Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Selalu bersikap manis


Mendengar hal itu, membuat wajah Rena seketika menjadi terlihat begitu tegang, hingga ia memilih untuk terus diam tanpa menunjukkan respon apapun.


"Ini masih terlalu awal untuk mengenalkannya padamu, pa!" Jawab Nio santai, bahkan tak terlihat canggung atau pun gugup saat menjawabnya, sangat berbeda dengan Rena.


Nio pun mulai mengunyah roti yang ia olesi dengan selai Strawberry, lagi-lagi hal itu juga menimbulkan tanda tanya bagi Rudy yang begitu jarang melihatnya memakan roti selai.


"Tumben sekali kamu memakan roti selai, apalagi selai itu selai Strawberry, bukankah setau papa kamu tidak suka buah Strawberry?"


"Iya, awalnya memang tidak suka, tapi setelah merasakannya, entah kenapa aku jadi suka sekali." Jawab Nio sembari melirik singkat ke arah Rena yang kala itu sedang meneguk minumannya karena begitu gugup dengan obrolan mereka.



Rena lagi-lagi terus bungkam sembari ikut melirik Nio singkat.



Sarapan pagi itu berlalu dengan damai, Nio bahkan semakin jarang bahkan nyaris tidak pernah berdebat dengan Rudy lagi seperti dulu yang hampir setiap bertemu selalu ada saja yang diperdebatkan.


Setelah Rudy berpamitan dengannya, Nio pun memilih untuk kembali naik ke kamarnya dengan berbagai alasan. Padahal hal itu sengaja ia lakukan demi menghindari melihat adegan mesra Rena bersama papanya yang nantinya hanya akan membuatnya cemburu serta emosi.


Rena kembali menggandeng tangan Rudy untuk mengantarkannya hingga teras, saat itu pak Eko pun nampak sudah menunggu mereka di sisi mobil yang telah ia hentikan tepat di depan teras itu.


Pak Eko dengan cepat langsung menyambut koper yang didorong oleh Rudy, lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi sekarang ya, takut jalanan macet dan menghindari ketinggalan pesawat."


"Iya mas." Rena pun mengangguk sembari tersenyum.


Rudy hanya mengusap singkat ujung kepala Rena, lalu ingin langsung berlalu pergi, namun tangannya di tahan oleh Rena.


"Mas, tunggu!"


"Kenapa Ren?" Tanya Rudy sembari mengerutkan dahi.


"Apa sebelum pergi mas tidak ingin memelukku? Atau mencium keningku?" Tanya Rena.


Pertanyaan itu pun sontak membuat Rudy tersenyum sembari menoleh singkat ke arah pak Eko yang kebetulan saat itu sedang memandangi ke arah mereka.


"Kita ini bukan pasangan muda lagi Rena, akan sangat malu rasanya jika harus melakukan hal itu di depan seseorang." Jawab Rudy dengan tenang.


"Ta,, tapi mass..."


"Hmm sudah lah, jangan menuntut untuk suatu hal yang tidak terlalu penting. Intinya kamu duduk manis saja dirumah, beli apa yang ingin kamu beli, dukung saja suamimu ini dalam pekerjaannya, maka hidupmu akan terjamin selamanya. Ok?" Jawab Rudy yang kembali mengusap singkat pundak Rena.


Rena pun terdiam saat mendengar ungkapan semacam itu keluar dari mulut Rudy, dimana ucapan itu benar-benar tidak diharapkan olehnya. Bagaikan menelan pil kekecewaan yang sangat pahit, yang membuatnya semakin merasa hambar pada pernikahannya dengan Rudy yang bahkan masih seumur jagung.


"Ya sudah ya, kapanpun kamu membutuhkan tambahan uang, katakan saja padaku, aku pergi dulu ya." Tambah Rudy lagi yang langsung beranjak begitu saja memasuki mobilnya.


"Kita jalan sekarang ya!" Ucapnya pada pak Eko.


