Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Gugup


"Ini ponselmu" Ucap Rena saat menyerahkan kembali ponsel itu pada sang pemilik.


Saat itu Rena benar-benar kembali di landa rasa gugup saat harus berhadapan dengan Nio.


Nio pun meraih kembali ponselnya, namun dengan tatapannya yang masih begitu lekat menatap Rena. Membuat Rena jadi semakin canggung hingga jantungnya kembali berdebar hebat.


"Tolong jangan menatapku seperti itu!" Ucap Rena sembari mulai menundukkan kepalanya.


Nio pun seketika kembali mendengus lalu tersenyum tipis.


"Ya sudah, kamu bisa pergi dari sini, karena aku mau memakai baju." Rena yang berusaha ingin menutupi rasa gugupnya pun segera ingin menutup kembali pintu kamarnya.


Namun lagi dan lagi, tangan kekar Nio seketika langsung menahan pintu itu hingga membuatnya tak bisa tertutup.


"Tunggu!" Ucapnya dengan tenang.


"Ada apa lagi Nio? Tolong jangan menggangguku lagi!" Ketus Rena sembari mulai menatap Nio dengan tajam.


"Tidak! sama sekali bukan itu maksudku, tenang, jangan khawatir bu." Jawab Nio yang kembali tersenyum tipis saat menatap ibu tirinya itu.


"Lalu apa?!" Tanya Rena lagi sembari memalingkan wajahnya.


"Aku hanya ingin bertanya, kenapa kamu tidak jadi mengatakan semuanya pada papaku? Dan kenapa kamu memilih menutupi perbuatanku yang kamu anggap lancang itu?" Nio pun semakin menatap Rena dengan lekat.


Namun berbeda halnya dengan Rena, mendapat pertanyaan seperti itu, justru membuatnya semakin kelimpungan dan bingung ingin menjawab apa.


"Emm ak, aku..." Ucap Rena yang nampak terbata-bata sembari mulai mengusap-usap tengkuknya.


"Kenapa bu? Kenapa tidak jujur saja pada papa?" Tanya Nio lagi yang mulai mendekat satu langkah ke arah Rena.


Hal itu pun jelas membuat Rena semakin bertambah gugup, hingga ia pun jadi ikut memundurkan dirinya satu langkah lebih jauh dari Nio.


"Sudah lah! Kamu mau apa lagi Nio??! Tolong jangan mendekat lagi, atau aku akan..."


"Akan apa bu?" Tanya Nio sedikit berbisik.


"Ak,,, aku,.. emm aku akan..."


"Apa kamu akan mengadu pada papa? Atau akan berteriak? Eemm, lakukan saja jika kamu ingin melakukannya." Ucap Nio yang semakin mendekati Rena dengan perlahan lalu kembali tersenyum.


Rena pun kembali menatap Nio dengan tatapan mata yang semakin menajam. Namun hal itu nyatanya sama sekali tak membuat Nio menjadi takut atau membuat nyalinya menciut, ia justru semakin merasa jika seperti itu, Rena terlihat semakin menggoda.


"Oh ya, apa perlu ku pinjamkan lagi ponselku untuk menelpon papa? Emm baik lah, akan ku telponkan papa untukmu." Tambah Nio lagi yang mulai menyentuh layar ponselnya.


Rena pun mulai menatap ke arah ponsel yang sedang di pegang oleh Nio dengan matanya yang begitu membulat sempurna. Ia sudah memutuskan untuk tidak memberitahukan hal itu pada suaminya, karena ia pun sebelumnya sempat terbuai kenikmatan yang diberikan oleh Nio. Dengan sigap Rena pun langsung menahan tangan Nio, ia kembali menatap wajah Nio sembari menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Nio pun membalas tatapan Rena, lalu dengan tenang akhirnya langsung memasukkan kembali ponsel yang sedang ia pegang ke dalam saku celananya.


"Kenapa tidak boleh?" Tanya Nio lagi.


"Ka, karena... karena aku..." Rena kembali terbata-bata dan mulai menunduk.


"Karena kamu juga menikmatinya. Benarkan?"


