Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Sesak


Mau tak mau, suka tak suka, Nio pun akhirnya pasrah dan membiarkan Sonia untuk ikut makan malam bersama keluarganya sesuai permintaan Rudy.


"Nio, kamu pergi bersama Sonia ya,"


Nio yang mendengar hal itu sontak melirik sejenak ke arah Rena yang kala itu masih saja terus terlihat acuh padanya. Hal itu pun cukup mengundang rasa kecewa dan membuatnya cukup kesal, hingga akhirnya ia pun menyetujui permintaan papanya.


"Baik pa." Ucapnya pelan.


"Ayo Sonia," Ajaknya yang kemudian langsung melangkah lebih dulu untuk keluar rumah.


Sonia pun tersenyum dan kembali melirik ke arah Rudy dan Rena.


"Terima kasih banyak om, tante." Ucapnya yang kemudian langsung menyusul Nio dengan langkah penuh semangat.


Nio dan Sonia pergi lebih dulu menuju ke sebuah restoran tempat dimana yang sudah di tentukan, sepanjang jalan Nio banyak diam, karena saat itu isi kepalanya sedang dipenuhi tanda tanya tentang sikap ketus dan kasar Rena padanya.


"Nio," panggil Sonia dengan lembut.


"Hmm???" Jawab Nio tanpa menoleh ke arah Sonia.


"Nio, sebelumnya aku minta maaf ya jika kamu merasa kehadiranku tidak tepat. Tapi niat awalku benar-benar hanya ingin mengembalikan kartu ATM mu saja. Aku tidak menyangka jika saat itu ada papamu di rumah dan dia ingin bertemu denganku dan bahkan mengajakku untuk bergabung makan malam bersama kalian." Jelas Sonia yang kembali memulai sandiwara agar terlihat baik di depan Nio.


"Tidak apa-apa Sonia, justru seharusnya aku berterima kasih. Jadi, anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku juga." Jawab Nio sembari tersenyum tipis, namun sangat terlihat tidak bersemangat.


"Dan masalah tadi, saat di beer house, aku juga minta maaf ya, mungkin aku begitu karena efek alkohol, maafkan aku."


"Tidak apa-apa."


"Aku berjanji, hal itu tidak akan merubah apapun status kita, kita tetap berteman kan?" Tanya Sonia lagi.


"Iya Soniaa, sudahlah! Apa kamu tidak lelah meminta maaf terus?" Nio pun terkekeh lirih.


"Hehehe iya maaf."


"Nahhh." Nio pun kembali mendengus pelan.


"Hehehe iya, iya tidak lagi."


Sesampainya di resto, Nio langsung di arahkan oleh seorang waiters ke kursi yang sebelumnya sudah di booking oleh Rudy. Tak lama Rudy dan Rena pun terlihat muncul dan ikut duduk bergabung bersama mereka.


Makan malam berlalu dengan semestinya, ada banyak macam menu yang mereka pesan, dan tidak ada satu menupun yang rasanya mengecewakan.


"Nio, sekarang katakan, apa kamu memiliki teman wanita lain selain Sonia saat ini?" Tanya Rudy sesaat setelah mereka selesai menyantap hidangan makan malam.


"Tentu saja ada, tapi kurasa saat ini hanya Sonia yang paling sering bersamaku."


"Papa dengar, sudah ada wanita yang kamu sukai, apa kamu tidak berniat untuk mengenalkan wanita itu pada papa?" Tanya Rudy lagi.


Hal itu sontak membuat Nio yang kala itu sedang meneguk minumannya, seketika jadi tersedak hingga terbatuk-batuk.


"Uhhukk,, uhhukk."


"Nio, are you ok??" Tanya Sonia yang nampak sedikit cemas.


Lalu dengan cepat Sonia meraih selembar tisu dan ingin mengusap bibir Nio, namun Nio mengelak secara halus.


"Terima kasih Sonia, biar aku usap sendiri saja." Ucapnya pelan.


Nio pun seketika melirik ke arah Rena yang kala itu juga terlihat sedikit gugup dan hanya terus menunduk saat melahap makanan penutupnya.


"Kenapa tiba-tiba papa tertarik untuk membahas ini??" Tenya Nio yang nampak sedikit heran.


"Tidak ada, hanya saja papa sangat ingin melihatmu memiliki pasangan, karena selama ini sekali pun papa tidak pernah melihatmu menjalin hubungan dengan seorang wanita. Benarkan??"


"Tidak pa!" Tegas Nio.


"Tidak??? Apa yang kamu maksud dengan kata tidak??"