"Baik pak." Jawab pak Eko yang bergegas langsung masuk dan duduk di kursi kemudi.


Mobil sedan mewah itu pun mulai bergerak meninggalkan pekarangan rumah mewah itu, meninggalkan Rena yang kala itu masih diam terpaku dengan tatapan sendu. Ya, memang dia tidak mencintai Rudy, namun entah kenapa ia masih saja berharap sikap Rudy bisa lebih manis padanya agar ia bisa setidaknya mempertimbangkan lagi jika ingin meneruskan hubungan terlarangnya dengan Nio.


Namun nyatanya, sikap Rudy justru malah kebalikan dari apa yang ia harapkan, sikap yang seolah justru mendorongnya masuk lebih dalam lagi ke zona perselingkuhan yang jauh lebih membuatnya merasa bahagia.


"Kamu memang tidak muda lagi mas, tapi sepertinya kamu lupa kalau istrimu masih sangat muda, yang masih butuh banyak perhatian dan kasih sayang." Gumam Rena lirih dalam hati.


"Andai kamu bisa semanis Nio, mas. Aku bahkan rela mengorbankan rasa cintaku, demi untuk setia padamu, orang yang sudah menjadi suamiku." Tambahnya lagi.


Rena kembali menghela nafas panjang, lalu akhirnya memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah. Disaat yang sama pula bi Inah nampak ingin keluar rumah.


"Mau ngapain bi?"


"Oh ini bu, mau nyiram tanaman yang ada di taman depan dan samping."


"Ohh, ya sudah kalau begitu saya masuk dulu ya." Rena pun tersenyum singkat, lalu langsung beranjak masuk ke rumah.


"Iya bu."


Rena terus melangkah untuk kembali menuju meja makan, maksud hati ingin membereskan meja itu dari sisa sarapan mereka sebelumnya. Tapi ternyata bi Inah sudah lebih dulu melakukannya, bahkan juga sudah mencuci piringnya. Hal itu membuat Rena kembali menghela nafas dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Rena memasuki kamarnya dengan sedikit lesu hingga membuatnya tidak memperhatikan apapun yang ada disekitar kamarnya.


"Apa kamu sudah selesai melakukan tugasmu sebagai seorang istri?" Tanya seseorang bersuara familiar.


Rena pun sontak terkejut dan langsung menoleh ke arah dimana suara itu berasal. Kedua mata indahnya pun sontak membulat saat mendapati Nio yang ternyata sudah terlihat duduk bersandar di sebuah sofa yang ada di salah satu sisi kamarnya sembari membaca salah satu novelnya.



"Nio???!!"


"Kenapa kamu selalu saja menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan yang lainnya?" Ucap Nio pelan sembari langsung menutup kembali novel itu.


Rena pun terdiam sembari mulai mengutas sebuah senyuman tipis.


"Apa suamimu sudah pergi?" Tanya Nio lembut, sembari menarik tangan Rena, hingga membuat tubuh mungil Rena langsung jatuh ke pangkuannya.


Rena pun hanya mengangguk.


"Hmm, itu artinya,,, kamu milikku sekarang!" Bisik Nio yang kemudian mulai menciumi Rena.


Rena hanya tersenyum, ia terus diam seolah membiarkan Nio melakukan hal itu padanya tanpa perlawanan.


"Kamu harum sekali, Rena." Bisik Nio yang terus mengusap-usap lembut leher Rena dengan hidungnya.


"Nio, tapi ini sudah mau jam 10, apa kamu tidak kuliah?" Tanya Rena yang saat itu mulai sedikit terengah akibat sentuhan maut Nio pada lehernya.


"Hari ini hari sabtu, aku tidak ada kelas lagi." Jawab Nio santai,


"Ohh ok," Rena pun tersenyum.


"Hanya ok?" Dahi Nio pun sedikit mengkerut.


"Ya lalu apa lagi?" Tanya Rena tersenyum namun terlihat sedikit bingung.


"Berikan aku ciuman!" Pinta Nio dengan manja.


