MAAF AKU MENYERAH

MAAF AKU MENYERAH
tingkah Langit


Langkah Langit seolah berat menuju kamar Bintang, bahkan Langit tak merespon sapaan para asisten rumah tangga.


Ceklek.


Bintang yang sedang berkirim pesan di grup tersentak kaget saat Langit menindihi nya.


"Baru pulang hem." Bintang mengelus rambut Langit,


"Heemmm."


"Mandi lah terlebih dahulu, setelah itu aku temani istirahat." Langit mengangguk berjalan gontai menuju kamar mandi.


"Ada apa dengan nya." Gumam Bintang sembari menyiap kan baju ganti untuk Langit.


Bintang merasa ada yang tak beres dengan tunangan nya namun lebih memilih diam.


Bintang mengikuti pergerakan Langit yang keluar dari kamar mandi dan berganti baju.


"Kemari." Bintang merentangkan tangan nya agar Langit datang memeluk nya, ia tahu Langit butuh kenyamanan yang hanya bisa dapat dari nya.


"Kenapa hemm." Langit memeluk erat Bintang, Langit masih enggan menjawab, dan Bintang urung menanyakan kembali.


Beberapa saat keheningan mereka rasakan hingga Bintang tahu Langit sudah terlelap,


Namun gumaman Langit membuat elusan tangan Bintang terhenti.


"Jangan tinggal kan aku."


Bintang sadar ada yang tak beres dengan tingkah Langit,


Bintang menghela nafas nya saat kini ia menyesal menjadi bodoh, coba saja diri nya pintar pasti ia tahu Langit pergi kemana tadi.


.


.


.


.


Malam hari di kediaman Mareeta, Bintang nampak sibuk membawa makanan menuju lantai atas di mana letak kamar nya dan Langit berada.


"Sayang, kenapa bawa makanan ke atas?" Bintang menghentikan langkah nya dan melihat ke samping.


"Mau papah bantu bawa, seperti nya kamu kerepotan nak." Bintang menggeleng mendengar tawaran dari papah Lintang.


"Bintang bisa papah, Papah ke bawah aja soal nya mamah udah kangen." Cletukan Bintang membuat papah Lintang terkekeh.


"Hahaha kamu ada ada aja, ya sudah papah ke bawah yah cup." Bintang mengangguk tersenyum pada papah Lintang saat menerima kecupan sayang di kening.


Langkah Bintang hati hati menuju ranjang, menaruh makanan nya di meja nakas sebelah ranjang.


"Sayang, bangun dulu sebentar, kita makan malam dulu yah," Langit membuka mata nya pelan pelan, rasa nya kepala sungguh berat.


Bintang membantu Langit duduk dengan nyaman agar ketika makan ia merasa nyaman.


"Aaa." Langit menerima suapan dari Bintang.


Bintang terus telaten menyuapi tunangan nya hingga makanan di piring tandas sampai habis.


Memberikan obat serta membantu Langit untuk tidur kembali.


"Peluk aku." Lirih Langit merentangkan tangan nya meminta pelukan dari Bintang.


"Tidur lah, aku akan selalu menemani mu." Bintang mengelus rambut Langit dengan pelan pelan, menikmati wakru berdua,


Aku tahu kau sedang banyak pikiran Langit, hanya saja kau enggan membagi nya dengan ku. Batin Bintang bergumam.


Ia tahu bagaimana Langit, sepuluh tahun bersama membuat nya faham betul karakter Langit.


Langit tak pernah sakit, ia selalu bugar, namun ketika ia sampai tumbang arti nya beban di pikiran nya begitu berat.


Dan itu terjadi sudah beberapa kali ini,


Dulu sewaktu smp Langit pernah tumbang seperti ini saat ada lelaki yang mendekati Bintang, dan menemui emak Tia secara serius, meminta Bintang menjadi tunangan nya.


Kejadian itu membuat Langit emosi, saat berbicara dengan papah mamah nya bahwa ia ingin menikahi Bintang detik itu juga papah Lintang justru tertawa sebab mereka masih smp.


Permintaan Langit di anggap angin lalu hingga ia jatuh tumbang karna beban di pikiran nya yang begitu berat.


Dan itu semua menjadi pelajaran bagi Bintang, ia yang merawat nya, jadi ia hafal Langit membutuh kan diri nya, pelukan nya, juga elusan manja yang ia berikan.


"Aku tahu ini semua ada hubungan nya dengan ku." Gumam Bintang, ia akan sabar hingga Langit sendiri yang akan berbicara pada nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...