MAAF AKU MENYERAH

MAAF AKU MENYERAH
tak akan menyerah


Setelah dua hari tak berangkat sekolah, Bintang dan Langit memutus kan untuk berangkat sekolah, namun kali ini mereka menggunakan mobil.


"Loh sayang, kenapa kita berhenti di sini?" Tanya Bintang sebab mereka berdua berada di depan rumah om Kevin, sesuatu yang aneh menurut Bintang.


"Kiki baru pulang dari rumah sakit, dan hari ini om Kevin tidak bisa mengantar nya berangkat sekolah, nggak papa kan sayang kita berangkat bersama, aku nggak enak sama om Kevin dia sudah menghubungi ku tadi." Bintang mengangguk, tak apa menurut nya bagaimanapun Kiki juga sahabat mereka sedari kecil.


Namun Bintang tersentak saat pintu depan bagian dia duduk di buka oleh Kiki.


"Pagi semua nya." Sapa Kiki riang.


"Hemmm." Bintang mengerutkan alis nya, bukan jawaban Langit yang hanya berdehem saja, namun lebih ke tingkah Kiki yang menurut nya aneh sebab membuka pintu depan, kenapa bukan pintu belakang saja.


"Eemm Bintang, kepala aku pusing, aku mau duduk di depan, kamu pindah kebelakang yah." Bintang mengangkat alis nya mendengar permintaan Kiki yang menurut anak emak satu ini sangat lancang.


"Kau mau duduk di sini karna kau pusing?" Akhir nya Bintang berucap sebab ia tak mendengar bantahan dari mulut Langit sedikitpun.


"Iya Bin, rasa nya kalau duduk di belakang tambah pusing." Bintang mengangguk, lantas keluar dari mobil dan berpindah kebelakang.


Jangan tanya bagaimana perasaan nya.


Dongkol.


Marah.


Ah rasa nya Bintang ingin berteriak, terlebih tunangan nya hanya diam saja seolah menerima permintaan lancang dari Kiki.


"Kalau kau pusing kenapa memaksa untuk sekolah, kau pintar bukan, satu minggu tak sekolah pun kau tak akan di pindah kan menjadi anak ips kan?" Sindir Bintang sembari bermain ponsel enggan melihat ke depan.


Dada nya bergemuruh saat melihat Kiki duduk di sebelah Langit sedang diri nya justru duduk di belakang.


Ini lucu. Decak nya dalam hati.


"Aku harus berangkat, karna ada rapat osis membahas acara yang akan di selenggarakan beberapa minggu lagi kan? Bukan begitu Lang." Bintang mendengus dalam hati seolah di sini hanya ia yang tak tahu karna bukan anak osis.


Hati Langit ketar ketir saat melihat respon Bintang yang cuek.


Ia tahu betul karakter Bintang, cuek nya Bintang arti nya ia sudah sangat marah.


Kiki merasa di atas awan saat keluar dari mobil Langit terlebih dahulu, bahkan Kiki mendongak tersenyum seolah menunjukan pada siswi di sekolah nya bahwa kini Kiki yang duduk di sebelah Langit.


Kiki penasaran kenapa Bintang tak keluar dari mobil Langit, padahal dalam hati ia sangat ingin agar semua menatap Bintang yang keluar dari pintu belakang.


Sedang yang sebenar nya terjadi di dalam mobil setelah Kiki baru keluar tadi.


"Kemari." Bintang melompat pelan menuju kursi kemudi duduk di pangkuan Langit saat mendengar nada dingin Langit.


Jujur saja ia takut saat Langit sudah mengeluarkan nada dingin nya.


"Kenapa tidak menjawab ucapan ku hem." Bintang menatap manik mata Langit saat diri nya yang sedang menunduk di angkat dagu nya oleh Langit.


"Tidak dengar." Jawab Bintang singkat, enggan lebih tepat nya, bohong kalau hati nya tak marah.


"Bukan kah aku sudah bilang semalam, apa pun yang terjadi nanti tetap lah bersama ku, karna aku sangat mencintaimu Bintang ku." Bintang menerima lu.ma.tan lembut dari Langit.


Bintang yang semula marah kini reda menerima lembut sikap Langit. Memang ia tak pernah bisa marah pada kekasih masa kecil nya ini.


"Maaf." Gumam Langit sembari mengelap bekas ulah nya di bibir Bintang.


"Hemmm. Tidak ada lain kali."


Kiki menganga saat melihat Bintang keluar dari pintu di mana Langit mengemudi.


Rasa yang semula di atas awan kini seolah di hempas kan paksa ke bawah saat semua siswi melihat Langit keluar dari mobil setelah Bintang turun dari pangkuan nya.


Si.al decak Kiki sembari menuju kelas nya.


Kiki merasa geram dengan sikap murahan Bintang, bagi nya apa pun yang di lakukan Bintang tetap saja murahan.


"Kalau menurutmu kau sudah menang, kau salah Bintang, ini baru permulaan, kau akan kalah nanti nya, aku tak akan berhenti sampai di sini." Tangan Kiki mengepal erat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...