"Aku tidak bisa mengenalkannya pada papa sekarang,"


"Kenapa?? Kelihatannya hubungan kalian tidak berjalan mulus. Hmm saran papa, akhiri saja hubungan yang hanya akan membuatmu sakit hati dan kecewa, jika kamu merasa hanya berjuang sendiri dalam hubungan kalian, maka sudahi saja, jelas wanita itu tidak terlalu menginginkanmu." Ungkap Rudy dengan tenang.


"Benarkah dia begitu??? Hmm akan kupastikan lagi nanti." Jawab Nio pelan.


"Kenapa kamu malah memilih sesuatu yang rumit saat di depan matamu sudah ada seorang wanita cantik yang menunggumu."


"Maksud papa??" Dahi Nio pun seketika mengernyitkan dahinya.


Rudy tidak menjawab, dia hanya tersenyum pada Sonia yang kala itu juga terlihat sedikit tersipu.


"Maksud papa Sonia???" Tanya Nio lagi.


Rudy pun mengangguk.


"Ah hahaha." Nio pun sontak terkekeh lirih.


"Tidak pa, aku dan Sonia hanya berteman."


"Iya om, sudah ku katakan sebelumnya kami hanya berteman." Tambah Sonia yang kembali berakting seolah tidak menginginkan hal itu di depan Nio.


"Tidak masalah jika berawal dari teman." Jawab Rudy dengan tenang.


Saat itu Rena masih terus diam, menahan rasa sakit pada hatinya, dan menahan agar air matanya tidak kembali menetes.


"Belajarlah menyukai Sonia Nio, kalian terlihat sangat cocok." Tambah Rudy lagi yang kemudian kembali meneguk dengan tenang minumannya.


Nio kembali terdiam, lagi-lagi terus melirik ke arah Rena yang seolah tanpa respon apapun dengan pernyataan Rudy.


"Ia bahkan terlihat begitu tenang, seolah tidak pernah terjadi apapun di antara kami, ada apa denganmu Rena?? Apa benar kamu tidak terlalu menginginkanku? Sejauh ini, nampaknya memang hanya aku saja yang paling berjuang untuk hubungan ini agar bisa berjalan dengan baik." Gumam Nio dalam hati.


Selesai makan malam, Rudy meminta Nio untuk mengantarkan Sonia untuk pulang ke rumahnya, dan lagi-lagi Nio menyetujui hal itu mengingat Sonia yang sudah rela datang hanya untuk mengantarkan kartu debit miliknya.


Hal itu lagi-lagi membuat dada Rena semakin bertambah sesak, namun tetap saja ia tidak bisa melakukan apapun selain hanya diam.


"Rena, sejak tadi kamu banyak diam. Ada apa?" Tanya Rudy saat mereka dalam perjalanan menuju kembali ke rumah.


"Oh tidak ada apa-apa mas, aku hanya sedikit merasa tidak enak badan saja."


"Apa kita perlu ke rumah sakit?"


"Ah tidak perlu, aku hanya perlu beristirahat saja."


"Hmm baiklah, jangan lupa minum vitaminmu dan segeralah beristirahat saat nanti tiba di rumah."


"Iya mas." Rena mengangguk dan tersenyum tipis.


"Tapi Rena bisakah kita berdiskusi tentang satu hal."


"Tentu saja mas,"


"Rena, aku sangat menyukai Sonia."


Mendengar hal itu, dahi Rena sontak mengernyit dengan menampilkan raut wajah tak biasa.


"Owh haha maksudku, aku sangat suka dengannya dan ingin sekali dia menjadi pasangan bagi Nio. Bagaimana menurutmu??"


"Owhh, hmm menurutku, kita harus menanyakannya langsung pada Nio mas, jangan sampai keinginan ini jadi membuatnya merasa tertekan, aku tidak mau dia semakin bertambah jauh darimu, kalian sudah mulai kembali akur sekarang."


"Ya, kamu benar, aku dan Nio memang sudah tidak terlalu renggang seperti dulu, itu cukup bagus bagiku. Tapi, tetap saja aku sangat ingin Nio menikah dengan Sonia, lagi pula sebentar lagi dia lulus kuliah." Ungkap Rudy lagi.


"Ki,, kita bisa menanyakannya dulu secara langsung pada Nio, baru bisa memutuskan."


"Iya, nanti aku akan membicarakannya pada anak itu, semoga saja hatinya terbuka."


Rena pun hanya mengangguk, lalu kembali menatap nanar ke arah kaca jendela, menahan rasa sesak yang makin lama terasa semakin membulat.


"Benar saja, hubungan ini memang terlalu sulit untuk berhasil, sama sekali tidak ada harapan, yang ada hanya kekecewaan yang jika dijalani makin lama, maka rasa kecewa dan sakitnya akan terasa semakin pedih." Gumam Rena dalam hati.


...Bersambung......