Mendengar hal itu, lagi dan lagi membuat kedua bola mata Rena seketika membulat sempurna dan spontan menatap Nio lagi.


"Sudah lah bu, akui saja dan tidak perlu malu padaku. Karena bisa ku lihat dari wajahmu tadi, kamu sangat menikmatinya, dan ku yakin jika papa tidak menelponku, kurasa mungkin saat ini kita masih belum selesai." Bisik Nio tepat di dekat telinga ibu tirinya.


Hal itu pun spontan membuat bulu kuduk Rena seketika berdiri saat mendengar bisikan maut itu. Hingga akhirnya Rena pun langsung menolak pelan tubuh tegap Nio hingga membuat tubuhnya sedikit menjauh.


"Sudah lah!! tidak perlu membahas hal itu. Aku mau masuk dan memakai baju." Tegas Rena yang dengan cepat langsung menutup pintu kamarnya.


Membuat Nio hanya terdiam namun dengan senyuman yang masih terpancar jelas di wajahnya. Nio pun akhirnya kembali melangkah santai menuju kamarnya, dengan suasana hati yang kala itu tidak bisa ia gambarkan dengan jelas meski pada dirinya sendiri.


"Sangat terlihat jelas jika ia jadi begitu gugup semenjak kejadian tadi. Ku yakin dia sungguh menikmatinya, tapi juga masih begitu malu untuk mengakuinya." Gumam Nio dalam hati.


Nio pun masuk ke kamarnya dan kembali menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidurnya yang empuk. Bayangan Rena seketika kembali terbayang, ia seolah tengah menari-menari di pikiran Nio saat itu, bayangan bagaimana saat Rena mulai mendesah saat gundukan daging miliknya mulai dikulum oleh Nio pun begitu menghiasi pikiran Nio kala itu.


Di tambah lagi bayangan Rena yang sebelumnya berdiri di hadapannya hanya dengan menggunakan selembar handuk yang melilit di tubuhnya, hal itu benar-benar sangat menggoda bagi Nio. Membuat sang Nio junior kembali berdiri dengan gagahnya hingga membuat Nio seketika harus berlari ke kamar mandi untuk menuntaskan birahinya seorang diri.


Setelahnya, Nio pun langsung memutuskan untuk mandi, mulai mengguyur tubuh tegapnya dengan air hangat demi membuat tubuh dan pikirannya yang saat itu begitu bekecamuk, bisa kembali lebih rileks.


Malam hari...


Suasana makan malam di meja makan pada malam itu pun terasa begitu canggung. Bagaimana tidak, saat itu hanya ada Rena dan Nio saja yang sedang menyantap hidangan makan malam yang telah di sediakan oleh pelayan. Rena yang semenjak kejadian itu, jadi begitu gugup saat berhadapan dengan Nio, memilih bungkam, sungguh sangat berbeda dari sikapnya sebelum kejadian tak terduga itu terjadi. Dalam diamnya, ia pun terus mengunyah pelan makanannya sembari terus menundukkan kepalanya.


Begitu pula dengan Nio, yang juga terus diam dan hanya bisa sesekali melirik ke arah Rena, karena saat itu pelayannya sedang berberes di dapur yang posisinya tak terlalu jauh dari meja makan.


"Ibu sudah selesai, ibu naik duluan ya." Ucap Rena pelan saat baru saja berhasil menghabiskan makan malamnya.


Rena pun langsung bangkit dari duduknya dan terus menunduk seolah ia begitu takut jika harus bertatapan mata dengan Nio.


Nio pun seketika melirik ke arah dapur dan mendapati pelayannya yang masih saja berada tak jauh dari mereka hingga membuatnya tak bisa berkata banyak.


"Iya" Jawab Nio singkat.


Tanpa melirik ke arah Nio sedikit pun, Rena pun mulai beranjak pergi begitu saja, meninggalkan Nio yang masih terduduk memandangi kepergian Rena tanpa bisa menahannya bahkan juga tidak bisa melakukan hal apapun demi menunda kepergian Rena.


...Bersambung......