bintang menggandeng tangan Tata di ikuti ke dua sahabat lelaki nya.


Setibanya di kantin seperti biasa mereka selalu berkumpul di bangku mereka.


Pojokan.


Sembari menunggu pesanan Bintang melihat sekeliling, sesekali ia juga melihat gelang nya, kemana Langit.


"Nih Bin makan dulu, nggak usah nunggu Langit." Ujar Marvel menaruh soto di depan Bintang.


"Eeemm." Bintang memakan nya namun tetap saja aneh buat nya.


Karna merasa tak tahan lagi ia menghubungi Langit.


Tuuuut tuuuuut


Tak biasa nya di dering pertama Langit tak langsung menjawab, hingga di dering ke tiga.


"Halo sayang." Bintang lega Langit menjawab nya, ia khawatir Langit kembali sakit.


"Eeemm aku makan di kelas." Alis Bintang menyatu di sela sela kunyahan nya, makan di kelas, apa ia tak salah dengar.


"Langit makan lagi, nasi goreng buatan mamah enak kan?"


Deg.


Dada Bintang bergemuruh saat mendengar suara Kiki,


Ck ternyata Langit makan siang di kelas bersama dengan Kiki. Decak Bintang sembari mematikan sambungan telfon nya.


Klik.


Menonaktif kan ponsel nya adalah jalan terbaik saat ini bagi Bintang.


Enggan berurusan lagi dengan Langit.


"Gue balik ke kelas." Tata Mar serta Faisal menganga melihat mimik marah yang Bintang tunjukan pada mereka pasti ada hubungan nya dengan Langit.


"Bin pulang sekolah mau main nggak?" Tawar Marvel sembari merangkuh bahu Bintang.


"Boleh, sekalian gue mau lihat nyokap lo yang lagi hamil." Marvel berdecak mendengar ocehan Bintang.


"Nyokap Faisal itu." Faisal mengangkat jempol nya pada Marvel tanda setuju.


"Nggak usah pada egois lu pada, kasian bokap nyokap lo, kasihan juga adik lo pada, emang kalian nggak kasihan jika nanti tuh bayi brojol kalian enggan mengakui nya sebagai adik." Ucapan Bintang membuat langkah Mar dan Fas terhenti.


"Lagian, bukan nya kalian harus nya bersyukur anak tunggal seperti kalian memiliki adik, kalian juga nggak bisa memikirkan diri kalian sendiri, ada nyokap lo Fas yang rela menjanda setelah bokap lo mati, dan ada daddy lo Mar yang betah menduda setelah mommy lo mati, tidak kah kalian kasihan? Di saat mereka menemukan tambatan hati nya setelah bertahun tahun menyendiri namun sekarang harus jaga jarak lagi akibat ulah anak anak durhakim kaya kalian. Ck untung kalian bukan anak anak gue." Sambung Bintang menggeret Tata yang sedang terkekeh melihat wajah Marvel dan Faisal yang sedang tergugu mendengar ucapan Bintang.


"Jangan hiraukan mereka." Ucap Bintang sambil berjalan menuju kelas, namun langkah nya terhenti karna panggilan dari langit.


"Sayang." Bintang mendengus mendengar suara Langit yang nampak memburu akibat lari mencari nya.


"Kali ini jangan hiraukan dia." Gumam Bintang sembari berjalan menuju kelas nya dengan langkah cepat tanpa peduli dengan ke tiga lelaki yang sedang tertegun pada Bintang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...