Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
kali ini dibiarkan lolos


Mendapat pertanyaan semacam itu dari Rena, akhirnya bisa membuat Nio mulai kembali tersenyum dan kembali melingkarkan tangannya di pinggang Rena.


"Aku yakin kamu sangat tau apa yang aku harapkan saat ini," Jawab Nio setengah berbisik dengan senyuman nakalnya yang saat itu nampak menggigit bibir bawahnya.


"Tidak, aku tidak tau!" jawab Rena yang seolah sengaja, sembari terus menahan senyumannya.


"Haaiishh!! kamu sepertinya sengaja ya!!" Nio yang jadi merasa geram pada Rena, seketika langsung menggelitik perutnya.


"Aaaaa haha Nio hentikan!!" Rena pun seketika menggeliat kegelian sembari terus tertawa.


"Kamu sungguh tidak tau, atau berpura-pura tidak tau ha??" Tanya Nio lagi yang kembali menggelitiki perut Rena seolah tanpa ampun.


"Aaaaaa Niooo, geli!! tolong hentikan!!" Rena pun terus terkekeh geli.


Nio pun akhirnya patuh dan kembali memeluk Rena dengan hangat.


"Kamu benar-benar sangat menyebalkan kali ini, dimana letak tanggung jawabmu?" Keluh Nio dengan nada bicara sangat manja.


"Tanggung jawab apa?" tanya Rena sembari tersenyum.


"Kamu jelas-jelas sudah membangunkan Nio junior yang awalnya masih tertidur, tapi setelahnya, dengan begitu tega kamu malah mengabaikannya begitu saja."


Pernyataan itu sontak kembali membuat Rena terkekeh geli.


"Bukankah aku sudah memberimu sabun??"


"Haaiis, itu sama saja kamu secara tidak langsung kamu membohongiku Nio junior dengan kenikmatan yanag semu, juga memberi harapan palsu padanyaa."


"Jadi,,, kamu berharap agar kita bisa melanjutkannya lagi??" Tanya Rena dengan nada yang tak kalah manja.


Pertanyaan itu akhirnya kembali membuat Nio tersenyum, karena akhirnya Rena bisa peka dengan apa yang ia harapkan saat itu. Nio semakin mengeratkan pelukannya pada Rena dengan sebuah senyuman yang sulit di artikan,


"Tentu saja, bukankah berani berbuat, harus berani bertanggung jawab?" Jawab Nio dengan setengah berbisik sembari mulai kembali menciumi area sekitar telinga hingga rahang Rena.


Rena tersenyum saat mendapati perlakuan itu, sebenarnya ia pun masih ingin berlama-lama bermesraan dengan Nio, namun saat kembali teringat pada bi Inah yang saat itu sedang memanaskan makanan untuk mereka, ia pun jadi merasa tak enak hati jika harus berlama-lama lagi.


"Hmmm, tapi maaf, sepertinya kali ini kamu harus kembali kecewa!" Jawab Rena yang sontak langsung bangkit dari pangkuan Nio.


Hal itu lagi-lagi berhasil membuat Nio terdiam serta tercengang memandangi Rena yang saat itu sudah beridiri di hadapannya.


"Ke,, kenapa begitu?" Tanya Nio yang nampak bingung.


"Bi Inah sedang memanaskan makan siang sekarang, aku sudah terlanjur berjanji kalau aku akan segera turun untuk makan siang, jadi aku tidak mau mengulur waktu lebih lama lagi, kasihan bi Inah jika harus beberapa kali menghangatkan makanan."


"Hah??!! Lagi-lagi kamu mengabaikanku karena bi Inah??" Nio pun seketika terihat semakin terperangah saat mendengar jawaban Rena.


"Hehehe maafkan aku, tapi ku mohon kali ini agar kamu mau mengerti." ungkap Rena sembari tersenyum tenang.


"Oh ya, bi Inah juga menanyakan keberadaanmu padaku, bukankah kamu juga mendengar hal itu dari kamar mandi?? ayolah, cepat pakai bajumu dan turun untuk makan siang, bi Inah juga nampak khawatir padamu," Tambah Rena yang kemudian mulai melangkah menuju lemari pakaian untu memakai baju.


