
Keesokan harinya...
Pagi-pagi sekali, Rena sudah bangun lebih dulu, langsung mandi membasahi rambutnya dan kemudian dengan semangat melangkah menuju dapur untuk membuat sarapan, meninggalkan Nio yang masih tertidur pulas di atas tempat tidur.
Dengan wajah yang ceria, Rena mulai bekuncah di dapur Villa untuk membuatkan sarapan dengan bahan seadanya yang semalam mereka beli di swalayan.
Satu jam berlalu, Nio akhirnya bangun, ia langsung keluar dari kamar dengan membawa wajah sembab khas orang baru bangun tidur.
"Morning." Sapanya pada Rena yang saat itu terlihat tengah menuangkan susu hangat ke dalam gelas.
"Eh hei, sudah bangun?" Tanya Rena yang sedikit terkejut saat menyadari keberadaan Nio di dapur.
"Hmm ya, kamu sudah bangun dari tadi, kenapa tidak langsung membangunkan aku?"
"Tidak apa-apa, kulihat kamu sepertinya sangat kelelahan akibat aktivitas berlebih tadi malam." Sahut Rena sedikit menyindir.
Bagaimana tidak, setelah selesai ronde pertama di dalam kolam air hangat, mereka tentu tidak mau melewatkan untuk membuat moment intim di kamar Villa yang tak kalah nyaman itu, bahkan mereka melakukannya hingga tiga kali di segala sudut kamar itu.
"Hmm kupikir bukan hanya aku, bukankah seharusnya kamu juga kelelahan akibat bergadang semalaman?"
"Hmm tidak juga, aku sepertinya sudah mulai terbiasa."
Nio yang mendengar hal itu pun seketika mendengus lalu tersenyum.
"Hmm ya sudah, ayo cepat mandi dan kembali kesini, kita sarapan bersama." Ucap Rena kemudian.
"Haruskah aku mandi sekarang??"
"Kenapa tidak??"
"Tapi udaranya sangat dingin." Keluh Nio yang langsung memeluk manja tubuh Rena dari belakang.
"Lalu apa gunanya mesin air hangat di toilet kamar itu?"
"Haaiss, kamu benar-benar membuatku kehabisan alasan sekarang." Rengek Nio yang akhirnya kembali tersenyum lirih.
"Hehehe ayo cepat, mandi lah. Nanti makanan dan minuman ini keburu dingin."
"Hmm ok, berikan aku satu ciuman!"
"Tidak mau, karena kamu belum mandi!" Jawab Rena santai sembari terus melanjutkan aktivitasnya dalam menuangkan minuman.
"Kalau begitu aku akan memaksamu!" Celetuk Nio yang langsung mencuri ciuman dibibir Rena dan kemudian langsung pergi begitu saja tanpa rasa bersalah.
Rena pun hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya memandangi kepergian Nio.
Tidak perlu menunggu lama, 10 menit kemudian Nio nampak sudah kembali ke dapur dengan sudah nampak jauh lebih segar dari sebelumnya. Ia pun langsung menghampiri Rena yang kala itu sudah terduduk menunggunya sembari menikmati secangkir susu hangat.
"Sayang, apa aku membuatmu menunggu lama?" Tanya Nio yang langsung berdiri di belakang kursi Rena.
"Owh, kamu sudah selesai? Hmm tidak terlalu lama." Jawab Rena sembari tersenyum tipis.
"Ah baiklah, setelah sarapan aku mau mengajakmu berkeliling puncak sebelum kita pulang. Bagaimana?" Tanya Nio menawarkan,
"Hmm kedengarannya ide yang bagus," Rena pun semakin mengembangkan senyumannya tanda setuju.
Sarapan berlalu dengan tenang, Nio benar-benar sangat menikmati saat-saat mereka bisa sarapan berdua seperti sekarang, seolah ia merasa jika akan seindah itu jadinya bila ia dan Rena benar-benar bisa menikah dan hidup bersama tanpa harus terus bersembunyi.
Beberapa puluh menit berlalu, sarapan pun selesai, Nio dan Rena mulai mempersiapkan barang mereka karena setelah berkeliling puncak, mereka berniat untuk langsung pulang dan tidak kembali ke Villa lagi,
"Sudah siap?" Tanya Nio saat Rena menghampirinya di dekat mobil.