"Kamu bahkan sudah menciumiku dari tadi." Jawab Rena sembari tertawa pelan.


"Akan berbeda rasanya jika kamu yang menciumku." Jawab Nio sembari semakin mengeratkan lingkaran tangannya pada pinggang Rena.


Rena pun lagi-lagi tersenyum dengan tatapan yang begitu berbinar saat menatap Nio yang bersikap sedikit manja padanya. Lalu ia pun mulai mengalungkan kedua tangannya di leher Nio dan kemudian langsung mencium bibir Nio dengan mesraa.


Nio kembali membalas ciuman itu dengan tak kalah mesraa, namun kali ini ia nampaknya lebih bisa mengendalikan dirinya hingga setelah beberapa saat bibir mereka saling bertautan, Nio pun perlahan kembali melepaskannya.


"Aku ingin menunjukkan suatu tempat padamu." Ucap Nio lembut.


"Suatu tempat?? Sekarang?" Tanya Rena dengan keadaan alis mata yang ia naikkan.


Nio pun mengangguk pelan.


"Owh, aku pikir kita akan melakukannya lagi." Rena pun tertunduk malu.


Mendengar hal itu, Nio pun mendengus pelan sembari tertawa tipis.


"Maaf jika pagi ini harus membuatmu kecewa, tapi kita tidak punya banyak waktu, akan lebih baik kesana saat masih pagi."


"Memangnya dimana? Tempat apa?" Tanya Rena penasaran.


"Kamu akan tau kalau sudah melihatnya."


"Hmm baiklah, kalau begitu aku ganti baju dulu."


"Ok." Jawab Nio yang masih memilih untuk berdiam diri di sofa.


Rena pun beranjak menuju lemari, memilih salah satu dress yang terkesan santai dan outer agar membuatnya tidak terlihat terlalu seksi saat di luar rumah. Menyadari Nio yang belum juga beranjak dari tempatnya, membuat Rena mulai memandanginya dengan tatapan yang berbeda.


"Ada apa?" Tanya Nio bingung.


"Aku sudah ingin mengganti baju sekarang, kenapa kamu masih disitu?" Tanya Rena kikuk.


Nio pun lagi-lagi terkekeh pelan saat Rena mempertanyakan hal itu padanya.


"Apa aku sungguh tetap harus keluar walaupun aku sudah melihat semua milikmu?"


"Ta,, tapi..."


"Gantilah bajumu, biarkan aku melihatnya." Ucap Nio santai.


Rena pun menghela nafasnya lagi dengan cukup panjang, dengan sedikit ragu-ragu, mulai membuka bajunya di hadapan Nio, saat itu Rena terlihat sedang mengenakan bra berwarna putih, kedua gunung miliknya yang terlihat kokoh berdiri benar-benar membuat Nio mulai menelan ludahnya sendiri saat menyaksikannya.


Rena mulai memakai mini dressnya, dress itu memiliki resleting yang terletak di belakang hingga membuatnya sedikit kesulitan untuk menariknya. Nio yang melihat hal itu akhirnya mulai bangkit dari duduknya, ia menghampiri Rena, dan berdiri di belakangnya, lalu tanpa basa basi langsung membantu memasangkan resleting itu.


Nio memandangi pantulan diri Rena yang kala itu berdiri di depan cermin, lalu mulai memeluknya dari belakang sembari mencium lembut pundak Rena yang terbuka.


"Kamu terlihat sangat cantik, dan aku sangat mengagumimu." Bisik Nio yang saat itu raut wajahnya terlihat penuh ketulusan saat Rena memandanginya dari pantulan cermin.


Kata pujian, kadang hal sederhana seperti itulah yang dibutuhkan seorang wanita, tidak melulu tentang kecukupan materi, kadang hati seorang wanita juga butuh dibahagiakan dengan kata-kata pujian dari seseorang yang special, dan sayangnya Rudy tidak melakukan hal itu pada Rena.


...Bersambung......