Nio akhirnya hanya bisa menarik nafas panjang sembari seketika menyandarkan lesu kepalanya ke sandaran sofa dengan wajah sedikit manyun.


"Kalau kamu marah, maka aku akan berbalik marah padamu!!" ucap Rena santai sembari meraih sebuah dress rumahan untuk ia kenakan.


Hal itu sontak membuat Nio tak bisa berkutik, nyalinya seketika ikut menciut karena ancaman Rena yang menyangkut tentang hal yang paling ia hindari.


Mendengar hal itu, Rena akhirnya kembali melebarkan senyumannya.


"Tapi next time, aku tidak akan membiarkanmu lolos. Kamu dengar ini?" Tambah Nio lagi.


"Hmm, kita lihat nanti." Jawab Rena santai.


Nio pun mendengus pelan, lalu kemudian mulai tersenyum tipis pada Rena yang kala itu sedang memakai pakaiannya. Lalu dengan sedikit lesu, ia pun akhirnya bangkit dari duduknya dan mulai melangkah menuju pintu.


"Apa kamu mau kembali ke kamarmu?" Tanya Rena.


"Jika kamu menyuruhkan berpakaian, maka aku harus kembali ke kamarku!"


"Ya sudah, setelah itu tolong segeralah turun, kita makan siang bersama, ya? Aku sudah sangat lapar." Ungkap Rena.


"Hmm iya tuan putri!" Jawab Nio yang masih terlihat lesu, langsung keluar dari kamar Rena begitu saja.


Rena hanya tersenyum saat memandangi kepergian Nio dari kamarnya sembari menggelengkan pelan kepalanya.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Rena mulai melangkah menapaki anak tangga untuk turun menuju meja makan.


"Silahkan bu, semua menu makan siang hari i i sudah bibi panaskan," ucap bi Inah yang kala itu terlihat sedang menghidangkan kembali menu makan siang untuk Rena.


"Wahh terima kasih banyak bi, maaf kalau sudah merepotkan bibi." Jawab Rena dengan sebuah senyuman hangat sembari mulai duduk di kursinya.


"Sama-sama bu, ini semua sudah jadi tugas bibi." Bi Inah pun ikut tersenyum.


Rena hanya semakin melebarkan senyumannya tanpa berkata apapun lagi,


"Oh ya bu, mas Nio gimana ya? Apa dia tidak ikut makan siang?" Tanya bi Inah lagi.


Pertanyaan itu membuat Rena terdiam sejenak sembari melirik ke arah kamar Nio yang berada di lantai dua.


"Owhh, hmm Nio,,, Nio sepertinya sebentar lagi akan turun bi, tadi aku sudah menelponnya."


"Oh jadi mas Nio sungguh di kamarnya sejak tadi?"


"Iy,, iya bi." Jawab Rena yang tentu saja jawababm


Selang beberapa detik saja, Nio pun akhirnya nampak muncul di tangga dengan sudah berpakaian santai, memakai celana ponggol selutut dan baju kaos berwarna hitam, seolah sudah menjadi ciri khasnya saat dirumah.


"Nah, itu Nio." Ucap Rena sembari menunjuk ke tangga.


Bi Inah pun sontak menoleh ke arah lelaki yang juga sudah ia anggap seperti anak sendiri, mengingat bi Inah yang sudah lama bekerja dengan keluarga Nio.


"Ibu bilang bibi sejak tadi memanggilku saat di kamar, apa itu benar?" Tanya Nio saat ia sudah berjarak cukup dekat dengan Rena.


"Iya mas Nio, bibi memanggil dan terus mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Tidak biasanya mas Nio begitu."


"Hmm iya, maaf soal itu bi. Aku ketiduran saat mendengarkan lagu menggunakan earphone, jadi tentu saja aku tidak bisa mendengar saat bibi memanggilku." Jelas Nio dengan sikap yang terlihat begitu tenang, seolah ia benar-benar sudah menyiapkan alasan itu dengan sangat matang, sangat berbeda dengan Rena yang bahkan masih nampak gugup ketika ia berbohong di depan bi Inah.


"Ohh begitu rupanya." Bi Inah pun akhirnya mengangguk-angguk tanda mengerti sembari tersenyum hangat tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun terhadap mereka berdua.


...Bersambung......