Rena pun mengangguk sembari tersenyum.
"Ok, let's go!" Ucapnya yang langsung membukakan pintu mobil untuk Rena.
Mobil pun mulai melaju meninggalkan Villa, kembali melintasi jalanan yang terus menanjak untuk sampai di puncak yang jaraknya sudah tidak jauh dari Villa mereka.
Udara di puncak terasa sangat segar dan tentu saja sejuk, namun untungnya hari itu tidak terlalu ramai pengunjung hingga membuat Nio merasa bebas untuk terus menggandeng tangan Rena tanpa ragu, karena merasa tak ada satupun yang mengenal mereka disana.
Di puncak ada sebuah jembatan, yang dibawahnya ada sebuah sungai berair begitu jernih yang terdapat banyak bebatuan, di bebatuan itu ada banyak burung bangau yang hinggap sembari meminumi air sungai.
"Lihat itu, ada banyak burung bangau disana." Ucap Nio sembari menunjuk ke arah segerombolan burung bangau itu.
"Wahh, mereka cantik sekali." Celetuk Rena yang nampak menatap burung-burung itu dengan penuh kagum.
Mereka kembali melanjutkan langkah mereka dan terus melihat-lihat, di sepanjang langkahnya Rena terus tersenyum bahkan tak segan pula sesekali ia tertawa lepas saat Nio mulai membicarakan kekonyolan. Rena pun sama, tanpa segan, layaknya pasangan normal lainnya, ia terus menggandeng tangan Nio dengan erat, seolah tak ingin jauh darinya.
"Jika kita berjalan naik sedikit lagi akan ada kawah yang di tengahnya ada telaga air panas hasil dari ledakan gunung ini saat masih aktif, apa kamu tertarik untuk melihatnya??"
"Benarkah? Tentu saja aku mau."
"Ok, ayo kita kesana! Memang disana lah hal yang paling di minati para wisatawan disini, tempatnya memang sangat bagus jika untuk mengambil foto." Ungkap Nio yang terus melangkah sembari mulai merangkul Rena dengan mesra.
Seolah tak mau kalah, Rena pun juga memeluk pinggang Nio dengan hangat dan juga terus melangkah dengan penuh semangat. Namun baru beberapa meter melangkah kembali, tiba-tiba saja langkah Rena perlahan mulai terhenti kala melihat seseorang yang saat itu tengah berpapasan dengannya yang juga tengah menatap ke arahnya.
"Ada apa sayang? Kenapa berhenti?" Tanya Nio yang langsung menatap Rena dengan sedikit bingung.
Saat itu Rena masih terdiam dengan tatapan yang terus menyorot ke arah seseorang yang berada tak jauh di depan mereka dan dengan cepat langsung melepaskan pelukannya pada pinggang Nio.
"Hei, ada apa?" Tanya Nio yang semakin bingung dan akhirnya ikut menoleh ke arah dimana kedua mata Rena tertuju saat itu.
"Kamu sedang memandangi orang itu? Siapa dia?" Tanya Nio dengan suara pelan.
Rena masih tak menjawab dan masih terlihat mematung dengan memasang raut wajah penuh ketegangan.
"Siapa dia Rena?" Tanya Nio lagi.
Tak lama, seorang lelaki berbadan tinggi yang sejak tadi juga memandangi mereka, mulai kembali melangkah dan mendekati mereka berdua.
"Awalnya aku pikir hanya seseorang yang mirip, ternyata benar-benar kamu." Celetuk lelaki yang memiliki kulit sawo matang itu.
"Hai Rena, akhirnya bisa bertemu lagi denganmu setelah sangat lama kamu pergi." Sapa lelaki itu lagi setelah akhirnya ia tepat berada di hadapan Rena dan Nio.
Wajah Rena pun nampak semakin tegang, tubuhnya mendadak terasa kaku, bahkan lidahnya juga seolah kelu.
"Hmm, ku dengar kamu sudah menikah dengan seorang lelaki yang sangat kaya. Apakah ini suamimu?" Tanya lelaki itu lagi yang kali ini mulai melirik ke arah Nio yang sejak tadi juga terus menatapnya dengan tatapan tajam.
...Bersambung......