
Setelah makan malam mereka semua berkumpul di ruang santai untuk sekedar bercanda gurau menunggu waktu pulang.
"Bintang sini deket papah." Bintng duduk di sebelah papah Lintang, Fahmi mendengus melihat nya, ia yang notaben nya bapak kandung Bintang seolah tak memiliki waktu bersama dengan putri nya, selalu di monopolo lelaki Mareeta ini baik yang tua atau yang muda.
Brug.
Semua menghela nafas nya ketika melihat Langit menjadikan paha Bintang sebagai bantal.
"Kaki nya ih." Dengus Ale pada Langit saat kaki Langit menempel pada Ale.
"Orang lagi rame juga, sana gabung sama yang lain." Dengus Bulan menunjuk Xelo dan Robi yang sedang bermain catur.
"Lah itu apa." Tunjuk Langit tak kalah sengit saat melihat Farhan dengan posisi yang sama pada mamah Bulan.
"Iiizz diam lah." Ucap emak sembari menaruh jajanan yang ia buat di tengah tengah, sontak langsung di tubruk pada kurcaci.
"Baby sini sama opa." Pinta Fahmi pada cucu nya Baby anak Robi dan Widia yang masih setahun seengah itu.
"Ooooopa." Semua gemas dengan bocah gembul yang sedang berjalan sempoyongan bahkan tak segan mendapat ledekan dari pada sepupu, serta om dan tante nya.
"Itu kenapa miring miring gitu kaya lagi bawa beras se karung." Cletuk Langit di sambut tawa memang benar Baby berjalan dengan miring entah lah, apa karna jalan yang betul lancar dengan menampung bobot yang besar.
"Iz jangan di ledek kasian." Decak Bintang namun tangan masih setia mengelus rambut Langit.
"Bagaimana sekolah mu sayang." Bintang tersenyum melihat papah Lintang yang bertanya pasa sekolah.
"Asik papah." Ujar Bintang antusias membuat Langit mendelik.
"Asik asik, kamu itu di hukum setiap hari kok asik." Gerutu Pangit sembari membenamkan wajah nya pada Bintang membuat Bintang kegelian.
"Geli ih."
"Kamu di hukum setiap hari?" Tanya Ale dan semua menatap Bintang penasaran.
Ck
Decak semua nya saat melihat anggukan tanpa dosa dari Bintang.
"Mau jadi apa lu hah, di hukun setiap hari." Decak emak melempar bantal pada Bintang.
Hap.
Emak mendengus saat melihat Lintang menangkap bantal dengan cengir nya.
"Jangan di lempar ih kasihan anak papah." Bertambah lah rasa kesal di hati emak saat Bintang di bela oleh keluarga mertua nya.
"Ini akibat kalian memanjakan nya." Bintang terkekeh.
"Aku nggak salah loh mak." Elak Bintang.
"Nggak mungkin kamu nggak dalah lalu di hukum, kamu fikir emak bodoh." Seru nya mendelik.
"Bukan nya hari ini kamu bergosip dengan tiga sekawan mu saat upacara itu?" Cletuk Kiki membuat emak mendelik.
Sedang Farhan menatap Kiki dengan menyipitkan mata nya.
"Bergosip? lu bilang bukan kesalahan." Bintang menggaruk kepala nya.
"Serius? Kata siapa lu." Semua menganga melihat sikap emak yang begitu antusias mendengar gosip dari Bintang.
Wajar anak nya aneh, emak nya aja luar biasa.
"Awas ih." Langit terpaksa bergeser menempel pada Ale saat di dorong emak padahal lagi asik mencium bau perut Bintang.
"Mak ih." Protes Langit namun emak masa bodo.
"Gimana gimana, emak emak mana yang di hamili daddy nya si Mar?" Bintang menganga mencerna kejadian yang begitu cepat hingga mendapat kepretan di tangan nya dari emak.
"Ah, dari si Mar sama Fais mak, kata nya daddy Mar hamilin emak nya Faisal." Semua menganga setahu mereka daddy Mar dan ibu Faisal tetangga.
"Apa! Kamu serius," Bintang mengangguk.
"Iya mak bahkan yah Mereka sudah menikah sejak kita kita smp, diem diem soal nya nggak dapet restu dari Mar dan Fais." Emak menganga. Menikah? Pantas saja dia sering melihat ke dua mantan duda dan janda itu sering ke hotel.
"Terus terus." Bintang terkekeh dalam hati melihat Kiki menganga melihat diri nya tak jadi di marahi.
"Si Mar marah marah mak, Fais juga marah karna bakal jadi kakak dari satu bayi hahahahha." Semua tertawa pasal nya mereka tahu betul bagaimana Marvel dan Faisal,
"Dan ada satu gosip lagi mak." Emak menatap binar putri nya.
"Apa apa?" Bintang mengulum bibir nya."
"Ra ha siiiii a cup cup dadah semua nya, Bintang ngantuk." Pekik Bintang berlalu pergi setelah mengecup pipi papah Lintang dan bapak Fahmi. Meninggalkan emak yang sedang menganga dia sungguh penasaran gosip apa lagi.
"Woi gosip apaan!" Teriak emak di sambut gelakan dari yang lain.
"Mau kemana lu." Langit menatap emak saat diri nya di cegat.
"Nusul mak, apa lagi." Sahut nya sembari berlalu menaiki tangga menuju kamar Bintang.
"Udah sabar aja." Ujar Lintang terkekeh melihat adik nya umis umis.
"Tau ah." Decak emak sembari duduk di sebelah Suami nya manja.
"Eeemmm semua nya Kiki juga pamit pulang dulu." Semua menatap Kiki dan mengangguk.
Keluarga Kevin pun pulang sedang keluarga Lani akan menginap sebab anak anak mereka Nayla dan Lala merengek ingin menginap di rumah emak.
Sedang di kamar Bintang Langit memeluk mesra kekasih nya, menyeka keringat yang menetes di dahi nya akibat pelepasan yang mereka berdua rasakan hingga tiga kali.
"Aku lelah." Gumam Bintang sembari memejam kan mata nya tak menunggu waktu lama untuk menjemput alam mimpi nya.
Langit seolah tak merasa bosan melihat wajah ayu Bintang.
Dreeet dreeet.
Langit mengambil ponsel nya dahi nya mengerut saat melihat nama om Kevin tertera di sana, Langit memutus kan turun dari ranjang dan mengenakan celana pendek nya dan menuju balkon.
"Halo om." Langit mengerutkan alis nya saat mendengar suara nafas om Kevin yang menggebu.
"Ada apa om?"
"Kiki berusaha bunuh diri lagi."